
18+ Alert!
"Sttttt...." Morgan menyentuh bibir ku dengan jari telunjuknya. Aku seketika menjadi diam. Matanya selalu mampu membuat aku mabuk. Ketika aku memandang matanya dengan dalam, aku merasakan sensasi yang membahagiakan. Dan ketidak sinkronan antara logika dan perasaan pun muncul. Logika ku menolak, namun perasaan ku bahagia bisa senyaman ini.
"Udah saya bilang kan.. Jangan suka sama saya." Lirihnya membuat aku semakin tidak karuan. Apa yang dia maksud? Aku sama sekali tidak mengerti.
"Udah deh! Gak usah sok bilang kayak gitu, bukannya loe yang naksir sama gue hah?" Tanya ku dengan nada yang sombong sekali seperti merasa tidak ada yang bisa menandingi kecantikan ku.
"Rahasia.." Ucapnya. Wajahnya seakan-akan terus melontarkan ekspresi jahil. Aku jadi semakin dag-dig-dug ser.
"Gak usah sok kegantengan deh ya!! Mau gimanapun juga, gue ga akan pernah suka sama loe!! Jadi, loe gak usah sok ngedeketin gua segala!" Bentak ku. Ia tertawa kecil. Terasa sesuatu di antara kakinya yang menonjol tergesek dengan sesuatu di antara kaki ku. Apa saat ini dia sedang tegang? Aku juga merasakan demikian. Aku sangat tegang kalau dia terus-menerus melakukan hal intim ini kepada ku. Aku pasti tidak akan tahan dengan ajakannya. Aku mulai ketakutan! Khawatir kalau saja dia sengaja untuk melakukan hal itu kepada ku.
"Kenapa?" Tanya Morgan yang mungkin bingung karena aku menunduk dan melihat ke arah hal yang mengganjal itu. Nafas morgan seperti tersendat. Nafas beratnya berhembus dari arah depan ku. Aku gugup sekali melihat reaksi Morgan yang sepertinya sudah tidak bisa menahan nafsunya. Ia membelai lembut pipi ku. Awalnya aku sempat risih. Tapi aku pikir, ya sudahlah nikmati saja. Lama kelamaan tangannya mengelus-elus bibir ku. Matanya hanya tertuju pada bibir ku saja. Aku semakin terusik dengan tingkah anehnya. Tatapannya nampak sudah kosong. Aku ikutan menjadi bingung.
"Mo. Morgan.." Lirih ku sembari terus memperhatikan reaksi Morgan yang aneh.
"Cuppppsss..." Morgan bereaksi mencium bibir ku. Aku sontak terkejut dan tidak sengaja merespon perlakuannya itu.
"Mphhhh..." Lama kelamaan, aku menjadi terbawa suasana olehnya. Pikir ku sudah tidak ada gunanya lagi. Aku tidak bisa lepas darinya. Kami juga sudah berbuat lebih dari ini sebelumnya. Dan ku rasa, sudah tidak perlu sungkan lagi untuk kami melakukan ini.
Aku semakin terangsang olehnya. Ada sesuatu yang aku tahan. Rasanya geli sekali. Tangannya mulai meraba sekujur dada ku. Aku sangat menikmati permainannya. Beberapa saat aku terbawa olehnya. Dia sudah semakin lihai sekarang.
"Enggghhh..." Aku tersadar karena Morgan menghentikan aktivitasnya. Ia memeluk erat diri ku dengan tetap berada di atas menindih ku. Aku memegang kedua sisi wajahnya.
'Panas.' Aku merasakan panas pada wajahnya. Sekuat itukah ia menahan nafsunya?
"Maaf." Lirihnya sembari mengencangkan pelukannya. Ternyata, dia lebih memilih untuk menahan semuanya. Menahan hawa nafsunya itu. Ada sedikit rasa kesal dan kecewa tapi kenapa aku merasa demikian?
__ADS_1
Beberapa saat ia memeluk ku dengan erat sampai aku kesulitan bernafas.
"Saya di sini sampai malam. Kita lanjut ke rumah ya." Lirihnya. Aku mengangguk kecil mengiyakan saja setiap perkataannya. Ia kemudian bangkit dan merapihkan pakaiannya yang sudah berantakan akibat ulahnya sendiri.
