Dosen Idiot

Dosen Idiot
71. Ganti Parfum


__ADS_3

"Iya. Fla adik saya. Memangnya kenapa?" Ucap Morgan membenarkan. Mereka bertiga nampak terkejut dengan pengakuan Morgan kali ini.


"Wah... Maafin kita ya pak, waktu awal pertama masuk di sini, kita bikin salah sama Fla." Ucap Rafael dengan nada memelas. Begitu pun Ray.


"Iya.. Pantes aja Pak Morgan waktu itu langsung sigap nyuruh kita masuk ruang Kaprodi." Sambar Ray membenarkan ucapan Rafa. Morgan hanya terlihat dingin tanpa memperdulikannya.


"Udah ah.. Masa lalu itu mah. Sekarang kan kita udah jadi best friend!" Ucap Fla membuat mood ku naik kali ini. Aku tersenyum pada Fla yang ternyata mempunyai sisi kedewasaan.


"Uchhhh..." Kami semua tersentuh dengan ucapan Fla. Kecuali Farha yang hanya diam mematung. Wajar saja sih, dia kan anak baru. Jadi belum mengerti perjalanan kami bersama selama 1 semester ini.


"Jadi, loe harus di skors sampai hari senin, Ra?" Tanya Farha. Aku mengangguk kecil ke arahnya. Mereka semua terlihat sedih sekali karena aku harus break sejenak sebagai tanda aku menerima hukuman ku.


"Baik-baik ya, senin depan kita kumpul lagi." Fla membuat ku nyaman. Aku memeluknya dan juga Farha. di ikuti oleh Ray dan Rafa. Kami berlima berpelukan seperti Teletubbies.


Kami sudah selesai berpelukan. Kami memandang satu sama lain dengan senyuman. Morgan berdiri sejajar menghadap ke arah ku. Pandangan kami pun bertemu. Mereka bertiga sudah tidak mengejek ku lagi. Karena sebelumnya, aku minta pada mereka agar merahasiakan hubungan aku dan juga Morgan. Masalah di luar kampus, biarlah mereka mau mengejek ku seperti apa. Asal tidak di dalam kampus.


"Udah?" Tanya Morgan. Aku mengangguk kecil.


"Ayo, Saya antar kamu pulang." Ucap Morgan. Aku mengangguk ke arahnya.


"Semuanya, duluan ya?" Pamit ku. Mereka semua nampak sedih dengan kepergian ku yang hanya sementara ini. Akhirnya, aku kembali menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil Morgan. Aku sedih sekali karena harus berpisah dengan mereka. Walaupun hanya sementara sih..


"Gimana keadaan kamu?" Tanya Morgan. Aku menoleh ke arahnya. Aku memasang tampang sedih karena perasaan sedih ku yang tidak bisa terbendung lagi. Aku sudah tidak tahan menahan kesedihan ku. Walaupun ini hanya sementara, tapi dalam satu minggu ke depan, aku tidak bisa lagi bercanda bergurau bersama mereka. Terlebih lagi, aku tidak bisa sering bertemu lagi dengan Morgan. Itu berarti, akan ada lebih banyak wanita di luar sana yang akan dengan bebasnya mendekati Morgan. Aku khawatir dengan hati ini. Akan kah aku bisa melewati semua ini dengan mudah?


"Aku sedih.. Gak bisa ketemu sama temen-temen dulu." Rengek ku seperti anak kecil. Air mata mulai menggenangi pelupuk ku. Aku sudah tidak bisa lagi membendungnya. Ia mendekatkan wajahnya ke arah ku.


"Cuppppsss.." Ia mengecup kening ku dengan lembut. Satu tamparan keras seperti sudah menampar hati ku. Aku merasa Morgan sudah berkata bahwa, ini lho dampak dari perbuatan mu. Tapi Morgan lebih memilih menenangkan hati ku yang sedang kacau.


"Kita jalan ya." Ajaknya. Aku mengangguk kecil. Morgan mengarahkan mobilnya ke suatu cafe tak jauh dari rumah ku. Aku bingung dengan yang ia lakukan.


"Kenapa ke cafe? Kenapa gak pulang aja?" Tanya ku yang mengerenyitkan dahi ku. Ia memasang sit belt nya kemudian memasangkannya juga pada ku.


