Dosen Idiot

Dosen Idiot
90. Masalah Baru 3 (SEASON 2 EPS. 8)


__ADS_3

"Ternyata, Pak Morgan orangnya seperti ini yah." Imbuh Farha. Morgan terlihat santai dan tidak memperdulikan ucapan Farha.


"Lagian, hubungan kalian berdua sebenarnya apa sih?" Sambungnya. Aku sampai terkejut saat ia berkata demikian. Apa Aku tidak boleh dekat dengan Morgan?


"Kami berdua berpacaran. dan kami di sini sedang berlibur." Jawab Morgan enteng. Farha terlihat menatapnya aneh.


"Apa boleh, Dosen dan Mahasiswa memiliki ketertarikan masing-masing?" Tanyanya sedikit tajam. Farha sedang membicarakan apa? Apa tidak boleh seperti itu?


"Kenapa tidak? Manusia di ciptakan berpasang-pasangan. Tak pandang usia, tak pandang jabatan. Kalau suka sama suka, mengapa tidak?" Morgan menjawab dengan sangat sempurna. Terlihat kegelisahan di wajah Farha. Aku jadi ingat, wajah terkejut Farha saat mengetahui Aku dan Morgan sedang menjalin hubungan.


Morgan mendekat ke arah Farha.


"Apa kamu.. Iri?" Tanya Morgan seperti sedang menyerang balik Farha. Farha terlihat seperti orang yang gelagapan.


"Saya? Gak sama sekali!" Tepis Farha. Aku hanya memperhatikan mereka berdua dengan seksama. Apa maksudnya?


"Kalau begitu, tinggalkan tempat ini. Sekarang." Suruh Morgan. Farha mengambil semua barang-barangnya dan segera meninggalkan kami berdua di sini. Aku merasa Morgan sudah keterlaluan dengan semua yang ia lakukan. Bisa-bisanya dia mengusir Teman ku. Tapi kembali lagi, Aku tidak bisa melakukan apapun. Aku tidak berhak.


"Loe keterlaluan tau gak!" Bentak ku. Ia hanya memandang ku dengan tatapan dingin.


"Yang keterlaluan Saya, atau dia?" Tanyanya, Aku menoleh spontan ke arahnya.


"Ya Loe lah!" Bidik ku. Morgan membuang pandangannya dan segera melihat ke arah ku kembali.


"Mulai sekarang, jauhi dia." Ucap Morgan memperingati ku dengan keras. Aku bingung kenapa Ia sampai hati berbuat seperti itu pada Teman ku sendiri.


"Gak bisa gitu dong, Gan!" Bentak ku. Ia membuka kemeja yang ia kenakan, dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Morgan selalu bersikap seenaknya sendiri, membuat ku selalu kesal.


"Ish apaan sih! Kok kesel yah jadinya?" Lirih ku sembari memukul-mukul bantal yang sedari tadi Aku pegang. Kalau seperti ini terus, kapan waktu yang tepat untuk bisa memberikan kado yang sudah Aku siapkan untuk Morgan?


Morgan sudah selesai mandi dan sekarang seperti biasa, Ia keluar dengan hanya memakai sehelai handuk yang Ia lilitkan di sekeliling pinggangnya. Badannya yang kekar, membuat diri ku sedikit mabuk saat melihatnya. Kenapa Aku sampai melupakan tubuh atletis yang Morgan punya? Ia sudah sangat Perfect untuk menjadi seorang pacar. Ia memakai kemeja baru yang ia ambil di dalam kopernya. Kini, Ia sudah selesai dan sedang menyisir rambutnya.


"Saya harus pergi untuk membeli makanan. Bisakah Kamu menunggu Saya dan jangan kemana-mana sebelum Saya kembali?" Tanyanya, Aku tersadar dan langsung menyeleneh padanya.


"Bisa gak Kamu pake bahasa sehari-hari aja gitu?" Tanya ku balik. Nampaknya, Ia tidak memperdulikan yang aku bicarakan. Ia menaruh sisir rambut itu di atas meja dan segera memakai Mantel tebalnya. Apa ini saat yang tepat untuk memberikan hadiahnya padanya?


"Aku pergi dulu."


