
"Saya mana bisa nahan godaan dan pesona kamu." Lirihnya yang terlihat sembari menyembunyikan wajahnya yang mulai bersemu merah di sana. Jantung ku langsung berdegup kencang sesaat setelah Morgan berkata demikian. Aku memalingkan wajah ku mengikutinya. Aku masih saja merasa malu ketika Morgan tidak sengaja memuji ku. Aku dengannya sudah seperti orang yang baru saja berpacaran.
"Drrrttt..." Handphone ku bergetar. Seseorang telah mengirimkan pesan singkat kepada ku. Aku hanya memandang penasaran handphone ku itu tanpa ingin membukanya. Aku masih memikirkan perasaan Morgan. Biar saja dia yang melihat isi pesan ku.
"Buka aja." Ucapnya sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Awalnya aku sangat ragu untuk membuka pesan itu. Tapi, Morgan sudah memberikan izin kepada ku. Akhirnya, aku melihat isi dalam pesan itu. Ada beberapa pesan dari grup. dan beberapa pesan pribadi.
"Ara.. Gue ke sana ya malam ini, gue mau nginep dan ngabisin weekend dan minggu tenang." Rafael
"Eh.. Bikin acara sendiri ajah nih, gue juga mau ikutan dong!" Ray
"Eh tau nih, gue juga mau ikut ah.. Tapi gue izin bokap dulu ya, soalnya kakak gue juga gak pulang kemarin." Fla
"Hah.. Paling juga ada di rumah si Ara." Ray
"Sembarangan loe! Justru Ara nyariin dia juga." Fla
"Hah? Masa?" Rafael
"Yehh.. Makanya jangan pdkt mulu sama guru orang korea itu!" Sindir Fla. Aku sedikit tertawa membacanya.
"Yehhhh.." Rafael
"Kakak loe, Pak Morgan yang waktu itu kan, Fla?" Farha
"Iya, Far." Fla
"Kok dia gak pulang?" Fla
"Ya mungkin dia lagi ada urusan. Tapi gak sempet ngasih kabar." Fla
"Itu sering, atau baru kali ini aja?" Farha
"Beberapa kali sih, tapi biasanya ngasih kabar." Fla
"Kenapa pada ngomongin Pak Morgan sih?" Ray
"Diem deh.." Fla
"Maaf.." Ray
"Ini jadinya gimana hey... Ara mana sih?" Rafael
"Eh iya gimana?" Fla. Aku mulai mengetik karena percakapan grup sudah habis sampai sini saja. Aku bingung ingin mengetik apa, karena mungkin mereka akan melihat Morgan nantinya dan terus menerus meledek ku.
"Ara sedang mengetik.." Ray. Aku semakin bingung dengan kata apa yang harus aku ketik kepada mereka.
"Lho, kamu kenapa?" Tanya Morgan yang mampu membuyarkan konsentrasi ku. Aku sampai lupa kalau ada Morgan di samping ku.
"Mereka mau nginep di sini sampai akhir pekan." Lirih ku ragu.
"Ya sudah, biarin aja mereka nginep di sini." Ucap Morgan. Aku masih saja ragu.
"Nanti kalau mereka tahu kamu ada di sini gimana? Fla dari kemarin panik nyariin kamu lho." Ucap ku, Morgan seketika terdiam mendengar ucapan ku.
"Aku pergi sebentar ke toko buku sampai mereka semua datang. Anggap aja aku baru sampai di sini. Kamu gak perlu gugup." Jelas Morgan. Pikiran ku mulai terbuka. Ternyata Morgan sangat cerdas. Asal jangan di pakai untuk membohongi ku saja.
"Oke." Simpel ku. Ia menenggak air terakhir di dalam gelasnya. Ia meletakkan kembali gelas yang sudah kosong itu di atas meja.
"Aku jalan dulu." Ucapnya sembari mengelus-elus rambut ku.
"Eh, gak mandi dulu?" Tanya ku yang tak sempat karena Morgan sudah pergi sebelum aku selesai bertanya.
"Drrrttttt..." Beberapa pesan masuk secara bersamaan. Aku membuka isi pesan ku.
