
Aku bergerak maju menuju kamar kakak. Terlihat samar wanita yang sedang menikmati indahnya cinta bersama kakakku.
Aku mengerutkan dahiku. Dari bentuk postur badannya, sepertinya aku mengenali wanita ini.
Tapi, siapa?
Permainan mereka nampaknya semakin panas, membuatku terbawa suasana.
‘Sial,’ batinku yang berusaha menahan diri.
“Brak....”
Aku tak sengaja menyenggol sesuatu yang berada di sampingku. Aku langsung menutup mulutku. Kakak dan wanita asing itu, seketika menoleh ke arahku.
Terlihat samar seseorang yang nampak familiar sekali.
“Jessline?”
Betapa terkejutnya aku, saat mengetahui bahwa, wanita yang sedang bermain cinta dengan kakakku itu, adalah Jessline, mantan pacar Bisma dan adik tiri dari Morgan. Aku sudah kehabisan kata kali ini.
“Brak....”
Aku tak sengaja menjatuhkan handphone-ku, namun seketika aku langsung mengambilnya kembali.
“Ra,” pekik kakak, yang sepertinya kaget dengan kehadiranku.
Kakak dan Jessline segera menutupi tubuh mereka dengan selimut. Tak kusangka, kakakku bermain cinta dengan adik dari orang yang aku benci, dan juga, mantan dari pacarku.
Entah kenapa dunia menjadi sempit seperti ini.
Aku tidak peduli kakak bercinta dengan siapa pun, asalkan jangan dengan dia.
“Eh, Ra. Kamu baru pulang jam segini? Dari mana aja kamu?” tanya kakak dengan nada yang santai.
Aku memang sudah biasa melihat kakak bercinta, bersama wanita mana pun. Tapi, aku kaget saat mengetahui kakak bercinta dengan Jessline.
Kenapa dunia bisa sesempit ini?
Aku dengan kakaknya, dia dengan kakakku.
“Namanya Monica, bukan Jessline, Ra,” ucap kakak lagi.
Aku menatap dalam gadis itu, yang sepertinya sedang merasa ketakutan, sehingga memilih menyembunyikan dirinya di belakang kakak.
‘Ah, bener kok itu si Jessline,’ batinku memastikan kembali dengan apa yang aku lihat.
Kenapa malah jadi memikirkan hal yang tidak penting lagi?
“Udah ah. Aku mau tidur,” ucapku asal, kemudian meninggalkan mereka berdua di sana.
Masih tak habis pikir dengan Jessline. Bisa-bisanya dia mengubah namanya menjadi Monica. Padahal jelas-jelas, namanya adalah Jessline.
Apa itu salah satu siasat untuk mengelabui kakakku?
__ADS_1
Aku pergi menuju kamarku. Kuletakkan seluruh barang-barangku di atas ranjang tidur. Aku mulai menanggalkan kemeja yang kupakai.
Aku melangkah menuju kamar mandi. Kucuran air membasahi ujung kepala, dan mengalir sampai ke ujung kaki.
Aku menenangkan pikiranku yang sedang kacau. Tak kusangka, dunia yang begitu besar ini, terlihat sangat sempit saat ini.
Aku meringkuk takut di dalam bathtub, sembari sesekali mengusap kedua bahuku secara menyilang.
Aku sudah kehilangan kehormatanku. Harus bagaimana lagi aku untuk bisa melanjutkan hidupku?
Aku sudah tidak memiliki apapun. Apa masih pantas aku dicintai?
Bisma. Benar atau tidak ucapan Morgan tadi, ia sudah tidak bisa aku harapkan lagi. Aku sudah kehilangan kepercayaan sepenuhnya pada Bisma. Aku tidak ingin lagi berurusan dengannya.
Awalnya, aku pikir Bisma bisa menerimaku dengan baik, meskipun aku sudah jujur dan mengatakan kebenarannya, bahwa aku sudah tidak mempunyai kehormatan lagi. Tak kusangka, ia malah memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa menghinaku lagi.
Biar bagaimana pun juga, Morgan sudah menyelamatkanku. Walaupun akhirnya, dia juga merebut kehormatanku lagi, untuk yang kedua kalinya.
Aku meremas keras rambutku.
Itu tandanya, sama saja bukan? Hanya berbeda cara dan orang yang melakukannya saja?
Kenapa aku sebodoh ini?
“Argh.”
“Harusnya gak gini, deh,” lirihku sembari mengelap wajahku yang terkena cipratan air.
