Dosen Idiot

Dosen Idiot
63. Flash Back Morgan


__ADS_3

*


Suasana nampak mencekam sekali di


dalam mobil. Morgan menggas mobil dengan sangat cepat karena sore menjelang


malam, jarang sekali kendaraan yang melewati jalanan ini. Aku sangat khawatir


dengan keselamatan aku dan Morgan. Aku memperhatikannya yang selalu melirik ke


arah kaca spion. Aku tidak tahu dengan yang sebenarnya terjadi. Ia hanya terus


menerus melihat ke arah spion sembari sesekali menambah kecepatan mobil yang ia


kendarai. Aku pasrah melihat Morgan seperti ini. Aku juga tidak berani untuk


bertanya padanya. Aku khawatir kalau sampai mengganggu konsentrasi menyetirnya.


“Tseetttt....” Seseorang menyalip mobil yang aku tumpangi


menggunakan motor. Syaraf otak ku seketika menjadi tegang. Morgan hampir saja


menabrak pemotor itu karena dia yang seenaknya memotong jalan kami secara tajam


menukik.


“Ngiiiikkkkkkkkk...” Morgan berusaha mengerem agar terhindar


dari tabrakan yang tidak diinginkan.


“Greeeeppppp...” Aku yang takut dan tegang dengan situasi


semacam ini, hanya bisa memegang lengan kiri Morgan. Aku tidak ingin


membuyarkan konsentrasinya.


“Dia semakin dekat.” Lirih Morgan setelah melirik ke arah


spion. Aku menoleh ke arah yang ia lihat. Terlihat beberapa mobil yang terus


membuntuti kami. Aku kurang yakin dengan firasat Morgan. Sengaja aku meraih


stir kemudian membelokkan ke arah kiri dan kanan. Morgan terlihat sangat kaget


mengetahui sikap ku.


“Eh kenapa, Ra?” Paniknya, aku hanya berfokus pada mobil


yang berada di belakang kami. Ternyata memang benar dua mobil yang di belakang


ku itu sengaja mengikuti gerak-gerik kami. Mereka mengikuti gerakan mobil ku ke


kiri dan ke kanan.


“Bener! Mereka ngikutin kita gan! Loe harus cepet, sebelum


mereka berhasil nyergap kita.” Ucap ku dengan nada sedikit takut. Morgan


terlihat bersikap datar lalu melajukan dengan cepat mobil yang ia kendarai.


“Brukkk!!!”


“Awwwww...” Kami menabrak jalan berlubang. Mobil langsung


oleng namun masih bisa di atasi olehnya. Entah kenapa, di waktu yang masih


belum larut ini sudah terbilang cukup sepi. Morgan berhenti tepat di SPBU yang


ada di hadapannya. Aku melirik spion dan terlihat dua mobil yang membuntuti


kami pun tidak berbelok ke arah sini. Aku mulai bisa bernafas lega saat ini.


Terlihat Morgan yang masih sangat tegang. Ia menoleh ke arah ku yang sudah


lemas saat tahu situasi semacam ini. Aku mengatur nafas ku yang sangat tidak


beraturan. Morgan memeluk ku dengan erat. Aku hanya bisa diam karena sisa


ketegangan itu masih terasa sampai sekarang.


“Maaf.” Lirihnya yang berbisik di telinga ku. Aku tidak


menghiraukannya. Aku sangat takut dan khawatir kalau saja mereka berhasil


menyergap kami. Kalau pun mereka tidak berhasil, siapa yang tahu kalau kami


akan baik-baik saja atau tidak? Bisa saja kami menabrak seseorang atau sesuatu?


Contohnya tadi, kami hampir saja celaka.


“Itu.. Siapa?” Tanya ku yang masih tetap berada di pelukan


Morgan. Morgan hanya diam.


“Cups..” Morgan mengecup pipi ku dengan singkat. Seakan


mewakilkan perasaannya terhadap ku yang mungkin tidak ingin kehilangan ku.


Sikapnya sungguh aneh! Dari mulai di bioskop,  sampai sekarang, dia menunjukkan sikap yang aneh yang tidak biasa ia


perlihatkan pada ku.


