Dosen Idiot

Dosen Idiot
80. Kewalahan


__ADS_3

"Saya ke kampus dulu ya." Ucapnya seperti meminta izin kepada ku. Aku hanya diam sembari memandangnya miris. Mendadak perut ku terasa sangat perih. Aku lupa, aku tidak makan sejak siang kemarin. Aku takut magh ku menjadi kronis kembali. Aku memegang perut ku dan memejamkan mata sembari menunduk, menahan sakit yang aku rasakan.


-MORGAN MAIN-


Aku melihat Ara yang nampak seperti sedang menahan rasa sakit. Aku mendadak khawatir dengan keadaannya.


"Awwsss.." Ara merintih kecil sembari tetap memegang perutnya. Aku langsung mencengkeram kedua sisi bahunya.


"Ra, kamu kenapa??" Tanya ku panik. Ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun. Ia melepaskan tangan ku dari bahunya.


"Udah, kamu berangkat kerja aja ya.." Lirihnya yang terdengar sulit mengucapkan kata-kata itu. Aku semakin tidak tenang dengan yang ia lakukan sekarang.


"Kamu sakit? Kamu kenapa ra? Kenapa perut kamu?" Tanya ku panik. Ia menunjuk sesuatu ke arah belakang ku. Spontan aku menoleh ke arah yang ia tunjuk.


"Obat.." Lirihnya. Dengan sigap, aku berlari menuju arah yang ia tunjukkan. Aku menghampiri kotak obat yang tertata rapi di atas meja riasnya. Aku membukanya dan melihat beberapa obat di sana.


"Yang mana?" Tanya ku dengan keadaan panik. Aku memperlihatkan obat yang aku temukan. Namun Ara tidak merespon ku sama sekali dan semakin menahan sakitnya. Aku kembali duduk di sampingnya dan menyodorkan 2 botol obat yang berbeda. Ia mengambil yang satu, dan satu lainnya aku tidak menghiraukannya. Ia menenggak obat itu dan mengambil gelas yang ada di meja yang berada dekat dengan lampu tidur.


"Glkk.. Glkk.." Ia menelan habis segelas air mineral yang semalam aku sediakan untuknya. Ia kembali menaruh gelas di tempatnya semula. Aku memeluknya dengan sangat erat.


"Maafin saya, Ra." Lirih ku dengan lemas. Arah tidak merespon ucapan ku sama sekali. Aku merenggangkan pelukan ku dan menatap wajahnya.


"Kamu kenapa?" Tanya ku yang masih tidak mengerti dengan yang ia alami tadi.


"Telat makan." Lirihnya, Aku sampai lupa dengan hal itu. Ara sama sekali tidak boleh terlambat makan. Aku menepuk keras kening ku.


"Kapan terakhir kamu makan?"


"Kemarin siang."


"Ya ampun, Ra." Aku sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Jadi, makanan yang semalam aku buat untuknya itu sama sekali tidak ia sentuh?


Aku beranjak dari tempat ku tadi untuk menyiapkan sarapan untuk Ara.


"Morgan." Pekiknya dengan lemas, namun aku tidak menghiraukannya. Aku langsung pergi ke arah dapur untuk memasak nasi goreng untuknya. Aku tidak berpikir untuk membuat menu masakan yang macam-macam. Aku hanya ingin dia makan dengan cepat pagi ini.


-ARA MAIN-


"Dia mau kemana?" Lirih ku bertanya-tanya. Terkadang, aku sangat kesal dengan sikap Morgan yang selalu seenaknya sendiri. Tapi, aku justru malah semakin sayang dengannya yang mempunyai sifat seperti itu. Aku justru tidak ingin kehilangan dirinya. Dia memang terkesan kaku jika berhadapan dengan wanita, apa lagi wanita selain aku. Dia seperti tidak perduli dan acuh. Tapi justru itu sangat bagus supaya dia tetap terus menjaga hatinya untuk ku.