Air mataku bercampur dengan air yang bercucuran dari shower, sampai aku tidak bisa membedakan lagi, air mata dan air yang berkucuran itu.
Rasanya sesak sekali.
***
Aku melangkahkan kaki menuju koridor kelasku. Nampak Fla dan Ray sedang berbincang di sana. Tumben sekali, kenapa mereka berdua jadi akrab seperti ini?
Aku penasaran, lalu menghampirinya.
Mereka berdua menyadari akan kedatanganku. Aku masih saja kaku, karena masalahku waktu itu, yang membuat Fla salah paham. Aku jadi agak canggung dengannya.
“Eh, Ra. Udah 2 hari ini loe ngilang entah kabar. Loe kemana aja? Gue khawatir sama loe,” sapa Fla yang menghujaniku dengan pertanyaan yang terlalu to the point.
Aku tersenyum padanya.
“Iya, Ra, bukan cuma Fla doang, gue juga kangen kok sama loe.” Goda Ray.
Aku tersipu malu. Fla terlihat langsung mendorong bahu Ray.
“Huh, gombal,” gumam Fla.
Aku dan Ray tertawa kecil mendengar suara lucu Fla yang seperti anak kecil.
“Sejak kapan loe jadi gombalin gue gini?” tanyaku sembari tertawa, Mereka tertawa mendengar pertanyaanku.
__ADS_1
Saat kami bertiga sedang berbincang riang, Morgan pun melewati kami dengan dingin. Aku menatap heran ke arahnya. Ia sama sekali tak seperti biasanya. Tidak menyapaku, atau pun menyapa Fla yang jelas adalah adiknya.
Ia berlalu melewati kami. Aku penasaran sekali, ia benar-benar sama sekali tidak menghubungiku sejak terakhir kita bertemu.
‘Dia kenapa ya,’ batinku penasaran.
Biasanya dia menyempatkan mengirim pesan singkat kepadaku. Tapi, sudah dua hari ini, dia tidak menghubungiku sama sekali.
‘Apa gue tanya aja kali ya, ke Fla?’ pikirku.
Pikiranku tersadar. Kenapa aku memikirkan hal yang tidak penting seperti ini? Aku sudah membuang-buang waktuku yang berharga.
‘Ah, tapi gengsi lah!’ batinku, sembari menyipitkan mataku.
Aku tak sengaha melihat Morgan yang sedang berbincang dengan dosen yang waktu itu aku lihat, saat sedang mengantarkan buku ke ruangan Morgan. Raut wajah Morgan nampak kusut, aku jadi merasa sedikit sedih melihat raut wajahnya.
Tiba-tiba saja ia menoleh ke arahku. Aku gelagapan, karena merasa tertangkap basah sedang memperhatikannya.
Karena sudah begitu, aku lanjutkan saja. Ia melihatku dengan santai dan dingin, seperti tidak pernah terjadi apapun di antara kami, sementara aku melihatnya dengan tatapan sedih.
Apa dia tidak memikirkan perasaanku?
Kenapa dia jadi tega seperti ini padaku?
Ia tiba-tiba saja pergi. Aku ingin sekali memanggilnya, namun, lidahku mendadak terasa sangat kelu.
“Ra?” pekik Fla.
Aku tersadar dari lamunanku, karenanya.
“Eh, iya....” Aku berusaha membenarkan pandanganku.
“Kenapa, Ra?”
“Emm... gak apa-apa, kok,” jawabku dengan terbata-bata.
Aku mungkin saja sudah membuat mereka bingung dengan gelagatku.
“Oh ya, gue masuk dulu ya, Ra, Fla,” ucap Ray.
Aku tiba-tiba mengubah fokusku pada Ray.
“Okey deh,” Fla menjawab demikian.
Ray pun pamit, meninggalkan tempat ini. Kini, hanya tinggal aku dan Fla saja.
Kenapa mendadak suasana menjadi rancu, ya?
Apa karena aku masih merasa bersalah, karena tertangkap basah sedang berduaan dengan Morgan, waktu itu?
Aku memberanikan diri untuk menatap Fla, yang ternyata sedang menatapku juga. Pandangan kami pun bertemu, dan aku menjadi semakin malu.
“Emm... Fla.” Panggilku, ia menoleh ke arahku.
__ADS_1
“Iya, Ra? Kenapa?” tanyanya, yang sepertinya sudah bisa bersikap biasa saja, berbeda denganku yang masih canggung karena masih kepikiran dengan masalah itu.