
"Gimana nih?" Lirih ku yang belum bisa mencerna. Akhirnya, Aku memutuskan untuk menunggu Morgan dan bersiap-siap. Aku membersihkan tubuh ku yang lengket akibat perjalanan jauh dan ditambah lagi dengan ulah Morgan semalam. Jujur saja, Aku sangat merindukan keagresifannya itu. Aku rindu dirinya yang dulu.
*
-MORGAN MAIN-
Aku membawa seikat bunga yang baru saja Aku beli. Aku masuk menuju lift yang diperuntukan untuk pengunjung. Seseorang menahan pintu lift. Aku memperhatikan dengan seksama, siapa wanita yang menghentikkan lift ku.
"Sudah lama gak ketemu." Ucapnya santai tanpa melihat ke arah ku. Ternyata, ini bukan kali pertamanya kami bertemu. Bahkan, mungkin saja sejak kemarin Ia mengikuti ku sampai di sini. Aku tidak bergeming sama sekali.
"Sudah banyak perubahan dari Kamu, Morgan." Ucapnya, membuat Aku penasaran dengan apa yang Ia inginkan.
"Apa yang kamu mau?" Tanya ku tanpa berbelit. Ia tersenyum miring menatap ku.
"Gak ada yang berubah. Kamu tetap Morgan yang dulu Aku kenal." Ucapnya dengan sedikit mengulur waktu. Aku tidak suka dengan basa-basinya itu.
"Cepat katakan, apa yang kamu mau dari Saya?" Tanya ku yang tidak sabaran. Ia melangkah dan mengunci diri ku di sudut lift. Aku tak bergeming sembari melihat apa yang akan Ia perbuat.
"Kamu bahkan tidak menegur Ku saat Aku membangunkan Kamu di pesawat kemarin." Ucapnya. Aku sengaja tidak memperdulikannya karena Aku tidak ingin Ara sampai tahu.
"Oh.. Manis juga hadiah Mu untuk calon istri Mu itu.." Ia memperhatikan seikat bunga yang ku bawa dan dengan segera ingin mengambilnya. Aku menghindari tangannya yang hendak menyentuh bunga yang ingin Aku berikan untuk Ara. Aku tidak akan membiarkan Ia menyentuh bunga ku. Ia terlihat seperti orang yang sedang tidak senang. Ia mendekat ke arah ku lagi, bahkan lebih dekat dari jarak yang tadi.
"Entah apa bagusnya gadis itu, sampai Kamu secara sadar memberikan seluruh yang kamu punya untuknya." Ucapnya membuat diri Ku terusik. Ia sudah menjelek-jelekan Ara di hadapan ku. Agak sedikit geram diri ku mendengarnya.
"Apa yang kamu mau?" Tanya ku dengan jelas. Ia membulatkan pandangannya ke arah Ku.
"Ini gak semudah yang kamu pikirin." Ucapnya. Aku mengeluh dan menepuk kening ku cukup keras.
"Aish.. Sudahlah, ini sudah terjadi cukup lama. Jangan mempersulit Ku dengan ini." Gumam ku memperingatkannya agar tidak mempersulit diri ku kedepannya. Aku dan dia sudah cukup lama saling mengenal. Tapi, tidak ku sangka dendamnya pada Ku masih belum hilang juga.
"Aku masih ingat saat Kamu membunuh pacar ku dengan tangan mulus mu itu!" Bentaknya. Aku tidak ingin siapa pun tahu mengenai ini. Aku tidak ingin, siapapun salah sangka terhadap ku hanya karena masalah yang tidak jelas ini.
"Tinggg..." Lift sudah berhenti. Pintu lift akhirnya sudah terbuka. Di sana, beberapa gadis Jepang sudah menunggu dengan malu-malu menutupi sebagian wajahnya karena melihat adegan diri ku yang terojokkan oleh maniak itu. Aku mendorong pelan tubuhnya sehingga Aku bisa dengan mudah lolos darinya.
Aku melangkah dan meninggalkan dirinya yang sama sekali tidak penting bagi ku. Aku menuju kamar tempat Aku dan Ara singgah sementara. Aku merasakan Ia yang terus menguntit Ku dari belakang. Aku membuka kamar dengan kartu yang Aku punya. Ternyata, Ia singgah tepat di sebelah kamar ku. Aku tidak memperdulikannya dan malah segera masuk ke dalam kamar untuk bertemu dengan Ara.
