
“Cupss...” Ia mencium bibir ku dengan lembut. Aku sontak
kaget dengan perlakuannya itu. Aku sudah menanti-nanti hal ini sejak tadi. Dan
kalau tidak salah, ini adalah pernyataan cinta yang paling romantis bagi ku.
Setelah pernyataan cintanya, ia kemudian langsung mencium ku. Tanpa harus
menunggu jawaban dari ku. Apa dia takut kalau saja aku menolak cintanya? Tapi
jika aku menolak, aku pasti tidak akan menerima ciuman darinya, bukan? Apa
tandanya aku menerima cintanya? Apa tandanya, aku mencintai dirinya?
Nafas ku terasa sesak karena ia terus mencium ku dengan
ciuman penuh kehangatan dan penuh rasa nyaman. Aku merasa takut kehilangan
dirinya. Aku tidak ingin berpisah dengannya. Tapi, bagaimana dengan Bisma? Aku
tidak ingin mengecewakannya. Aku ingin sepenuhnya menjalani kehidupan ku dengan
normal, tanpa ada sangkut paut dengan hal-hal yang berbau asmara. Aku ingin
bebas, tapi aku tak kuasa untuk merasa kehilangan lagi. Cukup diri ku yang
dahulu kehilangan sosok Reza yang sangat hangat dan punya cara tersendiri untuk
membahagiakan ku. Aku tidak ingin kehilangan Bisma atau pun Morgan dengan
alasan apapun juga. Apa aku begitu egois dengan tidak membiarkan salah satunya
pergi dari hidup ku? Aku memang mencintai Bisma dengan sepenuh hati ku. Tapi,
tiba-tiba Morgan datang dengan memaksa ku untuk mencintainya. Aku tidak bisa
berlama-lama seperti ini. Aku harus memberanikan diri untuk bertanya tentang
kepastian aku dan Bisma. Aku tidak ingin salah ambil langkah untuk kedepannya.
Mengingat masa lalu ku yang berantakan yang mampu membuat ku sengsara setahun
kebelakang ini.
Ia melepaskan ciumannya itu dari ku. Kini, kami tertuju pada
satu titik pandangan. Aku memandangnya polos sembari menunggu apa yang akan ia
lakukan selanjutnya pada ku. Matanya sudah terlihat kosong, ia sudah kehilangan
kesadarannya.
“Saya gak akan tanya jawabannya saat ini juga. Kamu bebas
untuk menentukan.” Lirihnya. Aku menelan ludah ku sendiri. Aku tidak mengerti
perasaan ku ini yang terus berlawanan dengan logika. Aku tidak bisa terus
menerus seperti ini. Aku harus mencari jati diri ku sendiri. Aku tidak bisa hidup
dalam keterpaksaan seperti ini.
Ia beranjak bangkit dari tempatnya. Aku kebingungan dengan
tingkah lakunya itu. Ia seperti merogoh kantung belanjaan yang baru saja kami
beli. Aku pun bangkit dan hanya diam sembari memandangi apa yang akan ia
lakukan. Ia terlihat mengeluarkan kalung yang ku pilih tadi. Ia pun kini duduk
di samping ku dan mulai memakaikan kalung itu di leher ku.
“Apa maksudnya?” Tanya ku. Morgan hanya diam sembari tetap
memakaikan aku kalung. Aku bingung, kenapa kalung yang katanya untuk Fla, tapi
ia memberikannya pada ku?
“Nah.. Bagus kan.” Ucap Morgan sembari terlihat tersenyum
menatap kalung ini. Aku tersentuh dengan tindakannya kali ini.
“Loe ngasih gue kalung? Katanya buat Fla?” Tanya ku yang
masih setengah bingung. Ia tersenyum jahil pada ku.
“Lho.. Memang benar. Saya cuma mencocokkan aja kok di kamu.”
Jawab Morgan dengan nada yang paling menyebalkan yang pernah aku dengar.
Mendadak, aku berubah selera. Aku menahan amarah ku padanya. Kenapa dia begitu
menyebalkan? Kenapa harus membuat aku terbang dulu, lalu ia jatuhkan aku ke
dasar jurang?
“Males gue sama loe!” Bentak ku. Aku yang tak tahan dengan
sikapnya langsung saja meninggalkannya ke arah balkon kamar. Aku tidak sanggup
menahan malu karena sudah salah paham dengan yang ia lakukan tadi. Aku tidak
lebih spesial dari wanita yang pernah ia cintai sebelumnya. Aku sudah salah
menilainya. Dia sama sekali tidak memperdulikan perasaan ku. Aku menahan tangis
ku sembari memandang ke arah bangunan tinggi yang dapat aku lihat dari atas sini.
