Dosen Idiot

Dosen Idiot
89. Masalah Baru 2 (SEASON 2 EPS. 7)


__ADS_3

"sorry I didn't tell you if there were guest. (Maaf aku tidak memberitahu jika ada tamu)." Ucap Naoki yang terdengar seperti merasa tidak enak pada ku dan juga Morgan.


"I should be the one apologizing. I don't know if any guests are visiting. (Aku yang harusnya meminta maaf. Aku tidak tahu jika ada tamu yang sedang berkunjung)." Tepis Morgan dengan datar. Sikapnya berbeda sekali sejak pertama kami singgah. Apa ada sesuatu yang tidak Aku ketahui?


"Ah no problem. Please taste it. (Ah tidak masalah. Silahkan di cicipi)." Naoki menyodorkan makanan ringan dan minuman kepada Morgan dan Aku. Pramugari itu terlihat mengeluarkan tatapan itu lagi ke arah Morgan.


"Shōkai shite kuremasen ka? (Bukankah seharusnya Kamu memperkenalkan ku?)." Wanita itu berbicara pada Morgan dengan kosa kata yang tidak Aku pahami. Aku mulai menyipitkan pandangan ku padanya.


"Can i borrow the toilet? (Bolehkah Aku meminjam toilet?)." Tanya Morgan yang tidak memperdulikan ucapan Wanita itu. Naoki tersenyum padanya.


"Of course, over here. (Tentu saja, sebelah sini)." Jawab Naoki. Wanita itu terlihat sangat kesal dengan Morgan. Aku tersenyum tipis ke arahnya.


"Mau nyoba ngegoda laki orang? Hah.. Gak akan bisa." Batin ku yang berusaha tenang dengan sikap yang Wanita itu buat secara terang-terangan. Aku seharusnya tidak perlu merasa risau kalau Morgan belum merespon ucapannya.


Morgan meninggalkan ku lama sekali di toilet. Aku nampak sangat canggung berada pada posisi ini. Aku tidak mengenal Wanita ini dan aku juga baru saja mengenal Naoki. Walau kelihatannya Naoki adalah pemuda yang baik, tapi Aku tidak boleh percaya pada wanita ini. Dia sudah secara terang-terangan menggoda Morgan. Aku tidak bisa tinggal diam.


"Beautiful girl, what's your name? (Gadis cantik, siapa nama mu?)." Tanya Wanita itu tiba-tiba. Aku nyaris saja terkejut karenanya. Apa yang harus aku jawab? Bagaimana cara Aku bersikap padanya?


"Ara." Ucap ku ketus. Ia terlihat tidak senang dengan jawaban ketus ku. Aku hanya bisa menunggu Morgan untuk bisa memastikan Wanita ini berbahaya atau tidak.


Setelah menunggu, akhirnya Morgan pun keluar dari toilet. Ia bergerak menuju tempat duduk yang berada di samping ku. Morgan terlihat cuek saat menatap ke arah Wanita itu. Jadi, apa alasan ku untuk bersikap baik pada Wanita itu?


"We have to go now. (Kami harus pergi sekarang)." Ucap Morgan tiba-tiba. Apa tidak terlalu kelihatan jelas kalau Morgan tidak menyukai situasi ini?


"Do not like that. We haven't seen each other in a long time. (Jangan seperti itu, kita sudah lama tidak bertemu)." Tepis Naoki. Morgan tersenyum tipis padanya.


"Next time ya, Naoki! (Lain waktu ya, Naoki)." Jawab Morgan. Terlihat Naoki yang membulatkan matanya sesaat setelah Morgan berkata demikian. Apa Naoki paham maksud Morgan?


"Wakarimashita, anata ga taizai shite iru hoteru no jūsho o watashi ni okutte kudasai. Hōmon shimasu. (Baiklah, kirimi aku alamat hotel yang kamu singgahi. Aku akan berkujung)." Ucapnya. Morgan tersenyum tipis kemudian pergi dari hadapan Naoki dan Wanita itu, begitu pun Aku.


"Senang bertemu dengan mu, Ara-chan." Lirih Wanita itu membuat diri ku terkejut. Aku menghentikan langkah ku sampai Morgan menarik tangan ku untuk segera menyamai langkahnya. Aku bergerak pergi dari sana dan segera keluar dari apartemen itu.


