
*
Suasana nampak mencekam sekali di
dalam mobil. Morgan menggas mobil dengan sangat cepat karena sore menjelang
malam, jarang sekali kendaraan yang melewati jalanan ini. Aku sangat khawatir
dengan keselamatan aku dan Morgan. Aku memperhatikannya yang selalu melirik ke
arah kaca spion. Aku tidak tahu dengan yang sebenarnya terjadi. Ia hanya terus
menerus melihat ke arah spion sembari sesekali menambah kecepatan mobil yang ia
kendarai. Aku pasrah melihat Morgan seperti ini. Aku juga tidak berani untuk
bertanya padanya. Aku khawatir kalau sampai mengganggu konsentrasi menyetirnya.
“Tseetttt....” Seseorang menyalip mobil yang aku tumpangi
menggunakan motor. Syaraf otak ku seketika menjadi tegang. Morgan hampir saja
menabrak pemotor itu karena dia yang seenaknya memotong jalan kami secara tajam
menukik.
“Ngiiiikkkkkkkkk...” Morgan berusaha mengerem agar terhindar
dari tabrakan yang tidak diinginkan.
“Greeeeppppp...” Aku yang takut dan tegang dengan situasi
semacam ini, hanya bisa memegang lengan kiri Morgan. Aku tidak ingin
membuyarkan konsentrasinya.
“Dia semakin dekat.” Lirih Morgan setelah melirik ke arah
spion. Aku menoleh ke arah yang ia lihat. Terlihat beberapa mobil yang terus
membuntuti kami. Aku kurang yakin dengan firasat Morgan. Sengaja aku meraih
stir kemudian membelokkan ke arah kiri dan kanan. Morgan terlihat sangat kaget
mengetahui sikap ku.
“Eh kenapa, Ra?” Paniknya, aku hanya berfokus pada mobil
yang berada di belakang kami. Ternyata memang benar dua mobil yang di belakang
ku itu sengaja mengikuti gerak-gerik kami. Mereka mengikuti gerakan mobil ku ke
kiri dan ke kanan.
“Bener! Mereka ngikutin kita gan! Loe harus cepet, sebelum
mereka berhasil nyergap kita.” Ucap ku dengan nada sedikit takut. Morgan
terlihat bersikap datar lalu melajukan dengan cepat mobil yang ia kendarai.
“Brukkk!!!”
“Awwwww...” Kami menabrak jalan berlubang. Mobil langsung
oleng namun masih bisa di atasi olehnya. Entah kenapa, di waktu yang masih
belum larut ini sudah terbilang cukup sepi. Morgan berhenti tepat di SPBU yang
ada di hadapannya. Aku melirik spion dan terlihat dua mobil yang membuntuti
kami pun tidak berbelok ke arah sini. Aku mulai bisa bernafas lega saat ini.
Terlihat Morgan yang masih sangat tegang. Ia menoleh ke arah ku yang sudah
lemas saat tahu situasi semacam ini. Aku mengatur nafas ku yang sangat tidak
beraturan. Morgan memeluk ku dengan erat. Aku hanya bisa diam karena sisa
ketegangan itu masih terasa sampai sekarang.
“Maaf.” Lirihnya yang berbisik di telinga ku. Aku tidak
menghiraukannya. Aku sangat takut dan khawatir kalau saja mereka berhasil
menyergap kami. Kalau pun mereka tidak berhasil, siapa yang tahu kalau kami
akan baik-baik saja atau tidak? Bisa saja kami menabrak seseorang atau sesuatu?
Contohnya tadi, kami hampir saja celaka.
“Itu.. Siapa?” Tanya ku yang masih tetap berada di pelukan
Morgan. Morgan hanya diam.
“Cups..” Morgan mengecup pipi ku dengan singkat. Seakan
mewakilkan perasaannya terhadap ku yang mungkin tidak ingin kehilangan ku.
Sikapnya sungguh aneh! Dari mulai di bioskop, sampai sekarang, dia menunjukkan sikap yang aneh yang tidak biasa ia
perlihatkan pada ku.
