Dosen Idiot

Dosen Idiot
48. Hai! Matane.


__ADS_3

-MORGAN MAIN-


Aku melihat ke sekeliling ku. Tak ku sangka, aku tak sengaja melihat seseorang yang duduk di sela gerobak seperti sedang bersembunyi dari seseorang. Siapa itu ya?


'Oh mulai bandel lagi ya jajan sembarangan'


Aku sengaja menelepon Arash agar dia menelfon ku balik. Tak lama kemudian, Arash pun menelepon ku.


"Driiiinnngggg"


"Hallo Gan? Tadi kenapa nelfon?" Tanya Arash. Aku sengaja tidak mengencangkan volumenya. Kemudian aku membuka suaranya.


"Oh engga kok Rash."


"Oh yaudah. Gimana Ara di sana? Aman kah?"


"Masalah belajar sih aman. Cuma, saya gak tahu yang lain-lain gimana."


"Lho.. Ara masih suka jajan sembarangan?"


"Ma..."


"Greeeppp..."


Tiba-tiba Ara mengambil handphone ku. Aku terkejut karena dia kasar sekali mengambil handphone dari tangan ku.


"Ka aku lagi makan siang nih di resto deket kampus sama Morgan."


"Oh kirain kamu jajan yang aneh-aneh lagi. Yaudah kakak mau lanjut kerja lagi ya."


"Okey ka."


-Tuuuuuuuuuttt-

__ADS_1


Ara terlihat kesal sekali pada ku. Wajahnya merah padam. Aku hanya melontarkan senyum ke padanya. Aku mengambil paksa handphone ku yang ada di tangannya. Ia terlihat gelagapan kaget seperti ku tadi.


"Puas loe?!!" Tanyanya. Aku hanya berusaha menahan tawa.


"Gak usah ketawa deh." Ketusnya. Aku masih berusaha menahan tawa ku. Ia terlihat manis saat ia menahan amarahnya. Aku jadi gemas sekali padanya.


'Apa aku kasih sekarang aja yah?'


-ARA MAIN-


"Ra.." Panggil Morgan. Aku menoleh ke arahnya. Terlihat wajahnya yang tampan sedang diam memperhatikan ku. Aku melihat manik matanya yang berwarna coklat itu. Suasana menjadi canggung seketika. Aku dan dia menatap satu sama lain. Dia terlihat masih dengan sikapnya yang dingin. Tapi, aku jadi terkesima padanya dari pada aku melihat laki-laki yang centil.


"Saya mau ngomong ra." Lirihnya yang membuat aku penasaran. Kenapa dia sangat senang membuat ku penasaran? Jangan-jangan, dia ingin mempermainkan aku lagi seperti malam sebelum kita nonton bioskop gagal itu. Aku tidak ingin gegabah mulai sekarang.


"Pak.. Siomaynya.." Ucap mang decoy yang membuyarkan suasana. Aku kesal sekali karena mang decoy sudah mengacaukan suasana yang canggung ini. Aku berterima kasih sih, tapi di sisi lain, aku kesal sekali karena rasa penasaran ku belum tersampaikan.


"Haiiissshhhh...!!!" Aku geram dan akhirnya pergi meninggalkan dua manusia tersebut. Selalu seperti ini. Ujungnya selalu aku yang meninggalkan Morgan. Yaa.. Memang alurnya sudah seperti ini. Itu lebih baik dari pada harus aku yang ditinggalkan. Seperti Bisma meninggalkan ku waktu itu.


"Bisma.. Apa kabarnya ya?"


"Kruuuukkkk..." Suara perut ku sudah terdengar jelas sekali. Aku benar-benar lapar kali ini.


"Duhh.. Laper beneran lagi." Gumam ku sembari mengelus perut ku. Apa yang bisa ku makan?


"Kore tabetai." Tanya seseorang di belakang ku. Suaranya terdengar halus sekali. Tapi aku sama sekali tidak mengerti ucapannya. Aku membalikkan tubuh ku ke belakang. Terlihat ia menyodorkan snack penunda lapar kesukaan ku. Kenapa aku suka? Karena kalorinya sedikit dan tidak membuat berat badan ku naik dengan signifikan. Aku melirik wajahnya. Terlihat wajah yang asing bagi ku. Wajahnya tampan dan ia memiliki kulit putih seperti orang jepang. Matanya sipit khas negara sakura.


