Dosen Idiot

Dosen Idiot
Makan Malam


__ADS_3

Sepulang dari kampus, aku langsung mengacak-acak lemari pakaianku, berusaha mencari outfit apa yang cocok untuk aku pakai makan malam bersama dengan keluarga Fla. Aku membongkar seluruh isi lemariku. Namun, tak ada yang sesuai dengan harapanku.


“Haduh... gawat nih, gue kehabisan outfit!” Lirihku, sembari meremas rambutku, karena sudah terlalu pusing mencari sebuah baju yang cocok di antara tumpukan baju yang sudah menggunung ini.


Aku melihat satu per satu pakaian lamaku, yang masih bisa aku pakai.


“Yang mana yang harus gue pake coba?” Lirihku kesal, sembari melemparkan baju-baju itu ke bawah ranjangku.


Kenapa aku bisa bersemangat sampai seperti ini?


Ah.


“Apaan sih? Lagian ini kan cuma makan malam biasa aja, sama Fla lagi! Bukan makan malam menuju pertunangan,” pikirku.


“Hah....” Geramku, kemudian duduk diam tak tahu harus berbuat apa.


“Masa sih, harus beli baju dulu cuma buat pergi makan malam sama keluarga Fla?” lirihku.


Aku yang kesal, lalu keluar dari kamar untuk menghirup udara sore hari.


Aku tak sengaja berpapasan dengan Arash, kakakku. Ia berjalan sembari membawa gaun yang anggun beserta sepatu high heels yang kelihatan mewah, di tangannya. Entah apa yang akan ia lakukan dengan gaun dan sepatu itu.


Jiwa kleptomania-ku meronta. Aku mengunci pandanganku ke arah baju itu.


Aku Langsung saja menyambar baju dan sepatu itu dari tangannya.


“Kak, minjem ya!” Rebutku tanpa menunggu persetujuan darinya.


Dengan cepat, aku langsung berlari menuju kamarku.


“Eh... Ra!”


Terdengar samar pekikan kakak, yang sepertinya tidak rela barangnya aku ambil. Terserah dia mau bagaimana. Yang penting, aku bisa pergi ke jamuan makan malam dengan sangat anggun.


“Hihi, dapat baju bagus.” Lirihku, sembari memantaskan gaun itu di tubuhku dan melihat ke arah cermin.


Tanpa basa-basi aku langsung memakai gaun tersebut dan berdandan sewajarnya anak gadis berusia 18 tahun. Aku tidak ingin dianggap berlebihan. Walau bagaimana, ini hanya makan malam antara aku dan keluarga Fla saja. Bukan makan malam antara aku dan keluarga Bisma.


Ah.


Aku sampai melupakan Bisma.


Bagaimana rasanya, ya, makan malam bersama dengan keluarga Bisma?


Jagan berpikir aneh!


Setelah selesai memakai gaun ini, aku kembali bercermin. Apakah ini cocok jika aku kenakan?


“Cocok gak, sih?” Lirihku sembari tetap memperhatikan lekuk tubuhku di cermin.


Ternyata, tidak buruk.


Tapi, aku masih tetap tidak puas dengan keadaanku.


“Harus tanya kakak, nih.”

__ADS_1


Aku keluar menuju ruang tamu, dan bergegas menghampiri kakak.


“Kakak....” Pekikku yang masih berdiri di belakangnya.


Kakak yang sedang menonton televisi, beralih menengok ke arahku. Kakak nampak tercengang dengan dandananku.


“Wow....” Lirihnya yang masih terdengar samar olehku.


Ia menatapku dari ujung rambut, hingga ujung kaki. Aku yang sedang memakai gaun 3/4 berwarna lilac dengan rambut yang dikuncir seadanya memakai hiasan rambut, kemudian sepatu high heels berwarna selaras dengan warna bajuku, berhasil membuatnya tercengang.


Mungkin sepertinya, ia terpukau.


“Gimana, kak?” Tanyaku yang sangat antusias untuk dinilai.


Kakak mengacungkan 2 jempol ke arahku. Aku tersenyum malu ke arahnya.


“Kakak gak marah, kan, kalau gaun ini aku pake?” tanyaku.


Ia terlihat menggeleng.


“Emang gak salah pilih si Morgan itu.”


“Uhuk...” aku tersedak.


“Apa kakak bilang? Morgan?” tanyaku bingung.


Apa hubungannya, baju ini dengan Morgan?