__ADS_1


Aku tersenyum memikirkan Morgan. Sepertinya, tak ada lagi yang bisa menggantikan posisi Morgan di hati ku. Maafkan aku, jika aku terus menerus menyakiti mu. Aku tidak bermaksud demikian.


*


"Makanan siap." Terdengar suara Morgan dari balik pintu kamar ku. Aku segera menghentikan aktivitas ku membaca novel. Ia membawa sepiring nasi goreng yang terlihat enak, membuat ku ingin memakannya.


"Kamu harus makan. Saya sudah buatkan nasi goreng ini khusus untuk kamu." Ucap Morgan, lalu menaruh makanan di atas meja. Ia melihat ke arah jam tangannya.


"Okey, saya harus pergi dulu ke kampus karena sekarang sudah jam 9. Saya sudah izin datang terlambat hari ini. Mungkin saya akan pulang terlambat juga karena harus menggantikan jam pelajaran yang saya lewatkan sekarang." Jelasnya. Memang ribet sekali berpacaran dengan dosen. Kadang bahasanya yang terlalu baku, membuat telinga ku pegal mendengarnya. Terkadang Morgan masih sering memakai bahasa bakunya itu saat berhadapan dengan ku. Aku pun terkadang masih sering memakai bahasa kasar ku saat berhadapan dengannya. Kami berdua masih sama-sama belajae untuk menjadi pasangan yang lebih baik lagi kedepannya.


"Jaga diri baik-baik di rumah." Ucapnya sembari mengelus rambut ku. Aku tersenyum karenanya.


"Kalau ada apa-apa, kabarin saya segera." Ucapnya. Aku hanya mengangguk kecil melihat ia tergesa-gesa.


"Satu lagi.." Ucapnya terpotong. Aku melihatnya dengan seksama. Ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah ku, membuat aku terkejut dan refleks bergerak mundur.


"Maafin saya karena saya gak bisa jaga kamu semalam. Maaf karena saya terlalu egois sama kamu. Maaf karena kecerobohan saya, kamu jadi mengalami kejadian yang tidak mengenakan. Saya merasa gagal menjadi laki-laki yang pantas untuk melindungi kamu. Maaf karena..." Ucapannya terpotong karena aku menempelkan jari telunjuk ku ke bibirnya. Ia mendadak diam tak bergeming.


"Jangan di pikirin." Lirih ku sembari tersenyum padanya. Suasana menjadi sangat canggung saat aku berkata demikian. Aku sadar hal yang aku lakukan ini membuat diri ku semakin terpojok dengannya. Situasinya sangat aneh sekarang. Kami saling bertatapan namun tidak melakukan apapun. Aku seperti terhipnotis dengan matanya yang indah itu. Aku melepaskan jari tangan ku dari bibirnya. Tak ku sangka itu malah membuat keadaan semakin kaku. Ia mulai memandang ke arah bibir ku. Jantung ku mendadak terpacu karena situasi aneh ini.


'Ya ampun, situasi jadi aneh gini. Gue harus gimana?' Batin ku mengaduh.


"Aku harus ke kampus.." Lirihnya yang terlihat sangat keras menahan hawa nafsunya. Aku tidak perduli lagi dengan yang ia katakan. Aku kembali membuka paksa kancing terakhir kemejanya. Kemudian membuka paksa sabuk dan seleting celananya.


"Ahhhhhhh.." Aku terkejut karena Morgan tiba-tiba merubah posisinya berada di atas ku dan menindih ku. Ia membuka paksa kemeja tidur yang aku kenakan. Lebih tepatnya, ia merobek seluruhnya hingga tak semua kancing piyama ku rusak. Ia memandangi wajah ku dengan sangat dekat. Membuat nafsu ku kembali naik secara drastis.


"Gak masalah, Saya bisa izin cuti." Lirihnya. Aku tersenyum padanya dan dia pun membalas senyuman ku.


