Dosen Idiot

Dosen Idiot
75. Have you done?


__ADS_3

"Ruang dosen, di mana ya?" Tanyanya. Aku mulai bingung. Kenapa harus bertanya ruang dosen terus? Aku kan jadi semakin ingin masuk ke ruang dosen itu.


"Emm.. Di sebelah sini..." Aku menunjukkan pintunya, namun aku bingung ingin menyebutnya dengan panggilan apa.


"Panggil aja saya Abang." Ucapnya. Aku terdiam sesaat lalu tertawa kecil ke arahnya sembari mengangguk.


"Oh iyaa bang." Gumam ku tak enak. Ia tersenyum kecil ke arah ku.


"Makasih ya." Lirihnya sembari membuka pintu ruangan itu. Aku mengangguk ke arahnya. Sudah dua orang yang menanyakan letak ruangan dosen. Mereka yang terlalu pagi, atau para dosen yang memang malas datang awal waktu?


Aku menunggu dengan sangat sabar, sambil sesekali membuka beranda handphone ku untuk sekedar scroll media sosial ku.


"Duh.. Pelan-pelan dong.." Ucap seseorang yang langsung mengalihkan fokus ku. Aku menoleh ke arahnya. Terlihat Pak Morgan sedang berjalan menuju ke arah sini, dengan wanita asing di sebelahnya. Aku terkejut melihat wanita itu yang terus berusaha menarik perhatian Pak Morgan. Lama-kelamaan, mereka sampai di hadapan ku.


"Pagi, Pak Morgan." Sapa ku. Aku memandang wanita ini dengan tatapan aneh. Aku sama sekali tidak menyukai wanita ini. Karena, ia selalu meminta perhatian dari Pak Morgan. Ia selalu memandang Pak Morgan dengan lekat, seolah-olah hanya dia pemilik hati Pak Morgan.


"Pagi, Rafa. Apa.. Kamu yang hari ini menggantikan ketua HIMA untuk membantu saya melaksanakan acara hari ini?" Tanya Pak Morgan. Aku mengangguk mantap ke arahnya.


"Betul, Pak. Saya membawa beberapa file yang di titipkan sebagai bahan presentasi di acara ini." Ucap ku.


"Ini filenya pak." Ucap ku lalu menyodorkan beberapa lembar kertas panduan di selenggarakan acara ini. Ia tersenyum kemudian mengambil kertas yang aku berikan padanya.


"Okey, Rafa. Sebentar lagi acara dimulai. Kamu bisa tolong tunjukkin Ibu ini.." Ucapnya sembari menunjuk ke arah wanita yang berada di sampingnya.


"ke ruang meeting dosen. Sekalian untuk mereka yang sudah berkumpul, untuk mengisi daftar hadir di lembar absensi yang ada di atas meja meeting." Ucap Pak Morgan. Wanita itu hanya melirik sinis ke arahnya.


"Baik, Pak."


"Dringggggggggg...." Handphone Pak Morgan berdering.


"Sebentar." Ucapnya yang langsung pergi menjauh meninggalkan kami berdua.


"Halo Prof Handoko." Sapanya yang masih terdengar dari sini. Aku melirik ke arah wanita ini dengan takut. Wajahnya sangat tidak enak di pandang. Aku menelan ludah ku dan berusaha memberanikan diri menatapnya.


"Silahkan, Bu." Ucap ku sembari mempersilahkan dia untuk masuk. Ia hanya tersenyum pahit dan segera memasuki ruangan. Aku bergidik takut dan ikut memasuki ruangan meeting dosen.


-ARA MAIN-


"Duh.. Rafa mana sih?! Gak bisa dihubungin gini." Kesal ku sembari mondar-mandir di samping ranjang tidur. Aku mencari nama Morgan di kontak ku. Aku berusaha untuk meneleponnya.


"Tuuuuutttt.. Tuuuuutttt.. Tuuuuutttt.." Teleponnya tiba-tiba terputus. Tertera tulisan "Sedang berada di panggilan lain" di layar handphone ku. Aku kesal!


"Ihh.. Lagi teleponan sama siapa si!!" Amarah ku semakin memuncak.