“Kamu gak kenapa-napa kan?” Tanyanya lirih. Aku menggeleng


kecil. Mungkin memang benar, Morgan sangat memperdulikan keselamatan ku. Tidak


heran sih, karena permasalahan seperti ini sudah bukan hal yang biasa lagi. Ada


beberapa orang yang mengejar kami dari belakang. Siapa pun pasti akan takut dan


khawatir kalau sampai orang yang bersamanya kenapa-kenapa.


“Gak kok. Yang tadi itu siapa?” Tanya ku, Morgan hanya diam


tak bergeming. Aku tahu, dia tidak akan pernah bercerita apapun pada ku. Aku


memakluminya. Aku cuma.. khawatir dengan keadaannya.


“Yaudah kalau loe gak mau kasih tau ke gue, gak papa kok. Gue


cuma.. khawatir sama loe aja.” Ucap ku yang agak ragu. Morgan menatap ku tajam.


“Ikut saya, nanti saya ceritain semuanya.” Ucapnya. Aku


merasakan ada hal yang aneh di sini. Aku menatapnya tegang sembari berpikir,


haruskah aku ikut dengannya kali ini? Sebenarnya, memang ada sedikit rasa


khawatir padanya. Aku tidak tega membiarkan dirinya di kejar seperti ini dengan


orang-orang aneh itu.


“I. Iya tapi, kita mau kemana?” Tanya ku ragu. Ia melirik


jam tangannya.

__ADS_1


“Di dekat sini, ada hotel. Kita Check-in saja semalam.” Ucapnya. Aku melihatnya dengan tatapan


sinis. Aku tidak ingin kejadian aneh terulang kembali antara aku dan Morgan.


Aku tidak mau terus-terusan di buat mabuk olehnya. Aku tidak cukup kuat untuk


bisa menahan godaan dari pesonanya.


“Enak aja! Nanti loe macem-macem sama gue lagi!” Sinis ku,


ia hanya memandang ku datar. Aku kesal dengan sikapnya yang semaunya saja tanpa


ada kompromi dengan ku. Aku tidak kuat kalau harus terus menerus merasakan


tegang bila bersamanya.


“Kalau di luar, saya takut mereka masih ngejar kita. Satu-satunya


cara ya dengan menginap di hotel terdekat. Karena mereka sudah kenal dengan


mobil yang saya pakai. Karena cuma saya yang pakai mobil ini di daerah ini.”


Ucapnya menyadarkan ku tentang keselamatan kami berdua. Meskipun aku tidak tahu


dan tidak ada sangkut pautnya mengenai ini, aku juga tidak sampai hati meninggalkan


Morgan sendirian di sini.


“Okey kalau gitu. Tapi, janji gak akan ngelakuin apapun ya?”


Tanya ku dengan nada menagih. Morgan tersenyum pada ku seakan tidak berani


untuk berjanji pada ku. Aku mendengus kesal dengan perilakunya itu. Kami pun


segera pergi dan menuju ke hotel terdekat yang jaraknya hanya sekitar 200 m dari


tempat kami berhenti tadi.


Di perjalanan menuju hotel itu, aku terus menerus melihat ke


arah spion untuk memastikan keadaan sekitar aman atau tidaknya. Aku sangat


trauma dengan kejadian yang baru saja terjadi. Meskipun, aku sama sekali tidak


terlibat tapi mereka mungkin saja sempat melihat aku bersama dengan Morgan


sejak tadi. Aku dan Morgan sudah sampai pada basement hotel tempat kami


bermalam. Aku berjalan menyelaraskan langkahnya yang jenjang.


“Grepp...” Aku terpaksa menyambar dan menggenggam tangannya


itu. Tangannya terasa dingin sekali. Apa dia sekarang sedang gugup?


“Jangan cepet-cepet sih!!” Bentak ku. Ia tersenyum pada ku.


Entah kenapa, aku sangat kesal karena dalam situasi seperti ini, dia masih saja


bisa tersenyum. Ingin rasanya aku memukul kepalanya itu agar ia bisa kembali


berpikir normal.


Kami melanjutkan perjalanan menuju lobi hotel. Aku dan


Morgan mengambil kunci kamar hotel karena Morgan sudah memesan kamar


sebelumnya. Aku bergerak masuk ke dalam kamar yang sudah ia pesan.


