Dosen Idiot

Dosen Idiot
65. Would You Be My Girl?


__ADS_3

“Cupss...” Ia mencium bibir ku dengan lembut. Aku sontak


kaget dengan perlakuannya itu. Aku sudah menanti-nanti hal ini sejak tadi. Dan


kalau tidak salah, ini adalah pernyataan cinta yang paling romantis bagi ku.


Setelah pernyataan cintanya, ia kemudian langsung mencium ku. Tanpa harus


menunggu jawaban dari ku. Apa dia takut kalau saja aku menolak cintanya? Tapi


jika aku menolak, aku pasti tidak akan menerima ciuman darinya, bukan? Apa


tandanya aku menerima cintanya? Apa tandanya, aku mencintai dirinya?


Nafas ku terasa sesak karena ia terus mencium ku dengan


ciuman penuh kehangatan dan penuh rasa nyaman. Aku merasa takut kehilangan


dirinya. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Tapi, bagaimana dengan Bisma? Aku


tidak ingin mengecewakannya. Aku ingin sepenuhnya menjalani kehidupan ku dengan


normal, tanpa ada sangkut paut dengan hal-hal yang berbau asmara. Aku ingin


bebas, tapi aku tak kuasa untuk merasa kehilangan lagi. Cukup diri ku yang


dahulu kehilangan sosok Reza yang sangat hangat dan punya cara tersendiri untuk


membahagiakan ku. Aku tidak ingin kehilangan Bisma atau pun Morgan dengan


alasan apapun juga. Apa aku begitu egois dengan tidak membiarkan salah satunya


pergi dari hidup ku? Aku memang mencintai Bisma dengan sepenuh hati ku. Tapi,


tiba-tiba Morgan datang dengan memaksa ku untuk mencintainya. Aku tidak bisa


berlama-lama seperti ini. Aku harus memberanikan diri untuk bertanya tentang


kepastian aku dan Bisma. Aku tidak ingin salah ambil langkah untuk kedepannya.


Mengingat masa lalu ku yang berantakan yang mampu membuat ku sengsara setahun


kebelakang ini.


Ia melepaskan ciumannya itu dari ku. Kini, kami tertuju pada


satu titik pandangan. Aku memandangnya polos sembari menunggu apa yang akan ia


lakukan selanjutnya pada ku. Matanya sudah terlihat kosong, ia sudah kehilangan


kesadarannya.


“Saya gak akan tanya jawabannya saat ini juga. Kamu bebas


untuk menentukan.” Lirihnya. Aku menelan ludah ku sendiri. Aku tidak mengerti


perasaan ku ini yang terus berlawanan dengan logika. Aku tidak bisa terus


menerus seperti ini. Aku harus mencari jati diri ku sendiri. Aku tidak bisa hidup


dalam keterpaksaan seperti ini.


Ia beranjak bangkit dari tempatnya. Aku kebingungan dengan


tingkah lakunya itu. Ia seperti merogoh kantung belanjaan yang baru saja kami


beli. Aku pun bangkit dan hanya diam sembari memandangi apa yang akan ia


lakukan. Ia terlihat mengeluarkan kalung yang ku pilih tadi. Ia pun kini duduk


di samping ku dan mulai memakaikan kalung itu di leher ku.


“Apa maksudnya?” Tanya ku. Morgan hanya diam sembari tetap


memakaikan aku kalung. Aku bingung, kenapa kalung yang katanya untuk Fla, tapi


ia memberikannya pada ku?


“Nah.. Bagus kan.” Ucap Morgan sembari terlihat tersenyum


menatap kalung ini. Aku tersentuh dengan tindakannya kali ini.


“Loe ngasih gue kalung? Katanya buat Fla?” Tanya ku yang


masih setengah bingung. Ia tersenyum jahil pada ku.


“Lho.. Memang benar. Saya cuma mencocokkan aja kok di kamu.”


Jawab Morgan dengan nada yang paling menyebalkan yang pernah aku dengar.


Mendadak, aku berubah selera. Aku menahan amarah ku padanya. Kenapa dia begitu


menyebalkan? Kenapa harus membuat aku terbang dulu, lalu ia jatuhkan aku ke


dasar jurang?


“Males gue sama loe!” Bentak ku. Aku yang tak tahan dengan


sikapnya langsung saja meninggalkannya ke arah balkon kamar. Aku tidak sanggup


menahan malu karena sudah salah paham dengan yang ia lakukan tadi. Aku tidak


lebih spesial dari wanita yang pernah ia cintai sebelumnya. Aku sudah salah


menilainya. Dia sama sekali tidak memperdulikan perasaan ku. Aku menahan tangis


ku sembari memandang ke arah bangunan tinggi yang dapat aku lihat dari atas sini.


