Dosen Idiot

Dosen Idiot
Kencan Buta 4


__ADS_3

‘Harusnya sih ini mempan! Tapi, coba aja lah,’ tanpa pikir panjang, aku langsung mempersiapkan diriku, dan langsung membalas tatapan tajamnya itu.


Aku menghela napas panjang, berusaha untuk mempersiapkan diriku. Sebetulnya, aku malu untuk melakukan ini. Tapi, mau bagaimana lagi?


“Cups.” Sekilas, aku mengecup lembut bibir Morgan.


Entah mungkin dia kaget, atau bagaimana terhadap kelakuanku yang tiba-tiba ini. Kalau bukan karena aku tidak tahu ulang tahunnya, dan lupa menyiapkan hadiah untuknya, aku tidak akan berbuat seperti ini padanya.


MORGAN


‘Hah? Kenapa Ara nyium saya dengan suka rela?’ batinku yang merasa kebingungan, dengan tingkah laku Ara.


Aku yang masih penasaran, langsung meneruskan aksiku.


‘Kenapa dia gak berontak sama sekali?’ batinku yang masih bingung.


ARASHA


Aku merasa nyaman dengan yang Morgan lakukan saat ini. Ia memperlakukanku dengan lembut, tanpa ada tindakan kasar sedikit pun. Tidak ada perasaan takut terhadap Morgan.


Aku, nyaman.


Setelah beberapa saat, Aku hanyut dalam permainannya. Tiba-tiba terlihat kakak yang datang dari dalam rumah.


“Ra kok gak jalan sih udah mal...” Kami terkejut saat melihat kakak yang datang tiba-tiba.


Aku mendorong spontan tubuh Morgan, hingga ia jatuh tersungkur ke kursi kemudi. Aku panik bukan kepalang, membuatku salah tingkah, tak tahu harus bagaimana.


“Ah, ngapain sih loe?” Panikku yang takut kakak melihat kejadian tadi.


Kakak tiba-tiba tersenyum jahil, setelah mungkin melihat sekejap Morgan menciumku tadi.


Salah.


Aku yang mencium Morgan.


“Oke, lanjut....” Ledek kakak, lalu masuk kembali ke dalam rumah, tanpa menghiraukan aku atau Morgan.


Aku kesal dengan Morgan! Bisa-bisanya dia membuatku malu seperti ini. Ini pertama kalinya aku tertangkap basah dengan kakak. Ternyata, seperti ini rasanya. Tapi kenapa kakak biasa saja, saat sering kali aku pergoki sedang bermesraan dengan banyak wanita?


“Loe tuh ya! Gue malu tau gak dilihat kakak! Ngapain sih loe nyium gue segala?” Sinisku, sembari mendelik, ia terlihat membolakan matanya.


“Apa gak terbalik? Bukannya kamu yang cium saya duluan, tadi?” tanya Morgan, yang sontak membuat panas telingaku.


Aku sangat malu dengan perkataan Morgan. Memang kuakui, itu benar adanya.


“Hmp!” Aku membuang pandanganku, sembari melipat kedua tanganku. Terdengar Morgan yang sedang tertawa kecil. Berani-beraninya dia mempermainkanku. Membuatku malu saja!


“Gak usah ketawa deh loe!” Sinisku.

__ADS_1


Ia semakin tak bisa menahan tawanya. Ia mendekat kembali ke arah telingaku, membuatku memundurkan diriku, tapi tak bisa karena sudah terbentur dengan kursi.


Aku hanya bisa pasrah.


“Terima kasih… ciumannya,” gumamnya, membuat sekujur tubuhku bergetar.


Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah kaca mobil. Ia semakin pandai menggodaku, membuatku tersipu malu. Aku menoleh kembali kepadanya yang sudah pindah ke posisi biasa ia menyetir mobil.


“Jalan kek! Udah jam berapa nih!” Bentakku, Morgan menoleh ke arah jam tangan yang ia pakai.


Jam tangan yang unik. Talinya seperti kulit asli, dan berwarna cokelat. Jam tangan dari Swiss ini, tampaknya cukup membuat aura Morgan yang dingin menjadi bertambah damage-nya. Cocok juga dipakai dengan Morgan. Tidak terlalu besar, dan juga tidak terlalu kecil.


‘Thor, apaan sih malah mikirin si dosen idiot itu? Gue lagi males tau gak. Ganti topic, woy!’ Bentak Ara pada author, yang nampaknya terus-menerus memuji sosok Morgan.


Ya, siapa yang tidak terkesima dengan sosoknya? Author saja sampai meleleh membayangkannya.


Hehe.


“Oke. Kita jalan.”


Akhirnya, setelah lama mendramatisir keadaan, kami pun pergi menuju salah satu mall yang cukup besar di kota ini, untuk menonton film yang sudah dipesan beberapa waktu lalu oleh Morgan.


Kami turun dari basement dan bergegas menuju loby mall tersebut.


“Saya lapar. Gimana kalau kita makan dulu?” tanya Morgan tiba-tiba, membuatku mendadak menjadi kesal.


