
Aku kesal saat Dia menertawai ku seperti itu. Memang, sejak dulu Dia kurang bisa menjaga perkataan dan tindakannya sehingga seringkali membuat ku jengkel dan kesal atas semua ulah yang Dia lakukan. Tapi disisi lain, Dia selalu membantu diri ku di saat Aku susah. Apa lagi kejadian waktu itu yang sampai melibatkan Ara dan juga Pria brengsek itu. Kalau tidak ada Dia, mungkin Aku tidak akan bisa menemukan dimana Ara saat itu. Aku harus memberikan sesuatu untuk Dicky sebagai balasan dan rasa terima kasih ku.
*
"Ya sebelum menyudahi pertemuan kali ini, ada lagi tidak yang ingin dipertanyakan?" Tanya Prof Handoko, selaku Kepala program studi dan juga pimpinan rapat kali ini.
"Prof.." aku mengangkat tanganku untuk meminta waktu bicara. Prof Handoko menoleh ke arahku.
"iya silakan Pak Morgan untuk menanyakan atau memberikan tambahan." Prof Handoko memberikan kesempatan ku untuk berbicara aku mulai bangkit dan berdiri di hadapan mereka semua.
"Sebelumnya Saya ingin berterima kasih kepada Prof Handoko yang sudah memberikan Saya waktu dan tempat untuk berbicara. Berdirinya Saya di sini hanya untuk meminta maaf secara terbuka kepada semua Dosen dan staf yang bekerja sama dalam rangka akhir semester kali ini. Atas keteledoran Saya kemarin karena tidak bisa dihubungi dan Saya melakukan absen selama 2 hari dan tidak memberi kabar yang mungkin saja menghambat pekerjaan kawan-kawan semua untuk proses penginputan data nilai mahasiswa ke website nilai. Karena kecerobohan Saya akhirnya terpaksa penerbitan nilai diundur sesuai jumlah hari yang tertinggal kemarin. Sebagai untuk menebus kesalahan Saya, Saya akan bekerja lebih keras untuk mengganti 24 jam Yang tertinggal. Saya akan membagi waktu dari sekarang untuk berusaha mengerjakan ketertinggalan itu. dan Saya mohon untuk diberikan hak akses lebih ketika kalian sudah menyelesaikan tugas kalian seperti misalnya membiarkan Saya memakai komputer lebih lama dari biasanya. Lalu memberikan hak akses password untuk Saya masuk ke dalam website." Ucap ku panjang lebar. Aku sadar semua yang ku lakukan adalah salah. Aku harus sesegera mungkin untuk menyelesaikan semua masalah yang timbul karena ulah ku.
"Tapi Pak Morgan.." Seseorang tiba-tiba membuka suara. Spontan seluruh pandangan langsung tertuju padanya.
"Ya ada apa Ibu Lidya?" Dosen yang sedang dekat dengan Dicky itu tiba-tiba memprotes ucapan ku.
"Bagaimana bisa Pak Morgan memakai komputer lebih lama? Karena tepat pukul 6 sore saja seluruh ruangan di kampus ini sudah dipadamkan listriknya." Protesnya. Sebetulnya itu bukan jawaban yang sulit untuk dijawab.
"Sebetulnya kalau pun Saya tidak bisa memakai komputer dan fasilitas kampus lebih lama dari batasnya, Saya bisa menggunakan laptop Saya pribadi dan mengerjakannya di rumah. Seperti yang Saya bilang tadi, Saya ingin diberikan hak akses untuk masuk ke dalam situs website yang dikelola untuk menginput nilai mahasiswa. Dengan kata lain, Saya ingin minta diberitahu password atau kata sandi sebagai adminnya." Jawab ku. Ia terlihat tidak senang dengan jawaban yang ku berikan.
"Memangnya bisa? kan seluruh data software dan databasenya ada di localhost komputer kampus ini?" Ia terus menerus membantah ku. Memang benar,nDia adalah Dosen Fakultas Teknik Informatika di kampus ini. dan Aku juga tidak begitu paham dengan sistemnya.