“Ckleeeekk..” Morgan membuka kunci kamar dan mulai masuk ke


dengan segera. Suasana mulai terasa mencekam saat Aku dan Morgan sudah


sama-sama duduk di atas ranjang. Aku tidak tahu mengapa suasana sekarang


mendadak berubah menjadi canggung. Kami duduk saling berjauhan. Sekitar 1 meter


lebih jauh dari jarak biasa untuk orang yang sedang berbincang. Aku tidak tahu


harus memulai pembicaraan dari mana. Aku hanya bisa diam sembari menunggu


Morgan berbicara. Aku melirik ke arahnya yang juga sedang melirik ku. Aku


tertangkap basah sedang melirik ke arahnya. Aku pun mengalihkan pandangan ku


begitu pun dia.


‘Duh.. Kenapa jadi


canggung begini ya?’ Batin ku yang sedang berusaha mengatur detak jantung


ku. Jantung ini berdegup tak karuhan sejak pertama masuk ke dalam kamar hotel


ini. Apa lagi, Morgan juga mengunci kamar ini dengan kunci ganda. Aku jadi


semakin canggung karenanya.


“Ekhmm..” Dehem Morgan. Aku melirik ke arahnya. Terlihat ia


yang nampak tegang dengan wajahnya yang sudah terlihat pucat. Ia melonggarkan


kancing kemeja yang ia pakai.


“Kalo gerah, buka aja jasnya.” Ucap ku asal. Morgan spontan


menoleh ke arah ku. Aku menatapnya dengan tatapan bingung. Apa ada yang salah


dari ucapan ku? Aku menatapnya sinis. Ia pun langsung membuka jas yang ia


kenakan itu.


‘Bodoh!!!! Gue malah


nyuruh dia yang engga-engga!!!! Padahal kan dia gak mau buka awalnya. Kok gue


jadi kayak terkesan murahan gitu ya?’ Batin ku yang terus menerus mengaduh


karena takut dengan perlakuan dia selanjutnya.


“Gimana masalahnya sih? Gue takut, ini bakalan berdampak


serius buat loe ke depannya. Dan mungkin bakalan berdampak buruk juga buat gue


ke depannya.” Tanya ku panjang lebar. Ia hanya diam sambil mengepalkan kedua


tangannya. Lama-lama, aku menjadi muak sendiri dengan sikapnya yang terus


menerus diam.


“Plis deh gan! Diam gak akan bisa menyelesaikan masalah. Gue


gak suka kalau loe terus menerus diam begini. Percuma ada gue di sini yang loe


seret tapi loe gak ada penjelasannya sama sekali ke gue. Gimana bisa gue ngasih


solusi dan nyelesain masalah yang ada sekarang?” Omel ku padanya. Ia menunduk

__ADS_1


seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku khawatir dengan kesehatan mentalnya


kalau ia terus menerus introvert seperti ini. Mungkin, sebuah pelukan hangat


bisa mencairkan suasana.


“Greppp..” Aku memeluknya dengan hangat. Ia tidak bergerak


sama sekali dari posisinya. Aku bingung harus mulai bicara dari mana. Aku ingin


sekali membantunya. Tak lama kemudian, ia membalas pelukan hangat ku. Kami


berdua saling berpelukan untuk melepas ketegangan dari yang telah kami lewati


hari ini.


“Saya takut..” Lirihnya sembari menambahkan erat pelukannya


itu. Aku menahan air mata yang hampir keluar dari pelupuk mata ku. Aku


merasakan kesedihan yang di alami Morgan saat ini. Aku mengelus-elus punggung


Morgan. Aku melepaskan pelukan ku dan menatapnya sendu.


“Saya ceritain dari awal..”


-FLASH BACK MORGAN ON-


Saat itu, aku masih berusia sekitar 18 tahun. Aku masih


harus melanjutkan kuliah ku untuk bisa mencapai tingkat Strata 1. Aku tidak


sengaja mengenal seorang gadis yang sangat unik saat itu. Aku memandangnya


dengan lekat.. Seperti tidak mau menoleh ke gadis mana pun. Singkat cerita, aku


mengajaknya untuk berkenalan. Aku meminta nomor handphone dan kemudian aku


mulai melakukan pendekatan. Aku sangat mencintainya, karena dia adalah gadis


yang susah di dapatkan. Tapi aku tidak menyerah! Aku terus melakukan pendekatan


dengan berbagai cara. Tak jarang laki-laki lain pun ikut berkompetisi untuk


memenangkan hati gadis unik ini. Suatu ketika, aku mengajaknya makan malam dan


sekedar menonton film di bioskop.