"Kamu belum makan. Kita makan dulu ya." Ucap Morgan sembari memasangkan sit belt ku. Aku merasa Morgan sangat pengertian dengan ku. Aku memang sudah begitu lapar. Bagus sekali dia bisa sepengertian ini pada ku.


Mobilnya melaju dengan kecepatan rendah. Morgan menggenggam tangan ku sembari men-scroll handphonenya itu. Aku senang karena ia sudah mulai menunjukkan sisi yang romantis pada ku. Bukan sisi ke arah nafsu saja. Aku jadi semakin terpikat dengannya. Aku memandang wajahnya yang sedang serius melihat layar handphonenya. Aku mengambil handphone ku. Aku meneleponnya dengan sengaja. Membuat Morgan buyar karena dering telepon ku. Ia menoleh ke arah ku dengan tatapan yang datar. Aku sadar, sekarang Morgan mungkin sedang bertukar kabar mengenai pekerjaannya. Tapi, aku malah menjahilinya.


"Ra..." Pekiknya menahan kesal. Aku tertawa kecil melihat ekspresinya. Ia kembali menatap layar handphonenya itu. Lama-kelamaan, aku menjadi sangat bosan kalau ia hanya memandang ke arah handphonenya. Meskipun tangannya tetap menggenggam tangan ku. Aku menekuk wajah ku karena kesal padanya.


"Bukannya ngeliatin pacarnya kek! Malah ngeliatin hape mulu!" Sinis ku. Ia menyudahi aktivitasnya itu dan mulai memandang ku. Aku mengalihkan pandangan ku.


"Saya lagi lihat info mengenai rapat ekskul yang tidak jadi saya hadiri." Ucapnya. Bahasanya mulai kaku kembali. Aku menoleh ke arahnya.


"Emangnya gak bisa ya, sebentar aja perhatiin aku? Sekarang kan bukan di kampus. Kamu harusnya bisa memposisikan diri kamu!" Aku mengoceh ke arahnya. Ia menatap ku datar lalu menghela nafas. Ia memaksa mencium bibir ku tapi aku mendorongnya.


"Bukan ini yang gue pengen!! Gue pengen loe tuh bersikap manis sedikit sama gue. Kita seharian udah pisah di kampus, sekarang ngurusin masalah kerjaan lagi. Loe gak...."


"Kamu kangen sama saya?" Potongnya. Aku terdiam setelah mendengar ia mengatakan itu. Kenapa malah aku yang malu mendengar Morgan berkata seperti itu? Aku memandang matanya lagi. Aku seperti mencium aroma parfum yang nyaman di hidung ku. Apa Morgan sengaja berganti parfum? Padahal, tadi pagi ia sama sekali tidak tercium wangi parfum dari bajunya.

__ADS_1


"Kamu ganti parfum?" Tanya ku yang masih menikmati aroma parfum yang enak di hidung ku. Dia tersenyum tipis ke arah ku.


"Parfum Dicky. Tadi minta sama dia. Aku gak bawa parfum hari ini. Semalaman kan sama kamu terus." Ucap Morgan. Aku mengalihkan pandangan ku sebentar karena merasa malu dengannya. Aku pun memandangnya kembali.


"Hmm aku kira kamu ganti parfum." Lirih ku. Mobilnya sudah berhenti bergerak. Kini, Morgan sedang berusaha memarkirkan mobilnya. Morgan turun dari mobil dan membukakan pintu untuk ku. Ia memandang ku dengan senyuman sembari menyodorkan tangannya untuk membantu ku turun dari mobilnya. Aku merasa sedikit tersanjung dengan perlakuan manisnya itu. Aku meraih tangannya dan segera keluar dari mobilnya.


Morgan masih saja menggandeng tangan ku. Aku malu karena semua mata tertuju pada kami. Aku sangat malu saat ini. Aku menghempaskan tangannya itu dan berjalan ke depan mendahuluinya.


"Greeepppp..." Ia tiba-tiba menarik tangan ku dengan kasar. Aku terkejut di buatnya.


