
Satu tamparan mendarat di pipi halusnya. Morgan lagi-lagi tak bisa berkata apa-apa. Nampaknya, ia menahan emosinya kali ini. Aku sudah tidak peduli lagi dengan apapun. Yang aku ingin sekarang hanyalah mengetahui kebenaran tentang diriku.
Morgan mengelus pipi kirinya. Ia menatapku tiba-tiba. Rasa canggung melanda kami saat ini.
Sial, aku mati kutu.
“G-gue mau pulang!” ucapku ragu, kemudian bangkit dari tempat tidur.
Morgan tiba-tiba saja menarik tanganku, membuatku terkejut setengah mati.
Aku menoleh ke arahnya, yang juga sedang menatapku. Pandangan kami pun bertemu di satu titik.
“Aku antar kamu pulang--”
“Enggak!” Aku memangkas ucapannya.
Aku tidak ingin berurusan lagi dengan maniak ini.
Ia menatapku dengan tatapan yang tajam. Aku tidak bisa berbuat apapun.
“Pokoknya, kalau saya bilang antar, ya saya antar!” bentaknya.
Aku diam sejenak. Tak kusangka, ia mengasariku lagi.
Aku menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Bagaimana bisa, orang ini selalu bersikap lembut, dan kadang pun bersikap kasar seperti ini.
Seperti tidak punya pendirian.
Aku membelalak, tak percaya dengan kejadian ini. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil tasku, kemudian segera lari ke luar ruangan.
“Ra, tunggu, Ra!”
Terdengar suara Morgan yang lama-kelamaan semakin terdengar lirih. Aku hanya ingin dia bersikap baik padaku, itu saja.
Sial, padahal wajahnya tampan sekali. Tapi, aku sama sekali tidak suka dengan sikap kasarnya itu.
Wanita mana pun itu, pasti tidak akan suka jika ada seorang pria yang menyakiti dan berbuat kasar terhadapnya.
I believe it!
Aku menyeka air mataku yang mulai bercucuran, membasahi pipiku. Aku bergerak menuju lift. Aku menekan tombol lift secara cepat. Aku tidak mau melihat orang itu lagi.
“Hah, lantai 30?” lirihku, setelah mengetahui kalau aku sedang berada pada lantai paling atas gedung ini.
Kenapa bisa?
Pintu hampir tertutup, tiba-tiba saja terliha Morgan yang mengganjal pintu lift, sehinga pintu tidak bisa tertutup.
“Bruk....” Morgan melompat ke dalam dan menabrakku.
“Gila, ya!”
Morgan memojokkanku di sudut lift, membuatku merasa risih.
__ADS_1
“Awass!” Bentakku sembari berusaha mendorong tubuh Morgan yang mengunci tubuhku.
Tapi tubuhnya sangat berat, untuk seukuran gadis mungil sepertiku. Aku sudah tidak memiliki banyak tenaga untuk itu, tapi aku terus berusaha memberontak.
Aku tidak mau kalah.
“Awas!”
“Stop, Ra!” ucapnya yang sama sekali tidak aku hiraukan.
Aku malah semakin mendorongnya dengan kasar.
“Gue gak suka! Sumpah gue gak suka sama loe!”
Morgan terdiam, dan seketika menarik daguku.
“Mau apa loe, ha?” sinisku.
Aku menghempaskan daguku dari tangan kotornya itu.
“Gue gak sudi, sumpah. Jangan sentuh gue!” Aku berteriak kasar di hadapannya, yang hanya diam saja.
Ia tampak mengindahkanku. Ia mendekati wajahku. Aku terdiam sembari menatapnya dengan penuh kebencian.
“Ting nong....”
Lift terbuka tiba-tiba. Aku melihat ke arah pintu. Terlihat segerombolan “Wanita Malam” yang sedang melihat adegan kami. Mereka semua tersenyum jahil pada kami. Morgan menoleh ke arah kiri tanpa melihat ke arah mereka. Sikapnya yang sok dingin itu, benar sudah membuatku mual dan ingin muntah.
“Puas loe udah bikin malu gue, ha?” tanyaku dengan jutek.
Morgan terlihat mengerutkan dahinya. Kami menunggu lift menuju lantai dasar dengan posisi Morgan yang masih menempel di hadapanku. Aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, karena tubuhku sudah terkunci olehnya.