"Pertama kalinya ya, gue nelepon dia lagi. Pas gue telepon, malah lagi nelepon orang! Kesel ya!" Aku mendengus kesal mengetahuinya.


"Dringggggggggg...." Handphone ku berdering. Tertera nama Morgan di sana. Langsung saja aku menerima teleponnya.


-Tuuut..-

__ADS_1


"Halo." Terdengar sapaan darinya yang begitu kaku. Datar dan dingin sekali. Aku semakin dibuat naik darah karenanya. Tapi, aku harus bersabar. Jangan sampai emosi karena hal yang sepele.


"Kamu kemana aja sih? Teleponan sama siapa tadi?" Tanya ku sinis.


"Prof Handoko." Jawabnya simpel, membuat aku ingin membuang handphone ku. Aku merasa kesal! Karena sikapnya yang tiba-tiba berubah manis, dan bisa juga langsung berubah menjadi dingin.


"Bisa gak sih, kamu gak terlalu dingin banget sama aku! Bersikap lembut kek atau gimana?!"


"Kamu udah sarapan?" Tanyanya yang aku tahu dia sedang mengalihkan topik pembicaraan. Aku? Tentu saja semakin kesal dan ingin rasanya aku memakannya.


"Belum! Mau makan kamu!" Kesal ku.


"Oke. Tunggu nanti malam, ya?" Ucapnya dengan nada yang terdengar nakal. Aku bingung kenapa Morgan mengatakan itu. Aku mencoba mencerna ucapannya itu. Setelah aku pikir-pikir, ternyata..


"Ih bukan itu! Dasar cabul!!!" Teriak ku. Dia pikir, aku akan memakannya dalam tanda kutip. Padahal, aku sedang kesal dengannya karena sikapnya yang terlalu ekstrim. Tapi dia malah berpikiran yang macam-macam.


"Nanti malam, tunggu aja." Lagi-lagi ia mengatakan hal nakal seperti itu lagi. Aku duduk di atas ranjang ku sambil memegang kepala ku. Seperti terasa sangat pusing setelah mendengar kata itu. Tenaga ku habis karena berpikiran yang tidak-tidak.


"Morgan, jangan coba-coba.."


"I love you." Potongnya.


"Tuuuuutttt.. Tuuuuutttt.. Tuuuuutttt.."


Morgan mematikan teleponnya. Tidak ku sangka, aku akan mengatakan hal yang tidak masuk akal ini kepadanya. Padahal maksud ku tidak seperti itu. Aku meringis takut karena memikirkan sesuatu yang akan terjadi nanti malam.


"Bodoh banget sih gue!! Ngapain pake ngomong gitu segala!!" Kesal ku sembari menepuk-nepuk kepala ku.


"Lho kakak mau kemana? Kok buru-buru sih?" Tanya ku bingung. Kakak kini tiba di hadapan ku.


"Kakak ada urusan kerja di luar kota. Mau membahas soal penandatanganan kontrak kerja dengan client. Mungkin 2 sampai 3 hari. Kamu baik-baik ya di rumah." Ucap kakak. Aku merasa keberatan dengan yang ia ucapkan.


"Yah.. Kak.. Aku ikut ya!" Rengek ku padanya. Ia hanya diam. Mungkin diamnya itu menandakan bahwa aku tidak boleh pergi dengannya.


"Yah.. Kak, ayo dong! Aku kan kena skors seminggu. Harusnya 2 sampai 3 hari mah gak ngaruh kan!" Aku lagi-lagi merengek dihadapannya. Kakak sepertinya memang tidak ingin aku ikut menemaninya.


"Kalau Kakak mau main cewe di sana, gak papa kok. Aku gak bawel orangnya." Ucap ku. Ia terlihat seperti orang yang terkejut. Apa aku salah bicara padanya?


"Ya ampun, Ra!" Gumamnya memelototi ku. Aku hanya tersenyum dan tertawa kecil padanya.


"Udah ya. Pokoknya kamu ga boleh ikut. Kamu jaga rumah. Kakak pergi dulu!" Ucapnya tergesa-gesa lalu pergi dari hadapan ku.


"Eh kak!! Kak!!!" Pekik ku yang tak dihiraukan. Aku kesal sekali karena sikapnya yang egois dan tidak bisa di lawan. Apa karena dia Kakak dan Aku adiknya, jadi aku tidak bisa membantah apapun perkataannya?


