Dosen Idiot

Dosen Idiot
72. Aishiteru, Arasha.


__ADS_3

"Lho, kamu ngapain di sini?" Tanya kakak heran. Aku berusaha mengolah nafas ku yang hampir habis karena berlarian tadi.


"Jalan dulu." Ucap ku dengan terengah-engah. Perlahan, aku mengatur nafas ku yang masih tersendat.


Aku dan kakak beranjak pergi dari cafe ini menuju kediaman kami. Kakak melirik ku dengan tatapan heran. Aku hanya memandang malas ke arah depan ku sembari menekuk wajah ku.


"Kenapa sih? Kayaknya lagi bad mood ya?" Tanya kakak heran. Aku langsung menoleh ke arah kakak yang sedang mengemudi itu.


"Iya kesel! Tau nggak? Masa tadi itu aku lagi makan siang kan sama Morgan, terus tiba-tiba ada cewek yang nyamperin kita sok kenal gitu sama Morgan. Terus tiba-tiba nimbrung duduk di samping aku sama Morgan. Gimana orang nggak kesel coba?!!" Jelas ku panjang lebar. Aku hanya melihat Kakak tersenyum ke arah ku. Aku yang mengetahui hal itu langsung saja kesal dan memukul dadanya tanpa ragu.


"Brukkkkk.."


"Adddawww.." Rintih kakak sembari mengelus dadanya yang barusan ku pukul.


"Aku lagi gak bercanda kak!" Bentak ku padanya. Ia masih saja tersenyum.


"Cie cemburu." Ledeknya. Aku semakin kesal mendengar ledekannya itu.


"Aku serius kak! Tadi ada cewe namanya Tata kalau ga salah. Dia kayak sok kenal gitu sama Morgan." Bentak ku. Kakak kembali menatap arah hadapannya.


"Oh Tata. Dia emang udah lama suka sama Morgan. Tapi ya Morgan emang dingin banget sama semua orang. Susah banget komunikasi sama Morgan. Apa lagi, sejak si Putri meninggal. Dia jadi lebih seneng sendiri." Jelas kakak panjang lebar. Aku membulatkan mata ku. Teringat ucapan Morgan Tadi malam mengenai masa lalunya dengan wanita yang bernama Putri itu. Aku sampai lupa, kalau kakak sudah berteman sejak SMA dengan Morgan. Jadi mungkin, kakak tahu sedikit banyak tentang masa lalu Morgan dan juga Putri. Aku harus menggali lebih banyak informasi.


"Hah? Terus, gimana?" Tanya ku berusaha mengorek informasi lebih dalam tentang Tata dan juga Putri. Kakak membanting stir ke arah kiri. Saat ini, kami sudah berada di depan komplek perumahan ku. Sudah tidak banyak waktu untuk aku bertanya-tanya mengenai hal yang aku ingin ketahui.


"Singkat cerita ya gitu. Tata udah dari semester 1, bahkan dari pas masa MOS, udah mulai ngincer Morgan. Karena Morgan pernah nolong dia waktu rok dia nyangkut di lift. Dulu Morgan belum sedingin sekarang. Sejak kenal sama Putri, Morgan jadi beda. Jadi lebih tertutup sama perasaannya. Jarang banget dia ke kantin bareng kakak. Yang ada, malah baca novel terus di kelas. Dia juga jarang makan. Mungkin karena masih mikirin Putri di tambah lagi Bokap dan adiknya yang terus-menerus ngejaga jarak sama dia karena satu kesalahpahaman yang kakak sendiri gak tau ceritanya gimana." Jelasnya. Aku mata ku membulat mendengar penjelasan dari kakak. Morgan bisa se-miris itu.


"Lho.. Dia kalau makan gimana tuh?" Tanya ku yang masih penasaran dengan keadaan Morgan saat itu.


"Kadang kakak kasian sama dia. Bukan karena gak punya uang. Justru tabungan dia banyak banget buat seusia muda kayak kita di zaman itu. Kadang kakak bawain makanan dari kantin. Kalau dia gak mau makan, kadang kakak suruh Tata buat nyuapin dia." Jelasnya membuat aku agak sakit hati.