"Apaan si!" Bentak ku kasar sembari berusaha melepaskan tangannya itu. Tak ada yang aku rasakan selain rasa malu itu. Ia menatap ku datar.


"Kamu kenapa sih?" Sinisnya. Aku memandang dirinya dengan kesal.


"Aku malu tau..." Sinis ku lirih. Ia menggeleng kecil sembari mendecap.


"Kenapa harus malu? Kamu kenal sama mereka?" Tanyanya membuat aku bertambah malu.


"Kamu malu, jalan sama saya?" Tambahnya. Aku merasa sangat sedih ketika ia bertanya seperti itu. Aku tidak bermaksud demikian. Aku memandang wajahnya dengan tatapan sendu.


"Gak gitu gan.."


"Terus gimana?" Potongnya. Aku semakin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semua orang yang memperhatikan kami, sekarang malah berbisik ke arah kami. Aku jadi semakin malu karenanya.


"Ayo makan." Aku menarik tangannya. Aku tidak mau semua orang semakin membuat aku bertambah malu. Aku mencari tempat duduk sampai ke lantai atas cafe ini, demi menghindari tatapan mereka semua. Aku duduk berhadapan dengan Morgan. Ia hanya diam datar sembari memandang ku. Aku jadi tidak enak hati dengannya. Aku melirik ke arahnya yang masih diam mematung sembari memandang ku dengan tatapan dingin. Aku membuang pandangan ku karena takut dengan tatapan matanya yang tajam.


"Apa yang akan kamu lakuin satu minggu ke depan?" Tanya Morgan. Aku spontan melihat ke arahnya.


"Gak ada.."


"Kamu." Sambung ku. Ia terlihat seperti biasa saja. Tidak ada rasa senang sedikit pun saat aku mengatakan itu. Apa dia benar-benar sudah marah dengan ku? Aku cukup kesal karena dia sangat dingin pada ku.


"Ke. Kenapa diem aja sih?" Tanya ku terbata-bata. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah ku. Aku yang kaget hanya diam melotot sembari memundurkan sedikit wajah ku.


"Aku gak suka kamu bersikap seperti itu. Apa lagi di depan banyak orang kayak tadi." Lirihnya menekankan pada ku. Aku menelan ludah ku sendiri. Aku takut, dia tidak akan memaafkan ku.


"Permisi." Sapa seseorang. Aku spontan menoleh ke arahnya. Terlihat sosok wanita cantik sedang berdiri di hadapan ku. Ia tersenyum hangat ke arah kami. Lebih tepatnya, ia tersenyum ke arah Morgan. Aku bingung dengan kehadiran wanita ini. Aku menatapnya dengan tatapan heran, seakan meminta agar ia menjelaskan tentang dirinya.


"Morgan kan ya?" Tanyanya. Aku menoleh ke arah Morgan. Morgan terlihat dingin sekali menatap wanita itu. Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa ia mengenal Morgan seperti ini?


"Iya. Kenapa?" Ucap Morgan dengan dingin. Paling tidak, Morgan memperlakukan wanita lain dengan sangat benar di hadapan ku sehingga, Aku tidak terlalu khawatir.


"Saya Tata. Kamu masih ingat gak?" Tanyanya. Ada nada imut yang terselip dari ucapan wanita ini. Aku memandangnya dengan tatapan heran.


"Sepertinya engga." Jawab Morgan. Batin ku sangat lega saat Morgan memperlakukannya seperti itu. Ia gelagapan saat Morgan menjawab demikian. Namun, ia masih saja tetap tersenyum ke arahnya.


"Saya temen sekelas kamu dulu, waktu kita masih kuliah. Saya Dita Dwi Ambarwati. Kamu sering panggil aku Tata kan." Ucapnya dengan nada sedikit memaksa, bertujuan agar Morgan mengingat setiap memori yang telah mereka lalui bersama. Aku tidak tahu apapun tentang wanita ini. Aku hanya diam sembari memandang keduanya.

__ADS_1


"Oh." Singkat Morgan. Sikapnya membuat aku jadi tidak enak hati dengan wanita ini. Meskipun aku tidak mengenalnya, tapi aku yang jadi merasa tidak enak.


