
"Ya ya oke oke." Jawab Bisma yang terdengar seperti sedang merapikan sesuatu.
"Oke, Ra. Lanjut lagi ya tidurnya. Gue mau jalan dulu. Have a nice dream, Ra. Tunggu Gue di sana."
"Deg.."
Kata-kata Bisma tadi sama seperti caption milik Reza yang tadi ku lihat di akun sosmednya. Perasaan ku campur aduk! Tidak ada lagi yang bisa Aku katakan pada Bisma.
"Tuuuuttt.."
Telepon ku bersama Bisma pun sudah selesai. Aku menjadi bertambah resah dengan kedatangan Bisma ke sini. Tak ku sangka, Bisma masih ingin menjalin hubungan dengan ku. Aku jadi teringat akan sesuatu.
"Cincin!!" Aku teringat cincin yang Bisma berikan pada ku waktu itu. di mana Aku menaruh nya? Aku tidak bisa mengingat di mana Aku menaruh cincin itu. Padahal Bisma berpesan untuk menjaga sepenuh hati cincin itu walaupun nantinya kita tidak akan bisa bersama, paling tidak cincin itu sudah bersama dengan ku.
"Duh.. Kemana ya cincinnya?" Aku merasa resah dan gelisah sembari mengingat kembali di mana Aku meletakkan cincin yang diberikan Bisma waktu itu.
"Duh nanti dicari deh!" Lirih ku kesal. Aku kembali menoleh ke arah layar handphone ku, berharap ada seseorang yang memberi ku kabar.
"Ini kenapa nggak ada yang ngechat sih? Mereka pada kemana ya?" Aku semakin mengkhawatirkan mereka, karena malam sudah semakin larut. Dengan perasaan gelisah ku, Aku kembali menelpon Kakak.
"Tuuuuttt.."
"Ayo lah angkat!!" Aku semakin kesal karena menunggu Kakak mengangkat telepon ku.
"Tuuuuttt.."
"Ah kesel! Kenapa sih gak diangkat?" Kesal ku bertanya tanya.
"Dringggg.." Handphone ku berdering. Akhirnya Kakak memberikan ku kabar. Aku langsung mengangkatnya.
"Halo, Kak! Kakak di mana? Aku udah dari tadi nungguin Kakak pulang, tapi Kakak nggak pulang-pulang?" Ucap ku panjang lebar tanpa membiarkan Ia berbicara.
"Halo, Ra. ini Aku." Ucapnya tiba-tiba. Aku langsung terkejut karena mendengar suara yang bukan Kakak. Dengan segera Aku melihat ke layar handphone ku dan benar saja, di sana tertera nama Hatake. Aku cukup malu karena sudah salah sangka. Aku kira yang menelpon ku itu Kakak, ternyata bukan.
"Oh Hatake. Maaf ya, Aku kira Kakak Aku. Soalnya Kakak belum pulang pulang, Udah malam kayak gini. Aku tuh khawatir." Aku merasa bersalah pada Hatake. Ia terdengar seperti sedang tertawa.
"Iya Ra nggak papa. Oh ya memangnya Kakak Kamu nggak ngabarin mau ke mana?" Tanyanya membuat ku ingin sekali tertawa.
"Ya nggak ngabarin dong. Kalau ngabarin mah ngapain juga Aku sampai sekhawatir ini karena Dia belum sampai rumah. Kalau Dia ngabarin mah nggak mungkin dong Aku sampai mikir kamu itu Kakak." Jelas ku dengan sedikit tertawa. Ia pun membalasnya.
"Betul juga yang Kamu bilang."
"Haha lagian Kamu aneh banget sih nanyanya."
-MORGAN MAIN-
__ADS_1
Aku melihat sinis ke arah Ara yang sedang tertawa sembari menelpon seseorang yang tidak ku tahu itu siapa. Pantas saja handphonenya selalu sibuk saat ku telepon. Tak ku sangka sampai semalam ini pun Dia masih bisa tertawa dan bersenda gurau ditelepon bersama dengan orang lain. Aku menyesal sudah diam-diam ke rumahnya untuk melihat keadaan Ara. Kalau tahu seperti ini, Aku tidak akan pernah datang malam ini.
