Dosen Idiot

Dosen Idiot
Kado dari Mantan


__ADS_3

“Ayo kak, berangkat!” Ajakku kepada kakak, yang masih mengunyah rotinya sembari menelepon orang lain yang tidak aku ketahui.


Walaupun ia sedang sibuk mengunyah rotinya, ia masih sempat membolak-balikkan kertas yang ada di hadapannya, dengan handphone-nya yang diapit dengan bahu yang juga menempel di telinganya.


Ah. Sibuk sekali dia.


Ia sama sekali tak menghiraukanku, meskipun aku sudah memanggilnya berulang kali. Nampaknya, sedang banyak yang harus kakak urus, tentang pengajuan penawaran untuk tender kali ini. Ia sampai tidak makan dengan benar dalam beberapa hari ini. Tidur pun selalu larut, dan bangun selalu di awal waktu.


Aku jadi sedikit merasa iba dengannya.


“Kak….” Pekikku lagi.


“Tunggu,” jawabnya singkat, “gimana pak tadi?” ia masih meneruskan perbincangannya dengan orang asing itu.


Kakak masih saja berfokus pada teleponnya.


Ada sedikit rasa kesal, karena dia sudah mengabaikanku sejak tadi. Aku menyiapkan bekalku, yang sebelumnya sudah hampir siap.


“Ayo, nanti aku terlambat ke kampus,” ucapku yang masih sabar menunggu kaka selesai menelepon, tapi ia tidak juga menghiraukan ucapanku.


“Ish, lagi ngomong sama tembok kali ah, dari tadi didiemin mulu!” Bentakku kesal.


Aku menarik handphone yang ia pegang, karena merasa, sikapnya kali ini sudah benar-benar keterlaluan.


‘Gak bisa gini terus! Nanti kalau gue telat ke kampus, gimana?’ batinku risau.


Aku tak sengaja melihat kunci motor kakak, yang berada di sebelah laptopnya. Aku mengambil kunci motor sport, yang berada di hadapannya, ketika sudah berhasil mengambil kunci tersebut, kemudian aku berlari sekuat tenagaku.


Terlihat sekilas kakak yang sepertinya panik, saat menyadari, bahwa aku sudah mengambil kunci motornya itu.


“Ra! Ra”


Terdengar kakak yang sedari tadi memanggil dari kejauhan, tapi aku tidak mempedulikannya.


Aku bergegas pergi menuju motor sport kakak, yang sudah disiapkan sebelumnya oleh pelayan. Aku tahu, kakak ingin cepat-cepat sampai di kantornya, maka dari itu, ia mungkin memilih untuk memakai motor.


Tapi, salahnya sendiri, karena telah mengacuhkanku tadi. Sudah seperti ini, aku sabotase saja sekalian motornya itu.


“Rasain!” lirihku, sembari bergegas menaiki motor ini.


Ugh! Motor kakak terlalu tinggi untuk seukuranku. Bahkan, motor ini lebih tinggi daripada motor milik Bisma.


Huft. Seketika aku merindukan Bisma.

__ADS_1


Aku memakai helm full face kakak, dan segera menyalakan mesinnya. Aku menginjak perlahan pedal depan motor, dan perlahan melepas kopling bersamaan dengan saat menarik gas.


Aku merasa sangat keren, karena sudah membawa motor khusus pria. Jarang sekali ada wanita yang bisa membawa motor sebesar ini. Apalagi, motor ini bukan matic, yang hanya menarik gas dan rem saja. Aku harus pandai-pandai membawanya.


Di tengah perjalanan menuju kampus, aku hampir saja memepet mobil yang ada di hadapanku. Aku yang menyadarinya, langsung segera menginjak rem kaki.


“Ah!” Aku kaget sekali.


Kejadian itu nyaris sekali. Aku hampir saja menabraknya.


“Anjrit! Tadi itu hampir aja!” lirihku, sembari tetap mengatur napasku yang tersendat.


Aku memperhatikan kembali mobil yang hampir aku tabrak tadi. Sepertinya… ada yang sala dengan pemilik mobil itu.


“Bodo amat, ah! Kabur aja, daripada dapet masalah!” Aku pergi, dan tidak mempedulikannya, aku malah menancap gas, meninggalkan tempat kejadian perkara.