‘Kenapa gue bodoh


banget ya pake nanya begitu segala? Kan malu banget karena gak sesuai sama yang


gua harapkan. Morgan malah mainin perasaan gue yang udah terlanjur senang. Gue


kan jadi terlihat kayak wanita murahan dan gampangan. Apa wanita kayak gue pantes


diperlakukan seperti ini?’ Batin ku yang campur aduk membuat aku tak bisa


menahan air mata ku. Hembusan angin malam yang jahat, memaksa menembus tulang


ku. Aku yang hanya mengenakan kaos dalam, merasa udara malam ini begitu dingin.


“Happp..” Morgan tiba-tiba saja mengejutkan ku dengan


memeluk ku dari arah belakang. Satu tetes air mata pun turun mengenai punggung


tangan kanannya. Ia memeluk ku sangat erat membuat ku agak sedikit kesulitan


bernafas.


“Kamu cantik pakai kalung itu.” Gumamnya berbisik lirih di


telinga ku. Mata ku membulat sesaat setelah mendengar pujiannya itu.


“Saya belikan untuk kamu. Bukan untuk Fla.” Tambahnya. Aku


terharu mendengar ucapannya.


“Kenapa loe mainin perasaan gue sih?” Teriak ku lirih. Ia


malah semakin mempererat pelukannya itu.


“Tentang tangan kamu yang terus saya genggam saat kita


nonton tadi, ada hubungannya dengan kematian Putri. Saya gak peka dengan


sekeliling saya dan hanya memperhatikan yang ada di hadapan saya aja. Maaf


sampai membuat kamu risih karena sorotan laser itu. Saya cuma mau kamu

__ADS_1


baik-baik saja.” Ucapnya dengan penuh kelembutan. Aku paham sekarang maksudnya.


Awalnya mungkin aku berpikir Morgan terlalu berlebihan. Tapi, setelah


mengetahui sebagian besar kebenarannya, aku jadi menganggap itu suatu hal yang


lumrah.


“Maaf.” Lirihnya. Aku hanya mengangguk kecil. Suasana yang


nampak mellow dengan hembusan angin yang membuat suasana nampak lebih sendu.


Maaf karena terlambat untuk mengenal diri mu.


“Paling tidak, jangan pergi lagi.” Tambahnya. Aku hanya diam


sembari mencerna apa yang barusan ia katakan. Kapan aku pergi untuk


meninggalkannya? Seharusnya, aku yang berkata demikian.


“Saya gak perlu perkataan atau jawaban dari kamu. Yang


terpenting, kamu harus selalu ada untuk saya.” Ucapnya yang lama kelamaan


semakin tidak masuk akal. Apa mungkin karena ia terlalu lelah dan berbicara


semaunya saja?


“Udah yuk.. Tidur.” Ajak ku yang berusaha mengubah topik


pembicaraan. Semakin lama, semakin rancu topik yang ia ucapkan. Ia tidak


melepaskan pelukannya sama sekali.


“Happpp...”


“Morgan!!!!!!!!” Aku spontan berteriak karena Morgan


tiba-tiba saja menggendong ku layaknya anak kecil yang sedang di gendong oleh


ayahnya. Ia menggendong ku paksa ke arah tempat tidur.


“Turunin gue gan!!!” Teriak ku padanya dengan terus mengerakkan


kedua kaki ku ke atas dan ke bawah.


“Turunin?” Tanyanya. Aku melihat sinis ke arahnya.


“Brruuukkkkk...”


“Awwwwwwwwwwwwsss...” Aku di lempar dengan spontan olehnya


ke atas ranjang. Lumayan terasa sakitnya walaupun ranjangnya sangat empuk.


Tetap saja, ia memperlakukan ku dengan kasar. Kenapa ia sama sekali tidak


berubah? Kenapa ia begitu kasar jika memperlakukan ku?


“Gila loe ya???” Sinis ku. Ia mengangkat sebelah alisnya.


“Tadi minta turun?” Tanyanya dengan nada yang songong. Aku


kesal sekali mendengarnya.


“Plak...” Aku memukul lengan tangannya. Ia mengaduh


kesakitan.


“Aduh..”


“Biar tahu rasanya di kasarin gimana!!” Bentak ku padanya


yang masih meringis sembari memegangi lengannya. Ia berubah mimik menjadi


seperti menggoda ku.


