
Tak ku sangka aku akan melakukannya lagi bersama dia. Sekuat apapun aku menahannya, pasti akan selalu kalah dengan pesona yang ia miliki. Aku terlalu percaya dengan diri ku sendiri.
'Entah gimana nantinya. Saya hanya perlu berpikir sejenak. Saya gak selamanya bisa nemenin kamu.' Batin ku yang terus menerus mengelus pipinya. Aku tak kuasa menahan air mata ku. Aku tidak tahu nanti akan jadi seperti apa. Aku pun masih bingung dengan perasaan ku.
'Soal ke rumah, mungkin lain waktu ya.'
*
Cahaya mentari menyinari wajah ku. Aku terusik dengan kehadirannya yang tanpa izin menembus masuk ke dalam celah kamar ku. Perlahan, aku membuka mata ku. Ada rasa sedikit pusing dengan kepala ku. Apa yang barusan terjadi? Aku melihat sekeliling ku yang berantakan. Ada apa sebenarnya? Aku menyadari, ada seseorang yang tak asing bagi ku sedang tertidur pulas di samping ku. Ada sedikit rasa kaget.
"Kenapa ada Morgan?" Lirih ku bertanya-tanya.
"Awwwwwsss.." Aku merasakan sakit di bagian bawah bibir ku. Seperti sariawan. Aku memperhatikan setiap cm wajah Morgan. Terlihat hal yang janggal di wajahnya. Bibirnya juga terlihat seperti sedang sariawan. Kenapa ini menjadi suatu kebetulan yang membingungkan?
"Hhhhhhhhhh..." Aku berpikir satu hal, apakah kami berdua habis berciuman? Kenapa kami sama-sama punya luka yang sama?
"Ah, masa gue sama dia ngelakuin lagi sih?" Aku bertanya-tanya keheranan. Aku berusaha mendekati wajah Morgan, berniat untuk memperhatikan bibir Morgan dari dekat.
"Ah.. Kok bisa ya sama gini?" Lirih ku bertanya-tanya. Aku memperhatikannya dari jarak yang sangat dekat.
"Heh om, loe nakal ya semalem?" Tanya ku dengan nada seperti anak kecil. Aku yakin, dia tidak akan sadar aku meledeknya seperti ini. Tiba-tiba, ia membuka matanya hingga membuat aku terkejut. Mata kami bertemu pada satu titik. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya diam sembari memelototinya.
"Morning, pacar!"
"Cuppppsss..." Morgan mengecup bibir ku dengan lembut. Wajah ku seketika menjadi panas. Apa yang barusan aku dengar hanyalah ilusi, bukan?
"A. Apa?" Tanya ku yang sudah kehabisan kata. Aku diam menganga sembari menunggu penjelasan darinya. Apa maksudnya itu?
__ADS_1
"Kamu, pacar saya sekarang. Terhitung sejak tadi malam." Ucapnya. Entah bagaimana wajah ku sekarang. Pasti sudah berubah menjadi merah semu. Apa aku sedang bermimpi? Aku melayangkan tangan ku untuk menampar pipi ku.
"Greeeppp..." Morgan menahan tangan ku.
"Jangan nyakitin diri kamu sendiri. Kamu lagi gak mimpi." Ujarnya membuat aku semakin malu. Aku menutup wajah ku dengan selimut yang aku pakai.
'Duh.. Gimana nih? Kok Morgan gitu sih responnya? Apa aja yang dia lakuin semalem? Bibir sampe bengkak, terus kok bagian bawah sakit banget ya? Mau nanya tapi malu!!' Batin ku menahan malu.
"Tseeettt..." Morgan menarik selimut yang aku pakai. Ia menindih di atas ku. Mimpi apa aku semalam? Kenapa Morgan memperlakukan aku seolah-olah aku adalah kekasihnya?
"Gimana semalam?" Tanyanya membuat wajah ku menjadi panas. Apa yang sebenarnya terjadi semalam?
"Loe ngapain gue semalem?" Tanya ku agak sedikit takut. Ia tersenyum hangat pada ku.
