
Lembaran kertas berjatuhan dari dalam amplop, karena aku membukanya sembari tetap berada di posisi telentang. Aku mengambilnya dan memperhatikan kertas yang berjatuhan di atas perutku.
“Hah, tiket nonton?” lirihku dengan penuh rasa heran.
Kenapa tiba-tiba Morgan memberiku dua buah tiket untuk menonton bioskop? Terkadang, aku merasa tidak mengerti dengan yang ia pikirkan.
Tapi entah kenapa, hatiku terasa sangat senang, saat aku mengetahui pemberian ini.
Aku langsung melihat isi surat yang masih berada di dalam amplop. Dengan rasa penasaran, aku membaca surat yang ada di dalamnya.
“Salam hangat, dari manusia yang paling kamu benci.
Saya ngasih kamu tiket nonton ini, hanya bertujuan untuk melepas rindu. Tapi, jangan jatuh cinta sama saya, ya. Saya takut, nanti gak ada obatnya.”
Aku membaca surat darinya itu, teriring senyum. Aku merasa, ada yang salah dengan otaknya, sehingga dengan sangat percaya diri, dia menuliskan kata-kata yang aneh di surat ini.
“Apaan sih ini orang? Percaya diri amat, ya?” lirihku sembari menepuk-nepuk suratnya, tak tahu lagi harus berbuat apa.
Aku kembali melanjutkan membaca surat itu.
“Kalau kamu bersedia, saya mau ajak kamu nonton. Malam ini, tepat pukul tujuh, saya jemput kamu di rumah.”
“Deg….”
Aku teringat dengan Jessline, yang sedang ada di ruang tamu. Aku tidak ingin masalah aku dan Morgan terungkap. Letak permasalahannya adalah, aku sudah membuat Jess marah karena masalah Fla, ditambah dengan aku yang tidak senang dengan hubungan Jess dan juga kakak, dan sekarang aku ingin berkencan dengan kakak tirinya?
Di mana letak harga diriku?
“Gawat! Kalo si Jess gak cepet-cepet balik, pasti kebongkar masalah gue sama Morgan. Nanti dia malah seenaknya memanfaatkan keadaan ini, supaya bisa lebih dekat dengan kakak lagi.
Aku sangat bingung saat ini, tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana jika Morgan sampai harus berpapasan dengan Jessline?
Ah.
Kenapa sih, kakak tidak mengetahui soal Jessline? Itu malah jadi menghambat langkahku saja.
Tapi kalau dipikir lagi, tidak heran juga sih. Karena Fla pun tidak ingin semua orang tahu tentang ini.
“Gue harus nyusun siasat!” Tekadku bulat.
***
Aku menyelinap ke luar, menuju ruang tamu. Aku memperhatikan sekelilingku dengan seksama.
Aman, tak ada tanda-tanda kakak dan juga Jess di sana.
Aku bergerak maju sedikit demi sedikit.
“Aman,” lirihku sembari mengelus dada.
Aku berbalik dengan perlahan, dan terkejut karena melihat sesuatu yang sudah berdiri sangat dekat di hadapanku.
“Haaaaaaaa.” Teriakku karena terkejut melihat kakak yang tiba-tiba saja muncul bak arwah yang gentayangan.
Kakak tertawa setelah melihat ekspresi kagetku. Aku merasa, jantungku yang hampir saja copot.
“Ihh… kakak mah!” Rengekku, seperti anak kecil yang sedang ketakutan.
Kakak malah tertawa.
“Hahah, ngapain sih, Ra? Kok kayaknya ngendap-endap gitu, sih?” tanya kakak ku yang sepertinya sedang menjahiliku, aku yang kesal kemudian memukul lengan kiri kakak.
__ADS_1
“Aduuuhh sakit tau,” gumamnya dengan nada terimut miliknya, membuatku geli, dan ingin muntah.
“Hueeeekkk....” Aku berpura-pura ingin muntah di hadapannya.
Kami pun tertawa karenanya. Sudah lama sekali, aku tidak tertawa seperti ini bersama kakak.
Tiba-tiba saja teringat masa laluku.
Rindu.
“Ngapain sih?” tanya kakak.
Aku berubah fokus menjadi melihat sekelilingku, untuk memeriksa, apakah di sana ada Jess?
“Nyari apa sih?” tanya kakak dengan heran.
Aku menatapnya spontan. Ia sepertinya semakin bingung dengan gelagatku yang aneh ini.
“Mana manusia itu?” tanyaku asal.
Kakak mengerutkan dahinya.
“Apa? Siapa?” tanya kakak kembali, membuatku sedikit malas jadinya.
