
18+ Alert 🔞⚠️
Nb : Hai readers! Jumpa lagi sama Author. 🥰 Bagi kalian yang mau gabung grup bareng Author, untuk sekedar silaturahmi atau bertanya seputar novel yang Author terbitkan atau yang ingin kalian terbitkan, silahkan klik/salin ke browser tautan ini ya
https://chat.whatsapp.com/FSd7sFJfHcOAjKvBDRPoqw
Atau bisa menambahkan Nama dan nomor telfonnya di kolom komentar ya.. Terimakasih. 🥰
*
Brukkkk" Morgan melihat ke arah ku. Aku menutup kembali pintu yang juga dengan kasar. Aku duduk di hadapan Morgan.
"Maksud loe apa nyuruh gue ke sini??" Tanya ku dengan sinis. Morgan menatap ku seolah-olah dia tidak mengenali ku.
"Pertama, kamu membuka dan menutup pintu ruangan saya dengan tidak sopan."
"Kedua, kamu hampir menabrak mobil baru saya yang tak lain adalah hadiah dari pacar saya."
"Deg!!"
'Pacar katanya?' Batin ku tak percaya dengan ucapan dan perkataan morgan. Rasanya sekujur tubuh ku menjadi lemas tak berdaya.
"Ketiga, kamu gak masuk kampus selama 3 hari."
"Itu yang saya ingin sampaikan." jelas morgan. Aku terdiam menunduk bukan karena aku takut karena kesalahan ku, tapi aku lemas mendengar kata "pacar" yang di ucapkan morgan tadi. Bukankah dia bilang dia hanya mencintai aku? Kenapa dengan mudahnya dia mempunyai pacar? Padahal hanya 3 hari kami hilang kontak. Dan padahal morgan juga tidak punya handphone. Bagaimana bisa mengabari wanita itu?!!
"Apa tanggapan kamu sekarang?" tanyanya membuat aku melihat ke arahnya. Air mata ku hampir jatuh. Aku tak ingin ia menganggap ku lemah. Apalagi kalau dia berfikiran aku menangis karena semua kesalahan ku. Aku bukan menangis karena itu!
"DASAR ORANG GAK PUNYA HATI!!" Bentak ku yang langsung pergi meninggalkan Morgan.
"Greppp!"
__ADS_1
"Hug..." Morgan menarik tangan ku dan langsung memeluk ku. Aku memberontak tapi Morgan memaksa pelukannya.
"Seperti biasa, kamu selalu pergi."
"Seperti biasa, loe selalu begini!!" Timpal ku kepada Morgan. Aku sudah tidak bisa mengelak lagi. Aku menangis di pelukan Morgan. Masih terngiang di telinga ucapan Morgan yang tadi itu.
"Jangan nangis. Nanti saya sedih." Ucap morgan dengan nada yang seperti biasa. Cuek dan dingin. Tapi hatinya tidak menunjukkan sikapnya yang saat ini. Hatinya hangat..
Aku tidak sengaja melihat ke arah mejanya. Terlihat handphone yang bagus dan terlihat baru. Aku heran, kenapa Morgan tidak mengabari ku saat sudah punya handphone baru? Aku melepaskan pelukannya.
"Itu apa?" Tanya ku sinis. Morgan melihat ke arah yang ku tunjuk. Ia kembali melihat ke arah ku.
"Handphone." Singkat, padat, jelas! Itulah morgan yang sebenarnya.
"Ya terus kenapa loe gak ngabarin gue?!!!"
"Pfffttt..." Morgan menahan tawanya. Apakah ada yang aneh?
Aku kembali menuju ke kelas ku. Di sana, sudah ada Rafa, Fla, dan Ray. Aku menghampiri mereka yang sedari tadi mungkin saja menunggu ku. Ya ampun.. Percaya diri sekali. 😂 Aku menghampiri mereka semua.
"Hai!" Sapa ku, mereka spontan menoleh ke arah ku dan tersenyum.
"Pagi ra!"
"Pagi!" Mereka menyapa ku secara bergantian. Aku melihat ke arah Rafa dan Ray yang nampaknya sudah baik-baik saja sejak awal mereka bertengkar. *Baca episode 2.
"Lho.. Udah pada akur nih?" Tanya ku. Ray dan Rafa saling berpandangan.
