
"I love you." Aku memandang lekat wajahnya yang berseri itu.
"Aishiteru, Arasha." Morgan membalas ucapan ku, kemudian kami saling berpelukan kembali. Aku sangat senang kali ini mendengar pengakuan langsung dari Morgan. Aku tak bisa melepaskan pelukan Morgan. Bahu ternyaman setelah Ayah, Kakak, dan Reza. Apa aku bisa menjalin hubungan ini sampai menuju pelaminan nanti? Atau.. Harus kandas kembali sebelum akhirnya aku bisa bersama dengannya? Entahlah. Aku hanya bisa berharap demikian. Aku juga tidak bisa menantang takdir. Karena untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi, sepertinya aku butuh waktu.
Ia melepaskan pelukannya itu. Lalu ia memberikan aku segelas air mineral. Aku sampai lupa, sudah makan tapi belum minum. Haha, ada-ada saja kalau sedang jatuh cinta.
Aku mengambil gelas dari tangannya. Ia pun menarik gelasnya hingga aku mengikuti arah gelas itu.
"Cuppppsss..." Satu ciuman berhasil mendarat di pipi kanan ku. Aku terdiam beberapa saat sembari mengatur deruh nafas ku. Mendadak malu diri ku saat Morgan memperlakukan ku seperti ini.
"Iiihh.. Sini.." Rengek ku seperti anak kecil. Ia tertawa kecil lalu memberikan gelas itu pada ku. Aku melihatnya dengan tatapan imut sembari mengambil gelas itu.
"Cieeee... yang lagi kasmaran." Ledek Bibi tiba-tiba. Aku dan Morgan menoleh ke arah Bibi yang sedang berdiri di belakang kami. Aku dan Morgan tertawa kecil melihat aksi jahil Bibi. Tidak aku sangka, aku dan Morgan kini sudah menjadi 'Kita'. Tinggal bagaimana caranya aku bisa mempertahankan hubungan yang sudah terbina ini. Karena aku tahu, pacar ku ini bukan orang biasa. Banyak fans dimana-mana. Meskipun aku tahu dia bukan artis, tapi banyak teman-teman sebaya ku, kakak tingkat, bahkan setingkat dosen yang menyukai Morgan. Banyak sekali saingan berat ku di luar sana. Belum lagi hantu Putri yang mungkin masih terngiang di pikiran Morgan. Haha, lucu sekali ya? Saingan dengan hantu. Hanya aku yang berpikir konyol seperti itu.
*
Aku dan Morgan sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu rumah ku. Tidak bisa di pungkiri, aku masih kesal dengan Kelakuan wanita itu di cafe tadi. Aku berusaha mencari waktu yang tepat untuk membahasnya bersama Morgan. Aku melirik ke arahnya. Terlihat ia sedang asyik menonton televisi sampai tidak sadar aku memandanginya.
"Gan.." Pekik ku lirih. Morgan menoleh ke arah ku dengan sangat cool.
"Ada apa, Ra?" Tanyanya. Aku mulai berusaha untuk bersikap serius. Aku hanya ingin bertanya tentang Tata lebih jauh. Aku tidak mau sampai membawa emosi ku kali ini.
"Emm.. Wanita itu.." Gumam ku ragu. Morgan menatap ke dengan datar.
"Tadi aku tinggalin dia. Terus aku langsung ke toko bunga buat ngasih kamu. Bunganya udah Bibi taruh di kamar kamu." Jelasnya dengan singkat padat dan jelas, tentu saja dengan ekspresi yang datar. Aku harus tahan dengan ekspresinya yang mudah berubah itu.
"Lalu..."
"Lalu aku masakin khusus buat kamu, karena kamu belum sempat makan tadi di cafe." Potongnya kemudian ia terkejut sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Aku menahan tawa saat Morgan mengatakan hal ini dengan jujur.
"Katanya Bibi yang masak?" Ledek ku. Morgan langsung mengelitiki perut ku. Aku menggelinjang karena menahan geli. Aku tertawa lepas saat ini, melupakan sejenak permasalahan yang ada. Beberapa saat, Morgan berhenti menggelitik ku. Aku menatapnya lekat.