"Tapi Bu Lidya.." Seseorang terdengar sedang membantah ucapan Bu Lidya. Ia bangkit dan seketika semua orang yang ada di ruangan ini memusatkan perhatian padanya.
"Walaupun seluruh data ada di komputer kampus, bukan berarti Pak Morgan tidak bisa membukanya di komputer lain. Kita tinggal jadikan Pak Morgan sebagai client. Anggaplah komputer yang ada di kampus ini sebagai server. Tapi kita juga bisa memberikan hak akses bagi client yang telah terdaftar, bukan?" Dosen Ardi pun membela ku. Dosen Ardi adalah bagian dari tim Fakultas Teknik Informatika bersama dengan Dosen Lidya. Setahu ku, mereka berdua sempat mempunyai konflik karena selalu mempunyai paham yang berbeda. dan Dosen Ardi bukanlah tipe orang yang dengan mudah membela seseorang. Dengan kata lain, Dia tidak akan membela ku tanpa alasan. Alasan yang memang sudah pasti adalah tak lain untuk menjatuhkan Dosen Lidya di hadapan semuanya. Sebetulnya Aku tidak terlalu setuju dengan cara Dosen Ardi. Akan tetapi, Dosen Lidya selalu berusaha mencari cara untuk kontra dengan ku. Mungkin Ia masih menyimpan perasaan sakit hatinya kepada ku. Karena waktu itu Aku telah menolak perasaannya. Setelah itu, Dia berusaha mendekati Dicky. Dicky mengatakan pada ku kalau modus dari pendekatan itu adalah untuk tetap bisa selalu dekat dengan ku. Dicky juga mengatakan bahwa Ia hanya main-main dengan Dosen itu. Dicky hanya menginginkan tubuh Dosen Lidya yang menggoda itu. Bahkan Dicky mengaku, Dia tidak peduli dengan perasaan Lidya terhadapnya. dan Dia juga tidak peduli dengan sikap dan ambisi Lidya.
__ADS_1
Aku tak bisa mengatakan apapun. Dosen Ardi sudah terlalu baik untuk membela Aku di depan umum. Itu yang ku maksud, tapi Aku tidak bisa mengucapkannya dengan kata-kata. tiapi ucapan dosen Ardi itu tepat sekali.
"Apa yang dikatakan dosen Ardi benar. Saya memang ingin mengatakan demikian, tapi Saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Saya tidak paham bahasanya seperti apa, karena seperti yang kalian ketahui basic Saya bukanlah di dunia Teknik Informatika, melainkan di dunia Ekonomi dan Bisnis. Jadi untuk Dosen Lidya, terima kasih untuk saran dan kritiknya, Saya minta Anda hanya untuk menjadikan Saya sebagai client agar bisa mendapatkan hak akses website tersebut. Sampai sini paham, Bu Lidya?" Gumam.ku dengan penuh semangat, karena merasa sudah mendapatkan dukungan penuh untuk bersama-sama menjatuhkan Lidya.
"Baik kalau seperti itu, Saya akan membuat database untuk client supaya Pak Morgan bisa mengakses websitenya dari rumah. Tapi setelah itu, setelah semuanya selesai dikerjakan, Saya mengajukan untuk mengubah kata sandi agar tidak sembarangan orang bisa membuka dan mengakses situs ini. Sebagaimana kita tahu Dosen Morgan adalah Dosen Ekonomi dan Bisnis yang diminta untuk melaksanakan tugas sebagai panitia posting nilai dalam penyelenggaraan ujian akhir semester kali ini. Saya sebagai tim inti tidak ingin memberikan kode sandi kepada orang lain lagi setelah problem ini selesai. Jika Pak Morgan setuju, Saya akan membuatkan akses untuk Anda mengelola website ini. Kemudian setelah itu, kalaupun sangat urgent, Anda hanya bisa menggunakan komputer server untuk mengubah atau menginput data selanjutnya. Bisa dimengerti, Pak Morgan?" Ucapnya panjang lebar. Ternyata Dia masih belum menyerah untuk menjatuhkan ku kembali di depan semua staf yang menghadiri pertemuan ini. Aku menoleh ke arah Dicky. Ia sedang menatap ke arah Lidya, tapi tatapannya seperti tatapan orang yang tidak perduli.