Aku sudah tiba di kampusku. Aku memarkir motorku di halaman parkir mahasiswa. Sepanjang aku berjalan, mereka semua tak hentinya memandang ke arahku.


Apa yang salah denganku?


Aku melepas helm full face yang berhasil membuatku sesak. Rambut panjangku terurai, dan tidak sengaja aku kibaskan. Aku merasa, sudah sangat keren saat ini.


Seandainya kakak juga membelikanku motor seperti ini, aku pasti akan sangat senang. Saying sekali, kakak memblokir semuanya, dan hanya menyisakanku sedikit dari hartanya. Bahkan, ia hanya memberikanku budget sebesar gaji buruh selama satu bulan. Aku benar-benar tertekan sekali.


Tiba-tiba saja, sebuah mobil datang dan masuk ke area parkir khusus dosen. Aku menoleh ke arahnya dan memperhatikannya.


Seseorang turun dari balik pintu, membuatku terkejut, tak karuhan.


“Oh... jadi kamu, yang tadi hampir nyerempet mobil baru saya?” tanyanya dengan nada angkuh.


Mataku menyipit memandangnya. Tak kusangka, mobil itu adalah mobil milik Morgan. Dapat dari mana mobil sebagus ini?


Ada apa dengan diriku?


Tidak heran, orang tuanya saja kaya raya.


Ia terlihat menoleh ke arah jam tangan yang ada di tangan sebelah kirinya. Aku pun melihatnya, dan lagi-lagi dibuat terkejut olehnya.


Tak kusangka! Itu adalah jam tangan, yang waku itu aku beli untuk ku berikan padanya sebagai hadiah.


Kenapa ada padanya?


Sejak kapan?

__ADS_1


“Hah? Itu kan… jam tangan gue!” Aku berteriak, karena kelepasan.


Ia menatapku dengan tatapan tajam, membuatku agak sedikit merinding.


“Saya tidak dengar,” ucapnya dingin, membuatku ingin sekali meninjunya.


“Gak usah bikin kesel deh, ya! Balikin jam tangan gue, sekarang!” pintaku kesal.


Ia menatapku lagi dengan dingin, membuatku melongo menatapnya.


“Apa di dunia ini, pabrik jam hanya memproduksi satu buah saja per modelnya?” tanya Morgan, yang membuatku kalah telak.


Aku terdiam, dan menunduk. Kenapa aku sangat gegabah? Padahal, mungkin memang itu adalah jam tangan miliknya.


Duh, aku saja yang bodoh, sudah meniru warna dan model jam tangan yang dia punya. Aku tidak berpikir sampai sejauh itu, bisa saja dia mempunyai beberapa jam tangan, dengan model yang sama dan warna yang berbeda, bukan?


“Ish!” lirihku kesal karena menahan malu.


Aku yang malu, langsung saja pergi dari tempat itu.


“Hey….” Morgan menghentikan langkahku, karena sudah berhasil menahan tanganku.


Aku terdiam bingung. Apa yang mau ia lakukan kali ini?


“Mau kemana?” tanyanya, masih dengan nada yang dingin.


Mataku memutar karena kesal mendengar pertanyaannya. Pertanyaannya tidak bisa aku terima, karena tidak bermutu menurutku.


“Ya ke kelas, lah! Gue ini udah terlambat!” jawabku menyeleneh, Morgan terlihat mengerenyitkan dahinya.


“Ikut saya ke ruangan. Ada yang ingin saya sampaikan,” gumamnya dengan enteng.


Ia melepaskan tanganku, lalu bergegas pergi meninggalkan aku sendiri.


Aku dianggap apa olehnya?


Aku hanya menganga kesal, melihat perlakuannya kali ini.


Sudah 3 hari berlalu, sejak Morgan mengajakku untuk kencan buta.


Ais... bukan kencan, tapi merayakan ulang tahunnya.


Dengan berat hati, aku melangkah menuju ruangannya. Sebenarnya, apa yang ingin ia sampaikan kepadaku?

__ADS_1


Aku tidak terima!


Selama 3 hari ini, aku sudah dibuat kesal dengannya. Sampai-sampai, aku tidak masuk ke kampus demi menghindari dirinya. Aku masih harus menata kembali hatiku yang sudah diporak-porandakan olehnya. Aku tidak bisa dengan mudahnya memaafkan dirinya yang sudah membuatku ketakutan setengah mati.


__ADS_2