"Aduh.. Gimana nih! Morgan pasti nanti malem ke sini. Terus gimana kalau gak ada Kakak? Dia beneran mau lakuin itu dong sama gue?" Aku berpikiran macam-macam karena kesalahan ucapan tadi. Aku benar-benar bodoh.


-RAFAEL MAIN-


Aku sudah ada di ruangan meeting dosen. Di sana, terlihat wanita yang aku sukai sedang duduk di hadapan ku sembari mengisi absensi yang telah tersedia. Aku melihat cara ia menulis. Anggun sekali. Namanya adalah Kim Yo Ra. Ternyata, memang benar. Mungkin saja, dia benar-benar keturunan Korea. Aku jatuh cinta pandangan pertama olehnya. Aku menatapnya dengan penuh harapan. Aku membayangkan, kalau aku bisa bersamanya sepanjang hari, apa yang bisa kita lakukan bersama?

__ADS_1


Matanya tiba-tiba melihat ke arah ku. Aku yang sedang memandangnya menjadi kelimpungan sendiri. Ia tersenyum ke arah ku. Aku jadi ikut tersenyum karenanya.


"Have you done?" Tanya ku. Ia mengangguk cepat. Auranya sangat ceria, membuat aku jadi ikut ceria. Ia memberikan kertas itu pada ku. Aku menerimanya dan membacanya. Ternyata, dia adalah guru ekstra kurikuler melukis. Aku jadi ingin sekali belajar melukis. Aku ingin terus berada di sampingnya. Aku harap, aku tidak patah hati lagi kali ini.


Aku berdiri di hadapan mereka semua yang sudah mengisi tempat duduknya. Aku melihat ke arah mereka sambil sesekali melirik dan membaca lembar absensi yang aku pegang.


"Okey semua, mohon perhatiannya." Ucap ku mengalihkan perhatian mereka. Kini, mereka semua sedang menatap ku. Aku jadi gugup sekali. di tambah, Kakak Kim juga terus menatap ku. Aku jadi semakin nervous. Tapi, aku berusaha mengatur nafas ku. Aku tidak mau terkesan biasa saja di hadapan orang yang aku sukai.


"Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya Rafael Tan. Mahasiswa Manajemen Bisnis di kelas 01TPLP001. di lembar absensi, ada sekitar 10 orang calon pengajar ekstra kurikuler di kampus ini. Tapi saya lihat, di sini baru ada 3 orang. Dengan berbagai macam pelajaran yang akan di ajarkan yaitu, PMR, Pencak silat, Seni lukis, Seni musik, Futsal, Basket, Volli, Pencinta alam, Teater, dan Renang. Saya ingin mengetahui perkenalan diri masing-masing guru. Tapi sebelumnya, saya ingin memanggil Dosen saya dulu." Ucap ku dengan lantang dan penuh percaya diri.


"Lanjutkan saja." Ucap Pak Morgan tiba-tiba yang sudah ada di dekat pintu masuk ruangan. Aku mengangguk kecil dan kembali fokus kepada mereka.


"Okey. Kita mulai satu persatu ya. di mulai dari yang terdekat dari saya." Ucap ku. Aku mulai memperhatikan kertas absensi yang aku pegang.


"Nama saya Dita Dwi Ambarwati, guru bidang kesehatan atau PMR."


"Nama saya Hendi. Guru bidang pencak silat.


"My name is Kim Yo Ra. You can call me Kim or Yora. I am a painting teacher."


Mereka semua memperkenalkan diri masing-masing. Aku masih saja terkesima oleh kecantikan Kak Kim. Sampai aku tidak sadar kalau aku melamun beberapa saat. Pak Morgan terlihat sedang mendekat ke arah ku. Ia berdiri sejajar di sebelah ku. Mereka semua memperhatikan Pak Morgan, tak terkecuali Kak Kim. Aku melihat tatapan yang berbeda dari Kak Kim ke arah Pak Morgan. Aku jadi sedikit insecure. Aku malu dengan diri ku, akan kah bisa menandingi karisma Pak Morgan?