"Apa sih, hubungan kamu sama Tata?" Tanya ku dengan nada serius. Ia memandang ku dengan serius juga. Pandangan kami bertemu, membuat gejolak di hati ku mulai bereaksi. Ia kemudian membuang pandangannya itu. Aku rasa, ia malu.
"Aku sama Tata, gak ada hubungan apapun. Aku dan dia, hanya sebatas teman sekelas biasa. Memang tingkahnya agak berlebihan untuk seukuran teman. Tapi, aku sama sekali gak tertarik sama dia. Meskipun banyak orang yang mengincar dia, aku lebih tertarik sama Putri di bandingkan dia." Jelas Morgan. Perasaan ku mulai mellow ketika mendengar kata 'Putri'. Apa aku benar-benar harus bersaing dengan orang yang sudah meninggal?
Seketika jantung ku terasa seperti berhenti berdetak. Per sekian detik aku tidak bisa merasakan tubuh ku.
"Uhuuukkkk.. Uhuuukkkk.." aku memukul-mukul pelan dada sebelah kiri ku. Aku harus bisa membuat jantung ku memompa darah kembali. Mungkin, aku terlalu dalam memikirkannya sehingga memperburuk keadaan ku.
"Kamu kenapa, Ra?" Tanya Morgan panik. Aku berusaha mengatur nafas ku sesegera mungkin.
"Gak papa. Mungkin cuma tersedak." Tepis ku. Morgan menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya pada ku.
__ADS_1
"Minum dulu." Paniknya, aku segera mengambil gelas yang ia berikan dan menenggaknya hingga tetes terakhir. Ku taruh gelas itu di atas meja.
"Udah agak mendingan?" Tanyanya. Aku mengangguk pelan. Sampai detik ini, aku masih memikirkan Putri. Apa yang membuat Morgan sampai jatuh cinta dalam sekali pada wanita itu? Ingin sekali aku bertanya. Tapi, aku tahu itu hanya akan menambah luka. Jika ku pendam saja, rasa penasaran ini tak kunjung reda. Aku haus akan segala sesuatu yang menyangkut Morgan.
"Kamu masih sayang sama Putri?" Tembak ku dengan tegas. Aku harus mengetahui isi hati Morgan. Aku tidak ingin menjalani hubungan yang semu seperti ini.
"Rasa sayang itu pasti masih tersimpan.." Ucapnya menggantung. Aku merasa terpukul mendengar pengakuannya itu. Aku membuang pandangan ku darinya.
"Tapi semuanya udah gak sama." Lanjutnya. Aku mulai menahan air mata ku yang hampir keluar dari pelupuk mata ku. Aku tak kuasa menahan tangis ku. Aku, lemah.
"Rasa sayang itu sudah berubah, menjelma menjadi sesuatu yang gak boleh aku sia-sia kan lagi kedepannya. Aku gak akan mau kehilangan orang yang aku sayang lagi. Aku pasti akan jaga kamu.. Sampai aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi." Jelasnya membuat aku spontan menoleh ke arahnya. Penjelasannya rancu! Tapi, aku sudah tahu beberapa point dari yang ia jelaskan. Sedikit banyaknya, aku sudah paham dengan maksudnya.
"Hey.. Udah dong. Jangan nangis." Lirih Morgan sembari menghapus air mata ku yang bercucuran di sekitar pipi ku. Ia sangat manis saat ini.
"Putri itu cinta pertama ku. Aku sayang sama dia. Tapi, cuma dia yang terus-menerus menolak aku. Aku jadi terpacu untuk mendapatkan dia. Dia sangat jenius dalam hal pelajaran. Aku suka dengan wanita yang pandai. Fisiknya gak terlalu sempurna seperti kamu. Dia jauh dari kata sempurna. Tapi, banyak temen-temen aku yang ngejar-ngejar dia karena selain pintar, dia juga ternyata anak dari konglomerat. Aku sih gak tertarik sama kekayaannya. Memang sempat beberapa kali aku menyukai wanita sebelum kenal dengan Putri. Tapi, aku gak berani ungkapin perasaan yang aku rasain. dan lagi pula, Aku gak punya waktu untuk mikirin itu. Aku harus kejar sekolah ku dulu. Jadi, aku cuma bisa memendam semuanya sendiri. Aku udah terbiasa begitu." Jelasnya panjang lebar. Ternyata, sosok Putri yang dia cintai itu, tidak lebih baik dari ku soal fisik. Aku salut dengan Morgan yang tidak hanya memandang wanita dari fisiknya. Aku senang karena Morgan bisa menjadi milik ku sekarang. Aku tidak lagi merasa galau karena tak bisa menumpahkan perasaan ku yang terpendam. Memang, awalnya aku sangat membenci Morgan. Tapi, perasaan benci itu sekarang berubah menjadi benar-benar cinta.