"Ya mau gimana lagi? Toh gue udah gak sama Putri." Jawab Rafa. Apa yang dia maksud? Aku tidak mengerti.
"Ah? Gimana? Bisa tolong jelasin gak? Bukannya kemaren loe bilang ke gue kalau loe kesel sama Ray karena dia kasar sama cewe?" Tanya ku pada Rafa. Ia menghela nafas dengan berat.
__ADS_1
"Lho.. Bukannya yang kasar itu loe ya raf? Sengaja nyakitin Fla pake pesawat kertas itu?" Tambah ku. Mereka bertiga saling bertatapan satu sama lain.
"Gini lho.. Awalnya sebelum ada kejadian masalah sama fla, gue sama dia memang udah ada dendam pribadi ra. Karena cewe gue itu bekas pacarnya dia. Dan dia kasar gitu ke cewe yang udah jadi mantan gue." Jawab rafa ragu. Aku jadi mengerti selama ini mereka sudah saling kenal jauh sebelum aku mengenal mereka. Fla hanya menyeringai mereka berdua. Aku mendecap sembari menggelengkan kepala ku.
"Tapi sekarang gue udah gak sama dia. Jadi gue pikir, untuk apa musuhan lagi kan?" Tanya rafa. Aku mengangguk setuju dengan rafa.
"Iya dong! Buat apa kita pecah cuma gara-gara cowo atau cewe doang? Masih banyak kok cowo di dunia ini yang mau nerima kalian. Gak harus rebutan gitu. Dan buat loe ray, jangan pernah kasarin cewe! Karena kalau bukan cewe yang ngelahirin, siapa lagi? Emangnya cowo bisa ngelahirin?" Gumam ku panjang lebar, Ray menunduk malu sembari tertawa kecil. Nampaknya, ia terlihat tidak enak dengan aku dan yang lainnya.
"Iya ra! Gue udah taubat kok. Makanya pas gue ngeliat rafa ngejailin Fla, gue jadi gak bisa tinggal diem." Ucap ray membenarkan.
"Iya gue juga mau minta maaf ya Fla, kejadian waktu itu. Karena gue pikir itu biasa aja, gak akan berpengaruh apapun. Eh malah ujungnya gue dipanggil ke Kaprodi sama Pak Morgan." Tukas Rafa. Fla menyeringainya. Entah kenapa fla hanya menyengir saja dari tadi.
"Pantes lah dibelain! Orang Fla sama Morgan itu..."
"Hmmpptttt..."
Fla menginjak kasar kaki ku. Aku lupa bahwa aku harus menyembunyikan status Fla dan Morgan kepada mereka semua. Aku menahan rasa sakit itu dan berusaha tetap terlihat biasa saja di hadapan Ray dan Rafa. Mereka berdua seakan melihat ku dengan heran.
"Pagi semua." Sapa seseorang yang berasal dari balik pintu ruang kelas. Kami semua mendadak duduk pada tempat masing-masing.
"Hah? Ngapain dia ke sini?" Lirih ku sinis karena melihat Morgan masuk ke dalam ruangan ku. Ia duduk di kursi dosen. Semua orang menatapnya dengan taat sekali. Tak ada satupun yang berani berbuat rusuh lagi saat ia masuk ke ruangan ini.
"Hari ini Mr. Herry tidak akan mengisi jam mata kuliah Bahasa Inggris dikarenakan kondisi beliau yang sedang mengalami perawatan medis. Beliau jatuh sakit sejak tahun 2018. Sudah dua tahun berjalan, beliau hanya menjalaninya dengan pasrah tanpa ada tindakan medis atau sekedar check up." Jelas Morgan. Semua orang termasuk aku merasa simpatik dengan apa yang barusan Morgan ucapkan.
"Beliau mengidap penyakit Jantung." Sambungnya. Mengapa aku terenyuh mendengarnya? Mengapa harus menunggu sampai semuanya terlambat? Padahal Mr. Herry adalah salah satu dosen terbaik di kampus ini. Beliau selalu mengajarkan kami dengan penuh kesabaran. Aku rasa, mereka semua juga merasakan kasih sayang dari Mr. Herry.
"Bagaimana keadaan beliau sekarang pak?" Tanya seseorang.
"Beliau masih harus menjalani tahap pengobatan. Dan kalau perlu, melakukan implant jantung."
"Kami semua turut berduka cita pak."
__ADS_1
@sarjiputwinataaa