"Baik. Saya hanya butuh waktu 24 jam untuk menyelesaikan problem yang tertinggal. Saya akan berusaha seharian itu untuk menginput data, dan kalau bisa Saya ajukan kembali, Saya ingin pembukaan kelas remedial tidak diundur dan tetap diadakan pada tanggal 25 Juni besok." Ucap ku spontan dan mantap. Tapi semua orang saling melempar pandangan seperti tidak percaya pada ku.
"Apa bisa? Pak Morgan, jumlah Mahasiswa di kampus kita tidak sedikit. Apa Pak Morgan bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu 1 hari?" Tanya salah satu Dosen.
"Ya, coba pak Morgan pikir kembali. Mahasiswa di kampus ini per program studi ada lebih dari 1000 orang. Itu pun ada kelas reguler dan juga ada kelas karyawan. Sementara di kampus ini ada banyak Fakultas dan beberapa Program Studi." Dosen lain membenarkan.
"Saya tidak bilang kalau Saya yang akan mengerjakan semuanya. Kita tetap mengerjakan pada bagian masing-masing. Begitupun juga Saya. Tapi Saya ingin membagi waktu dari ketertinggalan Saya 24 jam kerja kemarin selama 2 hari, secara dicicil sebelum tanggal 25. Dalam kata lain, Saya ingin mengambil lembur yang biasanya kerja hanya 12 jam sehari mungkin Saya bisa mengambil menjadi 16 jam atau 18 jam sehari. Selebihnya Saya jumlahkan pada hari berikutnya sebelum tanggal 25 tiba. Apakah sampai sini ucapan Saya bisa dipahami?" Jelas ku kembali. Mereka semua mengangguk-angguk seperti paham. orang-orang yang tadi memprotes ku pun juga sekarang sudah terlihat lebih tenang.
"Baiklah Pak Morgan kalau itu yang Pak Morgan mau. Tolong Dosen Lidya dan Dosen Ardi untuk menyiapkan apa yang Pak Morgan butuhkan. Dan Saya harap semua bisa dimulai besok. Karena sangat mepet sekali waktunya untuk menuju tanggal 25. Kita hanya punya waktu kurang lebih 7 hari kedepan. Bagi semua Kaprodi diharapkan untuk mempersiapkan nilai masing-masing Mahasiswa dari tiap-tiap kelas dan juga tiap-tiap jurusan. Kalian harus bertanggung jawab agar tim kalian atau Dosen yang mengajar bisa dengan segera memberikan nilai kepada kalian dan kalian menghimpun nilai dan memberikannya kepada tim untuk kemudian diinput segera ke website nilai. Batas pengumpulan nilai kepada tim hanya bisa sampai nanti malam saat pergantian hari. Tolong Pak Morgan dijelaskan bagaimana selanjutnya." Ucap Prof Handoko sebagai Kaprodi Ekonomi dan Bisnis.
"Baik, Pak."
"Baik, Pak Morgan."
"Baiklah, jika sudah mengerti Saya ingin tim Saya mengerjakan tugas ini dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai ada banyak kesalahan yang terjadi. Harus seminimalisir mungkin." Tegas ku untuk memberikan teguran keras dari awal kepada mereka. Jangan sampai mereka berbuat salah disaat semuanya sudah berjalan.
"Baiklah, semua Dosen diharapkan untuk duduk kembali pada posisi dan tempatnya masing-masing. Kita akhiri rapat ini terima kasih bagi yang sudah menghadiri rapat ini."
*
__ADS_1
"Huffffftttt..." Aku menghempaskan diri ku di kursi ruangan ku. Dicky tiba-tiba saja duduk di hadapan ku.
"Tadi itu, kelihatan jelas banget Dia untuk ngejatuhin Loe." Ucap Dicky sembari membuka minuman ringan. Aku pun mengambil minuman ringan itu di hadapan ku kemudian Aku membukanya.