"Boleh saya duduk dulu?" Tanyanya pada ku. Aku hanya tersenyum tak enak padanya. Aku tidak menjawab apapun yang dia ucapkan.


"Maaf ya. Saya lagi Lunch sama..."


"Sama adiknya ya?" Potongnya sembari melihat ke arah ku. Aku yang bingung hanya tersenyum paksa ke arahnya. Memang saat ini aku sedang memakai seragam kuliah ku. Tapi, aku tidak menyangka akan di pikir adiknya Morgan. Morgan hanya menatap dingin wanita itu. Tiba-tiba, Wanita itu pun duduk di samping kanan ku. Ada perasaan risih terhadap dia. Tapi, aku harus mengenal lebih dulu wanita ini sampai aku benar-benar yakin untuk menjauhinya.


"Morgan apa kabar? Gimana S2 nya di jepang? Kok gak ngabarin sih balik ke Indonesianya? Nomornya juga gak bisa di hubungi lagi?" Tanyanya dengan panjang lebar. Aku hanya diam sembari berusaha melapangkan dada dengan pemandangan yang aku lihat ini. Apa dia tidak menganggap ku ada? Aku jelas-jelas berada di sebelahnya. Tapi, tatapannya hanya tertuju pada Morgan. Aku hanya diam menahan kesal. Lama-kelamaan aku menjadi benar-benar risih terhadap wanita ini.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Morgan pada ku. Aku hanya diam dan menatapnya dengan tatapan kesal.


"Oh.. Aku udah makan tadi. Jangan repot-repot gan. Aku tadi makan di cafe sebelah, ternyata makanannya gak kalah enaknya lho sama yang di sini." Sambarnya. Aku semakin tidak nyaman dengan orang aneh ini. Ucapannya selalu terdengar ingin akrab dengan Morgan.


Aku sudah tidak bisa menahan diri ku lagi. Aku merogoh handphone ku dalam saku tas ku. Aku mengirim pesan pada Rafa untuk segera menelepon ku. Aku kesal kalau harus terus-menerus melihat pemandangan membosankan ini.


"Dringggggggggg...." Tak berapa lama, handphone ku berdering. Aku melihat nama Rafael di layar handphone ku. Aku mengangkat teleponnya.


"Hallo, Raf." Sapa ku dengan keras agar Morgan bisa mendengar ucapan ku. Aku bergegas pergi dari sana sembari membawa tas ku dan tetap menelepon Rafael. Aku meninggalkan mereka berdua karena aku tidak ingin hanya menjadi pengganggu di sana. Belum lagi sikap cemburu ku yang tidak akan bisa di tahan jika terus-menerus di sana melihat pemandangan yang hanya akan membuat ku kesal.


Aku sudah berada di lantai dasar cafe. Aku menuju parkiran dengan cepat. Aku berusaha menelepon kakak. Karena ini masih jam istirahat, mungkin kakak sedang makan siang di luar.


"Tuuuuutttt...." Aku menunggu telepon terhubung.


"Tuuuuutttt...."


"Hallo." Ucap kakak. Aku merasa senang karena kakak menjawab telepon ku. Biasanya, dia sangat sulit menerima telepon saat sedang di kantor.


"Hallo, Kakak. Dimana?" Tanya ku.


"Di cafe Ellumia."


"Kebetulan. Aku juga di sini. Mau bareng pulang."


"Lho.. Kamu ngapain di sini?"


"Nanti aku ceritain yaa.."


"Yaudah. Kakak di parkiran nih. Kamu tunggu depan aja."


"Okey kak."


"Tuuuttt..."


Aku mengakhiri telepon ku. Aku langsung menuju halaman parkir untuk mencari mobil kakak. Aku mencari ke sana dan kemari, akhirnya aku menemukannya di ujung sana. Aku berlari menghampiri mobil kakak dan langsung masuk ke dalamnya. Aku duduk di samping kakak saat ini.


"Lho, kamu ngapain di sini?" Tanya kakak heran. Aku berusaha mengolah nafas ku yang hampir habis karena berlarian tadi.

__ADS_1


"Jalan dulu." Ucap ku dengan terengah-engah. Perlahan, aku mengatur nafas ku yang masih tersendat.


@sarjiputwinataaa


__ADS_2