Dosen Idiot

Dosen Idiot
95. Kembali (SEASON 2 EPS. 13)


__ADS_3

"Sūnengo, gārufurendo no Morgan ga Junhey no kotoba o hayaku kiitara, ōkina mondai ga hassei surudeshou. Saiwaina koto ni, kare wa anata no gengo o rikai shite imasen. (Beberapa tahun lagi jika pacarnya morgan mendengar ucapan Junhey tadi, akan terjadi masalah besar. untung saja dia belum mengerti bahasa mu)." Ledek Naoki. Tawanya pecah sehingga membuat Ara terlihat kebingungan.


"Kenapa? Kok pada ketawa?" tanya Ara ternyata benar dugaan ku. Ya, siapa sih yang tidak bingung kalau tiba-tiba seseorang tertawa tanpa Ia tahu penyebabnya.


"It's okay, Ara. You're not offended, are you? We're just kidding. (Tidak apa-apa, Ara. Kamu jangan tersinggung ya? Kami hanya sedang bercanda)." Jelas Naoki. Ara terdiam sejenak kemudian tersenyum ke arahnya.


"Junhey akan kembali dinas sebagai pramugari. Kemarin dia mengambil cuti untuk sekedar bertemu dengan teman-teman lamanya. Termasuk juga Saya. Jadi Junhey kemari untuk berpamitan dengan kami termasuk juga berpamitan dengan kamu. Segala permasalahan kami yang ada sudah terselesaikan dan kami sudah menjalani kehidupan pertemanan yang lebih baik dari sebelumnya. Saya harap, kamu bisa berteman baik dengan Junhey suatu saat jika kita dipertemukan kembali. Untuk lebih detailnya, nanti akan Saya jelaskan ke kamu." Jelas ku panjang lebar. Terlihat tatapan wajah Ara yang langsung berubah menjadi lebih bahagia dari sebelumnya. Ia menghampiri Junhey tiba-tiba. Dengan wajah yang malu, Ia terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya.


"Kakak mengerti Bahasa Indonesia kan? Jadi, Aku tidak perlu repot untuk menerjemahkannya ke dalam Bahasa Inggris. Aku mau ngasih kakak ini.." Lirihnya. Itu terlihat sangat manis menurut ku.


"Tenang saja! Walaupun Aku keturunan Korea, tapi Aku bisa bahasa Jepang dan juga Bahasa Indonesia. Karena Aku sudah lama tinggal di Jepang dan juga sudah lama berteman dengan banyak orang yang berasal dari Indonesia. termasuk juga berteman dengan Morgan." Jelasnya.


-ARA MAIN-


Aku sangat terpukau dengan penjelasannya mengenai garis keturunan dirinya. Tanpa disangka, ternyata dia turunan Korea. Tapi, kenapa harus Junhey? Kenapa tidak Joon hee?


Ia mengambil pernak-pernik yang berada di tangan ku yang kemarin ku beli untuk oleh-oleh dan menerimanya dengan senyuman. Untuk pertama kalinya, Aku terkesima dengan seorang Wanita. Dia terlihat sangat cantik saat tersenyum dengan tulus.


"Terima kasih ya, Ara. Aku akan segera mengirimkan hadiah balasan untuk mu. Boleh Aku minta ID Line mu?" Tuturnya dengan sangat ramah. Aku sampai terkejut melongo dibuatnya. Tidak ku sangka, Aku akan menjadi sedekat ini dengannya. Aku tersadar kemudian segera mengeluarkan handphone ku.


"Sini biar Aku scan barcodenya." Aku mengarahkan handphone ku tepat di atas handphonenya.


"Yosh." Sekarang, Aku dan Dia sudah berteman di Line. Kini, kami sudah bisa bertukar chat.


"Ya sudah, Aku pamit dulu. Sampai jumpa lagi, Ara." Pamitnya. Aku tersenyum hangat padanya sembari melambaikan tangan.


"Hati-hati di jalan." Pesan ku.


"Mata ne (Sampai jumpa)." Ucap Hito kemudian pergi bersama dengan Junhey.


