Dosen Idiot

Dosen Idiot
96. Tidak benar-benar Melupakan (SEASON 2 EPS. 14)


__ADS_3

Ara.." Suara itu terdengar kembali untuk yang kedua kalinya. Aku berusaha mencerna suara misterius yang kudengar itu.


"Sraaaakkkk..." Sekelibat bayangan hitam melewati ku dengan begitu cepat. Namun ketika Aku melihatnya kembali, Ia sudah tidak ada.


"Siapa itu?!" Aku berteriak sekencang mungkin untuk memastikan siapa yang sedang mengintai ku.


"Aaaaaaaaah.."


"Brukkk.."


Aku terjatuh ke lantai dan mengenai dagu ku. Seperti ada yang menarik kaki ku.


"Awwwwssss.." Aku merintih kesakitan kemudian bangkit dan melihat keadaan diri ku sendiri.


"Hahh.." Mata ku terbelalak karena melihat darah yang begitu banyak yang ada di tangan ku. Darah segar yang keluar dari dagu karena barusan saja terjatuh, membuat luka yang cukup serius di bagian dagu.


"Siapa yang lagi Loe cari?" Tanya seseorang tiba-tiba yang saat ini berada di belakang ku. Suaranya terdengar familiar sekali. Aku langsung membalikkan badan ku untuk melihat siapa yang memanggil ku tadi.


"Haaaaaaahh.." Aku terkejut dan langsung menutup mulut ku dengan kedua tangan ku. Aku teringat dengan darah yang berlumuran di tangan ku. Tapi saat ku lihat kembali, darah itu seketika menghilang dan keadaan dagu ku saat ini sudah baik-baik saja.Ttidak ada goresan luka sedikit pun. Aku melihat kembali ke hadapan ku. Terlihat sosok yang sudah lama ingin sekali Aku jumpai. Sosok yang sudah lama mengisi hari-hari ku. Seseorang yang dulu Aku cintai, yang dengan sengaja melukai hati ku dengan memilih orang lain untuk berada di sisinya dan mencampakan ku. Air mata pun sudah tak mampu lagi terbendung. Kali ini, Aku telah kalah oleh keadaan.


"Reza.." Pekik ku lirih. Reza tersenyum hangat pada ku. Senyuman yang sama seperti saat pertama kali kita bertemu. Senyuman ini mengingatkan ku kembali betapa berharganya dirinya pada masa itu. Mata ku membulat, terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Aku seperti sedang bermimpi.


"Apa kabar, Arasha?" Tanyanya.


"Tes.. Tes.." air mataku terjatuh saat mendengar kembali suaranya. Seketika tubuh ku bergetar, kaki ku saja sampai terasa tidak bisa digerakkan. Ingin sekali Aku berlari ke arahnya, tapi Aku tidak bisa. Kaki ku seperti tertahan dengan beban yang sangat berat.


"Gue kangen sama Loe, Ra." Ucapnya membuat diri ku semakin tidak berdaya. Jika ini mimpi, Aku lebih baik memilih untuk tidur lebih lama.


"Ini beneran Loe, Za? Tanya ku yang masih setengah percaya. Ia kembali melontarkan senyuman itu dan membuat ku semakin percaya bahwa itu adalah dirinya yang selama ini ku rindukan.


"Kenapa sih Za, Loe harus datang disaat Gue udah sama Morgan? Kenapa, Za? Kenapa Loe dulu ninggalin Gue demi Wanita itu? Kenapa dulu Loe nggak milih Gue aja? Kenapa di saat Gue udah mulai membuka hati Gue buat Morgan, tiba-tiba Loe datang seenaknya nemuin Gue dan bilang kalau Loe tuh kangen sama Gue?" Tanya ku dengan sedikit nada tinggi. Amarah ku meledak-ledak saat ini. Reza tidak bisa mengatakan apapun. Ia hanya tersenyum dan sama sekali tidak bergeming membuat ku semakin ingin dan ingin memeluknya.


"Tolong jangan siksa Gue sama rasa yang nggak jelas kayak gini. Gue udah milih Morgan dan Loe juga udah milih Wanita itu. Lantas, kenapa Loe sekarang balik lagi? Apa Loe belum cukup puas buat bikin hati Gue hancur, Hah?" Pernyataan ku membuat ia menatap ku dengan miris. Perlahan ada cahaya misterius yang muncul dari dalam dirinya. Aku sampai kesulitan untuk melihatnya.


"Jaga diri baik-baik ya, Ra. Nanti Gue pasti balik lagi kok." Pesannya yang perlahan mulai lenyap. Mata ku membelalak menatap ke arah dirinya yang perlahan meredup.


"Gak usah Loe balik lagi di kehidupan Gue! Gue nggak akan sudi buka hati Gue lagi untuk Loe!" Tolak ku dengan keras. Reza lagi-lagi tersenyum miris pada ku.