Morgan terlihat sangat kacau. Wajahnya yang hampir tidak pernah tersenyum membuat Aku semakin yakin ada yang tidak beres.


"Ada apa sih?" Tanya ku dengan ketus. Morgan berhenti sesaat setelah mendengar pertanyaan ku.


"Jangan berhubungan dengan Wanita itu." Ucap Morgan memperingati ku. Nampaknya benar, ada yang tidak beres dengan mereka.


"Apa yang salah? Kamu kenal sama dia?" Tanya ku yang ingin sekali tahu kebenaran yang harusnya Aku ketahui. Tapi, Ia sama sekali tidak bergeming.


"Apa jangan-jangan, dia mantan Kamu?" Tanya ku asal. Ia menoleh spontan ke arah ku. Wajahnya seperti orang yang sedang kesal. Aku sampai terkejut melihat responnya itu.


"Saya gak punya sesuatu yang disebut masa lalu, bareng dia." Ucap Morgan seperti sedang menegaskan. Mata ku membulat kaget karena sepertinya harus ada penjelasan di sini. Kalau tidak, mungkin saja akan ada kesalahpahaman berlanjut yang nantinya akan terjadi.


Ia menarik kembali tangan ku menuju halte bus. Aku tidak bisa hanya diam melihat sesuatu yang terjadi yang aku sendiri tidak tahu itu apa.


"Setidaknya Kamu jelasin dong ke Aku, kenapa Kamu bisa kenal sama Wanita itu?" Tanya ku dengan nada yang sedikit tinggi. Ia melepaskan tangan ku secara tiba-tiba membuat Aku sedikit kaget.


"Awsssss..." Lirih ku merasa terkejut. Ia berusaha mendekati ku setelahnya.


"Jangan sentuh Gue!" Ucap ku memperingatkannya. Ia sama sekali tidak menyentuh ku seperti yang Aku perintahkan. Wajahnya terlihat suram sekali.


"Aku gak akan berhenti sampai Kamu jelasin semuanya tentang Wanita itu." Ucap ku padanya. Ia masih mengeluarkan aura yang suram seperti itu, semakin menambah rasa penasaran ku.

__ADS_1


"Paling tidak, kita sampai ke hotel dulu." Ucapnya ada benarnya juga. Aku tidak mungkin membahas semua masalah di jalanan seperti ini. Yang ada, mereka yang lalu lalang berpikir kalau aku ini Wanita yang aneh.


"Oke, tapi Kamu janji ya harus cerita semuanya. Gak boleh ada yang kamu tutupin dari Aku." Ucap ku seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu. Ia menghela nafas panjang dan mengelus kepala ku.


"Bawel." Lirihnya membuat Aku menjadi kesal dengannya.


"Ish awas ya!" Ucap ku memperingatinya. Aku berlarian mengejar dirinya yang lebih dulu pergi meninggalkan ku. Aku tidak berpikir pandangan orang lain terhadap ku seperti apa. Aku pun tidak begitu fasih berbahasa Jepang. Itu sih alasan utama Aku agar tidak menggubris perkataan mereka.


Aku berlari sekuat tenaga untuk mengejar Morgan.


"Tinggal sedikit lagi!" Ucap ku yang terus bersemangat untuk menangkapnya. Aku dengan mengesampingkan akal sehat ku, mengambil ancang-ancang untuk segera melompat ke arahnya.


"Happp..." Aku berhasil berada di punggungnya sekarang. Ia tertawa lepas saat Aku berhasil menungganginya.


"Kamu gak bisa lari.." Lirih ku dengan penuh semangat. Ia menghentikan langkahnya. Tanpa sadar, hari sudah semakin petang. Aku sampai lupa untuk makan siang.


"Kruuukkk.." Suara perut ku yang tidak bisa dikondisikan. Aku malu sekali pada Morgan saat ini.


'Aissshh.. Kenapa perut gak bisa dikondisikan sih?' Batin ku yang mendadak merasa malu.


"Saya jadi ingat, tempat yang bagus sekali untuk makan malam." Ucap Morgan dengan penuh harap. Seketika mata ku berbinar karena mendengar kata makan. Aku tak akan sungkan jika Morgan mengajak ku ke tempat itu.