Aku mencari keberadaan Ara. Samar terdengar suara tangisan yang tak asing bagi ku.
"Ara!!" Pekik ku yang segera menghampiri Ara yang terlihat sedih sembari menangis di atas ranjang. Aku khawatir dengan keadaan Ara. Aku memeluknya dengan cepat sampai melepaskan bunga yang ku bawa.
"Kamu kenapa, Ra?" Tanyanya yang masih saja menangis.
"Aku pikir.. Kamu ninggalin Aku.. Soalnya udah lama banget Kamu gak pulang." Ucapnya sesegukan, Aku sampai menghela nafas panjang karena mendengar penjelasannya. Aku baru saja keluar setengah jam, dan Ara pikir Aku meninggalkan dia? Aku tidak akan sejahat itu meninggalkan orang yang Aku sayang di Negeri orang. Aku memeluk dirinya dengan sangat erat.
"Saya gak mungkin ninggalin kamu dong.." Ucap ku membuat Ara terlihat sedikit tenang.
Aku teringat dengan bunga yang aku bawa tadi. Aku mengambilnya dan memberikannya pada Ara. Ia secara suka rela mengambilnya dan menciumnya.
__ADS_1
"Makasih." Ucapnya yang malu-malu membuat Aku tersipu. Aku tersenyum dan melupakan sejenak masalah yang baru saja muncul. Tak ku sangka, Aku akan bertemu dengan wanita itu lagi.
Banyak sekali dendam yang mungkin masih ia simpan kepada Ku. Tapi kenyataannya, belum tentu sama seperti yang Ia pikirkan selama ini. Aku tidak bisa menahan ini lebih lama. Aku harus segera menyelesaikan ini dengannya. Tapi sebelumnya, Aku harus mengajak Ara untuk berkeliling lebih dulu.
"Mau berkeliling?" Tanya ku. Ia mengangguk mantap dengan ajakan Ku. Apa Aku bisa menggodanya sedikit?
"Cium dulu.." Ucap ku sembari menyodorkan pipi Ku padanya. Aku memejamkan mata Ku karena khawatir Aku membuatnya malu. Aku menunggunya beberapa saat, namun Ia tak kunjung mengecup pipi ku. Aku membuka mata ku dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Lho.. Kenapa?" Tanya ku. Ia masih menggelengkan kepalanya. Tanpa pikir panjang, Aku langsung menerkam dirinya. Ia terlihat malu saat Aku melakukan ini.
"Ishh lepasin!" Teriaknya membuat Aku gemas. Ini baru wanita ku.
"Apa.. Kamu mau kita menikmati hari di sini?" Goda ku yang jelas sekali membuat seluruh wajahnya memerah. Aku tidak tahan dengan perubahan sikapnya yang aneh setiap Aku menggodanya. Rasanya, ingin sekali Aku menggodanya seperti ini terus.
"Jangan halu deh! Ayo katanya kita mau jalan-jalan?" Tanyanya. Ternyata, sifatnya masih sama seperti dulu. Tapi mungkin, sekarang sudah menjadi agak lunak. Apa tandanya Aku berhasil menakhlukan dia sepenuhnya?
"Ahaha.. Iya. Ayo.." Ucap ku dengan penuh kelembutan. Ia masih saja terlihat seperti orang yang tidak senang dengan perlakuan ku. Aku memaklumi saja dengan sikapnya yang seperti itu.
Aku mengajaknya berkeliling Kota Tokyo dengan memakai pakaian adat Jepang (Kimono). Sudah lama sekali aku tidak memakai pakaian ini. Aku memandang Ara yang juga sudah mengenakan pakaian adat kimono. Ara sangat terlihat cantik mengenakannya. Aku sampai pangling melihatnya.
Aku berhenti tepat di depan gedung University of Tokyo, tempat dimana Aku menimba ilmu selama 3 tahun di sini. Aku sangat merindukan masa-masa indah ku di sini. Walau menemukan banyak perbedaan, tapi Aku merasa tempat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan ku.