“Tapi boong.” Ejeknya, kemudian ia tertawa dan aku berusaha


emosi ku hanyalah sebuah candaan. Aku jadi tertawa di buatnya. Dengan sikapnya


yang datar itu, ia pun bisa membuat aku tersenyum, bahkan tertawa lepas seperti


ini. Betapa idiotnya dia.


“Brukkkk....” Kami menghempaskan diri masing-masing ke atas


ranjang. Aku hanya berani menatap langit-langit hotel. Aku tidak berani untuk


menatapnya. Aku berpikir, kenapa aku bisa terjebak dalam situasi seperti ini


dengan orang yang dulunya aku benci? Aku tidak berani mengatakan aku


mencintainya. Namun, aku juga tidak mau jika harus kehilangan dirinya. Betapa egoisnya


diri ku yang hanya memikirkan perasaan ku sendiri tanpa memikirkan perasaan


Morgan. Aku tidak tahu, siapa saja yang sedang di dekati atau mendekati Morgan


saat ini. Yang jelas, Aku nyaman berada di dekatnya seperti ini. Meskipun tanpa


status.


“Mmmm.. Gan?” Tanya ku tanpa melihat Morgan sama sekali. Aku


tersenyum mengingat ucapan pernyataan cintanya pada ku.


“Soal.. Ucapan pernyataan cinta loe yang tadi..” Ucap ku


dengan sangat malu dan ragu.


“Guee... Gueee...” Aku ragu untuk mengatakannya. Sepertinya


ada hal yang mengganjal. Kenapa Morgan hanya diam saja sejak awal aku berbicara


padanya. Aku menoleh ke arahnya. Terlihat ia yang sudah memejamkan matanya.


Secepat itukah ia tidur? Aku bahkan belum menyelesaikan ucapan ku. Ia malah


sudah tidur dengan pulasnya.


“Dasar! Di ajak ngomong malah tidur!” Lirih ku sinis. Aku


takut membangunkan dia yang terlihat sudah tertidur pulas. Aku memandang wajah


polosnya yang sedang tidak sadarkan diri. Ia sangat menggemaskan ketika sedang


tidur.


“Loe itu sebenernya gimana sih? Bisa banget gue ketarik ulur


begini.” Lirih ku sembari memandang wajahnya dengan dekat.


“Gue pengen ngasih loe ucapan terima kasih karena udah


ngasih gue kalung ini.” Tambah ku. Aku menyingkirkan rambut panjang Morgan yang


menutupi matanya.


“Makasih ya kalungnya.” Lirih ku.


“Cups..” Aku mengecup sekilas bibir Morgan. Paling tidak,


aku sudah berterima kasih padanya. Soal ia tahu atau tidak, itu urusan nanti.


“Kalau mau cium, yang bener dong.” Ucapnya tiba-tiba yang


membuat ku terkejut. Aku menahan malu ku karena ucapannya. Aku beranjak bangkit


dari atas tubuh Morgan.

__ADS_1


“Happp...” Ia menahan ku dengan melingkarkan lengannya


mengitari tubuh ku. Aku tidak bisa berkutik lagi.


“Apaan sih! Lepasin!” Bentak ku padanya. Ia hanya diam


sembari menatap ku lekat. Ia tersenyum jahil ke arah ku. Aku yang risih melihat


senyumannya langsung memejamkan mata ku. Ia meraba pipi dan area leher ku.


Seketika, aku kaget dengan responnya dan mulai menatapnya.


“Mau bersenang-senang?” Tanyanya pada ku. Wajah ku seketika


menjadi panas. Aku tidak menyangka, ia akan bertanya seperti itu. Membuat diri


ku menjadi tidak karuhan. Aku hanya memandang wajah Morgan yang saat ini


berganti posisi menjadi sedang menindih di atas ku. Cinta.. apakah seindah ini?


“Awas! Gu. Gue mau tidur!” Ucap ku yang malu dengan


pandangan tajamnya itu. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya kemana


pun. Aku semakin gugup dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.


“Sama-sama.” Lirihnya yang membuat aku secara tidak langsung


tersenyum padanya. Kami berdua saling tersenyum satu sama lain. Aku merasa


sudah tidak ada lagi perasaan yang membuat aku menolak cinta dari Morgan. Aku ingin


menjalin hubungan yang lebih dari ini dengannya. Aku sudah siap untuk menerima


cinta darinya. Tidak ada yang bisa membuat ku menolaknya lagi. Hanya saja, aku


harus terbiasa untuk mengerti dengan keadaan dirinya yang aku tahu itu tidak


mungkin bisa ia lupakan dengan cepat.