“Kamu gak kenapa-napa kan?” Tanyanya lirih. Aku menggeleng
kecil. Mungkin memang benar, Morgan sangat memperdulikan keselamatan ku. Tidak
heran sih, karena permasalahan seperti ini sudah bukan hal yang biasa lagi. Ada
beberapa orang yang mengejar kami dari belakang. Siapa pun pasti akan takut dan
khawatir kalau sampai orang yang bersamanya kenapa-kenapa.
“Gak kok. Yang tadi itu siapa?” Tanya ku, Morgan hanya diam
tak bergeming. Aku tahu, dia tidak akan pernah bercerita apapun pada ku. Aku
memakluminya. Aku cuma.. khawatir dengan keadaannya.
“Yaudah kalau loe gak mau kasih tau ke gue, gak papa kok. Gue
cuma.. khawatir sama loe aja.” Ucap ku yang agak ragu. Morgan menatap ku tajam.
“Ikut saya, nanti saya ceritain semuanya.” Ucapnya. Aku
merasakan ada hal yang aneh di sini. Aku menatapnya tegang sembari berpikir,
haruskah aku ikut dengannya kali ini? Sebenarnya, memang ada sedikit rasa
khawatir padanya. Aku tidak tega membiarkan dirinya di kejar seperti ini dengan
orang-orang aneh itu.
“I. Iya tapi, kita mau kemana?” Tanya ku ragu. Ia melirik
jam tangannya.
__ADS_1
“Di dekat sini, ada hotel. Kita Check-in saja semalam.” Ucapnya. Aku melihatnya dengan tatapan
sinis. Aku tidak ingin kejadian aneh terulang kembali antara aku dan Morgan.
Aku tidak mau terus-terusan di buat mabuk olehnya. Aku tidak cukup kuat untuk
bisa menahan godaan dari pesonanya.
“Enak aja! Nanti loe macem-macem sama gue lagi!” Sinis ku,
ia hanya memandang ku datar. Aku kesal dengan sikapnya yang semaunya saja tanpa
ada kompromi dengan ku. Aku tidak kuat kalau harus terus menerus merasakan
tegang bila bersamanya.
“Kalau di luar, saya takut mereka masih ngejar kita. Satu-satunya
cara ya dengan menginap di hotel terdekat. Karena mereka sudah kenal dengan
mobil yang saya pakai. Karena cuma saya yang pakai mobil ini di daerah ini.”
Ucapnya menyadarkan ku tentang keselamatan kami berdua. Meskipun aku tidak tahu
dan tidak ada sangkut pautnya mengenai ini, aku juga tidak sampai hati meninggalkan
Morgan sendirian di sini.
“Okey kalau gitu. Tapi, janji gak akan ngelakuin apapun ya?”
Tanya ku dengan nada menagih. Morgan tersenyum pada ku seakan tidak berani
untuk berjanji pada ku. Aku mendengus kesal dengan perilakunya itu. Kami pun
segera pergi dan menuju ke hotel terdekat yang jaraknya hanya sekitar 200 m dari
tempat kami berhenti tadi.
Di perjalanan menuju hotel itu, aku terus menerus melihat ke
arah spion untuk memastikan keadaan sekitar aman atau tidaknya. Aku sangat
trauma dengan kejadian yang baru saja terjadi. Meskipun, aku sama sekali tidak
terlibat tapi mereka mungkin saja sempat melihat aku bersama dengan Morgan
sejak tadi. Aku dan Morgan sudah sampai pada basement hotel tempat kami
bermalam. Aku berjalan menyelaraskan langkahnya yang jenjang.
“Grepp...” Aku terpaksa menyambar dan menggenggam tangannya
itu. Tangannya terasa dingin sekali. Apa dia sekarang sedang gugup?
“Jangan cepet-cepet sih!!” Bentak ku. Ia tersenyum pada ku.
Entah kenapa, aku sangat kesal karena dalam situasi seperti ini, dia masih saja
bisa tersenyum. Ingin rasanya aku memukul kepalanya itu agar ia bisa kembali
berpikir normal.
Kami melanjutkan perjalanan menuju lobi hotel. Aku dan
Morgan mengambil kunci kamar hotel karena Morgan sudah memesan kamar
sebelumnya. Aku bergerak masuk ke dalam kamar yang sudah ia pesan.