"Ehh.." Aku terkejut melihatnya. Aku tidak mengerti bahasanya.


"I am sorry. I don't understand. Can you speak English?" Tanya ku dengan gugup.


"Tidak tidak. Aku bisa bahasa Indonesia kok." Jawabnya, Aku menghela nafas lega. Akhirnya, gak harus pakai bahasa Inggris kan?


"Ohh hehe. Btw, tadi ngomong apa ya?" Tanya ku. Ia tertawa kecil mendengar ku bertanya seperti itu.

__ADS_1


"Apa yang lucu?" Tanya ku masih tak paham.


"It's means Mau makan ini?"


"Ohh.."


"Aku gak cuma basa-basi. Apa kamu mau ini?" Tawarnya. Aku bingung kenapa ia sangat perduli pada ku? Aku baru saja mengenalnya tadi. Apa aku harus terima pemberian darinya?


"Emm.. Maaf tapi gue..."


"Krrruuuukkkkk...." Suara perut ku terdengar kembali membuat ku malu sekali dengannya. Aku tertawa tak enak pada dia yang sedang mentertawakan ku.


'Duh.. ini perut gak bisa di ajak kompromi apa yah?' Batin ku kesal.


"Sudah. Ambil saja." Ucapnya sembari memberikan paksa snack itu. Aku terkejut dan tiba-tiba snack itu sudah ada di tangan ku sekarang.


"Matane.." Ucapnya sembari meninggalkan ku. Apa katanya? Apa dia sedang mencela ku? Apa ada yang salah dengan mata ku? Apa ada kotoran mata di sela-selanya? Buru-buru ku lihat kaca yang berada di samping ku. Aku memperhatikan secara seksama bola mata ku. Namun, tidak ada yang aneh dari mata ku.


"Gue kena tipu ya? Dia bilang mata gue kenapa?" Bingung ku. Aku mengangkat kedua bahu ku kemudian segera menuju ke kelas ku.


*


"Eh ra, kita udah lama temenan kan ya? Gue mau tau rumah lu nih. Boleh gak kita main kerumah loe?" Tanya Fla yang sedang duduk di hadapan ku sekarang. Tak ketinggalan Rafa dan juga Ray. Entah sejak kapan kami menjadi sering bersama. Tak ada salahnya juga berteman dengan mereka. Mereka bertiga baik untuk saat ini. Fla yang sering membantu aku mengerjakan PR, Ray yang sering membantu ku mengambilkan sesuatu yang jauh atau yang tidak bisa ku jangkau. Rafa yang selalu menemani ku saat aku perlu buku untuk ku beli, atau sekedar jalan di mal. Aku sangat menyukai mereka. Mereka sepertinya tidak hanya mau berteman karena kekayaan ku saja. Tidak seperti teman-teman SMA ku dulu yang hanya mau berteman saat aku berjaya. Pernah suatu waktu aku dan kakak berada di titik terendah. Perusahaan kami mengalami gagal tender padahal kakak sudah mengeluarkan modal besar-besaran untuk mempersiapkannya. Tapi semua gagal karena perusahaan sebelah. yaitu kantor ayah dari teman ku yang selalu ada untuk ku. Tapi hanya saat ia butuh saja. Aku tidak bisa menolak permintaan dia karena kakak menyuruh ku untuk akur dengannya agar alur menuju keberhasilan tender bisa berjalan dengan mulus. Aku tidak mengerti hubungan antara kakak dengan ayah dari teman ku itu seperti apa. Kakak hanya mengatakan bahwa aku harus baik padanya.


"Ra.."


"Ra...."


Aku tersadar dari lamunan ku. Terlihat fla yang mungkin sejak tadi melambaikan tangannya ke arah wajah ku. Mereka semua terlihat heran sekali.


"Kenapa bengong hey?" Tanya Rafa. Aku mendadak tertawa karena membayangkan sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan saat zaman SMA.


@sarjiputwinataaa

__ADS_1


__ADS_2