"Makan..." Sorak ku merasa girang sekali. Morgan menggendong ku dengan pelan menyusuri jalanan Kota. Aku merasa senang sekali karena tingkah Morgan yang tidak di sangka akan se tidak jaim ini. Baru beberapa langkah ku berjalan, Aku merasa sudah ada yang memperhatikan ku dari belakang. Aku menoleh ke arah belakang ku. Benar saja, Wanita itu terlihat sedang melipat kedua tangannya sembari memperhatikan ku. Aku hanya diam sembari memperhatikannya kembali. Ia mengeluarkan satu batang rokok dan membakarnya kemudian menghisapnya. Langkah kami kian menjauhi keberadaan Wanita itu. Tapi aku sama sekali tidak bisa berkedip dari Wanita itu.


-MORGAN MAIN-


'Sepertinya Ara sedang memperhatikan sesuatu.' Batin ku merasa tidak enak. Aku menoleh sedikit ke belakang. Ternyata, Junhey lah yang ia lihat. Wanita yang sama sekali tidak mengetahui kebenarannya itu, terus menerus menuduh ku yang bukan-bukan. Bukan! Bukan itu yang harus ku pikirkan sekarang. Aku harus mencari cara agar Ara tidak terfokus padanya lagi.


"Kamu makan apa sih? Kok bisa berat begini." Celetuk ku.


"Kamu cantik." Ucap ku yang secara sadar mengalihkan pembicaraan supaya dia tidak marah. Aku takut kalau nanti ia mengamuk tiba-tiba di depan umum seperti ini.


"Apan sih.." Nadanya mulai terdengar seperti sedang menahan malu. Aku bisa merasakannya meskipun Aku tidak melihatnya.


"Ara!" Pekik seseorang dari arah yang bersebrangan dengan kami. Terlihat Adik dari Putri yang sedang berada di hadapan ku saat ini. Aku sampai terkejut! Kenapa bisa dia sampai di Tokyo? Apa Ara memberitahu tentang kita yang ingin berlibur ke Tokyo? Ah tidak mungkin! Ara tidak punya spare waktu untuk memberitahu pada Farha. Apa lagi saat itu, Farha tidak terlihat sedang video call dengan teman-temannya yang lain.


"Lho.. Farha! Kok Loe bisa ada di sini sih?" Tanya Ara. Aku menurunkan Ara dari punggung ku.


"Ceritanya panjang, Ra! Gue bisa ikut nginep bareng Loe gak?" Tanyanya.


"Gak boleh!" Ucap ku ketus dengan spontan. Ara melihat ku dengan tatapan tak percaya. Mungkin saja, Ia bisa mengelabui Ara. Tapi, Dia tentu tidak bisa mengelabui ku.


"Lho.. Kok Loe gitu sih, Gan? Kasian Farha!" Bela Ara. Tak ku sangka liburan ku kali ini di buat berantakan oleh bocah ini.


"Ayo Far, kita ke hotel!" Ajak Ara yang sembari berjalan pergi meninggalkan ku. Farha terlihat sedang tersenyum miring pada ku. Ia meninggalkan ku sendiri di sini. Seharusnya, Ara bisa dengan mudah mencari hotel tempat kita menginap. Aku terdiam dan tak tahu harus berbuat apa.


"Bocah itu benar-benar ingin membuat ulah!" Lirih ku yang tak senang dengan keberadaan Farha. Aku mengeluarkan handphone ku dan segera menyambungkannya pada wifi gratis yang ada di sekitar wilayah ini.


"Bippp..." Aku menelepon Naoki. Aku ingin sekali menginap di sana. Aku tidak mau satu ruang lingkup dengan orang yang munafik seperti itu.


"Moshi.. Kore wa daredesuka (Halo.. Siapa ini?)." Ia menjawab telepon ku.


"Sore wa watashidesu, Morgan. (Ini aku, Morgan)." Ucap ku.

__ADS_1


"Hai! Naze, Morgan? (Ya! Kenapa, Morgan?)." Tanyanya. Aku hanya diam, tak bisa menjelaskan maksud dan tujuan ku.


"Anata no ie ni tomatte mo īdesu ka (Bolehkah Aku menginap di rumah mu?)."