‘Kenapa gue bodoh
banget ya pake nanya begitu segala? Kan malu banget karena gak sesuai sama yang
gua harapkan. Morgan malah mainin perasaan gue yang udah terlanjur senang. Gue
kan jadi terlihat kayak wanita murahan dan gampangan. Apa wanita kayak gue pantes
diperlakukan seperti ini?’ Batin ku yang campur aduk membuat aku tak bisa
menahan air mata ku. Hembusan angin malam yang jahat, memaksa menembus tulang
ku. Aku yang hanya mengenakan kaos dalam, merasa udara malam ini begitu dingin.
“Happp..” Morgan tiba-tiba saja mengejutkan ku dengan
memeluk ku dari arah belakang. Satu tetes air mata pun turun mengenai punggung
tangan kanannya. Ia memeluk ku sangat erat membuat ku agak sedikit kesulitan
bernafas.
“Kamu cantik pakai kalung itu.” Gumamnya berbisik lirih di
telinga ku. Mata ku membulat sesaat setelah mendengar pujiannya itu.
“Saya belikan untuk kamu. Bukan untuk Fla.” Tambahnya. Aku
terharu mendengar ucapannya.
“Kenapa loe mainin perasaan gue sih?” Teriak ku lirih. Ia
malah semakin mempererat pelukannya itu.
“Tentang tangan kamu yang terus saya genggam saat kita
nonton tadi, ada hubungannya dengan kematian Putri. Saya gak peka dengan
sekeliling saya dan hanya memperhatikan yang ada di hadapan saya aja. Maaf
sampai membuat kamu risih karena sorotan laser itu. Saya cuma mau kamu
__ADS_1
baik-baik saja.” Ucapnya dengan penuh kelembutan. Aku paham sekarang maksudnya.
Awalnya mungkin aku berpikir Morgan terlalu berlebihan. Tapi, setelah
mengetahui sebagian besar kebenarannya, aku jadi menganggap itu suatu hal yang
lumrah.
“Maaf.” Lirihnya. Aku hanya mengangguk kecil. Suasana yang
nampak mellow dengan hembusan angin yang membuat suasana nampak lebih sendu.
Maaf karena terlambat untuk mengenal diri mu.
“Paling tidak, jangan pergi lagi.” Tambahnya. Aku hanya diam
sembari mencerna apa yang barusan ia katakan. Kapan aku pergi untuk
meninggalkannya? Seharusnya, aku yang berkata demikian.
“Saya gak perlu perkataan atau jawaban dari kamu. Yang
terpenting, kamu harus selalu ada untuk saya.” Ucapnya yang lama kelamaan
semakin tidak masuk akal. Apa mungkin karena ia terlalu lelah dan berbicara
semaunya saja?
“Udah yuk.. Tidur.” Ajak ku yang berusaha mengubah topik
pembicaraan. Semakin lama, semakin rancu topik yang ia ucapkan. Ia tidak
melepaskan pelukannya sama sekali.
“Happpp...”
“Morgan!!!!!!!!” Aku spontan berteriak karena Morgan
tiba-tiba saja menggendong ku layaknya anak kecil yang sedang di gendong oleh
ayahnya. Ia menggendong ku paksa ke arah tempat tidur.
“Turunin gue gan!!!” Teriak ku padanya dengan terus mengerakkan
kedua kaki ku ke atas dan ke bawah.
“Turunin?” Tanyanya. Aku melihat sinis ke arahnya.
“Brruuukkkkk...”
“Awwwwwwwwwwwwsss...” Aku di lempar dengan spontan olehnya
ke atas ranjang. Lumayan terasa sakitnya walaupun ranjangnya sangat empuk.
Tetap saja, ia memperlakukan ku dengan kasar. Kenapa ia sama sekali tidak
berubah? Kenapa ia begitu kasar jika memperlakukan ku?
“Gila loe ya???” Sinis ku. Ia mengangkat sebelah alisnya.
“Tadi minta turun?” Tanyanya dengan nada yang songong. Aku
kesal sekali mendengarnya.
“Plak...” Aku memukul lengan tangannya. Ia mengaduh
kesakitan.
“Aduh..”
“Biar tahu rasanya di kasarin gimana!!” Bentak ku padanya
yang masih meringis sembari memegangi lengannya. Ia berubah mimik menjadi
seperti menggoda ku.
