
“Maksud loe apa?” tanyaku.
Seketika semua orang melihat ke arahku.
Aku tidak akan kalah kali ini.
“Siapa loe?” tanyanya sinis.
Nampaknya, dia adalah dalang dari semua kekacauan ini.
“Loe gak perlu tau siapa gue. Yang harusnya loe jawab tuh, kenapa loe lakuin ini ke orang lemah kayak dia!” Bantahku menyanggah pertanyaannya.
“Ara!” Pekik gadis malang itu.
“Ah.”
Mataku membulat seketika. Ternyata, gadis yang sedang di-bully adalah Fla, teman sekelasku yang kemarin bermasalah dengan Ray dan Rafael.
“Oh... nama loe ara?” tanya sinis dari sang ketua genk.
Aku sama sekali tak menggubris ucapannya.
“Mending, loe gak usah jadi pahlawan kesiangan deh ya.” Ucap gadis lainnya yang terdengar menyeleneh, membuatku geram.
“Haha, pahlawan kesorean kali. Udah ditampar baru dateng.” Sambung gadis lainnya.
Mereka benar-benar membuatku jengkel.
“Haha.” Mereka bertiga tertawa sangat geli.
Aku menerobos di antara kerumunan, dan menarik tangan Fla yang sudah menangis tak berdaya, tanpa menghiraukan mereka yang menghalangi jalanku. Aku membawanya pergi dari kerumunan.
“Eh woy!” Pekik mereka terdengar samar, namun aku tak menghiraukannya.
Aku mengajak Fla ke kelas. Kebetulan sekali kami sedang tidak ada jadwal mata kuliah pagi. Hanya saja, aku datang terlalu pagi karena harapanku bisa ikut pergi bersama kakak.
“Apa-apaan sih mereka? Kenapa loe sampe kayak gini sih, Fla?” tanyaku.
Fla masih saja menangis. Sepertinya, masalahnya memang agak rumit.
“Hiks... mereka nuduh gue, Ra!” Jawabnya dengan penuh isak tangis.
“Nuduh kenapa? Apa yang salah dari loe?”
Fla hanya diam, sembari sesekali menahan tangisannya.
Aku menghela napas.
“Cerita aja, siapa tau gue bisa bantu?” ujarku dengan penuh rasa tulus.
Ia menatapku dengan waktu yang sangat lama. Aku membiarkan itu semua, karena dia pasti sedang berpikir, layak atau tidaknya aku mendengar keluh kesahnya.
“Mereka... nuduh gue ngerebut cowoknya.” Ucapnya sambil terisak.
Hmm... sudah kuduga, ini semua ada hubungannya sama laki-laki.
Aku membolakan mata di hadapannya.
“Emangnya, seganteng apa sih tuh cowok? Sampe loe semua pada ngeributin dia, hah?” tanyaku yang sedikit penasaran dengan laki-laki yang membuat mereka bertengkar.
Kalau setampan Shaheer Sheikh sih... masih bisa dipertimbangkan lah, ya....
__ADS_1
“Hmm... namanya Bisma.”
“Deg....”
‘Bisma?’ Batinku bergejolak.
Ada berapa banyak Bisma di kampus ini?
Semoga bukan Bisma yang sekarang menjadi kekasihku.
“Bisma anak mana?” tanyaku, masih penasaran dengan yang ingin ia utarakan.
“Dia anak 02TPLP001. Anak basket, yang lagi ngehits itu.”
Aku semakin terkejut dengan ucapannya. Aku berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi kaget di hadapannya. Aku tidak ingin kalau ia mengetahui hubunganku dengan Bisma. Bisa-bisa, aku juga dituduh yang macam-macam dengan genk laknat itu.
“Bisma itu, cowoknya dia?” tanyaku berusaha mengorek informasi lebih dalam lagi.
Fla pun mengangguk, membuatku terkejut dengan jawabannya.
“Namanya Jessline. dia anak sekelas Bisma. Kemana-mana selalu bareng sama Bisma. Tapi akhir-akhir ini, hubungan mereka lagi kacau. Gue gak tau, kenapa Bisma sampe berusaha ngedeketin gue. Bikin bencana aja.”
Pernyataan Fla, lagi-lagi membuat aku terkejut. Ternyata, dia bukan laki-laki yang baik, seperti yang aku kira.
Aku sudah tahu semua kebenarannya dari Fla. Aku harus banyak berterimakasih padanya. Meskipun mungkin, nantinya ia akan kebingungan.
“Tapi, ada satu rahasia yang sebenernya gak pengen gua kasih tau ke siapa pun. Ini tentang Jess.” ucap Fla, membuatku merasa penasaran.