“Iya, ini baju emang buat kamu, tapi kakak bingung mau ngasihnya gimana. Habis kamu sinis banget kayaknya sama dia. Tadinya kakak mau simpan aja bajunya,” jelasnya.


Bisa-bisanya Morgan membarikan aku gaun yang mewah seperti ini.


Aku tahu, gaun ini tidak murah.


‘Apa? Bisa-bisanya dia ngasih gue baju sebagus ini. Pasti gak murah,’ batinku keheranan.


“Kenapa, Ra, kamu gak suka ya? Biar kakak simpen aja deh--”


“Ehh... jangan kak.” Pangkasku, berusaha menghentikkan kakak.


Aku tidak mungkin melepas baju ini, karena aku sudah tidak mau repot untuk mencari baju yang kini sudah menjadi seperti tumpukan gunung itu.


Terjadi perang batin di sini.


‘Waduh... gak mungkin juga gue lepas ini baju, udah cocok banget di gue soalnya,’ batinku mengaduh, ’tapi gue males pake baju dari dia! Apa-apaan coba? Nanti disangka gue kegirangan lagi pake baju dari dia.’ Batinku yang satunya lagi membantah.


Apa-apaan ini? Kenapa mendadak menjadi dilema seperti ini.


‘Tapi kalo gue lepas, gue bakal telat makan malem nih...’ aku masih bersikeras untuk mempertahankan gaun ini,‘udahlah bodo amat.’


“Lho, kenapa gak boleh?” tanya kakak.


Aku berusaha mencari alibi, agar kakak tidak jadi mengambil kembali gaun ini. Tapi pikiranku sedang kacau, tidak bisa berpikir lagi.


“Udah ah, aku mau berangkat!” Ucapku, berusaha mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Eh, mau kemana?” tanya kakak.


“Aku mau ke rumah temen aku. Mau makan malam,” jawabku.


“Mau kakak anter, gak?”


“Gak usah. Aku bisa pergi sendiri, kok.” Tolakku, membuat kakak terlihat murung.


“Setidaknya, minta antar supir. Jangan pergi sendirian ke sana.” Lirih kakak terdengar ragu.


Aku tahu, kakak berniat baik padaku. Kakak juga sebenarnya menyayangiku. Hanya saja, aku tidak terbiasa menerima kasih sayangnya yang berlebihan itu.


“Oke.”


Aku pergi meninggalkan kakak di sana. Aku bergerak menuju mobilku yang sudah disiapkan sebelumnya. Tentu aku tidak sendirian. Kakak menyuruh supir untuk mengantarkanku ke kediaman Fla.


Lebih cepat sampai, tentunya lebih cepat selesai.


Sesampainnya di sana, Aku melihat pelataran rumah Fla dengan seksama. Mataku membulat karena melihat kemewahannya.


‘Rumahnya bagus. Gede banget lagi.’ Batinku sembari memperhatikan sekelilingku.


“Jam 9, jemput saya di sini ya, Pak,” pintaku.


“Baik, Non.”


Ia pergi meninggalkanku. Aku langsung melangkah masuk ke depan pintu rumah Fla, dengan perasaan gugup.


“Ting... nong....” Aku menekan bel rumahnya, dan menunggu seseorang untuk membukakan pintu.


“Ckrek....”


Seseorang datang membukakan pintu untukku. Aku melihat, dan bersiap untuk memberikan salam padanya.


“Hah...” lirihku dengan mata yang membulat karena sedikit terkejut.


“Loe?” teriaknya kaget.


Tidak heran lagi, untungnya aku sudah melakukan persiapan, kalau sewaktu-waktu aku bertemu dengan Jess pada waktu yang kurang tepat.


Akhirnya, sekarang aku bertemu dengannya.


“Jadi, loe tamu spesial itu?” Tanyanya dengan nada tinggi dan tidak percaya.


Jadi dia tidak tahu tentang tamu yang akan datang? Itu berarti, peluang untuk membubuhkan racun, akan sangat sedikit, bukan?


Aku hanya diam sembari menyembunyikan sedikit perasaan takut darinya.


“Beraninya loe nginjekin kaki loe ke sini!” bentaknya.


Aku tak terima dengan bentakannya itu. Aku mendelik ke arahnya.


“Gak usah sok gak ngijinin gue, deh. Inget, loe itu cuma numpang di sini!” Tepisku kelihatannya membuat dia shock tidak karuan.


“Apa? Demi apa, loe kurang ngajar banget sih jadi orang!”

__ADS_1


__ADS_2