
"Mm.. Kalau seandainya, Gue ngedeketin Arasha, apa Loe bakal kasih izin?" Tanya Ilham pada Kakak.
"Deg.."
Jantung ku berdebar dan mungkin sempat berhenti sejenak. Apa yang barusan Ilham ucapkan kepada Kakak? Apa Aku tidak salah dengar? Ilham meminta izin dengan Kakak? Ada apa sebenarnya ini, Apa Dia mengambil kesempatan atas kesalahan yang sudah menimpanya dan melibatkannya itu?
Aku menutup mulut ku dengan kedua tangan ku. Aku tidak percaya dengan apa yang Aku dengar. Seketika tubuh ku menjadi lemas tak berdaya.
"Loe ngomong apa tadi? Deketin Arasha? Apa Gue nggak salah dengar?" Tanya Kakak kembali untuk memastikan ucapan Ilham. Ia terlihat melontarkan senyum ke arah Kakak.
"Mungkin terlalu bikin Loe kaget ya? haha. Jadi gini ceritanya, Loe beberapa kali ngajak Arasha ke kantor. Saat itu, Dia masih SMA. Pertemuan waktu itu, bikin Gue jatuh cinta pandangan pertama sama Ara. Kalau Gue boleh jujur, sampai sekarang Gue masih nyimpen rasa itu buat Dia." Jelas Ilham.
Ternyata pemikiran ku salah. Ilham bukan sedang memanfaatkan keadaan, tapi Dia sudah menyukai ku sejak lama. Tapi Aku tidak merasakan bahwa Dia menyukai ku? Biasanya kalau seseorang suka dengan orang lain, Dia pasti akan melakukan hal-hal yang membuat orang itu menjadi Simpati dengannya. Tapi Aku tidak melihat Dia melakukan hal-hal yang lebih dari pekerjaannya waktu itu.
"Tapi kan Ara udah sama..."
"Morgan?" Ilham memotong pembicaraan Kakak. Ternyata omongan mereka sudah sampai sejauh ini. Tetapi, Aku masih penasaran dengan omongan mereka selanjutnya.
"Iya, kan Loe tahu." Ucap Kakak yang masih bersikeras tapi Ilham hanya tersenyum.
"Kemarin, Morgan mengakhiri hubungannya dengan Ara." Jelas Ilham. Mendengar kalimat itu kembali, Aku menjadi semakin sakit. Bahkan sampai sekarang Aku masih tidak percaya kalau hubungan ini telah berakhir.
"Hah? Serius?" Kakak terdengar seperti tidak percaya. Tak sadar, Aku kembali menangis. Aku sengaja tidak memberitahu hal ini pada Kakak. Tapi Ilham sudah memberitahunya. Mau bagaimana lagi?
Dengan segera, Aku mengusap seluruh air mata yang keluar karena takut Kakak atau Ilham melihat ku menangis nanti.
"Kok bisa? Apa gara-gara masalah kemarin?" Tanya Kakak lagi. Ilham hanya mengangguk. Kakak terlihat seperti orang yang tidak percaya. Dia masih kelihatan bingung.
"Ya ampun, enggak nyangka Gue. Kenapa Dia bertindak gegabah begitu sih? Harusnya bisa diomongin baik-baik." Lirih Kakak. Ilham tak merespon ucapannya kali ini.
"Jadi gimana, soal pertanyaan Gue yang tadi? Apa.. Gue boleh deketin Ara?" Tanya Ilham. Aku tidak boleh membiarkan Kakak mengatakan apapun tentang pertanyaannya itu. Aku bergegas menghampiri mereka untuk memotong percakapan mereka.
"Kalau Gue sih..."
"Kakak!" Aku memotong ucapan Kakak. Aku tidak ingin membahas soal perasaan lagi saat ini. Hati ku masih sangat sakit karena menjalin hubungan dengannya. Aku masih ingin menata kembali perasaan ku.
"Kenapa, Ra?" Tanyanya. Aku berdiri di hadapannya sekarang.
"Handphone Aku ketinggalan di mobilnya kak Ilham." Ucap ku.