(Looks like I have to go back too. I have to go back to work this afternoon (Sepertinya Aku juga harus kembali. Aku harus kembali bekerja nanti siang)." Ucap Naoki tiba-tiba. Morgan mendekat ke arahnya.


"We also seem to have to return to Indonesia. I have to attend an urgent meeting (Kami juga sepertinya harus kembali ke Indonesia. Aku harus menghadiri rapat mendadak)."


"Thanks for the dinner last night. I hope you reach your destination safely. Don't forget to invite me if you guys have a wedding ceremony. (Terima kasih atas jamuannya semalam. Semoga kalian selamat sampai tujuan. Jangan lupa untuk mengundang ku jika kalian melaksanakan upacara pernikahan)."


"Deggg.."


Masih belum terbayang oleh ku tentang pernikahan bersama Morgan. Tapi, perkataan Naoki barusan membuat ku membuka mata dan membuka pola pikir ku lebar-lebar. Aku pun tidak mungkin selamanya berada dalam hubungan seperti ini bersama Morgan. Pasti akan ada saatnya jika Aku berjodoh dengannya, Aku akan melaksanakan pernikahan. Apakah itu akan terwujud? Semoga saja.


Morgan tersenyum sembari mengucapkan lelucon sebelum akhirnya Naoki berpamitan dan meninggalkan kami. Kini hanya tinggal kami berdua disini. Aku teringat sesuatu, Apa yang tadi Morgan katakan?


Oh ya! Apakah ada sebuah pertemuan mendadak?


"Apa kamu ada meeting mendadak?" Tanya ku tiba-tiba. Morgan menutup kembali pintu kamar hotel kemudian Ia berdiri di hadapan ku.


"Ya, sebelum Kamu bangun tidur tadi, Saya menerima telepon dari Prof. Handoko untuk segera mengadakan rapat tentang penutupan semester kali ini." Jelasnya. Aku hanya mengangguk kecil.

__ADS_1


"Jadi, kita berangkat kapan?" Tanya ku. Morgan tersenyum pada ku. Ia menunjukkan layar handphonenya ke arah ku. Terlihat pemesanan tiket untuk 2 orang untuk masuk kawasan wisata Tokyo Disney Resort. Mata ku langsung membulat sangking senangnya diberikan kejutan seperti itu, dan tanpa sadar Aku berhambur untuk memeluknya.


"So sweet..." Lirih ku yang masih tetap pada posisi memeluknya. Aku meregangkan pelukan ku dan menatapnya.


"Mumpung kita ada di Jepang, kita habisin waktu liburan kita yang sempat tertunda." Gumamnya. Aku tersenyum dan mengangguk setuju padanya.


"Tunggu apa lagi? Ayo siap-siap!" Suruhnya. Aku mengangkat tangan ku dan hormat ke arahnya. Seperti tentara saja, hihih.


"Siap komandan! Tunggu sebentar." Ucap ku girang, kemudian segera mempersiapkan seluruh barang yang ku bawa dan memasukkannya ke dalam koper seperti semula. Aku melakukannya agar saat Aku lelah karena seharian bermain bersama Morgan, Aku tidak harus merapikan barang-barang ku lagi. Lebih baik, Aku mengemasnya sekarang.


"Siaappp..." Beberapa saat berlalu. Aku menepuk-nepukan tangan ku pertanda sudah selesai dengan semua pekerjaan yang sudah Aku lakukan. Dengan senangnya, Aku menghampiri Morgan yang sedang duduk sembari membaca novelnya. Kemudian, Aku duduk di sampingnya dan melingkarkan tangan ku pada lehernya. Ia tentu saja mengubah fokusnya ke arah ku.


"Aku udah siap masukin barang-barang. Terus kita ngapain lagi?" Ucap ku. Kami berdua saling bertatapan satu sama lain. Pandangan kami pun bertemu dan terjadi kecanggungan di sini.


"Ya memangnya mau apa lagi? Kita berangkat sekarang." Jawabnya dengan nada heran. Aku menahan kesal padanya.