"Jadi Tata nyuapin Morgan?" Tanya ku kaget. Kakak hanya menggeleng kecil.


"Karena kakak gak mungkin nyuapin dia, jadi saking kakak kasiannya, kakak nyuruh Tata buat nyuapin Morgan. Tapi, Morgan nolak dan langsung makan sendiri. Kamu gak perlu khawatir. Morgan itu bukan type cowok yang tiba-tiba bisa berpaling dari wanita yang dia cinta."


"It's means, Dia juga ga akan lupain mantannya?" Tanya ku dengan nada memastikan. Kakak menoleh sebentar ke arah ku kemudian menoleh kembali ke arah hadapannya.


Kami pun sudah sampai di depan rumah. Kakak mematikan mobilnya dan menoleh ke arah ku.

__ADS_1


"Mungkin itu bisa aja terjadi." Lirih kakak membuat aku mengerti akan hal itu. Morgan bisa saja bersikap dingin dengan orang lain. Tapi, Morgan juga bisa saja belum melupakan wanita yang dulu ia cintai. Suatu hal yang berbeda satu dengan yang lainnya. Aku harusnya sudah paham dengan konsekuensinya. Sampai detik ini pun, aku yang sudah melewati hari-hari sendiri, masih saja memikirkan Reza yang mengkhianati perasaan ku. Aku masih belum bisa melupakan Reza yang mungkin masih hidup sampai saat ini. Bagaimana dengan Morgan? Yang wanitanya sudah tidak ada lagi di dunia ini? Mungkin perasaannya sama seperti perasaan ku saat kehilangan Ibu ku dulu. Ibu mengalami KDRT selama ini. Ayah ku sangat tempramental. Membuat aku, Ibu, dan kakak ku menjadi takut dengannya. Tak jarang aku melihat Ibu ku di pukuli hingga memar dan mengeluarkan darah. Aku jadi rindu Ibu. Sejak saat itu, aku jadi trauma saat melihat orang lain berbuat kasar kepada ku atau kepada orang-orang terdekat ku.


Tiba-tiba, Datanglah mobil yang tak asing bagi ku. Ya! Mobilnya Morgan. Aku melihatnya dari ujung sampai masuk ke area halaman rumah ku. Begitu pun kakak.


"Tuh.. Orangnya dateng." Ucap kakak. Aku hanya diam tak bisa berkata apapun. Terlihat Morgan yang baru saja keluar dari mobilnya. Ia membawa sesuatu di tangannya. Ia menghampiri ke dekat pintu mobil kakak. Kakak membuka jendela kaca mobilnya.


"Kenapa pulang?" Tanyanya dengan nada yang dingin. Aku hanya diam sembari melihat ke arah bunga yang ia pegang itu.


"Gue cabut dulu ya bro. Ada meeting siang ini. Gue cuma gak sengaja ketemu Ara di cafe tadi." Teriak kakak. Morgan menangguk sembari menunjukkan telapak tangannya. Aku menoleh ke arah kakak kemudian langsung turun dari mobil kakak. Kakak pun pergi meninggalkan kami berdua. Sangat canggung aku memandangnya. Aku langsung pergi meninggalkannya.


"Greppppp...." Ia menahan lengan ku. Aku berhenti tepat di hadapannya. Ia menyodorkan seikat bunga ke arah ku. Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.


"Untuk kamu." Ucap Morgan masih dengan sikap yang dingin. Aku menjadi kesal karenanya. Aku memandangnya dengan tatapan sinis.


"Gak usah sok paling romantis, kalo loe gak bisa memperlakuin gue dengan benar!" Bentak ku kemudian berusaha melepaskan tangan ku dari cengkeramannya. Namun, tangannya kuat sekali membuat aku merasa kesakitan karena cengkramannya. Aku merintih sakit lalu ia melonggarkan cengkramannya dari tangan ku. Aku menghempaskan tangannya itu.


"Gak usah ngasarin gue gitu! Gue gak suka!" Bentak ku kemudian pergi dari sana. Aku berlarian menuju kamar ku. Aku sengaja tidak menguncinya agar Morgan bisa dengan mudah masuk untuk meminta maaf pada ku. Hanya itu yang aku inginkan saat ini. Mungkin beberapa dekapan dan kecupan kecilnya mampu membuat aku luluh kembali.