__ADS_1
"Biar Aku yang ngambil ya Ra." Ucap Ilham tiba-tiba. Bagus sekali kode ku itu. Aku memang sengaja agar Ilham tidak berada di sini dulu sementara. Aku ingin mengatakan sesuatu pada Kakak.
"Makasih, Kak Ilham." Ucap ku dengan nada terimut yang Aku miliki. Ia seperti terdiam, sesaat setelah melihat respon ku.
"Ya." Ia menjawab ku dengan singkat, kemudian segera menuju ke tempat mobilnya di parkir. Kini hanya ada Aku dan Kakak saja. Aku meliriknya dengan sinis. Kakak yang menyadari ku langsung membalas tatapan ku dengan tatapan yang sama.
"Kenapa Kamu kayak gitu?" Tanya Kakak dengan nada sedikit lebih tinggi. Aku melipat kedua tangan ku dan menyedekapkannya.
"Kakak nggak usah ngomong apapun yang menyangkut soal perasaan ke Kak Ilham! Aku lagi nggak mau diganggu." Sinis ku. Kakak mengernyitkan dahinya.
"Kenapa Kamu belum bisa move on dari Morgan?" Tanyanya sinis. Aku menatapnya dengan tatapan malas.
"Siapa yang belum bisa move on? Lagian juga Aku nggak cinta-cinta banget sama Morgan. Biasa aja tuh!" Ucap ku sembari membuang pandangan ku. Aku tidak mau terlihat lemah di mata Kakak. Ia memandang ku dengan tatapan meremehkan.
"Sok kuat sekali Wanita ini." Kakak meledek ku kali ini. Ia benar-benar tidak percaya dengan perkataan yang tadi ku katakan.
"Ya kita lihat aja nanti." Ucap ku yang menerima tantangan dari Kakak. Semoga saja, perasaan ku pada Morgan bisa hilang dengan cepat.
"Ini handphone Kamu, Ra." Ucap Ilham yang tiba-tiba datang sembari menyodorkan handphone ku. Seketika layar handphone ku menyala dengan sendirinya. Terlihat wallpaper foto ku dan Morgan saat makan di mall waktu itu. Jujur saja, hati ku agak mellow saat melihatnya.
"Ciee.. Ada yang sok kuat padahal mah belom move on. Wallpaper aja belum diganti." Ledek Kakak. Aku dengan segera merampas handphone ku dari tangan Ilham dan menaruhnya dikantong jaket ku. Aku menatap Kakak sinis.
Aku menuju kamar ku dengan perasaan kesal.
"Plukkk.." ku lemparkan handphone ku ke atas ranjang tidur ku. Dengan segera, Aku mengambil handuk untuk sekedar membilas tubuh ku yang sudah terasa lengket. Perlahan, Aku melepas pakaian yang ku kenakan. Lalu menyalakan shower dan membiarkan tubuh ku terbilas oleh air yang mengalir. Pikiran ku sangat kacau saat ini. Bisma sudah sampai di Indonesia, dan Dia ingin sekali bertemu dengan ku sore ini. di sisi lain, Ilham menyatakan perasaannya dan meminta izin pada Kakak untuk mencoba lebih dekat dengan ku. Tapi saat ini, Aku masih merasakan luka yang begitu dalam karena tiba-tiba saja, Morgan kehilangan kepercayaannya pada ku dan dengan mudahnya mengakhiri semua yang sudah kita bangun selama ini. Apa Dia tidak pernah memikirkan bagaimana sulitnya perjuangan mendapatkan ku waktu itu? Kenapa Dia dengan mudahnya mengatakan kata pisah pada sesuatu yang belum jelas Dia ketahui?
"Jadi ini maksud perkataannya yang katanya jangan suka sama Dia?" Lirih ku. Aku menatap hampa ke sembarang arah. Semua perkataan manis yang terucap dari mulutnya hanyalah kata semu. Pada akhirnya, Dia yang meninggalkan ku sekarang. Aku meremas kencang rambut ku yang sudah basah karena terkena percikan air. Kalau seperti ini, apa Aku bisa melupakan Morgan dengan cepat?