"Ini tempat Saya melanjutkan S2. Kamu pasti kaget kan?" Ucap ku dengan bangga. Ia memasang tampang yang tidak meyakinkan.
"Gak percaya tuh.." Ucapnya dengan nada yang sedikit mengesalkan. Aku sampai merasa sedikit kesal padanya.
"Yayayay... Saking populernya sampai lupa kalau udah punya pacar." Cemberutnya. Ternyata, Ia sedang menyemburui ku. Aku menggeleng kecil sembari menyentil keningnya.
"Tukk.."
"Aduh.. Sakit tau!" Ia mengusap-usap bagian kening yang katanya sakit. Tapi kenyataannya, Aku tidak sekejam itu kok. Aku mendekatkan wajah ku padanya. Terlihat Ia yang sedang berusaha menahan malunya.
"Ngapain sih Loe!" Bentaknya yang menghindari wajahnya dari wajah ku. Aku suka sekali menggodanya seperti ini. Aku sangat bahagia melihat setiap respond yang ia keluarkan untuk setiap gerakan ku.
"Pacar mu ini.. Tampan tidak?" Tanya ku berbisik padanya. Telinganya berubah menjadi merah. Itu sangat terlihat jelas dari perubahan sikapnya.
"Udah deh.. Jangan ganggu!" Ucapnya lalu mengerutkan bibirnya. Ia melihat sesuatu ke arah sana. Aku mencoba memperhatikan apa yang ia lihat. Ternyata, Ia sedang melihat muda-mudi yang berciuman di pinggir jalan. Aku tersenyum padanya dan mendekatkan kembali wajah ku ke telinganya.
"Kamu mau seperti itu?" Tanya ku dengan nada menggoda. Ia kembali menyingkirkan wajahnya dari hadapan ku. Kali ini, dia menutupi hampir seluruh bagian wajanya dengan kedua tangannya. Ia sudah benar-benar merasa malu.
"Jangan gila deh Loe!" Ucapnya yang masih menentang betul keadaan. Aku jadi mengetahui satu hal, semakin Aku menggodanya, semakin juga ia melawan perasaannya pada ku. Aku tidak boleh menembaknya dengan spontan. Aku harus mengulurnya, sama seperti saat ujian akhir berlangsung. Ia menjadi lunak saat Aku ulur. Lain halnya saat Aku selalu menembaknya dengan percaya diri. Ia juga pasti akan selalu melawan hatinya.
"Hehe.. Udah yuk.. Kita ke tempat Naoki." Ajak ku. Ia terlihat bingung dengan yang Aku bilang barusan.
"Naoki?" Tanyanya. Benar saja, apa Aku belum memberi tahunya tentang teman ku yang bekerja di pabrik pulpen yang ia banggakan waktu itu?
"Apa Saya belum memberi tahu Kamu?" Tanya ku. Ia menggeleng kecil.
__ADS_1
"Teman ku yang bekerja di pabrik pulpen yang kau banggakan itu.. Namanya Naoki." Ucap ku. Ia terdiam sesaat. Aku merasa, ia sedang mencerna perkataan ku tadi.
"Oh! Yang waktu itu Aku debat sama Kaprodi gara-gara pulpen?" Tanyanya. Aku mengangguk mantap.
"Wah.. Apa dia masih kerja di sana?" Tanyanya, Aku tersenyum padanya.
"Masih. Apa Kamu mau dikenalkan?" Tanya ku. Matanya terlihat berbinar saat aku bertanya demikian.
"Mau!!" Jawabnya dengan mantap. Aku menghela nafas ku dalam. Tampaknya, Ia sangat senang. Tanpa basa-basi, Aku mengajaknya menuju Apartemen yang Naoki singgahi.
"Memang harus naik bis?" Tanyanya, Aku menarik tangannya untuk bisa melangkah masuk ke dalam bis.
"Gak lama kok. Hanya 5 menit." Ucap ku dengan penuh semangat.
-ARA MAIN-
Aku merasakan Morgan sangat bersemangat dan memiliki mood yang sangat baik kali ini. Aku tidak ingin merusak moodnya. Karena bus sangat padat sekali, Aku jadi tidak kedapatan tempat duduk. Aku berdiri di hadapan Morgan dengan membelakangi orang yang tidak ku kenal. Morgan sedang asyik memandang setiap sudut Kota. Lain halnya dengan ku. Aku merasa tidak enak saat ada orang yang terus menempelkan dirinya pada ku. Aku merasa tidak nyaman di sini. Aku tidak mau merusak mood Morgan. Aku tidak ingin dia sampai membuat onar di wilayah orang. Aku memutuskan untuk diam saat diperlakukan seperti itu.