*


-ARA MAIN-


Aku berjalan bersama dengan Farha untuk menuju hotel tempat kita menginap. Sesampainya di sana, Aku duduk di atas ranjang, kemudian di susul oleh Farha yang juga duduk di samping ku.


"Eh, Morgan mana?" Tanya ku. Aku yang sedari tadi hanya berfokus ke Farha, sampai lupa dengan keberadaan Morgan.


"Gue gak lihat.." Ucap Farha dengan nada terdengar seperti nada bersalah.


"Hmm.. Loe mau makan gak? Gue bawa mie instan." Tawar ku padanya.


"Gila ya, gak di mana-mana tetap mie instan the best nya." Ledek Farha. Aku tertawa kecil mendengar ucapannya.


"Gue minta air panas dulu."


Aku meminta air panas pada pihak hotel. Sembari menunggu, Aku terus memperhatikan Farha. Farha yang mungkinnya nampak risih, melihat ku dengan tatapan yang aneh.


"Kenapa Loe?" Tanya Farha yang sedikit menyeleneh. Aku tersenyum miring ke arahnya. Tak ku sangka, Ia bisa sampai ke Jepang secara diam-diam.


"ke Jepang, jalan diam-diam, gak ngasih kabar, tiba-tiba minta sehotel, aneh deh!" Ucap ku yang mulai asal. Ia terlihat tegang sekali ketika mendengarnya.


"Ya.. itu semua di luar kemampuan Gue." Lirihnya yang terdengar seperti sedang membela diri.


"Terus ko bisa loe sampai tujuan yang sama kayak Gue?" Tanya ku.


"Niatnya tuh Gue emang mau ke Jepang. tapi Gue gak tau daerah sini tuh kayak gimana.. Makanya gua cuma asal terbang aja. Yang penting mah Gue sampe sini. Eh di jalan tadi ada yang hampir nyopet Gue. Yaa bagusnya Gue bisa kabur dari keramaian dan akhirnya, Gue ketemu sama Loe tadi. Gue baru aja sampe 2 jam sebelum ketemu sama Loe." Jelasnya. Aku jadi merasa iba sendiri dengannya.


"Kok bisa sih? Gue kasian banget ngeliat Loe. Yaudah, rencana Loe mau tinggal di Jepang sampai berapa lama? Kita bareng-bareng di Jepang, Okeey?" Tanya ku. Ia mendadak bersemangat sekali mendengarnya.


"Okey!" Spontan ia mengangguk dan merasa sangat girang.


"Tapi, Gue gak bisa nih hubungin Morgan. Kartu Gue masih kartu Indo." Lirih ku. Ia terlihat sedang menyodorkan sesuatu pada ku.


"Apa ini?" Tanya ku bingung.


"Kabarin lewat handphone Gue aja." Lirihnya. Aku rasa, itu bukan ide yang buruk. Aku mengambil handphonenya untuk sekedar menanyakan keberadaan Morgan.


"Gak perlu!" Ucap Morgan yang tiba-tiba datang, lalu merebut handphone Farha dan melemparkannya ke atas ranjang. Aku terkejut melihat kelakuan Morgan terhadap Farha.


"Gan, gak bisa gitu dong!" Cela ku. Tatapannya itu sekarang seperti binatang yang ingin menerkam mangsanya.


"Bisa! Lagian, kalau Kamu mau hubungi Saya, Kamu bisa kan pakai WiFi? Gak perlu pakai handphone orang lain?" Ia tetap kekeh pada pendiriannya.


Astaga, benarkah yang dikatakan Morgan? Aku hanya harus membuka WiFi untuk bisa mengakses internet? Dari mana saja aku?


Morgan menoleh ke arah Farha.


"dan Kamu, sebaiknya Kamu jangan mengganggu liburan orang lain. Pergi dan cari hotel mu sendiri." Ucap Morgan tegas. Aku tidak bisa melarangnya terlalu jauh, sebab aku yang diajaknya ke sini. Aku jadi tidak terlalu punya wewenang apapun untuk menentukan semuanya.

__ADS_1


"Ternyata, Pak Morgan orangnya seperti ini yah." Imbuh Farha. Morgan terlihat santai dan tidak memperdulikan ucapan Farha.


@sarjiputwinataaa


__ADS_2