"Lantas bagaimana dengan perasaan Bisma dan juga kak Ilham? Walaupun Bisma itu mantan Gue, tapi perlahan perasaan Gue sama Dia udah hilang. Gimana dengan Kak Ilham? Dia bahkan udah lama suka sama Gue. Tapi mau bagaimana, Gue sama sekali nggak ada perasaan sama kak Ilham." Aku terus-menerus berpikir tentang perasaan ku kedepannya pada mereka. Padahal saat ini, yang Aku inginkan hanyalah Morgan. Kenapa keadaan bisa berbalik secepat ini? Kenapa malah Aku yang jatuh cinta pada Morgan? Bukankah sebelumnya Morgan yang terus-menerus mengejar ku?
"Arghhhhh!!"
Aku terus-menerus berpikir yang tidak-tidak. Hingga saat ini, Aku menjadi sangat marah. Aku marah pada diri ku! Kenapa Aku tidak bisa mendapatkan ketenangan sedikit saja? Aku memang menyukai laki-laki yang tampan, tapi itu hanya sekedar suka. Kalau untuk mencintai sepertinya dibandingkan Bisma ataupun Ilham Aku lebih mencintai Morgan.
Apa yang harus Aku lakukan setelah ini? Apa Aku harus menggunakan Bisma agar Ilham tidak pernah mendekati ku lagi? Apa Aku terlalu naif? Ilham secara sukarela membiarkan dirinya terlibat dengan Morgan, hanya untuk menolong ku. Tapi Aku malah menggunakannya lagi untuk membuat dirinya menjauh dari ku. bagaimana ini? Apa Aku menyerah saja dan menerima permintaan Kakak untuk melanjutkan pendidikan ku di luar negeri? Paling tidak, Aku tidak akan pernah bersentuhan lagi dengan mereka selama beberapa tahun kedepan. Tapi bagaimana dengan kawan-kawan ku di sini? Walaupun Fla adalah adik kandung Morgan, tapi Aku sama sekali tidak membencinya. Aku tidak perduli nantinya akan jadi seperti apa. Yang jelas, Aku hanya tahu pertemanan ku dengan Fla saja. Aku tidak memperdulikan hubungan masa lalu ku dengan Morgan.
"Gue harus cerita ke siapa? Kalau malam itu Dicky nggak kecelakaan sama Morgan, pasti siang ini Gue curhat sama Dia dan numpahin semua rasa kesal di hati Gue." Lirih ku. Aku jadi teringat dengan keadaan Dicky saat ini. Apa Dia baik-baik saja? Apa Aku harus menjenguknya?
Aku bergegas untuk memakai baju ku. Aku memeriksa handphone ku, khawatir ada notifikasi yang belum terlihat. Setelah ku periksa, benar saja! Bisma berkali-kali mengirim pesan singkat pada ku. Sepertinya Dia sangat berharap untuk bertemu dengan ku lagi. Tapi sepertinya sekarang, Aku sedang tidak mood.
__ADS_1
"Hai, Ra. Gimana sore ini? Kita jadi ketemu, kan?"
"Hallo, Arasha.."
"Lagi tidur ya?"
"Masih belum bangun juga?"
Pesan singkat dari Bisma yang sejak tadi pagi sama sekali belum terbaca. Aku menghela nafas ku panjang. Aku harus mencari cara untuk menolaknya. Tapi tidak bisa, karena Dia sudah jauh-jauh datang. Sama saja, Aku tak punya etika baik padanya.
Tapi bagaimana dengan Ilham? Dia masih saja menunggu di sana dengan Kakak. Apa Dia sedang menunggu ku? Kalau benar Dia masih menunggu, akan sangat sulit untuk Aku bisa keluar rumah dan menemui Bisma.
Aku keluar dan mengintip ke arah ruang tamu. Terlihat Ilham dan Kakak yang sedang menyantap makanan cepat saji yang mungkin saja Kakak pesan tadi. Aku berbalik dan menyandarkan tubuh ku ke dinding.
'Yah kan masih ada!' Batin ku mengaduh. Aku pikir, Dia sudah tidak ada karena tadi aku lumayan lama berada di kamar mandi. Aku harus mengatakan apa pada Bisma?