'Huuuuhh.. Kenapa sih, semua cowok itu nggak peka?!' Batin ku kesal namun tidak bisa untuk mengungkapkannya aku terlalu malu untuk berterus terang padanya. Aku hanya diam sembari melipat kedua tangan ku bersedekap. Apa Aku tidak bisa seperti wanita pada umumnya yang mengeluarkan sifat manja kepada kekasihnya? Aku menyadari, setiap kali Aku menginginkan sesuatu, Aku selalu tidak bisa mengungkapkannya dan selalu tertahan.


"Muachh..."


Morgan tiba-tiba saja mencium kening ku membuat ku menjadi terdiam melotot. Ternyata Morgan tidak terlalu seperti yang Aku pikirkan. Wajah ku terasa panas sekarang. Ia mengelus lembut rambut ku dan tersenyum hangat pada ku.


"Nanti malam sudah waktunya kita kembali ke Indonesia. Saya hanya ingin hari ini tidak ada pertengkaran antara kita dan Saya ingin kita menikmati masa-masa liburan kali ini." Jelasnya. Aku menjadi sedikit malu kepadanya. Aku bahkan hampir saja marah padanya. Tak kusangka, Morgan sampai memikirkannya seperti ini.


"Mudah-mudahan ini liburan terbaik mu." Sambungnya yang langsung memeluk ku dengan lembut. Ya, memang banyak sisi dari Morgan yang masih belum Aku kenal. Aku harus mengenal lebih jauh lagi sebelum bisa menyimpulkan dirinya.


*


"Tunggu di sini." Pinta Morgan. Aku di sini menunggu Morgan yang sedang berjalan ke depan dan mengeluarkan ponselnya.


"Boleh saya minta senyumnya?" Tanyanya dengan lembut. Aku seperti kaku sekali karena sudah lama Aku tidak berpose ria dan mengambil gambar. Perasaan ku menjadi sedikit mellow. Karena tanpa ku sadari, Aku sudah mengingat masa lalu ku yang sudah lama Aku pendam. Masa lalu ku bersama dengan Reza.


Laki-laki itu... Bagaimana keadaannya sekarang? Bagaimana kabarnya saat ini. Apakah Dia baik-baik saja tanpa Aku di sisinya? Atau justru malah sebaliknya? Masa lalu ku dengan fotografi adalah masa lalu ku bersama dengan Reza.


Sudahlah. Morgan hanya meminta ku untuk berpose saja. Mungkin sebagai kenang-kenangan kita berdua di Jepang. Aku tidak seharusnya untuk mengingat Reza. Dia adalah masa lalu ku, dan kini Aku sudah memiliki kekasih.


Aku berpose indah di hadapan Morgan yang sedang memegang handphonenya. Dia memberikan ku aba-aba untuk segera memotret diri ku.


"Ckrekkk.." Suara kamera handphone nya lumayan terdengar dari perbedaan jarak diantara kami. Aku melihat reaksi Morgan yang hanya diam sembari menatap layar ke handphone nya. Aku bingung dengan reaksi Morgan yang seperti itu.


"Ada apa, Gan?" Tanyaku dengan sedikit keras karena suasana di sini cukup ramai, sehingga suara ku mungkin saja tidak terdengar terlalu jelas. Morgan terdiam beberapa saat. Wajahnya berubah seketika menjadi merah membuat ku semakin bingung.


"Gan.." Tanya ku sembari melambaikan tangan ku ke arahnya. Ia seperti tersadar dari lamunan dan berusaha membenarkan pandangannya.


"it's okay.." Balasnya dengan keras. Aku tidak terlalu yakin dengan jawabannya. Ia lalu mendekat ke arah ku dan berdiri di sebelah ku. Jarak yang lumayan dekat membuat ku kesulitan untuk melihat wajahnya.


"Ckreeekk.." Tiba-tiba saja suara kamera handphone Morgan terdengar lagi. Ternyata Aku baru sadar, Ia ingin berselfie bersama ku. Harusnya, Ia mengutarakan perasaannya itu. Tidak secara sembunyi-sembunyi dan curi-curi seperti ini.

__ADS_1


"Ih.. Kenapa nggak bilang kalau mau foto?" Tanya ku merengek dengan sedikit kesal. Ia hanya tertawa kecil.


"Dulu malah Kamu yang sering minta difotoin. Kenapa saat ini berbeda dari yang dulu?" Tanyanya membuat ku bingung. Apa yang dia bicarakan? Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya.