"Brrrrrruuuukkkk..." Aku menghempaskan diri ku ke atas ranjang empuk berwarna Biru. Aku memejamkan mata ku karena aku merasa, mata ku menjadi panas. Aku tidak memiliki tenaga sedikit pun dan perut ku terasa seperti terbakar perih. Apa aku salah makan? Oh tidak! Aku telat makan! Aku mempunyai penyakit Magh yang sudah lama tidak kambuh lagi. Sekarang mungkin penyakit itu kambuh kembali setelah aku berusaha menjaga pola makan ku, dan akhirnya sekarang aku harus merasakan sakit itu lagi. Aku memegang perut ku yang terasa panas sembari memejamkan mata ku. Aku menunggu Morgan datang. Namun, sudah beberapa saat berlalu, Morgan tak kunjung datang juga ke kamar ku. Aku bingung dan penasaran dengan keadaan Morgan di luar sana. Aku mungkin saja membentaknya terlalu keras tadi. Aku yang penasaran langsung saja mencari keberadaan Morgan.


Aku menuju halaman depan rumah ku. Tapi, aku tertahan karena mencium aroma yang lezat sekali.


Sesampainya di dapur, Aku di kejutkan dengan pemandangan yang baru saja aku lihat ini. Ternyata, bukan bibi yang sedang memasak. Tapi, Morgan lah yang sedang memasak. Mata ku sampai membulat karena melihat pemandangan langka ini. Apa Morgan bisa memasak?


"Sini den. Biar bibi aja yang lanjutin." Ucap bibi yang berusaha mengambil spatula untuk melanjutkan memasak. Morgan hanya fokus membolak-balikkan masakan yang sedang ia buat.


"Gak usah, Bi. Biar saya aja yang masakin untuk Ara." Tolak Morgan. Aku mendengar satu kalimat yang menyejukkan hati ku. Satu hal lagi yang aku ketahui tentang Morgan. Ia bisa memasak. Berbeda dengan diri ku yang sama sekali tidak ada keahlian memasak. Aku hanya ikut-ikutan Bibi memasak saja. Aku tidak paham dengan takaran bumbu yang harus di berikan agar rasanya menjadi pas dan lezat.


"Eh jangan gitu atuh , den. Aden kan capek abis kerja. Biar bibi aja ya yang terusin." Bibi ternyata masih belum menyerah. Ia terus menerus memaksa agar Morgan memberikan alih masakannya pada Bibi.


"Bi, Izinin saya buat bikinin Ara makanan ya.. Saya udah jadi pacarnya sekarang bi." Ucap Morgan. Hati ku menjadi tidak karuan saat ini setelah mendengar Morgan mengatakan demikian. Dia tidak malu untuk memberi tahu hubungan kami kepada orang lain. Berbeda dengan ku. Aku sangat malu kalau sampai mereka semua tahu kalau aku berpacaran dengan Morgan. Padahal, apa yang salah dari dirinya? Dia tampan, kaya, cool, Tapi aku malu jika harus mengumbar kemesraan dengannya di depan publik.


"Waaahhhh... Selamat yaa Den Morgan. Akhirnya, udah jadian nih yeeeee.... Gak sia-sia ngedeketin non Ara sampe segininya." Ledek Bibi. Morgan hanya tersenyum sembari membolak-balikkan masakannya. Aku tersenyum mendengar percakapan mereka. Aku meninggalkan Morgan yang sedang asyik bercanda dengan Bibi. Aku duduk di sofa sembari men-scroll beranda Instagram ku.


"Tseeeettttt..." Seketika, muncul akun Instagram Bisma yang melewati Timeline ku. Aku melihat postingan fotonya bersama dengan club basketnya itu. Terakhir kita telfonan, saat aku dan Morgan sedang makan di restoran jepang itu. Aku tiba-tiba sangat merindukan Bisma. Bagaimana keadaan Bisma sekarang?