“Tapi boong.” Ejeknya, kemudian ia tertawa dan aku berusaha
emosi ku hanyalah sebuah candaan. Aku jadi tertawa di buatnya. Dengan sikapnya
yang datar itu, ia pun bisa membuat aku tersenyum, bahkan tertawa lepas seperti
ini. Betapa idiotnya dia.
“Brukkkk....” Kami menghempaskan diri masing-masing ke atas
ranjang. Aku hanya berani menatap langit-langit hotel. Aku tidak berani untuk
menatapnya. Aku berpikir, kenapa aku bisa terjebak dalam situasi seperti ini
dengan orang yang dulunya aku benci? Aku tidak berani mengatakan aku
mencintainya. Namun, aku juga tidak mau jika harus kehilangan dirinya. Betapa egoisnya
diri ku yang hanya memikirkan perasaan ku sendiri tanpa memikirkan perasaan
Morgan. Aku tidak tahu, siapa saja yang sedang di dekati atau mendekati Morgan
saat ini. Yang jelas, Aku nyaman berada di dekatnya seperti ini. Meskipun tanpa
status.
“Mmmm.. Gan?” Tanya ku tanpa melihat Morgan sama sekali. Aku
tersenyum mengingat ucapan pernyataan cintanya pada ku.
“Soal.. Ucapan pernyataan cinta loe yang tadi..” Ucap ku
dengan sangat malu dan ragu.
“Guee... Gueee...” Aku ragu untuk mengatakannya. Sepertinya
ada hal yang mengganjal. Kenapa Morgan hanya diam saja sejak awal aku berbicara
padanya. Aku menoleh ke arahnya. Terlihat ia yang sudah memejamkan matanya.
Secepat itukah ia tidur? Aku bahkan belum menyelesaikan ucapan ku. Ia malah
sudah tidur dengan pulasnya.
“Dasar! Di ajak ngomong malah tidur!” Lirih ku sinis. Aku
takut membangunkan dia yang terlihat sudah tertidur pulas. Aku memandang wajah
polosnya yang sedang tidak sadarkan diri. Ia sangat menggemaskan ketika sedang
tidur.
“Loe itu sebenernya gimana sih? Bisa banget gue ketarik ulur
begini.” Lirih ku sembari memandang wajahnya dengan dekat.
“Gue pengen ngasih loe ucapan terima kasih karena udah
ngasih gue kalung ini.” Tambah ku. Aku menyingkirkan rambut panjang Morgan yang
menutupi matanya.
“Makasih ya kalungnya.” Lirih ku.
“Cups..” Aku mengecup sekilas bibir Morgan. Paling tidak,
aku sudah berterima kasih padanya. Soal ia tahu atau tidak, itu urusan nanti.
“Kalau mau cium, yang bener dong.” Ucapnya tiba-tiba yang
membuat ku terkejut. Aku menahan malu ku karena ucapannya. Aku beranjak bangkit
dari atas tubuh Morgan.
__ADS_1
“Happp...” Ia menahan ku dengan melingkarkan lengannya
mengitari tubuh ku. Aku tidak bisa berkutik lagi.
“Apaan sih! Lepasin!” Bentak ku padanya. Ia hanya diam
sembari menatap ku lekat. Ia tersenyum jahil ke arah ku. Aku yang risih melihat
senyumannya langsung memejamkan mata ku. Ia meraba pipi dan area leher ku.
Seketika, aku kaget dengan responnya dan mulai menatapnya.
“Mau bersenang-senang?” Tanyanya pada ku. Wajah ku seketika
menjadi panas. Aku tidak menyangka, ia akan bertanya seperti itu. Membuat diri
ku menjadi tidak karuhan. Aku hanya memandang wajah Morgan yang saat ini
berganti posisi menjadi sedang menindih di atas ku. Cinta.. apakah seindah ini?
“Awas! Gu. Gue mau tidur!” Ucap ku yang malu dengan
pandangan tajamnya itu. Ia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya kemana
pun. Aku semakin gugup dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.
“Sama-sama.” Lirihnya yang membuat aku secara tidak langsung
tersenyum padanya. Kami berdua saling tersenyum satu sama lain. Aku merasa
sudah tidak ada lagi perasaan yang membuat aku menolak cinta dari Morgan. Aku ingin
menjalin hubungan yang lebih dari ini dengannya. Aku sudah siap untuk menerima
cinta darinya. Tidak ada yang bisa membuat ku menolaknya lagi. Hanya saja, aku
harus terbiasa untuk mengerti dengan keadaan dirinya yang aku tahu itu tidak
mungkin bisa ia lupakan dengan cepat.