"Kenapa, Gan?" Tanya Dicky yang duduk di sebelah ku. Aku hanya diam sembari tetap memperhatikan Ara yang sedang menelepon sampai tertawa terpingkal seperti itu. Dicky berusaha menggeser posisinya untuk melihat apa yang sedang Aku lihat.
"Cewek itu lagi teleponan sama siapa? Kok sampai ketawa segitunya sih?" Tanya Dicky yang tanpa sadar membuat gejolak di hati ku semakin besar. Aku kembali mengeluarkan handphone ku dan menelepon adik ku, Fla.
"Tuuuuttt.."
"Halo Kak Morgan? Ada apa?" Tanya Fla yang sudah menjawab telepon ku. Satu kebenaran yang ku tahu, ternyata Ara sedang tidak menelpon dengan Adik ku.
"Gak ada apa-apa. Tumben belum tidur? Apa Kamu sedang teleponan sama temen-temen Kamu?" Tanya ku yang sekedar basa-basi.
"Enggak kok, Kak. Aku dari tadi cuma baca novel. Aku mau nelpon siapa? Rafael udah tidur, Ray lagi main PS, Ara.. Aku nggak tahu Dia lagi ngapain. Farha juga dari kemarin nggak bisa dihubungi." Jawabnya polos. Aku sedikit mengambil kesimpulan dari ucapannya.
"Oh. Kakak kira Kamu udah tidur. Soalnya Kakak mau lembur dan ada temen Kakak yang nanti mau datang ke rumah. Kakak minta tolong Kamu untuk pesenin makanan ya." Ucap ku datar.
"Oke, Kak. Nanti Aku pesenin kok. Sekalian Aku juga mau pesan makan. Soalnya Mama nggak masak hari ini. Dia sibuk ngurusin Lian." Jawabnya lagi. Aku mengernyitkan dahi ku karena bingung.
"Lian? Memangnya Lian kenapa, sampai-sampai Dia nggak masak buat Kamu? Jangan-jangan Dia juga enggak masak buat Ayah?" Tanya ku yang sedikit sensi dengan Ibu sambung ku itu. Aku memang belum bisa akur sampai sekarang dengan Wanita itu. Entah kenapa, di hati ku tak ada yang bisa menggantikan sosok Ibu ku.
"Lian hari ini mulai ujian semester Kak. dan Mama sibuk persiapin semua kebutuhan Lian. Mama juga hari ini ada arisan jadi enggak bisa di rumah. Mama baru aja pulang tadi." Jawabnya. Aku semakin kesal mendengar pengakuan Fla.
"Apa gunanya ada Jessline di sana?" Emosi ku lama-lama semakin memuncak. Aku tak sengaja melirik ke arah Ara yang masih saja menelpon orang itu. Emosi ku sudah tak bisa tertahan lagi.
"Braakkkkk!!" Aku menggebrak setir mobil ku dengan cukup kencang. Pikiran ku sudah sangat campur aduk. Aku terlalu menyayangi Fla, sehingga Aku menjadi emosi dengan ibui sambung ku sendiri. Apalagi ditambah saat ini Aku sedang melihat Ara yang sedang tertawa bersama orang yang menelponnya.
"Kak Morgan nggak papa?" Tanya Fla yang terdengar khawatir. Aku berusaha mengatur emosi ku dan menghela nafas sedalam-dalamnya.
"Ya sudah, Fla. Tunggu Kakak ya, sebentar lagi Kakak sampai rumah kok. Jangan lupa tolong pesankan makanan."
"Iya, Kak. Hati-hati ya Kak."
"Pasti."
"Tuuuuttt.. Tuuuuttt.."
Aku mengakhiri telepon ku dengan Fla. Aku berusaha bersikap setenang mungkin agar bisa fokus untuk menyetir mobil.