"Cuppp.." Ia mengecup kening ku sekilas. Aku merasa sedih saat Ia mengecup kening ku. Ia pergi dengan mantel yang Ia punya. Tanpa Aku bisa memberikannya lebih dulu.


"Hufffttt... Mungkin nanti setelah Dia kembali." Lirih ku yang sedih sembari menatap sendu hadiah itu.


-MORGAN MAIN-

__ADS_1


Aku pergi untuk mencari makan malam untuk Ara dan juga Aku. Aku mengunci pintu kamar hotel, tentu saja Ara juga memegang kuncinya. Jadi, Aku tidak perlu khawatir lagi dengan Ara saat Aku tidak berada di sampingnya.


"Greepppp..." Seseorang menarik lengan ku dengan kasar. Aku merasa kesal karena harus berhadapan dengan orang asing lagi.


"Brakkkk..." Ia melemparkan tubuh ku ke sudut ruangan dekat pintu. Ia mendekatkan dan memojokkan tubuh ku, bahkan menguncinya dengan kedua tangannya yang ia tempelkan di dinding.


"Mau apa kamu?" Tanya ku dengan tatapan sedingin salju. Ia terlihat takut dengan ekspresi ku yang seperti ini. Memang sudah sepatutnya seperti itu.


"Aku masih harus membalaskan dendam pacar ku yang mati karena kamu!!" Ucapnya dengan kasar. Aku melihat ke arah pintu kamarnya yang masih terbuka. Bagaimana jika semua orang melihat adegan tidak mengenakkan ini?


"Apa Kamu yakin, kalau Saya yang sudah membunuh Hito?" Tanya ku kembali kepadanya. Ia meneteskan air matanya tepat saat aku menyebutkan nama Hito.


"Kenapa kamu menangis?" Tanya ku yang mulai iba dengannya. Aku tidak bisa melihat wanita menangis. Terutama Ara.


"Apa sekarang Kamu sudah menang karena sudah merasa bisa menyingkirkan Hito?" Tanyanya. Aku hanya diam sembari melihat ekspresi dirinya.


"Saya bisa saja mendorong Kamu." Ucap ku dengan bahasa yang tidak biasa. Spontan ia menoleh ke arah ku. Aku melihat ke arah pintu kamar yang masih terbuka. Ia segera menyingkir dan menutup pintu kamarnya. Aku merapihkan mantel ku yang dibuat berantakan olehnya.


"Ceritakan dengan detil! Saya mau mendengar semuanya." Ucapnya yang sudah duduk di atas ranjang. Aku mengikuti kemauannya dan juga duduk di sebelahnya.


"Kamu yakin mau mendengarnya?" Tanya ku. Ia terlihat tidak bisa konsentrasi karena terus menerus mengeluarkan air mata tanpa bersuara. Wajahnya selalu ia tutupi dengan cara menunduk.


-FLASH BACK ON-


Aku adalah Mahasiswa yang baru lulus S1 di salah satu Universitas ekonomi terbaik di Indonesia. Aku memilih melanjutkan S2 ke di University of Tokyo agar bisa melupakan masa lalu yang suram karena masalah Wanita. Aku berniat untuk Move on dan mencari pengganti dirinya.


Setelah masuk ke dalam kampus ini, Aku merasa kehidupan ku jauh lebih tenang dari sebelumnya. Tidak ada yang mengenal ku di sini. Aku aman dari masalah yang tidak ingin aku rasakan keterlibatannya.


Sampai suatu hari, Aku mendapatkan pekerjaan di suatu bar dekat Kampus untuk sekedar memenuhi kebutuhan ku selama belajar di sini. Kan tidak etis kalau selama 3 tahun ke depan, Aku terus bergantung pada Naoki? Meskipun sepertinya Naoki tidak akan keberatan.


Setelah beberapa waktu Aku menghabiskan waktu ku di bar, Aku bertemu dengan Meygumi. Orang yang sempat ku tolong karena sedang diganggu oleh beberapa laki-laki hidung belang. Aksi heroik ku mungkin saja mulai membuat dirinya terkesima pada ku. Aku pun berpikir kalau Aku harus melupakan Putri, Wanita yang sudah mati itu. Meygumi lama-lama membuat Aku nyaman dengan sikapnya. Sampai akhirnya, Aku dibantu olehnya dan secara tidak sengaja, keuangan ku pun dibantu oleh Meygumi. Aku diberi tempat tinggal yang layak sehingga Aku tidak perlu tinggal lagi di tempat Naoki.