Ia menempelkan kepalanya ke atas kepala ku. Aku tersenyum


saat menerima benturan kecil darinya. Tak bisa aku pungkiri, aku sangat


mencintainya dan menginginkannya untuk menjadi kekasih ku. Kenapa aku baru


menyadari perasaan ku sekarang padanya? Kemana pikiran ku selama ini? Apa


karena masih berat dengan masa lalu ku dan juga dengan Bisma? Hmm.. Aku tidak


perduli dengan yang akan terjadi nantinya. Aku menyadari tentang perasaan yang


sudah ada selama ini untuknya. Tapi, aku baru mengenal latar belakangnya


sekarang. Aku tidak bisa menyalahkan dirinya sepenuhnya untuk sikap yang selalu


ia lakukan pada ku. Aku juga salah karena telah salah menilainya.


Kami berdua terdiam dan memandang kembali satu sama lain. Aku


tersenyum padanya, begitu pun juga dirinya.


“Ra..”


“Gan..”


Kami berdua saling memanggil satu sama lain. Terjadi kecanggungan


saat ini. Ia yang masih menindih di atas ku, tidak bisa berkata apapun lagi. Kami


sudah sama-sama stuck.


“Loe dulu aja.” Ucap ku mempersilahkan ia untuk berbicara


lebih dulu.


“Kamu aja dulu, gak papa kok.” Lemparnya kembali. Aku menjadi


bingung dengan yang barusan aku ingin utarakan padanya. Aku sampai lupa dengan


niat ku.


“Lho kok jadi gue sih? Loe aja dulu! Gue lupa.” Ucap ku


asal. Ia hanya tertawa kecil melihat ekspresi ku. Aku menatapnya sinis.


“Apaan sih loe!!” Bentak ku. Ia menyentuh hidung ku dengan


hidungnya yang mancung itu. Aku menjadi deg-degan kembali. Setiap satu sentuhan


darinya membuat ku merasa sangat bahagia. Entah kenapa perasaan ku padanya


menjadi rumit saat ini. Apa dia juga merasakan hal yang sama dengan ku?


“Yaudah. Saya dulu ya.” Ucapnya. Kemudian suasana berubah


kembali menjadi tegang dan mencekam. Aku tidak tahu apa yang akan ia katakan. Aku


harap, ia menyatakan perasaannya kembali agar aku tidak malu dan tidak di


sangka seperti wanita yang murahan.


“Gimana.. Kamu.. Mau...” Nada ucapannya selalu terpotong dan


membuat aku terus menerus penasaran. Mudah-mudahan aku tidak mati dalam rasa


penasaran karena harus menghadapi orang idiot ini. Aku menatapnya dengan


tatapan yang sangat serius. Aku tidak sabar mendengar ucapannya itu.


“Mau.. Apa?” Tanya ku memberikan kode supaya ia berbicara


agak cepat lagi. Aku tidak tahan dengan rasa penasaran yang selalu mengganggu


ku ini.


“Mau...”


“Mau..” Ia merogoh kantung celananya.


“Permen.” Lirihnya sembari menyodorkan permen ke arah ku.


Aku tidak menyangka, ia akan mengulangi jokes yang sudah ia berikan waktu itu


pada ku. Apa dia tidak paham juga? Aku butuh ia menyatakan cintanya! Aku tidak


butuh permennya. Aku menatapnya sinis sembari menahan rasa kesal ku yang hampir


saja meledak itu. Ia terlihat tertawa kecil.


“Gak lucu!!” Sinis ku. Ia semakin mengencangkan tawanya itu. Kemudian ia memandang ku dengan penuh kelembutan sembari menyentuh lembut wajah ku.


“Saya mau menyatakan perasaan saya saat saya ngasih kamu permen ini. dan saya juga tahu kok apa yang mau kamu dengar waktu itu.” Ucapnya membuat aku agak sedikit malu.


“Saat itu, saya belum siap untuk menyatakannya sama kamu.


Tapi, pada dasarnya saya mau kamu tahu perasaan saya secepatnya.” Tambahnya.


Aku memandangnya lekat. Ternyata, ia sampai seperti itu ya? Belum siap menyatakan


perasaan pada ku? Padahal sudah masuk tahap seperti itu. Dan semua suasana


mendukungnya untuk menyatakan perasaan pada ku. Tapi memang dasarnya dia yang


tidak bisa peka terhadap suasana. Makanya, ia jadi tidak bisa memperlakukan


wanita dengan baik dan benar.


“Ra, Would you be my girl?”

__ADS_1


 


@sarjiputwinataaa


__ADS_2