"Ya udah.. Intinya, Aku gak suka kalau kamu terus-menerus bicara soal Putri atau pun Tata. Aku cuma mau kamu ngeliat aku! Aku yang sekarang akan nemenin kamu kedepannya. Jadi, aku mohon banget sama kamu, jangan pernah singgung lagi masalah Putri di hadapan aku, ya?" Pinta ku. Morgan mengangguk sembari tersenyum pada ku. Aku membalas senyumannya lalu memeluknya.
"Maaf, udah bikin kamu sedih. Tapi aku rasa, aku harus ngomong ini ke kamu." Lirih Morgan. Aku mengangguk kecil lalu melepaskan pelukannya. Aku melihat Kakak yang baru saja datang dari arah pintu. Aku melirik ke arah jam dinding. Sudah pukul 5 sore. Pantas saja Kakak sudah pulang dari kantornya.
"Eh... Udah sampe." Pekik ku. Ia memasang tampang kesal sembari membuka paksa dasi yang ia kenakan. Ia menghempaskan dirinya ke sofa sebelah ku.
"Lho, kok mukanya kayak kesel gitu?" Tanya ku. Kakak menatap ku tajam. Aku merasa, ada hal yang tidak beres yang sudah terjadi. Aku mengerenyitkan dahi ku.
"Abis ngapain kamu tadi di kampus sampe di skors gitu?" Sinisnya. Oow.. Aku melupakan sesuatu. Kenapa aku bisa lupa kalau berita ini pasti akan sampai ke telinga kakak.
"Emm.. Ta. Tadi itu.. Aku gak sengaja, Kak." Gugup ku sembari berpikir keras, jawaban apa yang harus aku katakan padanya.
"Gak sengaja?" Tanyanya sinis. Aku menunduk takut.
"Mukulin anak orang, kamu bilang gak sengaja?" Tanya kakak masih dengan nada sinis. Aku semakin takut dengannya.
"Jangan mentang-mentang kamu bisa ilmu bela diri, terus kamu seenaknya ngehajar anak orang gitu, Ra!" Amarah kakak sudah membeludak. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Wait, Ara bisa bela diri?" Tanya Morgan dengan nada tak percaya.
"Pencak silat, menghabiskan 5 tahun untuk belajar bela diri itu. Juara 1, 2 dan 3 sudah di raih olehnya. Tapi itu semua harusnya di arena dong! Gak di Real life begini!!" Jawab kakak. Aku hanya menunduk ngeri melihat wajah kakak yang sekarang mungkin sudah berubah seperti iblis.
"Wow." Morgan menganga kaget. Aku melihat sekilas ekspresinya yang lucu itu.
Aku memang tidak di izinkan untuk belajar bela diri dengan Kakak. Karena mungkin menurut dia, wanita itu pantasnya di lindungi. Bukan melindungi. dan lagi, Wanita tidak boleh beraktivitas yang berat demi menjaga kesehatan cikal bakal kandungan setelah nanti menikah. Aku sebetulnya sudah mengerti dengan resiko dan konsekuensi dari kegiatan yang aku ambil.
"Kakak gak suka ya, kalau kamu seenaknya mukulin anak orang begitu. Kalau kamu masih begitu, kamu kakak larang buat latihan, selamanya!" Tegas kakak. Aku hanya menunduk sembari berpikir keras tentang jawaban apa yang harus aku berikan. 5 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk aku mengasah ilmu bela diri yang aku pelajari. Aku lepas kendali saat Aca mengatakan hal demikian yang merusak harga diri ku.