'Eh, tunggu dulu. Pak Morgan gak mungkin suka sama Kak Kim. Kan Pak Morgan udah ada Ara. Masa iya dia mau deketin Kak Kim? Gue harus tetep semangat!! Gak boleh gampang nyerah hanya karena dia ngeliat Pak Morgan.' Batin ku bertekad kuat. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku ingin sekali mendekati Kak Kim. Meskipun aku tidak tahu, asal-usul dia seperti apa. Aku akan berusaha mendekatinya! Semangat!


"Gimana pak, selanjutnya?" Tanya ku. Pak Morgan melihat ke arah mereka dengan tatapan dingin. Matanya yang tidak terlalu tebal membuat kesan tajam pandangannya semakin terasa.


"Berhubung ada perubahan jadwal acara ini yang baru saya ketahui tadi, jadi sebagian besar calon pengajar ekstra kurikuler tidak hadir hari ini. Tapi gak papa, Kita masih tetap melanjutkan acara ini. Selebihnya, biar nanti menyusul saja." Ucap Pak Morgan. Aku memperhatikan karisma ia berbicara. Pantas saja banyak orang yang jatuh hati padanya.


"Tolong kerja samanya untuk melancarkan acara ini. Setelah ini, saya akan memandu kalian untuk menempati pos masing-masing." Lanjutnya. Aku hanya mengangguk kecil.


-MORGAN MAIN-


'Kenapa jadi canggung gini ya?' Batin ku yang resah karena melihat Tata yang berada di sini. Kenapa dia menjadi salah satu guru ekstra kurikuler di kampus ini? Dunia ini sempit sekali!


'Pura-pura gak perduli aja lah.' Batin ku terus menerus memikirkannya. Aku tidak paham, apakah dia mengikuti ku, atau hanya kebetulan saja? Pandangannya terus menatap ke arah ku. Belum lagi orang korea itu, sepertinya dia memiliki sesuatu yang ingin dia ungkapkan pada ku. Ia seperti menginginkan aku untuk melihatnya.


'Pura-pura gak liat ajah lah!'


"Semuanya, bisa ikuti saya menuju ruangan yang nantinya di gunakan untuk pembelajaran." Tegas ku. Mereka semua mengangguk setuju dengan ucapan ku. Tata mendekat ke arah ku dan seperti ingin meraih tangan ku. Dengan insting yang sangat kuat, aku langsung pergi dari sana sebelum sempat ia meraih tangan ku. Tak ku sangka, ini akan menjadi sangat sulit untuk ku.


Pukul 9 pun tiba. Kini, aku mengajak mereka untuk berkeliling dan memberikan orientasi tentang kampus ini. dan kami pun tiba di ruang UKS. Aku membuka pintu ruangan dan menyalakan lampu.


"Ini ruang UKS untuk lantai dasar. di setiap lantai pasti ada ruangan khusus UKS, bertujuan agar Mahasiswa yang sakit atau terluka, tidak terlalu jauh untuk mendapatkan pertolongan pertama. di dalam ruangan ini juga terdapat toilet yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan pengobatan." Jelas ku. Aku memandang ke arah Tata yang berperan sebagai guru ekstra kurikuler bidang kesehatan. Ia terlihat tersenyum seperti terkesima pada ku. Aku membuang pandangan ku segera.


"Jika ada Mahasiswa yang sakit atau mengalami luka, minta dia untuk menunjukkan kartu mahasiswanya. Jika ada Mahasiswa yang tidak membawa kartu identitas, penjaga ruangan ini wajib memberikan pertolongan pertama dulu. Baru di mintai keterangan masalah nama dan administrasi lainnya. Bertujuan agar Mahasiswa dapat menerima pertolongan pertama dengan baik." Jelas ku. Dia masih saja tersenyum terkesima ke arah ku. Lagi-lagi aku di buat jengkel oleh sikapnya.


"Jika ada pertanyaan, bisa tanyakan langsung ke saya." Ucap ku, ia terlihat mengerenyitkan dahinya.


"Bagaimana saya bisa bertanya, saya gak punya nomor telepon Pak Morgan. Kecuali, dengan baik hati, Pak Morgan bisa memberikan nomor handphonenya kepada saya."

__ADS_1


@sarjiputwinataaa


__ADS_2