Ia menempelkan kepalanya ke atas kepala ku. Aku tersenyum
saat menerima benturan kecil darinya. Tak bisa aku pungkiri, aku sangat
mencintainya dan menginginkannya untuk menjadi kekasih ku. Kenapa aku baru
menyadari perasaan ku sekarang padanya? Kemana pikiran ku selama ini? Apa
karena masih berat dengan masa lalu ku dan juga dengan Bisma? Hmm.. Aku tidak
perduli dengan yang akan terjadi nantinya. Aku menyadari tentang perasaan yang
sudah ada selama ini untuknya. Tapi, aku baru mengenal latar belakangnya
sekarang. Aku tidak bisa menyalahkan dirinya sepenuhnya untuk sikap yang selalu
ia lakukan pada ku. Aku juga salah karena telah salah menilainya.
Kami berdua terdiam dan memandang kembali satu sama lain. Aku
tersenyum padanya, begitu pun juga dirinya.
“Ra..”
“Gan..”
Kami berdua saling memanggil satu sama lain. Terjadi kecanggungan
saat ini. Ia yang masih menindih di atas ku, tidak bisa berkata apapun lagi. Kami
sudah sama-sama stuck.
“Loe dulu aja.” Ucap ku mempersilahkan ia untuk berbicara
lebih dulu.
“Kamu aja dulu, gak papa kok.” Lemparnya kembali. Aku menjadi
bingung dengan yang barusan aku ingin utarakan padanya. Aku sampai lupa dengan
niat ku.
“Lho kok jadi gue sih? Loe aja dulu! Gue lupa.” Ucap ku
asal. Ia hanya tertawa kecil melihat ekspresi ku. Aku menatapnya sinis.
“Apaan sih loe!!” Bentak ku. Ia menyentuh hidung ku dengan
hidungnya yang mancung itu. Aku menjadi deg-degan kembali. Setiap satu sentuhan
darinya membuat ku merasa sangat bahagia. Entah kenapa perasaan ku padanya
menjadi rumit saat ini. Apa dia juga merasakan hal yang sama dengan ku?
“Yaudah. Saya dulu ya.” Ucapnya. Kemudian suasana berubah
kembali menjadi tegang dan mencekam. Aku tidak tahu apa yang akan ia katakan. Aku
harap, ia menyatakan perasaannya kembali agar aku tidak malu dan tidak di
sangka seperti wanita yang murahan.
“Gimana.. Kamu.. Mau...” Nada ucapannya selalu terpotong dan
membuat aku terus menerus penasaran. Mudah-mudahan aku tidak mati dalam rasa
penasaran karena harus menghadapi orang idiot ini. Aku menatapnya dengan
tatapan yang sangat serius. Aku tidak sabar mendengar ucapannya itu.
“Mau.. Apa?” Tanya ku memberikan kode supaya ia berbicara
agak cepat lagi. Aku tidak tahan dengan rasa penasaran yang selalu mengganggu
ku ini.
“Mau...”
“Mau..” Ia merogoh kantung celananya.
“Permen.” Lirihnya sembari menyodorkan permen ke arah ku.
Aku tidak menyangka, ia akan mengulangi jokes yang sudah ia berikan waktu itu
pada ku. Apa dia tidak paham juga? Aku butuh ia menyatakan cintanya! Aku tidak
butuh permennya. Aku menatapnya sinis sembari menahan rasa kesal ku yang hampir
saja meledak itu. Ia terlihat tertawa kecil.
“Gak lucu!!” Sinis ku. Ia semakin mengencangkan tawanya itu. Kemudian ia memandang ku dengan penuh kelembutan sembari menyentuh lembut wajah ku.
“Saya mau menyatakan perasaan saya saat saya ngasih kamu permen ini. dan saya juga tahu kok apa yang mau kamu dengar waktu itu.” Ucapnya membuat aku agak sedikit malu.
“Saat itu, saya belum siap untuk menyatakannya sama kamu.
Tapi, pada dasarnya saya mau kamu tahu perasaan saya secepatnya.” Tambahnya.
Aku memandangnya lekat. Ternyata, ia sampai seperti itu ya? Belum siap menyatakan
perasaan pada ku? Padahal sudah masuk tahap seperti itu. Dan semua suasana
mendukungnya untuk menyatakan perasaan pada ku. Tapi memang dasarnya dia yang
tidak bisa peka terhadap suasana. Makanya, ia jadi tidak bisa memperlakukan
wanita dengan baik dan benar.
“Ra, Would you be my girl?”
__ADS_1
@sarjiputwinataaa