"Ini orang lama amat ngetiknya." Ray.
"Ya ampun dari tadi ternyata nungguin?" Lirih ku bertanya-tanya. Aku tertawa kecil setelah membacanya.
__ADS_1
"Tau nih." Rafael
"Bimbang." Fla
"Masih waiting kok, Ra." Ray
"Gaes, gue udah dapet izin nih dari Ayah. Soalnya tadi Kakak gue udah ngasih kabar. Katanya dia ada di toko buku, lagi beli beberapa novel. Kemarin handphonenya ketinggalan di Kampus." Fla
"Terus dia kemarin nelepon gue pake handphone siapa?" Farha.
Jawaban Farha membuat aku sedikit bertanya-tanya. Kenapa dia berkata demikian? Dia sedang membicarakan Morgan?
"Yaudah ki, makasih ya infonya." Farha
Kenapa semakin ke sini, semakin rancu ucapan Farha? Ki? Siapa yang dia maksud dengan panggilan itu?
"Kenapa Far?" Fla
"Kenapa apanya?" Tanya balik Farha
"Itu 'ki' siapa?" Fla
"Omg, maaf salah room." Farha
Ternyata hanya salah kamar chat. Aku sempat berpikiran yang tidak-tidak dengan Farha. Aku pikir Morgan ada sangkut pautnya dengan Farha. Tapi kalau di pikir kembali, Farha terlalu terobsesi saat membicarakan Morgan. dan barusan pertanyaannya jelas-jelas nyambung sekali dengan topik yang Fla ucapkan tadi. Ada apa ya sebenarnya?
"Oh salah room." Fla
"Maaf ya gaes." Farha
"Hadeh. ya ya." Rafael
"Ini gimana heh?" Ray
"Oh ya, Back to topic!" Fla
"Yes.. Okey deh Ra." Fla
"Rafa, bawa makanan yang banyak." Fla
"Tenang aja, disponsori oleh warung emak ku." Ray
"Nah, udah si Ray aja yang bawa." Rafa
"You both." Fla
"Hadeh wanita." Ray dan Rafa mengirim pesan secara bersamaan.
"Mau ikut gak @farha?" Fla
"Iya ikut, tapi gue harus beres-beres kamar dulu ya, mungkin agak maleman ke sana. Share location aja, okey?" Farha
"Ok." Fla
"Ok." Ray
"Ok." Rafa
"Ok." Aku mengetikkan pesan serupa. Buru-buru aku merapihkan meja makan dan mencuci beberapa piring kotor. Entah bagaimana jadinya malam hari-hari ku bersama mereka. Semoga saja semenyenangkan hari ku bersama Morgan.
*
-MORGAN MAIN-
Aku sudah sampai di parkiran Mall tempat aku dan Ara menonton bioskop waktu itu. Aku melangkah jenjang menuju toko buku yang sering aku kunjungi akhir-akhir ini. Banyak sekali wanita yang memandangi ku selama aku berjalan menuju toko buku. Aku sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Kini aku sudah sampai di toko buku. Aku mulai mencari buku yang aku ingin cari.
Setelah lama mencari, akhirnya aku menemukan buku yang aku cari.
__ADS_1
"Greppp.." Aku tak sengaja memegang tangan seseorang yang juga ingin mengambil buku yang sama dengan ku. Aku melepaskan tangannya dan langsung menghadap ke arahnya.
"Maaf, saya gak sengaja." Ucap ku padanya. Aku mulai memperjelas penglihatan ku. Aku shock melihat seseorang yang sedang berdiri di hadapan ku saat ini. Ia berdiri semakin dekat ke arah ku. Kini, kami hanya berjarak beberapa cm saja.
"Gak sangka ya, kita ketemu lagi.."
"Marmut." Sambungnya. Aku menelan ludah ku sendiri. Kenapa dia selalu ada di dekat ku? Jelas-jelas aku sudah menyuruhnya untuk tidak mendekati ku lagi malam itu.
-Flash Back-
Aku membalikkan tubuh ku dan melihat sosok yang tidak asing bagi ku. Kalau tidak salah, dia adalah teman sekelas Ara. Aku tidak begitu mengenalnya . Tapi sepertinya, jauh sebelum sekarang, aku pernah bertemu dengan wanita ini beberapa kali.