"Udah Gue bilang, nggak usah deketin Ara dulu. Kasih Dia waktu. Biarin Dia milih antara dunianya, atau Loe." Ucap Dicky memperingatkan ku. Tapi Aku malah tidak menghiraukan ucapannya itu. Jauh di dalam lubuk hati ku, Aku merindukan Ara. Aku tidak bisa bersikap dingin padanya. Tapi yang Aku dapatkan sekarang pemandangan yang tidak seharusnya Aku lihat. di saat Aku harus menahan rindu ku, Dia seenaknya tertawa seperti itu dengan orang lain. Apa Dia tidak benar-benar kehilangan diri ku saat Aku menjaga jarak dengannya?
Aku mencoba menelepon Ara sekali lagi. Tapi percuma saja, Ara masih tetap sibuk menelepon orang itu. Aku kesal lalu segera menyudahi telepon ku.
"Brakkk.." Aku melempar handphone ku secara sembarang ke arah depan ku. Kenapa Aku begitu kesal melihat pemandangan seperti ini? Tanpa berpikir panjang, Aku segera melajukan mobil ku untuk menjauh dari rumah Ara. Aku melihat ke arah kaca mobil ku. Terlihat Ara yang sedang berusaha memanggil ku.
"Ara manggil kita.." Lirih Dicky. Aku tak menghiraukan dan malah menambah kecepatan ku. Hati ku sakit hanya karena melihat Dia sedang bersenda gurau dengan orang lain di telepon. Dengan malam yang sudah selarut ini, wajar saja pikiran ku berpikir yang bukan-bukan?
__ADS_1
-ARA MAIN-
Aku merasa handphone ku seperti bergetar saat sedang menelpon Hatake. Aku melihat layar handphone ku dan tertera panggilan tak terjawab sebanyak 7 kali dari Morgan. Tiba-tiba Aku mendengar suara laju kendaraan. Buru-buru Aku menuju ke arah sumber suara.
Terlihat mobil hitam yang tak asing bagi ku. Ya! Itu mobil Morgan. Jadi sejak tadi, Ia menunggu ku di depan pagar? Kenapa Dia tidak masuk saja ke dalam? Kenapa Dia malah memata-matai ku dari luar? Apa Dia melihat Aku sedang menelpon dengan Hatake?
"Morgan!!!!” Pekik ku dengan kencang, tapi Morgan terlihat malah semakin berjalan dengan cepat. Aku merasa bersalah kalau memang benar Dia melihat Aku tertawa seperti tadi, dan bahkan sampai mengabaikan dirinya. Aku terdiam sembari melihat mobil Morgan yang perlahan menghilang dari hadapan ku. Sepertinya akan ada masalah yang bisa membuat hubungan kami retak.
"Halo, Ra.." Aku teringat dengan Hatake yang masih menelpon dengan ku. Aku kembali mendekatkan handphone ku ke arah telinga ku.
"Iya.." Lirih ku yang masih berfokus dengan mobil Morgan.
"What's wrong? (Ada apa?)" Tanya Hatake. Aku sudah tidak bisa melanjutkan percakapan ku dengan dirinya. Aku merasa ada yang perlu Aku luruskan dengan Morgan.
"Nanti lagi ya. Udah malam Aku ngantuk. Bye Hatake." Ucap ku datar sembari menutup telepon ku. Aku benar-benar merasa bersalah dengan Morgan.
"Duh.. Morgan pasti marah banget deh sama Gue." Lirih ku dengan nada bersalah. Aku kembali ke pelataran rumah ku, khawatir kalau Aku berlama-lama di luar dengan keadaan yang sudah selarut ini, nanti akan ada orang yang berusaha berbuat jahat pada ku. Aku duduk di kursi balkon sembari melihat ke arah layar handphone ku.
"Aduh gimana ini? Gimana caranya supaya bisa ngejelasin semuanya ke Morgan?" Lirih ku yang resah. Aku teringat dengan Fla. Apa Aku coba menelpon Dia saja ya? Siapa tahu, Morgan sudah sampai di rumahnya.
Aku mulai menghubungi Fla dan menunggu Ia mengangkat telpon ku. Setelah beberapa lama, sampai telepon itu otomatis mengakhiri, Fla tak kunjung mengangkat telepon ku. Perasaan gelisah semakin menyelimuti ku.
"Kenapa Fla juga nggak bisa dihubungin? Apa Dia juga udah tidur?" Lirih ku bertanya-tanya.