"Ya Saya juga tahu kok. Tapi pada akhirnya Dosen Ardi yang punya maksud terselubung itulah yang menolong Saya." Respon ku. Dicky terlihat sangat kesal.
"Ya bagus deh ada untungnya." Lirih Dicky. Aku jadi sedikit penasaran dengan hubungan mereka.
"Eh ngomong-ngomong hubungan kalian itu gimana sih? Apa masih main-main kayak yang Loe bilang waktu itu, atau sekarang malah sudah muncul benih-benih cinta?" Tanya ku yang sangat penasaran.
"Gak ada benih-benih cinta. Gue sama Dia cuma lagi pengen aja. Loe juga tahu kan bagaimana keadaan tubuh seksinya Dia?" Tiba-tiba Ia bertanya seperti itu. Aku hanya diam tidak merespon pertanyaannya.
"Terus Loe udah sejauh mana berhubungan sama Dia?" Tanya ku yang masih penasaran dan juga untuk mengalihkan pertanyaannya yang tadi. Ia menenggak minuman ringan yang sudah Ia buka.
"Glekk.. Glekk.. Glekk.."
"Ahhhhhhhhhh... Seger banget." Ucapnya. Aku pun menenggak minuman ringan itu.
"Gue sama Dia udah pernah ngelakuin semuanya. Jarang sih, cuma pas lagi mau aja." Jawabnya dengan polos. Ya memang untuk orang seperti Dicky itu memanglah hal yang sudah biasa. Apalagi kalau Dia ketemu dengan seseorang seperti Lidya. Sudah pasti akan terjadi hal seperti itu. Tidak salah dulu Aku menolak Lidya. Aku sangat tidak suka wanita yang terlalu berinisiatif tinggi kecuali orang yang ku sukai.
"Perasaan Loe saat ngelakuin itu sama Lidya gimana? Apa Loe ngerasain suatu kebahagiaan yang nggak bisa dijelasin?" Tanya ku. Ia menggelengkan kepalanya.
"Enggak, Gan. Nafsu sama yang bener-bener pakai hati itu jauh banget bedanya. Sampai sekarang, Gue nggak pernah ngerasain lagi setelah hubungan Gue dengan mantan gue dulu. Gue nggak bisa ngerasain bercinta dengan pakai hati lagi. Padahal saat pertama kali Gue melakukannya sama mantan pertama Gue waktu itu, Gue ngerasain kebahagiaan yang enggak ketahan. Gue enggak tahu jelasin ini gimana intinya perasaan itu selalu muncul dan selama Gue masih terus bareng sama Dia, perasaan bahagia dan ingin melakukannya lagi pun terus menerus ada. Rasa bahagianya itu terus-terusan menghantui Gue. Gue jadi pengen lagi, lagi dan lagi." Jelasnya, Aku tersenyum tipis ke arahnya. Ternyata bukan cuma Aku saja yang merasakan hal demikian tapi Dicky juga merasakan kan hal-hal yang bahagia juga.
"Oh ya, terus gimana Loe sama cewek itu? Loe udah ngelakuin apa aja sama dia?" Tanya Dicky. Pipi ku terasa panas saat yang bertanya demikian.
__ADS_1
"Jauh sebelum Gue ketemu dan menjalin hubungan sama Ara yang sekarang, Gue lebih dulu kenal sama Dia. Bahkan kita udah pernah ketemu dan ngobrol bareng. Kalau bisa dibilang, cinta pandangan pertama Gue dan satu-satunya cewek yang baru pertama kali Gue suka yaitu Ara. Tapi saat itu itu Gue nggak pernah ketemu ama Ara lagi. Malah Gue berpindah hati sama Putri. Tapi sama Putri Gue sama sekali nggak ngelakuin apapun. Saat Gue lari ke Jepang, Gue juga nggak ngelakuin hal yang lebih sama Meygumi. Walaupun Dia sering banget ngajakin Gue hal-hal yang nggak bener. Cuma Gue nggak suka dan Gue nya nolak. Gue nggak bisa Kalau dipaksa."
@sarjiputwinataaa