"Cuppppsss.." Ia mengecup lembut kening ku. Aku merasakan ketulusannya saat ini. Rasa bimbang di hati ku mulai muncul kembali karena sikapnya yang turun naik dan menarik ulur perasaan ku. Mungkin aku adalah orang yang paling ceroboh karena telah membiarkan perasaan ku untuk mengalahkan logika ku. Tapi jujur, ini sangat nyaman rasanya! Apakah ada sesuatu yang terjadi sehingga aku bisa merasakan kenyamanan sedahsyat ini?
"Sesuatu memang terjadi di antara kita semalam. Jadi saya harap, kamu bisa maafin kesalahan saya." Jelasnya yang membuat aku sedikit terkejut. Tapi aku salut dengan keberaniannya untuk meminta maaf kepada ku.
"Apa benar kamu cinta sama saya?" Pertanyaannya lagi-lagi membuat aku tidak bisa berkata apapun. Aku harus menjawab apa? Aku sama sekali tidak mengetahui jawaban apa yang harus aku berikan. Karena memang aku tidak tahu perasaan ku padanya saat ini itu seperti apa? Aku masih belum yakin dengan perasaanku sendiri.
"Gu. Gue nggak tau!." Jawab ku untuk menutupi rasa malu ku. Dia tetap membelai halus rambut ku.
"Hei bocah, jangan cinta ya sama saya." Perkataannya selalu di ulang-ulang seperti itu membuat aku semakin tidak paham.
"Eh om, lagian siapa juga yang suka sama om!" Jawab ku dengan nada meremehkannya. Ia nampak diam dan tidak berekspresi sama sekali.
"Soal ke rumah saya gimana?" Tanyanya. Untuk apa dia mengajak aku ke rumahnya?Atau jangan-jangan, dia ingin membuat diri ku malu lagi dengan berbuat mesum seperti waktu itu??
__ADS_1
"Jangan macam-macam deh loe!" Bentak ku secara refleks.
"Kamu tenang aja, saya nggak akan macam-macam kok! Saya akan jaga sikap saya selama kita di rumah saya nanti." Jawabnya membuat ku merasa sedikit tenang. Aku berpikir sejenak.
'*Y**a kalau misalkan dia gak ngapa-ngapain sih Ya enggak apa-apa sih itung-itung buat gue lebih dekat sama keluarganya Fla.'
'Tapi kalau omongan dia nggak bisa dijaga gimana? Kalau dia berbuat yang macam-macam lagi gimana? Kalau sampai ketahuan fla lagi gimana? Atau bahkan ketahuan sama orang tuanya fla? Duhhh*...' Batin ku yang sebelah lagi mengatakan demikian. Terjadi perdebatan batin di antara kubu sebelah kiri dan sebelah kanan.
"Gimana.."
"Mau?" Tanyanya. Mudah-mudahan keputusan ku kali ini tidak salah.
"Jaminannya apa kalau loe nggak bakal macam-macam sama gue?" Tanyaku yang mungkin membuat dia sedikit bingung. Terlihat ia sedang mengernyitkan dahinya.
"Jaminan?"
"Iya jaminan. Gue nggak pernah tahu yang akan terjadi itu seperti apa. Gue cuman mau loe kasih jaminan ke gue supaya gue bisa yakin untuk ikut sama loe kesana dan nggak akan terjadi hal apapun dengan gue nantinya. simpel kan?" Tanyaku dengan nada nyinyir.
"Datang, makan malam, jalan-jalan sebentar, langsung saya antar pulang." Dia menjelaskan alur ceritanya. Aku sedikit berpikir, ya tidak ada yang aneh sih dari jalan pikirannya saat ini.
"Okelah! Tapi ada satu syarat."
*
"Woi woi woi woi!! bangun bangun bangun bangun bangun bangun!!!" Aku berusaha membangunkan mereka semua yang masih tertidur pulas akibat minum shochu kemarin. Satu-persatu mulai bangun dari mulai Rey, Rafa, Fla hingga Kakak. Posisi tidur mereka sangat lucu sehingga membuat aku ingin memotretnya.
"Duh.. Berisik banget sih."
__ADS_1
@sarjiputwinataaa