Lama kelamaan, orang ini semakin berani sekali. Bahkan, ia sampai berani meraba bokong ku. Aku terkejut saat mendapatkan perlakuan buruk darinya.
"Sumimasen (Permisi)." Ucap seseorang yang berusaha menghalangi orang mesum itu dari tubuh ku. Orang yang memakai topi hitam misterius itu, menghalangi tubuh orang mesum tadi dan membuat celah di antara tubuh ku dan tubuh orang tadi. Aku jadi sedikit terbantu olehnya. Aku melirik sedikit ke arah wajahnya. Dirinya terlihat dingin sekali. Sama seperti saat pertama Aku melihat Morgan kala itu. Mata ku membulat, Aku seperti melihat reinkarnasi Morgan yang ada di hadapan ku. Apa benar yang Aku lihat ini adalah reinkarnasi Morgan? Padahal, Morgan masih ada bersama ku dan belum meninggal.
"Ckiiittttt.." Mobil bus mengerem mendadak karena tujuan halte kami hampir saja terlewat. Morgan menggandeng tangan ku untuk segera keluar dari kerumunan ini. Aku bahkan tidak sempat mengatakan terima kasih pada pemuda yang menolong ku tadi. Aku hanya bisa sekilas melihatnya matanya. Matanya tajam seperti milik Morgan.
Aku dan Morgan sudah sampai di depan apartemen yang kami tuju. Aku di gandeng mesra oleh Morgan sampai menuju kamar orang yang ia sebut Naoki. Aku tidak bisa menghindarinya.
Kini, kami sudah tiba di depan pintu Naoki.
"Ting nong.." Morgan menekan bel yang ada di depan kamar Naoki. Tak lama berselang, seseorang membuka pintu apartemennya.
"Morugan! Ogenki desuka (Morgan! Apa kabar?)." Ucapnya dengan nada yang sangat bersemangat. Ia sampai memeluk Morgan saking girangnya.
"Hai! Genki desu! (Ya! Kabar baik!)." Morgan membalas pelukannya itu. Aku mungkin sampai terlupakan olehnya. Morgan melepaskan pelukan kawannya itu dan menatap ku penuh kebahagiaan.
"Ara, kenalin. Ini Naoki." Ucapnya dengan suka cita. Aku menjabat tangan Naoki dengan senang hati, begitu pun Naoki yang membalas jabatan tangan ku.
"Hajimemashite, Ara-chan! (Senang bertemu dengan mu, Ara!)." Ucapnya, Aku hanya diam sembari melirik ke arah Morgan. Aku kurang begitu memahami bahasa Jepang. Morgan tertawa tipis melihat ekspresi ku.
"Sumimasen Naoki, Ara wa anata ga itte iru koto o rikai shite imasen. (maaf Naoki, Ara tidak mengerti ucapan mu.)" Ucap Morgan dengan sedikit tawanya. Aku ikut tertawa karena Morgan juga tertawa. Sepertinya hal yang lucu, walaupun aku tidak mengetahui artinya.
"Oh, I see. Please come in." Ucapnya dengan penuh rasa suka cita. Apa semua orang Jepang sangat menyenangkan seperti ini? Kalau memang benar, Aku betah berlama-lama di sini.
Aku dan Morgan di ajak masuk ke dalam apartemen kecil milik Naoki.
"Hallo, Hajimemashite (Halo, senang bertemu dengan mu)." Seorang gadis yang tak asing menyapa kami saat kami baru saja tiba di aula milik Naoki. Aku agak kaget karena melihat lagi Pramugari yang aku temui waktu itu. Aku melirik ke arah Morgan yang nampaknya masih dingin menanggapi Kakak Pramugari itu.
"sorry I didn't tell you if there were guest." Ucap Naoki yang terdengar seperti merasa tidak enak pada ku dan juga Morgan.
__ADS_1
@sarjiputwinataaa