Jangan sampai, dia merasa risih denganku, agar aku bisa mengetahui semua permasalahan ini dengan jelas. Biar bagaimana pun juga, aku juga butuh informasi.
“Loe bisa ngomong, kalo loe percaya sama gue Fla.” Jawabku yang tak ingin membuat fla merasa terbebani.
Fla diam sejenak, seperti sedang merenungkan sesuatu.
Aku yang sudah penasaran dan tidak sabar, pun mengangguk dengan cepat.
"Gue sama Jess itu... sebenarnya saudara.” Gumamnya dengan nada yang sangat ragu.
Aku selalu dibuat kaget oleh setiap perkataan Fla.
“Tapi kenapa, dia benci banget sama loe?”
Ya, itu tidak sesuai dengan logika.
“Itu karena gue, sama dia cuma saudara tiri aja. Bokap lebih sayang sama gue dibandingkan dia dan nyokap tiri gue.”
Oh, i see.
‘Oh jadi gitu. Pantesan aja mereka gak akur.’ Batinku merasa sangat puas, karena sudah tahu kebenarannya.
“Berarti, dengan kata lain, loe itu... adiknya Fla?” tanyaku.
“Sebenarnya usia kami sama. Cuma, gue terlambat masuk kampus, karena waktu itu bentrok biaya. Habis, barengan sih. Jess masuk, Liam masuk.” Jelasnya.
Siapa lagi itu, Liam?
Sudahlah, itu tidak terlalu penting bagiku. Yang aku perlukan hanyalah informasi tentang Jessline saja. Aku harus menghargai privasi Fla.
“Selamat siang, semua.” Ucap seseorang tiba-tiba, yang datang dari balik pintu.
Aku terkejut, dan membenarkan posisi dudukku. Ternyata, jam pelajaran ke-2 sudah dimulai.
__ADS_1
***
Jam pelajaran pun telah usai. Aku dan Fla sekarang menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Tak kusangka, aku mendapatkan seorang teman, hanya karena aku menolongnya.
Ya, berteman dengan orang lain, ternyata tidak buruk juga.
Aku mulai menikmati kebersamaan dengan Fla.
Jam istirahat pun tiba.
“Mau ke kantin, gak?” tanya Fla tiba-tiba, membuatku terkejut.
“Duluan aja. Gue nitip kopi aja, ya?” pintaku, Fla tersenyum hangat padaku.
“Oke.”
“Kalau ada yang gangguin loe lagi, jangan diem aja. Lawan!” Suruhku, berusaha memberikannya sebuah kekuatan.
Jangan sampai ia tertindas lagi oleh orang-orang idiot itu.
Aku lebih memilih tinggal di dalam kelas daripada ke kantin. Fla meninggalkanku sendiri di kelas, atas permintaanku. Kini hanya tinggal aku sendiri di kelas.
Seseorang terlihat mengintip dari balik jendela kelasku. Aku tak menghiraukan dan malah fokus dengan buku catatan yang sedang kupegang.
“Ckrek....” Suara pintu dibuka.
Aku tahu siapa yang datang, dan lebih memilih untuk diam, tidak menghiraukannya.
“Bruk....”
Ia menutup kembali pintunya. Perlahan, ia mencoba mendekatiku. Ia pun duduk di hadapanku.
“Hai, sayang.” Sapanya.
Aku tak menggubris sapaannya.
“Lho... kenapa?” tanya Bisma.
Aku masih saja diam, dan berpura-pura tak mendengarnya.
“Ra, loe kenapa? Baik-baik aja, kan?”
Cih....
Dia masih saja bisa bertanya tentang keadaanku. Padahal sudah melakukan ini pada Fla.
Aku masih diam membisu dan tak ingin mendengarkan atau berbicara apapun. Tampaknya, itu membuat ia kesal.
“Ra, jawab gue dong, Ra! Loe baik-baik aja, kan?” pekiknya sinis, membuatku tidak tahan lagi dengan tingkahnya.
Aku mendelik ke arahnya.
“Gue gak apa-apa. Loe tuh yang kenapa?” Balasku dengan kasar.
Ia mungkin merasa kaget mendengarnya. Terlihat jelas dengan ekspresi wajah seperti itu.
“Ra....”
Ia mencengkram bahuku dengan erat. Aku merasa cengkramannya terlalu kuat, sehingga membuatku kesakitan dan meringis.
“Loe kenapa, Ra?” tanyanya yang sepertinya sudah semakin marah.
__ADS_1
Aku tidak peduli.