“Ting nong....”
Kini kami tiba di lantai dasar.
Morgan melepaskan belenggunya, dan menggandengku dengan lembut. Aku sama sekali tidak ingin membuat masalah di tempat orang lain. Yang kulakukan, hanyalah menuruti apa maunya.
Kami melangkah menuju lobby hotel. Terlihat seorang wanita cantik sedang berdiri di hadapan kami. Morgan menghentikan langkahnya, setelah melihat wanita itu. Tatapannya itu, mengandung banyak arti yang tidak aku ketahui dengan jelas.
“Morgan?” Pekik wanita itu.
Di situasi ini, aku seperti sedan tertangkap basah oleh istri sah dari laki-laki yang telah bersamaku semalaman di hotel. Aku merasa harga diriku kali ini akan benar-benar hilang. Bukan hanya hilang di mata Morgan, tapi juga di mata wanita yang sama sekali tidak aku kenal ini.
“Who is she?” Ia menunjuk ke arahku.
Seorang wanita asing, yang memiliki kulit putih bersih, sedang mendelik di hadapanku. Terlihat dari aksen ia berbicara tadi, sepertinya dia bukan orang asli pribumi. Ditambah lagi dengan wajahnya itu yang memang tidak ada aksen oriental. Aku tidak menyangka, akan bertemu dengan orang asing ini.
Siapa sebenarnya dia?
Aku menatap Morgan dengan tatapan penuh kebencian. Aku dijebak pada situasi sulit, di mana aku sama sekali tidak mengerti alurnya.
Morgan bodoh.
__ADS_1
Dia hanya diam saat ada orang yang bertanya padanya.
“Gan jawab, Gan! Dia itu siapa?” tanyanya yang semakin memaksa Morgan.
Aku sudah risih dengan sikap Morgan, ditambah juga aku risih dengan sikap penasaran wanita asing yang satu ini.
Emosiku sudah tak terbendung lagi.
“Gue Ara. Gue gak ada apa-apa sama cowok ini. Silakan selesaikan masalah kalian berdua, dan jangan pernah bawa-bawa gue. Gue pamit,” tegasku.
Aku berlari meninggalkan mereka berdua meskipun Morgan berulang kali memanggilku, namun aku sama sekali tidak mempedulikannya.
MORGAN
“Ra... tunggu, Ra!” Pekikku, tapi Ara sama sekali tidak mempedulikanku.
Aku sangat kesal dan jengkel dengan wanita yang ada di hadapanku saat ini.
Meygumi.
Wanita dari masa lalu yang saat ini datang kembali di saat yang tidak tepat. Aku menatap wanita ini dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
“Kamu mau apa lagi sih nemuin saya?” tanyaku yang sudah jengkel dengan semuanya.
Ia mengerenyitkan dahinya kemudian meraih tanganku.
“Gan, please. Jangan gini terus dong ke aku?” ucapnya memelas.
Aku tidak memiliki rasa kasian sama sekali dengannya.
“Udah saya bilang kan, Mey, hubungan kita tuh sudah cukup sampai di sini saja,” gumamku.
Aku tidak ingin mengeluarkan banyak tenagaku untuk seseorang yang tidak begitu penting. Aku membuang tatapanku ke arah depan.
“Kamu jangan dingin terus dong, Gan, ke aku. Aku mau perhatian dari kamu.”
“Perhatian apa lagi yang kamu mau?” tanyaku dengan cepat, yang hampir memotong pembicaraannya.
Aku menoleh ke arahnya. Terlihat jelas tatapan penuh amarah dan dendam di matanya.
“Lagian, ngapain kamu sepagi ini ke sini?” tanyaku yang menaruh rasa curiga padanya.
Bisa-bisanya dia tahu posisiku saat ini.
“Kamu lupa? Ini tuh hotel papa aku,” jawabnya, berusaha untuk mengingatkanku.
'****,' batinku mengaduh.
Bisa-bisanya aku lupa dengan hal ini.
“Jadi yang dimaksud resepsionis itu--” ucapku terpotong.
Aku menoleh ke arah resepsionis yang tadi malam menolongku, dengan catatan harus menemani bosnya sepanjang hari. Aku mengiyakan terpaksa permintaannya, karena sudah tidak punya banyak waktu lagi untuk menyelamatkan Ara.
__ADS_1