Aku ingin sekali cepat menyudahi kencan buta ini. Aku sudah tidak betah berlama-lama dengan keadaan yang membuatku canggung setengah mati.


“Tapi, film dimulai jam 10 nanti. Kita mau ngapain lagi sebelum jam 10 nanti?” tanyanya, membuatku membelalak ke arahnya.


Morgan benar-benar idiot!


Kenapa dia mengambil jam yang harusnya dipakai untuk beristirahat, sih? Apa dia tidak memikirkan aktivitas besok hari? Bagaimana kalau aku sampai terlambat masuk ke kampus?


“Gila loe, ya! Ngapain loe ngambil jam 10 malem? Yang lain udah pada tutup, kita baru mau nonton!” Aku memaki dirinya dengan kasar.


“Sebelumnya saya sudah memperingatkan kamu, bukan? Kamu boleh menolaknya, kalau kamu tidak berkenan. Kamu sudah menerima, jadi, kamu mau tidak mau harus menjalani ini,” ucapannya lagi-lagi membuatku membelalak, dan tidak bisa berkata apapun lagi.


Aku hanya bisa memandangnya dengan tatapan tajam, tak paham dengan jalan pikirannya. Kenapa aku bisa seceroboh ini? Kenapa aku tidak memeriksa jam mulai bioskopnya lebih dulu?


Dasar aku bodoh.


Mau tidak mau, aku harus mengikuti kemauan Morgan, meskipun kesal, aku harus melakukannya.


“Ayo.” Ia mengajakku ke suatu tempat untuk sekedar mengisi perut.


Lain kali, aku tidak akan mau menerima ajakannya itu.


Aku sudah sampai di sebuah tempat untuk makan. Aku duduk di hadapan Morgan, yang sudah lebih dulu memegang menu makanan.

__ADS_1


“Huft….”


“Mau makan apa?” tanya Morgan, sembari membuka lembar demi lembar menu tersebut.


Aku mengambil buku menu lainnya yang berada di atas meja, lalu melihat seluruh isi menunya.


Saat aku melihat isi menu dan memilih beberapa menu, aku terganggu sekali dengan obrolan dua pelayan wanita itu. Mereka berbisik, seakan ia menyukai Morgan. Aku mendengar sedikit mereka mengucap kata “tampan”. Aku kesal sekali dan panas mendengarnya.


Aku menggebrak meja dengan keras, “eh, loe berdua, gak usah bacot deh ya!” Sepertinya aku membuat mereka terkejut dan ketakutan.


“Udah lah. Kamu kenapa, sih?” tanya Morgan.


Aku kesal sekali! Kenapa Morgan malah membela mereka? Harusnya Morgan membela aku!


“Loe juga diem!” Bentakku pada Morgan.


Morgan selalu menghadapiku tanpa ekspresi. Ia terlihat sangat dingin, dan tetap pada pendiriannya untuk menjaga image-nya.


“Gue mau ke toilet dulu.” Ujarku, lalu meninggalkan tempat itu tanpa menunggu persetujuan dari Morgan.


Aku berjalan tak tentu arah. Tujuanku hanya untuk menghilangkan rasa kesalku karena kejadian tadi saja. Semenjak aku mengenal Morgan, hidupku setiap hari harus melewati banyak drama.


Aku sudah bosan tarik urat terus seperti ini.


“Kenapa coba, gue ketemu dia?” lirihku, yang seperti menyalahkan takdir.


“Kenapa bisa gue kenal sama dia?” aku menarik tasku yang tersungkur di lantai, dengan gontai, “hubungan kita itu, cuma sebatas antara dosen sama mahasiswa, udah... itu aja. Gak lebih, kok,” aku berhenti sejenak.


“Huft….” Aku menghela napas panjang.


Sepertinya aku sudah lelah dengan drama percintaan yang tidak jelas ini.


“Kenapa juga gue harus tidur bareng sama dia? Kalau udah gini, kan, gue jadi gak bisa lepas dari dia,” aku memandang kerumunan.


Hatiku sepi, meski berada dalam kerumunan seperti sekaran ini.


“Kenapa gue bego, coba?”


Aku memaki diriku sendiri, sepertinya sudah kesal dengan semua yang terjadi denganku.


Kapan semuanya berakhir dengan indah?


Tanpa sadar, aku tak sengaja melihat jam tangan, yang mungkin akan bagus jika Morgan memakainya.


Aku perlahan mendekatinya. Kalau dilihat secara dekat, jam ini ternyata sangat mirip dengan jam tangan yang Morgan pakai tadi.


“Eh, kok jamnya mirip sih sama yang Morgan tadi pake?” lirihku, sembari tetap memperhatikannya dengan seksama.


Aku jadi tertarik untuk membelinya, untuk memberikannya sebagai hadiah untuk Morgan. Jadi, aku tidak punya hutang lagi padanya.

__ADS_1


“Beli aja deh.”


Aku pun beranjak masuk ke dalam toko jam tersebut, untuk melihat-lihat dan membeli jam tangan yang aku lihat tadi.


__ADS_2