"Udah lama banget ya gak ketemu.."
"Marmut." Ia melanjutkan ucapannya yang membuat hati ku sangat kaget. Tidak ku sangka, ia yang mengirimkan kado yang sama persis dengan yang Putri berikan pada ku waktu itu. Apa aku mengenal dirinya? Kenapa aku sama sekali tidak ingat dengan sosoknya?
"Kamu.. Siapa?" Tanya ku yang berusaha memastikan siapa dirinya sebenarnya.
"Udah aku duga, kamu pasti gak inget aku siapa." Ucapannya membuat aku semakin penasaran dengan sosok yang sedang berdiri di hadapan ku ini.
"Saya gak suka bertele-tele seperti ini." Ketus ku. Ia memasang tampang seperti orang yang tidak terima. Aku hanya diam mematung, tidak tahu harus berbuat apa.
"Sikap kamu masih aja belum berubah ya. Dari dulu, aku selalu nunggu kamu buat jatuh cinta sama aku. Tapi, kamu masih aja suka sama Kak Putri!" Ucapnya membentak, membuat aku semakin bingung dengan omong kosong ini. Aku hanya diam sembari memandangnya. Aku berpikir dengan keras, sebenarnya siapa dirinya ini?
Beberapa tahun lalu, saat aku mengenal Putri, apakah aku pernah bertemu dengan dia? Masih samar-samar pikiran ku.
"Saya sama sekali gak kenal sama kamu. Mungkin ada seseorang di masa lalu kamu yang sangat mirip dengan saya." Elak ku yang masih bersikeras dengan pendirian ku.
"Apa kamu gak kenal sama Kak Putri?" Tanyanya. Aku hanya diam memandanginya, berusaha berpikir tentang apa yang akan ia katakan selanjutnya.
"Kamu kenapa diem aja?" Tanyanya mendadak melirih. Aku menjadi iba dengan nada yang ia gunakan itu. Aku tidak punya niat untuk menyakiti siapa pun. Aku hanya tidak ingin jatuh terlalu dalam dengan ucapan mereka semua yang merasa sudah sangat dekat dengan ku. Aku tidak nyaman dengan semua perlakuan mereka pada ku.
"Aku.. Orang yang selalu duduk di samping kalian! Aku orang yang selalu ikut kemana pun kalian pergi. Aku juga orang yang sangat terluka dengan cinta kalian. Aku adik kecil yang selalu memikirkan cinta dari kekasih saudara ku sendiri." Jelasnya membuat aku sedikit tersadar. Aku ingat sekarang! Dia adalah Adik kandung Putri yang mempunyai nama panjang yang sama dengan putri. Farha Putri. Pengakuannya membuat ku sedikit tidak bisa menerimanya. Pasalnya, aku sama sekali tidak merasakan cinta darinya saat itu. Karena, usianya masih sangat muda saat itu. dan aku hanya mencintai kakaknya, bukan dirinya. Aku sama sekali tidak berpikir akan menyakiti dan melukainya kala itu. Aku selalu setuju saat Putri mengajak adiknya untuk menemaninya bertemu dengan ku. Aku pikir, tidak akan menjadi masalah karena mungkin adiknya akan menjadi tameng supaya Putri tidak dimarahi ketika sedang bertemu dengan ku.
"Berarti, kamu Farha?" Tanya ku yang sedikit ingin meyakinkan diri ku. Ia mengangguk kecil ke arah ku.
"Brakkkk.." Tak sadar, handphone ku jatuh dengan sendirinya. Aku hanya diam tanpa memperdulikan handphone ku yang sudah berada di atas rerumputan taman.
"Selama ini aku udah nahan perasaan aku sama kalian. dan setelah Kak Putri pergi untuk selamanya, kamu juga menghilang dari kehidupan ku. Aku ngerasa diri aku tuh kosong tanpa kalian berdua. Aku selalu simpen kado yang aku beli beberapa tahun lalu untuk kamu. Aku gak pernah ketemu lagi sama kamu." Jelasnya. Aku hanya menggelengkan kepala perlahan. Aku tidak bisa menerima kenyataan yang sudah ia jelaskan tadi.