Paling tidak, sampai Aku mengetahui kalau semuanya sudah diawali dengan kebohongan. Para Laki-laki hidung belang yang ku jumpai waktu itu saat di bar, ternyata adalah orang suruhan Meygumi yang dengan sengaja disuruh untuk menjebak ku. Tidak ada yang salah di sini, Aku hanya merasa tertipu. Aku memaafkan Meygumi. Sampai tiba saatnya, sedalam apapun bangkai dikubur pasti akan tercium juga. Setelah Aku menolaknya terus dan terus untuk tidak melakukan hubungan intim, Ia malah melakukannya dengan Pria lain tepat di hadapan ku. Kali ini, Aku tidak bisa memaafkannya lagi.


Hidup ku penuh dengan pemburuan setelahnya. Sampai Aku memutuskan untuk membuka hati ku untuk Wanita lain. Naoki sudah memperingatkan ku untuk tidak melakukannya dan menyuruh ku untuk fokus pada tujuan ku, yaitu belajar. Tapi, kehidupan ku sebagai salah satu pekerja di bar, membuat ku malah keasyikan meminum bir dan semacamnya untuk melupakan masalah ku sejenak.


Setelah itu, saat di kampus, Aku mendengar beberapa orang yang sepertinya sedang merencanakan sesuatu. Untuk apa mereka berada di gedung tersepi di kampus ini? Pasti mereka merencanakan niat yang tidak baik. Dari suaranya, sepertinya ada sekitar 3 orang di sana. Sikap ku yang tidak sabar membuat Aku mendobrak pintu dan melihat orang-orang dari fakultas teknik di sana. Terdapat juga foto dari Junhey, Teman ku dari fakultas bahasa asing. Gadis yang sedang tenar dan naik daun itu, ternyata banyak sekali yang mengincar. Mereka mungkin terusik dengan keberadaan ku di sini.


"Anata wa koko de nani o shite iru no?! (Apa yang kamu lakukan di sini?!)." Tanyanya dengan nada tinggi. Telinga ku sampai pengang karena teriakannya.


"Junhey no shashin de nani o shite iru no? (Apa yang kamu lakukan dengan foto Junhey?)." Tanya ku kembali. Ia memelototi ku bahkan mungkin matanya hampir copot saking marahnya Ia.


"Watashi shidai. Kono hito wa watashi no gārufurendodesu! (Terserah Aku. Orang ini adalah pacar ku!)." Tepisnya dengan angkuh.


"Reipu de satsujin o kuwadatete, koibito to yoberu mono wa? (Apa yang bisa Anda sebut kekasih dalam upaya pembunuhan dengan pemerkosaan?)."

__ADS_1


"Anata wa dorehodo yūkan ni miemasu ka (Berani sekali kau rupanya)."


Terlibat perkelahian yang sengit antara Aku dan 3 orang Laki-laki bejat itu. Aku mendengar niat mereka yang tidak baik karena mereka ingin melakukan pencobaan pembunuhan dengan cara memperkosa terlebih dahulu. Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau tidak, reputasi Wanita terpopuler di Kampus ini akan hancur. dan yang akan menerima imbasnya adalah Kampus ini.


Aku di belenggu oleh mereka. Sampai akhirnya, Aku tidak sabar dan menghantam kepalanya dengan kepala ku. Sudah tidak ada yang bisa Aku lakukan lagi. Ia tak sadarkan diri. 2 temannya melepaskan diri ku.


"Tesss..." Tetesan darah segar mengucur dari kening ku. Aku tidak tahu kalau kejadiannya akan separah ini.


"Hito!!" Pekik seorang Wanita dari arah belakang. Ia berhambur memeluk Hito yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah segar yang selalu mengucur dari kepalanya. Aku bingung kenapa bisa jadi seperti ini? Padahal, Aku sama sekali tidak berniat untuk membunuhnya. Aku pergi meninggalkan mereka yang berada di dalam ruangan usang ini.