Aku perlahan mendekati mereka dengan perasaan yang sangat bingung. Bisma mungkin saja saat ini sedang berada di jalan menuju ke sini. Aku tidak bisa bersiap, tidak tahu harus berkata apa. Seandainya Aku tadi tidak mendengar percakapan Ilham dengan Kakak, Aku pasti tidak akan merasa lebih canggung saat berhadapan dengannya.
"Lama amat sih Ra mandinya!" Gerutu Kakak. Baru seperti itu saja, sudah membuat ku kesal! Apalagi Kakak berbicara yang tidak-tidak seperti tadi, sesaat sebelum Aku meninggalkan mereka untuk mandi. Aku melontarkan senyuman pahit ke arah Kakak.
"Biasa aja kali, nggak usah pasang tampang kayak gitu!" Ledek Kakak. Aku menjulurkan lidah ku kearahnya. Aku tidak bisa membalas Kakak lebih dari ini.
"Kamu belum makan kan, Ra? Mau nggak cobain ini? Tadi Saya pesan delivery." Ucap Ilham. Suaranya selalu terdengar halus di telinga ku. Sebetulnya, Ilham adalah sosok Laki-laki yang menurut ku sangat manis, jika Ia tersenyum. Kata-katanya pun sangat lembut dan selalu mengutamakan diri ku. Dia juga sangat pintar dan juga bertanggung jawab dalam pekerjaannya itu, terbukti saat Kakak ku mengalami drop karena perusahaan keluarga ku yang hampir saja gulung tikar. Ilham dengan cepatnya menyelesaikan semua itu dengan ide-ide cemerlang yang selalu bisa Ia berikan. Untuk semua itu, Aku sangat kagum padanya. Padahal Morgan saja tidak seperti itu! Dia adalah dosen idiot yang awalnya tidak ingin Aku dekati. Tapi saat ini, justru Aku yang malah menjadi idiot dihadapannya. Aku terus menangis saat berhadapan dengannya langsung. Aku tidak bisa menahan untuk tidak menangis di depannya. Semua itu mengalir sendiri tanpa ada rekayasa. Mungkin saja.. Aku sangat kehilangan dirinya.
"Ra..?"
"Ra..?" Panggil Ilham. Aku pun tersadar, dan dengan spontan melihat ke arahnya.
"Eh, iya Kak kenapa?" Tanya ku yang memintanya untuk mengulang kembali pertanyaannya.
"Kamu belum makan, kan? Kamu mau nggak makan ini?" Ucapnya mengulang kembali pertanyaannya. Nadanya masih terdengar sama seperti tadi. Siapa yang bisa menahan perasaan jika terus-menerus diperlakukan baik seperti ini?
"Makasih, Kak. Aku makan bareng temen Aku aja nanti. Sebentar lagi, Dia sampai kok." Ucap ku. Mau tidak mau Aku harus mengatakannya agar Dia tidak menahan ku lagi, dan tidak beralasan dengan alasan apa pun agar Aku tetap di sini. Ia terlihat mengernyitkan dahinya ke arah ku. Aku tahu, Dia pasti sedang bertanya-tanya dalam hatinya, siapa teman ku yang akan menjemput ku nanti. Biarkanlah! Aku memang sengaja agar Dia tidak melangkah lebih jauh dari ini.
"Kamu mau ke mana, Ra? Saya bisa antar Kamu kok, kalau Kamu mau pergi ke suatu tempat." Gumamnya. Benar saja dugaan ku! Dia malah semakin nekat maju beberapa langkah lagi. Mungkin Dia pikir, Aku tidak mendengar ucapannya dengan Kakak tadi. Baguslah Aku mendengar separuh ucapannya tadi! Aku bisa dengan mudahnya menjaga jarak dengan Ilham. Aku tidak mau masuk ke dalam lingkaran cinta lagi untuk beberapa waktu ke depan. Cukup, Aku ingin menata perasaan ku dulu.
"Gak usah, Kak. Teman Aku dari Amerika datang hari ini, dan Aku pengen ngajak Dia buat keliling tempat ini." Tolak ku. Ilham terlihat hanya diam, bahkan Ia sama sekali tidak berekspresi.
"Siapa teman Kamu yang dari Amerika?" Tanya Kakak tiba-tiba. Aku mengernyitkan dahi ku padanya.
__ADS_1
"Kepo."