__ADS_1
"Maaf." Lirih ku tanpa melihat ke arah Kakak. Dia tak menjawab sedikit pun permintaan maaf ku. Ia kemudian pergi meninggalkan Aku dan Morgan di sini. Aku melihat ke arah Morgan yang juga sedang melihat ku.
"Jangan salah gunain ilmu yang sudah kamu pelajari selama ini." Ucap Morgan. Aku menunduk sendu tak bisa berkata apa-apa lagi.
*
Hari sudah semakin malam. Langit pun sudah berubah menjadi gelap. Matahari sudah terbenam di ufuk barat. Namun, Morgan masih tetap setia menemani ku. Aku memandangnya yang sedang asyik bermain handphone. Padahal, ia tidak sadar kalau ia sedang di tonton dengan televisi.
"Kamu gak mandi?" Tanya ku. Ia masih saja memandang layar handphonenya.
"Iya. Sebentar lagi." Lirihnya, lalu ia menaruh handphonenya di atas sofa. Ia langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Yaudah, Aku mandi dulu." Ucapnya. Aku mengangguk dan tersenyum ke arahnya. Ia mengacak-acak pelan rambut ku kemudian segera menuju ke arah pintu keluar. Aku bingung sekali dengannya.
"Eh eh..." Pekik ku. Ia menghentikan langkahnya kemudian memandang ke arah ku.
"Kenapa?"
"Kenapa ke sana?" Tanya ku sembari menunjuk ke arah pintu keluar.
"Kan, toiletnya.. Ke sana.." Lanjut ku. Lalu aku menunjuk ke arah toilet. Ia menggeleng kecil.
"Aku ambil baju ganti." Simpelnya. Aku hanya ber-oh-ria saja. Kemudian ia langsung pergi setelahnya.
Aku menunggu Morgan sembari memakan cemilan yang ada di atas meja sembari mengganti channel tv.
"Tring.." Satu notifikasi masuk ke handphone Morgan, namun aku tidak menghiraukannya. Aku masih mengganti channel tv untuk mencari program yang seru.
"Tring.."
"Tring.."
"Tring.." beberapa notifikasi masuk secara berbarengan. Aku sampai penasaran, siapa yang mengirim pesan beberapa kali kepada Morgan. Layar handphonenya terus menyalah, membuat aku semakin penasaran dengan isi dari pesannya itu.
'Buka enggak ya?' Batin ku bimbang. Aku melirik ke arah handphonenya.
'*Tapi, Gue harus yakin dong sama dia. Gak boleh kayak anak-anak gini. Masa gara-gara gini doang gue jadi hilang keper*cayaan sih?' Batin ku yang satunya membantah. Aku semakin bingung dan penasaran di buatnya.
'Buka deh!' Aku menetapkan pilihan. Aku tidak ingin terus merasa Nethink padanya. Aku berusaha mengambil handphonenya. Tapi, aku melihat Morgan sudah hampir sampai ke sini. Aku gelagapan dan tidak jadi mengambil handphonenya.
"Aku mandi dulu ya?" Ucapnya. Aku mengangguk kecil ke arahnya. Kemudian, ia pun berlalu meninggalkan aku di sini. Aku yang penasaran langsung saja membuka handphonenya. Bodohnya, ia tidak mengunci layar handphonenya, membuat aku dengan mudahnya membaca seluruh isi handphone.
Aku penasaran dengan isi handphone Morgan. Memang handphone ini masih terlihat baru sih. Mungkin saat handphone lamanya hilang, ia langsung membeli handphone baru. Aku menyusuri seluruh galeri dan file yang ada di handphone ini. Tidak ada sesuatu yang janggal, entah video yang tidak pantas atau pun file yang lainnya. di galeri pun hanya ada 1 foto. Foto aku dan dia waktu itu, dan juga foto-foto lainnya mengenai pekerjaannya. Kemudian, aku melanjutkan mengecek isi Whatsapp nya. Aku tahu dan yakin, banyak sekali wanita yang mengirimi ia pesan. Aku berusaha untuk menenangkan diri ku sebelum melihat isi pesan laknat dari para wanita itu.
__ADS_1
@sarjiputwinataaa