-FLASH BACK OFF-


"Jadi, Kamu gak berniat sama sekali membunuhnya?" Tanyanya dengan nada yang sudah sedikit melunak. Aku memperhatikan wajahnya.


"Saya gak bermaksud demikian. Karena setelah itu Kamu langsung pergi untuk mengikuti pertukaran pelajar, Kamu jadi tidak tahu kebenarannya." Ucap ku dengan nada seperti orang yang tidak bersalah. Padahal, harusnya Aku tidak sampai berbuat sekejam itu padanya.


"Kebenaran? Kebenaran karena Kamu sudah mengirim dia ke neraka?" Tanyanya. Nadanya kian naik. Aku tidak bisa menerima ucapannya itu.


"Jaga bicara mu ya! Hito belum mati!!" Ucap ku asal.


"Ups.." Lirih ku. Sepertinya, Aku keceplosan karena terbawa emosi setelah mendengar ucapannya. Ia terlihat sedang melotot ke arah ku walaupun ia sedang menangis. Aku menelan ludah ku sendiri. Entah kenapa, ini terasa sangat sulit untuk ku lewati.


"Apa Kamu bilang? Hito masih hidup?" Tanyanya dengan ekspresi yang sangat tercengang. Aku mau tidak mau merespon pertanyaannya dengan cara mengangguk. Sekian lama ku menghindarinya. Tapi hari ini, kelihatannya Aku harus berterus terang.


"Kalau Kamu masih gak percaya, Kamu bisa periksa ke rumah Neneknya di Yokohama." Ucap ku. Ia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ke.kenapa Kamu bisa tahu?" Tanyanya yang nampak belum percaya penuh pada ku. Ya, memang sulit dipercaya sih. Tapi karena Junhey langsung pergi untuk memenuhi undangan pertukaran pelajar, Ia jadi tidak sempat bertemu dengan Hito.


"Saya yang sudah kasih informasi yang salah ke Kamu. dan itu pun atas kemauan Hito sendiri. Karena dia merasa bersalah pada mu. Dia sudah ingin mengiklaskan mu. Makanya, dia meminta Saya untuk memberi tahu kamu kalau dia sudah meninggal. Semata-mata hanya ingin melepas Kamu karena rasa bersalahnya." Jawab ku. Ia semakin menangis deras. Aku tak tega melihatnya. Aku melangkah meninggalkannya yang sedang menangis.


"Jaga diri Kamu baik-baik. Jangan mengganggu Saya lagi dengan hal-hal yang tidak Kamu ketahui secara jelas." Ucap ku.


"Kalau butuh apa-apa, Saya ada di sebelah sampai Sabtu depan." Tambah ku. Ia masih saja menangis. Aku tidak enak hati dan langsung pergi meninggalkannya. Aku melewati kamar hotel ku. Aku meraba kantung celana ku.


"Ya Tuhan! Dompet!" Aku baru saja ingat, Aku melupakan dompet ku. Aku kembali memeriksanya di dalam kamar hotel.


"Ckleeekkk..." Aku membuka pintu kamar hotel ku. Sepi, sunyi, tak ada siapa pun. Aku mencari keberadaan Ara.


"Ara.. Kamu di mana?" Pekik ku. Namun tidak ada jawaban darinya. Aku mencari di segala sisi termasuk di dalam toilet. Namun, Ia tidak terlihat di mana pun. Aku melihat bingkisan yang sudah terbungkus rapi. Dengan sigap, Aku langsung membukanya.


Di dalamnya terlihat Jaket berwarna coklat muda, mirip seperti yang sering dipakai para detektif itu. Aku lihat, ada sebuah kartu di dalamnya. Aku membacanya dengan seksama. Ternyata, isi suratnya ditujukan untuk ku. Pipi ku terasa panas seketika. Aku tidak menyangka, Ara akan semanis ini.


Aku mengeluarkan handphone ku untuk menghubungi Ara. Aku mulai khawatir dengan keberadaannya.


"Bipp.."

__ADS_1


"Tuuuuttt...."


@sarjiputwinataaa


__ADS_2