"Sayang.." Pekik Morgan dari arah belakang. Aku terkejut sampai menjatuhkan handphone ku ke lantai. Jantung ku terus berdetak kencang sampai tidak teratur. Ia berhenti di hadapan ku sembari membawa sepiring nasi goreng yang telah ia buat. Buru-buru aku mengambil handphone ku yang tadi terjatuh.

__ADS_1


"Bibi bikinin kamu nasi goreng nih." Ucapnya membuat ku bingung. Jelas-jelas tadi aku melihat ia yang membuatnya. Kenapa ia berkata bahwa Bibi lah yang membuatkannya untuk ku?


"Mmm.. Lho bukannya kamu yang bikin ya?" Tanya ku bingung. Ia tersenyum tipis ke arah ku.


"Tukkk.." Morgan menyentuh hidung ku lembut sembari tersenyum. Mata ku membulat karenanya.


"Pasti kamu ngintip ya tadi?" Ledek Morgan dengan tatapan tajam. Aku ketahuan semudah ini kah?


"Sok tau kamu." Tepis ku dengan gelagapan. Morgan tersenyum dan duduk di samping ku.


"Gak ada yang bisa kamu sembunyikan dari aku, Ra." Lirihnya. Mata ku hanya tertuju pada mata cokelatnya yang selalu mampu membuat aku mabuk kepayang. Apa benar, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya?


"Mau makan sendiri, atau di suapin?" Tanya Morgan dengan ekspresi datar. Aku tertegun karena baru kali ini ia bertanya seperti itu. Aku sangat bingung untuk menjawabnya. Aku mati gaya, tak bisa berbuat apapun.


"Gak jawab? Berarti minta di suapin." Tembak Morgan yang langsung bersiap menyendok makanan. Aku menahannya.


"Eh.. Aku bisa makan sendiri kok." Tolak ku lalu merebut piring yang ada di tangannya. Aku langsung menyuap suapan pertama ku.


"Aaaaaaa.... Mmmmmm...."


Woah! Satu suapan berhasil mendarat di lidah ku. Rasanya sangat cocok dengan lidah ku. Tidak kurang satu apapun. Nasi goreng ini persis seperti nasi goreng buatan Ibu ku. Dengan kecap yang tidak terlalu banyak dan juga dengan nasi yang tidak lengket sama sekali. Hanya satu hal yang aku tidak suka. Bawang goreng! Aku memisahkan sedikit demi sedikit taburan bawang goreng ke pinggir piring. Morgan lalu mengambil taburan bawang itu dengan tangannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia mengunyah sampai habis tak tersisa. Aku memandang wajahnya aneh.


"Aneh ya?" Tanyanya membuat ku gelagapan lagi dan langsung memakan sisa nasi yang ada di piring ku. Lalu aku memandang wajahnya itu.


"Mulai sekarang, makanan apapun yang kamu gak suka, kamu kasih aku aja. Biar aku telan habis sendiri. Sama halnya dengan sesuatu hal lain yang kamu gak suka, kamu kasih ke aku ya. Tumpahin semua rasa kesal kamu. Aku pasti akan telan semuanya sendiri kok. Asal kamu bahagia, Ra."


"Deg..."


Ucapan Morgan membuat aku tidak bisa mencerna pikiran ku. Jadi selama ini, dia selalu menelan habis semua hal yang tidak aku sukai? Aku tidak bermaksud demikian. Tapi aku jadi sadar dengan satu hal. Saat ia mulai meluapkan emosinya, saat itulah mungkin ia sudah benar-benar merasa kenyang dengan semua sikap kasar ku yang sudah ia telan habis. Terimakasih, aku jadi paham satu hal.


Aku menaruh piring ku di atas meja kemudian memeluk erat tubuh Morgan. Aku merasa sangat bahagia saat ini. Meskipun aku selalu egois dan punya emosional tinggi, tapi jauh di lubuk hati ku, aku menyayangi Pria ini. Aku menyayangi Morgan ku.


"I love you." Aku memandang lekat wajahnya yang berseri itu.


"Aishiteru, Arasha."


@sarjiputwinataaa

__ADS_1


Spesial Ulang Tahun Author 💓


02-02-2021


__ADS_2