"Saya gak akan nyentuh kamu, ra." Lirihnya yang langsung meninggalkan aku sendirian. Aku mengelap sisa keringat ku yang masih ada di kening ku. Aku merasa Morgan sudah keterlaluan. Kalau memang dia tidak mau menyentuh ku, kenapa dia memulai semua ini? Aku sudah luluh dengan seluruh perbuatan yang ia lakukan pada ku. Pikiran ku selalu melayang saat Morgan sudah melakukan hal semacam itu kepada ku. Dan.. Sekuat apapun aku menahan, pada akhirnya aku akan kalah dengan nafsu ku sendiri. Nafsu ini terus menggebu dan rasanya tidak kalah dengan saat pertama aku melakukan itu padanya.
Aku menatap langit-langit kamar ku untuk memikirkan perasaan ku sendiri. Aku bingung dengan yang aku rasakan. Perasaan dan logika ku sama sekali tidak sinkron. Aku berpikir kedepannya, bagaimana jadinya nanti.
"Drrrriiiinnngggggg" Handphone ku berdering kencang. Aku mencari sumber suara itu. Setelah aku menemukannya, aku melihat nama dan foto Bisma tertera di sana. Aku segera mengangkat video call darinya.
-VIDEO CALL-
"Hai, ra." Sapanya. Aku memaksa diri ku sendiri untuk tersenyum padanya.
"Hai."
"Gue ganggu gak?"
"Okey."
"Btw, ini kan masih jam 5 sore. it's means di sana udah jam 5 pagi dong ya?" Tanya ku, ia mengangguk kecil.
"Tumben? Ada apa?" Tanya ku lagi. Ia hanya tersenyum.
"Jam segini, loe pasti baru pulang ngampus. Makanya gue bangun lebih awal buat telfon loe." Jawabnya membuat aku sedikit tidak enak. Sampai seperti itu dia kepada ku.
"Ra.." Terdengar suara Morgan dari balik pintu. Buru-buru aku mengakhiri telfon dengan Bisma. Aku khawatir Bisma mengetahui kalau ada Morgan di sini.
__ADS_1
"Aisssshhhh..." Aku mendengus kesal dengan perlakuan Morgan.
"Adooooohhhh apaan si manggil gajelas??" Aku membalas teriakannya. Mungkin suara ku sudah terdengar sampai ujung komplek ini. *Enggak ya gaes bercanda 😂
Ia melongok dari ujung pintu.
"Mandi gih."
"Deg..." Rasanya, sudah seperti benar pasangan suami istri. Mata ku membulat setelah mendengar ucapannya. Sedikit terbayang kehidupan ku nantinya mungkin saat aku dan dia menjadi kita.
"Hey.. Kok bengong?" Tanya Morgan yang mengagetkan diri ku.
"Iya gue mandi!" Jawab ku asal. Morgan tersenyum kecil melihat respon ku.
"Apa loe??" Senga ku. Morgan tertawa kecil.
"Sono ngapain di sini!" Aku mengusir Morgan. Ia terkekeh kecil.
"Mau mandi bareng kamu.."
"WHATTTTT???!!!!!! NO WAY!!!" Aku jelas menolak permintaannya. Walaupun dia sudah melihat semua milik ku, tapi bukan berarti aku sudah tidak memiliki harga diri lagi. Aku masih sangat boleh untuk membela harga diri ku.
"Biasa aja kali." Gumamnya dengan nada cool seperti biasanya. Aku komat-kamit sendiri menanggapi sikapnya yang terlalu berani untuk melakukan hal bodoh kepada gadis yang sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan dia.
Tangan ku menggerayang mengambil bantal kecil yang ada di sudut ranjang. Aku menyambar dengan segera. Aku membidik bantal ke arahnya.
"Pergi gak loe?!!"
__ADS_1
"Ehh iya ampun." Ia langsung pergi tanpa menutup pintu kamar ku. Lagi-lagi aku dibuat kesal oleh tingkahnya. Tapi setelah aku fikir kembali, lucu juga sih. Aku tertawa kecil secara spontan. Padahal saat itu, aku sedang kesal dengan perlakuannya pada ku. Tapi tanpa ku sadari, aku tertawa sendiri seperti itu karena mengingat Morgan. Apa aku sudah gila? Apa ini yang namanya cinta?
@sarjiputwinataaa