“Kamu suka aku ajak makan di sini?” Tanya ku dengan penuh


kelembutan. Ia melahap makanannya sembari mengangguk senang ke arah ku. Aku


senang melihat responnya itu yang sangat lahap dengan makanan yang ia santap. Aku


memandangnya lekat. Mungkin, saat ini aku sudah mabuk dengan kepolosannya itu.


“Ini ada sesuatu.” Lirih ku sembari terus memperhatikan


bagian dagunya yang terkena sisa makanan. Aku meraih dagunya dengan responnya


yang agak kaget membuat suasana nampak kaku. Tapi, aku tidak memperdulikan


dirinya. Aku hanya senang kalau ia terus melakukan hal seperti anak kecil. Aku bisa


memanjakannya kapan pun yang aku inginkan. Kami pun segera menuju ke ruang


studio bioskop. Aku sangat senang bisa bercanda tawa dengannya. Aku suka bentuk


bibirnya ketika ia sedang berbicara atau sedang ngambek, yang selalu bisa


menggugah selera ku. Aku duduk di kursi yang tidak terlalu akhir dan juga tidak


begitu di depan. Film pertama kita adalah film horor yang ia pilihkan untuk ku.


Aku tidak masalah dengan film apapun yang akan aku tonton. Aku hanya ingin


bersamanya dan bisa sedikit melakukan adegan mesra dengannya.


Film pun di mulai. Aku dan dia senang karena sudah menunggu


lama dan akhirnya filmnya mulai. Aku menonton ke arah layar sembari memakan pop


corn ku.


“Kamu suka filmnya gak?” Tanya ku padanya sembari terus


memakan pop corn yang ku pegang.


“Tseeettttt...” Aku merasakan sesuatu yang hangat di tangan


ku. Seperti sebuah cairan kental. Aku tidak memperdulikannya. Aku hanya tetap


berfokus pada layar yang sedang ku tonton. Suara berisik orang-orang membuat ku


terusik dan terganggu. Kenapa semua orang menjadi ramai di saat film sudah di


putar? Aku yang penasaran langsung menoleh ke arah gadis itu.


“PUTRI!!!!!!!!!!!!!” Aku berteriak histeris saat


mengetahui Putri sudah tergeletak lemas dan bersimpah darah. Aku melihat sekeliling


ku hanya bisa menatap ku. Aku bingung! Apa yang harus aku lakukan? Aku melihat


sekeliling ku. Aku menemukan pisau yang tertancap pada kursi bioskop yang sudah


di duduki Putri. Ia menembus dari arah belakang sampai pada perut Putri. Aku tidak


bisa berbuat apapun. Aku hanya terdiam lemas sembari melihat keadaan Putri yang


sudah tergeletak lemas. Aku pasrah dengan apapun yang akan terjadi nantinya. Tidak


ada yang berani mendekat dengan alasan sidik jari. Hingga beberapa petugas pun


menghentikan film yang sedang di putar. Mereka dengan cepat datang dengan


membawa polisi dan siap memeriksa keadaan sekitar. Aku hanya terdiam lemas dan


tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Aku sudah seperti orang yang


kehilangan akal sehat. Aku hanya bisa diam sembari menatap Putri yang sedang di


amankan oleh para petugas. Seketika gedung studio pun terasa sepi. Hanya ada


aku, Putri, dan beberapa petugas yang sedang memeriksa. Untuk menangis pun, aku


sudah tak sanggup. Aku sudah benar-benar kehilangan harapan ku. Seorang petugas


menyergap diri ku. Aku menuruti semua keinginannya tanpa basa-basi dan


mengeluarkan suara sedikit pun. Aku sudah tidak berdaya lagi untuk melawan atau


pun sekedar mengucapkan satu patah kata.


 

__ADS_1


@sarjiputwinataaa


__ADS_2