“Itu lho… manusia gaje itu?” tanyaku lagi, dengan nada menekankan, tapi tidak ingin menyebutkan namanya.
“Siapa? Monica?” tanya kakak.
Aku mengangguk mantap. Kakak langsung mendecap, lalu menjewer telingaku. Memang tidak sakit sih, mungkin kakak sedang mengajakku bercanda lagi.
“Aww… aduuh aduuh sakit, Kak.”
“Ngomong coba sekali lagi.” Tantangnya, membuatku tertawa, padahal aku sedang dijewer olehnya.
“Aduhh… sakit tau.” Ketusku.
kakak menimpaliku kasar.
“Lagian ngomongnya asal aja.”
“Ya abisnya... kakak gitu sih.” Bantahku, ia mendelik ke arahku, membuatku merinding setengah mati.
“Kakak gimana?”
“Ya… gitu, pacaran sama musuh aku,” ucapku dengan ragu, yang mungkin saja membuatnya terkejut.
Ia mendecap sembari menggelengkan kepala saja.
“Dasar wanita,” celotehnya.
Aku tak terima dengan perkataannya.
“Dasar pria.” Timpalku tak mau kalah darinya.
Ia mengelitikiku dengan cepat. Aku sampai tergelak, dan tidak bisa berhenti tertawa.
Geli sekali.
“Udah, stop stop…” pintaku, tapi kakak tidak menggubris.
Aku semakin tertawa dengan kencang. Namun pada akhirnya, kakak melepaskanku.
__ADS_1
‘Udah keburu bengek duluan, baru dilepasin,’ batinku yang masih bisa menyeleneh.
“Kakak mah!” Bentakku padanya, yang tak terima dengan perlakuannya.
Kejam sekali kakakku.
“Lagian, siapa suruh kamu ngikutin omongan kakak?” sinisnya.
“Habisan, kakaknya bikin kesel duluan!” Aku masih tidak mau kalah dengan kakakku.
“Hayo… jawab lagi, kakak kelitikin lagi nih.” Ancamnya, membuatku menyerah kali ini.
Aku tidak kuat menahan geli.
“Ampun, ampun,” lirihku.
Suasana kembali menjadi kondusif. Aku kembali menatap kakak dengan tajam, untuk menanyakan kebenarannya lagi.
“Kak, jawab dong pertanyaan aku. Dia itu pacar kakak atau bukan?” tanyaku penasaran.
Kakak menghela panjang napasnya.
“Bukan sih, Ra. Cuma kakak seneng aja sama penampilan, dan juga…” jawabnya menggantung, membuatku penasaran dengan kelanjutannya, “gaya bercintanya,” ucapnya sembari mendonggakkan kepalanya ke atas, seperti sedang membayangkan sesuatu.
Aku jadi jengkel, setelah mendengar ucapannya.
Mataku membola, dan menyinyir sembari memperhatikan cara kakak membayangkan Jessline.
Ah. Semua laki-laki, termasuk kakak, sama saja.
Sama-sama mempunyai pikiran yang kotor.
“Apalagi, pas adegan pake gaya--”
“Ah… udah-udah! Dasar, otak kotor! Sadar dong, kak! Dia itu adiknya Morgan!” Potongku dengan emosi yang meledak-ledak.
Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku jadi kesal sendiri dengannya.
“Ha?!” Kakak terlihat sangat kaget, setelah mendengar pernyataanku.
Ia menganga dengan mata yang membelalak.
Dasar orang aneh, masa dia tidur bersama adik dari temannya sendiri, sih?
Tapi, kalau dipikir kembali, aku juga berbuat seperti itu dengan Morga.
Itu berarti, aku juga tidak tahu diri.
Haha.
“Apa kamu bilang?"
“Monica...” ia menganga kaget, “adik.. Morgan?” tanyanya.
Aku mengangguk tegas.
“Satu lagi, namanya JESSLINE, bukan MONICA.” Aku mengomel dengan tegas.
Ternyata, kakak masih tidak percaya dengan ucapanku. Dia masih berusaha meyakinkan dirinya dan mencoba menerima kenyataan. Kelihatannya sih, seperti itu.
“Ya emang bukan kandung sih, tapi setidaknya dia udah jadi bagian dari keluarga Morgan,” tambahku, yang berusaha membuat kakak mengerti dengan keadaan.
__ADS_1
Kakak kelihatannya masih saja belum mengerti. Aku juga heran, kenapa kakak tidak mengetahui apapun tentang Morgan? Padahal, Morgan adalah teman baik kakak dari masa Sekolah Menengah Atas.