"Kamu ngomong apa sih? Minta difotoin gimana maksudnya?" Tanya ku kembali karena tidak mengerti dengan ungkapannya. Ia hanya membalas ku dengan senyum.


"Foto ini akan Saya pajang di setiap sudut kamar. Lalu setelahnya foto pertunangan dan juga..."


"Foto pernikahan." Sambungnya. Lagi-lagi jantung ku berdegup kencang saat mendengar kata 'Menikah'. Apakah Dia sudah yakin dan menjatuhkan pilihannya kepada ku? Atau Aku hanyalah tempat persinggahan sementaranya?


Seketika kedua lutut ku terasa gemetar sampai Aku kehilangan keseimbangan ku. Morgan menahan ku dengan tangannya membuat ku jadi dipapah olehnya.


"Kamu kenapa, Ra?" Tanya Morgan dengan sedikit terdengar nada panik. Aku berusaha bangkit dan kembali berdiri.


"Aku gak papa." Tepis ku berusaha menutupi semua yang ku rasakan.


"Kita ke rumah sakit ya sekarang!" Ucapnya tanpa menunggu persetujuan ku. Aku menghalangi dia untuk membawa ku ke rumah sakit. Aku merasa baik-baik saja. Hanya saja, Aku seperti ini karena sudah mengingat masa lalu.


"Aku gak papa, Gan. I Swear!" Aku bersikeras untuk tetap menolak ajakannya.


"Lantas, apa yang membuat Kamu jadi begini?"


"Aku gak tau. Aku mau langsung pulang aja ke Indonesia. Tolong ubah jadwalnya ya, Gan." Ucap ku. Ia terdiam sesaat lalu segera mengeluarkan handphonenya. Ia asyik berkutik dengan handphonenya.


"Sudah. Ayo kita ke Bandara sekarang." Ajaknya. Aku hanya mengangguk, tak ada yang bisa ku lakukan lagi.


Aku dan Morgan menuju Bandara. Morgan sudah mengubah jadwal keberangkatan pesawat dari yang semula malam hari, menjadi sore hari. Aku terpaksa meminta seperti itu. Padahal Aku masih sangat betah di sini. Kini Aku sudah berada di dalam pesawat. Pesawat pun juga sudah lepas landas. Aku hanya bisa diam sembari menunggu tiba di Indonesia.


Seketika ingatan ku dan memori indah ku bersama Reza pun kembali terngiang di kepala ku. Sekarang Aku sudah tidak bisa menepis keadaan lagi. Aku telah gagal untuk mengesampingkan masa lalu. Bayangan kenangan menangkap dan membuat ku terperangkap. Kini, sayap ku kembali patah dan Aku terpaksa tidak bisa terbang kembali. Aku memaksa memejamkan mata ku, berharap semuanya hilang setelah Aku membuka mata nanti.


*


"Ehh!!" Kaget ku yang setengah berteriak. Aku bangkit dan melihat sekeliling ku.


"Ini di mana ya?" Aku berusaha mencerna keadaan sekeliling ku. Sepanjang yang ku lihat hanyalah background berwarna putih.


Tiba-tiba saja pakaian ku berubah menjadi berwarna putih. Ada apa sebenarnya? Aku bangkit kemudian berlari sekuat yang ku bisa. Tidak ada jalan keluar di sini.


"Ini di mana sih?!" Batin ku yang mulai resah karena bingung dengan penampakan sekeliling yang hanya berwarna putih.


"Ra.." Pekik seseorang. Suaranya terdengar samar, entah siapa yang sudah memanggil ku. Tubuh ku bergetar, Aku terus mengeluarkan keringat berlebih. Aku berhenti, tidak lari lagi. Aku diam sembari mendengarkan, suara siapa yang sudah memanggil ku.


"Ara.." Suara itu terdengar kembali untuk yang kedua kalinya. Aku berusaha mencerna suara misterius yang kudengar itu.


"Sraaaakkkk..." Sekelibat bayangan hitam melewati ku dengan begitu cepat. Namun ketika Aku melihatnya kembali, Ia sudah tidak ada.


@sarjiputwinataaa

__ADS_1


__ADS_2