“Ckleeeekk..” Morgan membuka kunci kamar dan mulai masuk ke
dengan segera. Suasana mulai terasa mencekam saat Aku dan Morgan sudah
sama-sama duduk di atas ranjang. Aku tidak tahu mengapa suasana sekarang
mendadak berubah menjadi canggung. Kami duduk saling berjauhan. Sekitar 1 meter
lebih jauh dari jarak biasa untuk orang yang sedang berbincang. Aku tidak tahu
harus memulai pembicaraan dari mana. Aku hanya bisa diam sembari menunggu
Morgan berbicara. Aku melirik ke arahnya yang juga sedang melirik ku. Aku
tertangkap basah sedang melirik ke arahnya. Aku pun mengalihkan pandangan ku
begitu pun dia.
‘Duh.. Kenapa jadi
canggung begini ya?’ Batin ku yang sedang berusaha mengatur detak jantung
ku. Jantung ini berdegup tak karuhan sejak pertama masuk ke dalam kamar hotel
ini. Apa lagi, Morgan juga mengunci kamar ini dengan kunci ganda. Aku jadi
semakin canggung karenanya.
“Ekhmm..” Dehem Morgan. Aku melirik ke arahnya. Terlihat ia
yang nampak tegang dengan wajahnya yang sudah terlihat pucat. Ia melonggarkan
kancing kemeja yang ia pakai.
“Kalo gerah, buka aja jasnya.” Ucap ku asal. Morgan spontan
menoleh ke arah ku. Aku menatapnya dengan tatapan bingung. Apa ada yang salah
dari ucapan ku? Aku menatapnya sinis. Ia pun langsung membuka jas yang ia
kenakan itu.
‘Bodoh!!!! Gue malah
nyuruh dia yang engga-engga!!!! Padahal kan dia gak mau buka awalnya. Kok gue
jadi kayak terkesan murahan gitu ya?’ Batin ku yang terus menerus mengaduh
karena takut dengan perlakuan dia selanjutnya.
“Gimana masalahnya sih? Gue takut, ini bakalan berdampak
serius buat loe ke depannya. Dan mungkin bakalan berdampak buruk juga buat gue
ke depannya.” Tanya ku panjang lebar. Ia hanya diam sambil mengepalkan kedua
tangannya. Lama-lama, aku menjadi muak sendiri dengan sikapnya yang terus
menerus diam.
“Plis deh gan! Diam gak akan bisa menyelesaikan masalah. Gue
gak suka kalau loe terus menerus diam begini. Percuma ada gue di sini yang loe
seret tapi loe gak ada penjelasannya sama sekali ke gue. Gimana bisa gue ngasih
solusi dan nyelesain masalah yang ada sekarang?” Omel ku padanya. Ia menunduk
__ADS_1
seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku khawatir dengan kesehatan mentalnya
kalau ia terus menerus introvert seperti ini. Mungkin, sebuah pelukan hangat
bisa mencairkan suasana.
“Greppp..” Aku memeluknya dengan hangat. Ia tidak bergerak
sama sekali dari posisinya. Aku bingung harus mulai bicara dari mana. Aku ingin
sekali membantunya. Tak lama kemudian, ia membalas pelukan hangat ku. Kami
berdua saling berpelukan untuk melepas ketegangan dari yang telah kami lewati
hari ini.
“Saya takut..” Lirihnya sembari menambahkan erat pelukannya
itu. Aku menahan air mata yang hampir keluar dari pelupuk mata ku. Aku
merasakan kesedihan yang di alami Morgan saat ini. Aku mengelus-elus punggung
Morgan. Aku melepaskan pelukan ku dan menatapnya sendu.
“Saya ceritain dari awal..”
-FLASH BACK MORGAN ON-
Saat itu, aku masih berusia sekitar 18 tahun. Aku masih
harus melanjutkan kuliah ku untuk bisa mencapai tingkat Strata 1. Aku tidak
sengaja mengenal seorang gadis yang sangat unik saat itu. Aku memandangnya
dengan lekat.. Seperti tidak mau menoleh ke gadis mana pun. Singkat cerita, aku
mengajaknya untuk berkenalan. Aku meminta nomor handphone dan kemudian aku
mulai melakukan pendekatan. Aku sangat mencintainya, karena dia adalah gadis
yang susah di dapatkan. Tapi aku tidak menyerah! Aku terus melakukan pendekatan
dengan berbagai cara. Tak jarang laki-laki lain pun ikut berkompetisi untuk
memenangkan hati gadis unik ini. Suatu ketika, aku mengajaknya makan malam dan
sekedar menonton film di bioskop.