"Apa Aku telepon Morgan langsung?" Lirih ku, lalu segera menghubungi nomor Morgan.
-MORGAN MAIN-
"Dringggg.." Handphone ku berdering saat Aku masih di jalan menuju arah pulang. Aku melirik ke arah handphone ku yang keadaannya menelengkup sehingga Aku tidak bisa melihat siapa yang menelpon ku. Aku berusaha menahan diri agar tidak melihat siapa yang menelpon, sampai akhirnya handphone ku berhenti berdering. Aku melirik ke arah Dicky yang juga sedang melirik ke arah ku. Mungkin Ia berfikir sebaliknya dari yang sedang ku pikirkan saat ini. Suasana kembali rancu. Aku kemudian mengubah mode kendaraan ku menjadi mode otomatis, sehingga Aku tidak harus mengemudikannya sendiri. Aku meregangkan tubuh ku untuk sekedar melepas penat.
"Dringggg.." Tiba-tiba saja handphone ku berdering kembali. Lagi-lagi Aku berusaha menahan diri agar Aku tidak mengangkat telepon itu. Aku tahu itu pasti telepon dari Ara. Handphone ku kembali senyap. Aku sudah melewatkan kali kedua telepon dari Ara.
"Dringggg.." Handphone ku kembali berbunyi. Ini adalah kali ketiga Ara menelpon ku. Aku berusaha meraih handphone ku yang ada di hadapan ku. Tapi dengan cepatnya, Dicky tiba-tiba mengambil alih handphone ku. Aku menatapnya dengan tatapan kesal.
"Lho, kenapa diambil?" Tanya ku dengan nada yang sedikit kesal. Dicky melihat ke arah layar handphone ku.
"Gue tau, Loe masih nggak rela kan kalau lepas kontak sama Cewek itu?" Bidiknya yang mungkin tepat sasaran. Wajah ku seketika menjadi panas setelah mendengar ucapan Dicky.
"Kata siapa? Saya cuman khawatir kalau itu telepon dari Prof Handoko. Udah, itu aja kok." Aku sedikit membuat alibi padanya. Aku tidak mau terlalu disebut sebagai Pria yang takut dengan Wanitanya. Dia pasti akan terus-menerus meledek atau malah memarahi ku.
"Gak usah banyak berkilah, Gan. Gue tau kok dari tingkah laku dan sorot mata Loe. Percuma juga Loe nyimpan rahasia, Loe nggak bakalan bisa bohongin Gue, Gan. Gue tahu dengan jelas apa yang Loe lakuin sekarang dan apa yang lagi Loe rasain." Tepis nya dengan tegas. Aku tidak bisa berkata apa pun karena percuma saja Aku berbohong. Dicky sudah tahu semua gerak-gerik ku dan tidak akan percaya pada semua perkataan dan alibi ku.
"Gue cuma pengen Loe tuh ngelakuin sesuatu yang emang harus Loe lakuin. Bukan ngelakuin sesuatu yang enggak harus Loe lakuin kayak begini, Gan. Loe tuh punya segalanya! Coba deh, selama seminggu ked epan tolong Loe konsisten sama kerjaan Loe yang lagi dikejar-kejar ini. Jangan sampai, hanya gara-gara masalah Cewek, Loe jadi nggak konsen gini sama kerjaan Loe. Ini deadline Lho! Loe harus kelar sebelum seminggu ini. Kuncinya ada di Loe. Kalau Loe mau dan nurut kata-kata Gue buat sekarang ini, Loe pasti bisa kok lewatin ini semua. Yang perlu Loe lakuin cuma fokus sama kerjaan Loe aja. Masalah Ara, biar nanti Gue yang bantu ngomong sama Dia pelan-pelan." Jelasnya panjang lebar, membuat Aku sedikit tenang. Aku kembali mengambil alih mobil ku dan kembali menyetirnya secara manual.
-ARA MAIN-
__ADS_1
Ini sudah kali ketiga Aku mencoba menghubungi Morgan. Tapi Morgan sama sekali tidak mengangkat telepon dari ku. Apa Aku sudah membuatnya kecewa?
"Arghhhhh! Harusnya Gue nggak terima telepon dari Hatake tadi!"