"Ada hubungan apa kamu sama kado yang Putri kasih waktu itu ke saya?" Tanya ku. Aku masih yakin, semua ini ada kaitannya dengannya. Kalau tidak, bagaimana mungkin kado yang ia berikan bisa sama seperti kado yang Putri berikan waktu itu?
"Aku yang nemenin Kak Putri buat beliin kado buat kamu. dan saat Kak Putri ke toilet, aku beli kado yang sama dengan yang ka Putri beli. Cuma beda warna aja. Aku selalu nunggu waktu yang tepat untuk ngasih kado ini ke kamu. Aku gak bisa sama sekali bicara sama kamu. Aku benar-benar malu." Jelasnya membuat ku kehabisan kata-kata. Kenapa kisah ku ini sangat rumit?
"Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk memberikannya. dan di saat itu juga, Aku kehilangan semuanya. Kak Putri pergi untuk selamanya dari dunia ini. dan Kamu.. Pergi dengan seenanknya aja dari pandangan ku." Ucapnya. Aku hanya diam sembari memperhatikan matanya yang mulai mengeluarkan air mata.
"Kamu tau gak? Seberapa keras usaha aku buat ngelupain kamu dan Kak Putri saat itu?" Nadanya lambat laun mulai menipis. Tangisnya pecah seketika. Aku tak tega melihat ia menangis begitu saja akibat kesalahan yang sama sekali tidaj aku sengaja. Bahkan aku baru mengetahuinya sekarang.
"Bruuuuukkk.." Ia memeluk diri ku tiba-tiba, membuat pupil ku melebar karena tidak mempercayai yang ia lakukan ini. Aku sama sekali tidak bisa mengelak, dan aku tidak ingin menambag kesedihannya. Aku hanya bisa diam.
"Kenapa kamu tega begini sih, Gan?" Tangisnya pecah seiring memuncaknya emosi yang ia luapkan.
"Maaf." Lirih ku yang tidak mengerti lagi harus berkata apa. Kecelakan dan kematian Putri, bukan sepenuhnya kesalahan ku.
"Drrrtttt.." Handphone ku bergetar karena notifikasi pesan masuk. Aku hanya memandang layarnya yang menyalah. Aku melihat tertera nama Ara di sana. Aku masih sangat kesal dengannya. Aku tidak ingin memperdulikannya dahulu beberapa waktu ini.
"Aku udah terlanjur cinta sama kamu. Tapi, kamu justru hadir lagi dengan seseorang yang kamu cintai saat ini. Ucapannya sudah semakin melantur. Aku sampai tidak mengerti harus menjawab apa.
"dan Seseorang itu, ternyata teman ku sendiri. Ironi sekali." Tambahnya.
"Saya lagi gak mau bahas dia." Lirih ku. Ia malah mempererat pelukannya pada ku, membuat aku sedikit kesulitan bernafas.
"Drrrrrrrttt.." Handphone ku bergetar lagi. Kali ini pesan dari orang yang sama. Aku merasa ada sesuatu yang tidak enak sekarang. Aku tidak ingin mengabaikan Ara lagi. Aku takut ada sesuatu yang terjadi dengan Ara. Aku berusaha melepaskan pelukannya yang menyesakkan itu. Tenaganya sangat kuat, memaksa ku untuk mengeluarkan seluruh energi ku yang tersisa.
"Lepas!" Bentak ku. Ia seperti tidak terima di perlakukan seperti itu pada ku.
"Gak usah kasar gitu dong!" Ia berbalik membentak ku. Aku tidak memperdulikannya. Aku langsung saja mengambil handphone ku yang masih berada di atas rumput dan membuka pesan dari Ara. Aku membacanya dan sangat terkejut dengan yang sedang terjadi menimpa Ara. Tanpa basa-basi lagi, aku pergi meninggalkan dirinya sendirian di sana. Aku bergegas menuju mobil yang ku parkir secara sembarang di halaman depan taman kota.
__ADS_1
@sarjiputwinataaa