"Cuppppsss.." Ia mulai mengecup dan membasahi bibir ku kembali, dengan tangannya yang terus menggerayangi setiap sisi tubuh ku. Aku pun meremas rambutnya dengan ritme yang agak cepat. Aku merasakan sensasi yang mampu membuat sesuatu dalam diri ku bergejolak.


"Emmmhh.." Ia semakin mencium ku dengan lekat. Membuat aku kesulitan bernafas. Ia melepaskan ciumannya dan mulai menciumi leher ku. Tangannya melingkari tubuh ku, berusaha membuka Bra yang masih tersangkut. Setelahnya, ia melemparkan secara sembarang.


"Emmmmhhh.." Aku menikmati setiap sentuhan yang ia berikan. Ia mencium dan menghisap tubuh bagian depan ku. Membuat diri ku semakin jauh melayang karena sensasinya yang memabukkan.


Setelah selesai bermain dengan area dada ku, ia mulai menciumi perut ku, turun dan turun sampai batas pinggul ku. Ia membuka celana ku secara perlahan, membuat diri ku tidak sabar menunggu lagi. Ia mengangkat kedua kaki ku. Aku sudah tidak menyadari apa yang ia lakukan kepada ku.


"Sllrrrkkkk.."


"Ahhhhhhh.. Mpphhh.." Aku menahan rasa nikmat karena ia menjilati area bawah ku. Aku menggelinjang merasakan sensasi yang sangat geli dan membuat diri ku tidak kuat menahannya. Tidak terpikirkan akan berbuat seperti ini lagi dengannya. Aku sudah tidak bisa menahan semuanya lagi. Aku sudah ingin menumpahkan rasa ini sejak tadi.

__ADS_1


Ia menghentikan aktivitasnya itu, kemudian bergegas membuka celananya. Terlihat sesuatu yang gagah, berdiri tegak di hadapan ku. Aku tidak memikirkan apapun lagi. Aku meraba dada bidang Morgan dan memainkannya sesekali. Aku sangat menyukai setiap bagian tubuh dari Morgan. Semuanya sempurna. Ia mulai menggesekkan miliknya pada ku. Aku tidak bisa menahannya lagi.


"Ahhh.. Mor.. Gan.." Aku sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Diri ku sudah benar-benar mabuk dibuatnya.


"Jleeeebbbb..."


"Aaaaaahhhh.." Ia mulai memasukkan sesuatu yang besar ke dalamnya. Aku merasakan kenikmatan yang tidak terkira. Aku sangat puas menumpahkan rasa yang sudah ku pendam. Tidak ku sangka, aku akan melakukannya lagi dengan Morgan. Sungguh hari yang paling menyenangkan untuk ku. Tidak ada Kakak, dan juga Bibi. Hanya ada Aku dan Morgan di sini. Aku bisa dengan leluasa menumpahkan perasaan rindu ku padanya. Aku menyayanginya.


*


Aku sangat lelah dan akhirnya aku pun tertidur lelap. Kini, energi ku sudah kembali pulih. Perlahan aku membuka mata ku. Aku masih melihat Morgan yang masih bertelanjang dada dan hanya terbalut dengan selimut. Begitu juga aku. Aku melepaskan tangannya yang masih berada melingkar di perut ku. Aku mengambil pakaian baru ku dari dalam lemari, karena piyamah ku telah rusak akibat keganasan Morgan tadi. Aku beranjak dari kamar ku dan segera menuju ke arah dapur ku untuk mencari sesuatu yang bisa ku makan. Aku melihat nasi goreng yang Morgan buatkan sudah habis tak bersisa. Mungkin Morgan kelaparan setelah bersenang-senang dengan ku tadi.