“Kamu suka aku ajak makan di sini?” Tanya ku dengan penuh
kelembutan. Ia melahap makanannya sembari mengangguk senang ke arah ku. Aku
senang melihat responnya itu yang sangat lahap dengan makanan yang ia santap. Aku
memandangnya lekat. Mungkin, saat ini aku sudah mabuk dengan kepolosannya itu.
“Ini ada sesuatu.” Lirih ku sembari terus memperhatikan
bagian dagunya yang terkena sisa makanan. Aku meraih dagunya dengan responnya
yang agak kaget membuat suasana nampak kaku. Tapi, aku tidak memperdulikan
dirinya. Aku hanya senang kalau ia terus melakukan hal seperti anak kecil. Aku bisa
memanjakannya kapan pun yang aku inginkan. Kami pun segera menuju ke ruang
studio bioskop. Aku sangat senang bisa bercanda tawa dengannya. Aku suka bentuk
bibirnya ketika ia sedang berbicara atau sedang ngambek, yang selalu bisa
menggugah selera ku. Aku duduk di kursi yang tidak terlalu akhir dan juga tidak
begitu di depan. Film pertama kita adalah film horor yang ia pilihkan untuk ku.
Aku tidak masalah dengan film apapun yang akan aku tonton. Aku hanya ingin
bersamanya dan bisa sedikit melakukan adegan mesra dengannya.
Film pun di mulai. Aku dan dia senang karena sudah menunggu
lama dan akhirnya filmnya mulai. Aku menonton ke arah layar sembari memakan pop
corn ku.
“Kamu suka filmnya gak?” Tanya ku padanya sembari terus
memakan pop corn yang ku pegang.
“Tseeettttt...” Aku merasakan sesuatu yang hangat di tangan
ku. Seperti sebuah cairan kental. Aku tidak memperdulikannya. Aku hanya tetap
berfokus pada layar yang sedang ku tonton. Suara berisik orang-orang membuat ku
terusik dan terganggu. Kenapa semua orang menjadi ramai di saat film sudah di
putar? Aku yang penasaran langsung menoleh ke arah gadis itu.
“PUTRI!!!!!!!!!!!!!” Aku berteriak histeris saat
mengetahui Putri sudah tergeletak lemas dan bersimpah darah. Aku melihat sekeliling
ku hanya bisa menatap ku. Aku bingung! Apa yang harus aku lakukan? Aku melihat
sekeliling ku. Aku menemukan pisau yang tertancap pada kursi bioskop yang sudah
di duduki Putri. Ia menembus dari arah belakang sampai pada perut Putri. Aku tidak
bisa berbuat apapun. Aku hanya terdiam lemas sembari melihat keadaan Putri yang
sudah tergeletak lemas. Aku pasrah dengan apapun yang akan terjadi nantinya. Tidak
ada yang berani mendekat dengan alasan sidik jari. Hingga beberapa petugas pun
menghentikan film yang sedang di putar. Mereka dengan cepat datang dengan
membawa polisi dan siap memeriksa keadaan sekitar. Aku hanya terdiam lemas dan
tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Aku sudah seperti orang yang
kehilangan akal sehat. Aku hanya bisa diam sembari menatap Putri yang sedang di
amankan oleh para petugas. Seketika gedung studio pun terasa sepi. Hanya ada
aku, Putri, dan beberapa petugas yang sedang memeriksa. Untuk menangis pun, aku
sudah tak sanggup. Aku sudah benar-benar kehilangan harapan ku. Seorang petugas
menyergap diri ku. Aku menuruti semua keinginannya tanpa basa-basi dan
mengeluarkan suara sedikit pun. Aku sudah tidak berdaya lagi untuk melawan atau
pun sekedar mengucapkan satu patah kata.
__ADS_1
@sarjiputwinataaa