Aku membuka pintu lemari pendingin ku. Di sana sudah tersedia berbagai makanan cepat saji seperti nuget, sosis, bakso, telur, dan lain sebagainya. Aku tidak terlalu baik dalam hal memasak. Tapi mungkin aku bisa memasak makanan cepat saji seperti ini. Aku tidak perlu repot-repot dan mengeluarkan banyak tenaga. Aku mengambil semua bahan itu dan menyalahkan kompor. Aku menunggu minyaknya panas. Aku memotong-motong sosis dan yang lainnya. Aku tidak terlalu suka bentuk yang terlalu besar. Itu akan sulit untuk di cerna. Setelah minyaknya panas, aku memasukkan perlahan seluruh bahan makanan yang sudah aku potong-potong. Setelah warnanya kecoklatan, aku pun mengangkat semuanya dan menaruhnya di atas piring yang sudah aku siapkan sebelumnya. Aku mengambil nasi dari dalam penanak nasi. Aku menyediakan dua piring. Untuk ku dan untuk Morgan. Aku tahu, Morgan pasti sangat kelaparan setelah bersenang-senang tadi. Aku menata semua yang sudah aku siapkan di atas meja makan. Bekas makanan semalam sepertinya sudah di rapihkan oleh Morgan. Tapi, ia belum mencuci piringnya.


"Siap." Lirih ku sembari memandang ke arah makanan yang sudah aku sajikan. Aku menuju ke dalam kamar untuk membangunkan Morgan. Sesampainya di sana, aku langsung melihat ke arah jam dinding. Sudah pukul 5 sore. Kalau di pikir kembali, aku sudah menahan makan ku selama 1 hari lebih. Pantas saja aku merasakan sakit sekali di bagian perut ku.


Aku mendekati Morgan dan mengelus pipinya yang mulai di tumbuhi kumis dan jenggot itu.


"Gan.. Bangun. Makan dulu yuk" Ucap ku dengan nada selembut mungkin. Aku tidak tega membangunkannya, tapi ia harus bangun dan makan karena ini sudah sangat larut untuk makan siang.


"Engggh.." Morgan perlahan membuka matanya. Ia melihat ke arah tangan ku yang masih berada di pipinya. Aku merasa sangat malu karena tatapan matanya yang membuat aku menjadi kaku. Langsung saja aku menarik tangan ku dari wajahnya.


"Happ.." Ia menarik tangan ku, sehingga tangan ku masih berada di posisi yang sama seperti tadi. Aku merasa malu dengannya.


"Tetap seperti ini." Lirihnya membuat hati ku tersentuh. Morgan sangat lembut kali ini. Ia sama sekali tidak mengacuhkan diri ku seperti biasanya. Ia bersikap seolah-olah adalah pacar yang sangat baik. Tak sadar aku tersenyum, lalu menunduk karena malu dengannya.


*


Aku dan Morgan sudah berada di meja makan saat ini. Aku menuangkan segelas air dingin ke dalam gelasnya. Ia meminumnya perlahan.


"Fla nelepon saya terus dari semalam. Kenapa ya dia?" Tanya Morgan. Aku jadi teringat tentang Fla. Aku mungkin saja membuat Fla khawatir dengan keadaan kakaknya ini. Aku terkejut saat sedang menenggak air minum ku. Aku menaruh gelas di atas meja makan.


"Mungkin dia khawatir sama kamu. Kamu kan gak pulang malam tadi." Jawab ku. Morgan mulai mengunyah makanannya.


"Nanti saya pasti kasih kabar ke dia." Lirih Morgan yang tidak terdengar begitu jelas karena sedang mengunyah makanannya. Aku hanya mengangguk kecil mendengar ucapannya.


"Jadi, gimana hari ini? Kamu di omelin kah karena gak masuk kerja di saat terakhir ngasih materi pelajaran?" Tanya ku. Ia meletakkan garpu dan sendok di atas piringnya.


"Ya mungkin saja iya." Jawabnya. Aku hanya mengangguk kecil.

__ADS_1


"Saya mana bisa nahan godaan dan pesona kamu." Lirihnya yang terlihat sembari menyembunyikan wajahnya yang mulai bersemu merah di sana. Jantung ku langsung berdegup kencang sesaat setelah Morgan berkata demikian. Aku memalingkan wajah ku mengikutinya.


__ADS_2