"Selamat tinggal, Arasha.." Ucapnya terakhir kali sebelum akhirnya Ia benar-benar pergi dan hilang. Lucu sekali, Ia tiba-tiba datang kemudian tiba-tiba saja pergi. Ia tidak hanya begini sekali pada ku. Melihat kepergiannya, Aku menjadi semakin histeris.


"Iya, Za! Selamat tinggal! Pergi dan jangan balik lagi ke sini! Gue nggak butuh Loe, nggak butuh! Loe denger itu, Za!Camkan." Tangis ku seketika pecah. Semua memori yang sudah kami lewati, seketika terlintas jelas di benak ku. Aku seperti sedang melihat sebuah bioskop besar berisi kenangan indah ku bersamanya. dan tidak hanya satu, mereka semua mengelilingi ku. Aku berputar mengikuti poros sampai Aku sadar, Aku tidak benar-benar melupakannya. Aku masih mengingatnya jelas di pikiran ku.

__ADS_1


"Reza!!!” Teriak ku sekencang mungkin. Seseorang berlarian ke arah ku.


"Ra, Kamu nggak papa? Kamu kenapa?" Tanyanya. Suaranya terdengar tidak asing ditelinga ku. Spontan Aku langsung melihat ke arahnya. Morgan? Kemana Reza yang tadi kulihat? Aku menoleh ke sekeliling ku dan memperhatikan setiap sisi ruangan. Apa barusan Aku baru saja bermimpi? Tapi kenapa mimpi itu terasa sangat nyata? Aku akhirnya meyakinkan diri ku kalau memang benar Aku sedang bermimpi. Aku meremas kencang rambut ku. Kepala ku terasa sangat berat, Badan ku seperti menggigil, Aku seperti kehilangan tenaga.


"Ra, Apa yang terjadi sama Kamu, Ra? Apa yang Kamu rasain? Ngomong sama Saya, Ra." Tanya Morgan yang terlihat sangat panik. Kenapa katanya? Aku sendiri juga tidak mengetahui diri ku kenapa. Aku pun tidak tahu sekarang Aku sedang berada di mana. Suasana ini sangat familiar, namun Aku sama sekali tidak bisa mengingatnya.


"Ini di mana, Gan?" Tanya ku yang masih melihat ke sekeliling ku. Ia membelai lembut rambut ku yang tergerai.


"Ini rumah pribadi Saya. Bukankah waktu itu Kamu sudah pernah ke sini? Kamu bahkan pernah menginap di sini, apa Kamu lupa?" Jelasnya yang berusaha keras mengingatkan ku. Setelah dilihat kembali, memang benar Aku memang pernah ke sini. dan memang benar, dilihat dari dinding dan hiasannya, rumah ini memang Rumah pribadi Morgan. Aku menghela nafas ku panjang.


"Kamu kenapa, Ra? Apa perlu kita ke rumah sakit?" Tanyanya membuat ku resah.


"Nggak usah, anterin Aku pulang aja. Aku mau pulang, Gan." Tolak ku. Ia hanya terdiam menatap ku sendu. Tatapannya seperti tatapan orang yang khawatir.


"Nanti siang, Saya akan antar Kamu pulang."


"Enggak, Gan. Aku mau sekarang! Aku mau pulang sekarang, Gan. Anterin Aku pulang sekarang.." Rengek ku.


"Oke kita pulang sekarang. Aku antar Kamu pulang sekarang." Ia mengalah pasrah. Aku mengangguk setuju dengan keputusannya itu. Tak ku sangka, masalah kecil seperti ini sudah cukup membuat ku mengingat semuanya. Semua kenangan yang telah Aku lalui bersama dengan Reza. Ternyata selama ini, Aku membohongi diri ku sendiri. Aku tidak benar-benar melupakannya. Aku hanya mengisi hati ku yang kosong karena ditinggal olehnya. Tetapi di dalam hati kecil ku, Aku sangat merindukannya. Aku kesepian...


*


-MORGAN MAIN-


"Brakkk.." Aku menutup pintu mobil ku dengan lumayan kencang.


"Kruukkk.." Suara perut ku yang terdengar lumayan jelas. Ternyata, Aku kelaparan sekarang. Berhubung pertemuan itu belum dimulai, Aku masih mempunyai kesempatan untuk sekedar bersantai dan sekedar mengisi perut ku yang sudah keroncongan.


Aku berjalan gontai menuju kearah kantin dengan menenteng sebuah tas yang berada di tangan kiri ku. Penampilan ku saat ini sudah rapi memakai jas hitam dan juga kemeja berwarna ungu. Tak lupa juga Aku memakai dasi yang senada dengan warna kemeja ku.


Aku sudah sampai di kantin kampus ku. Aku sampai tidak mengurus dengan benar diri ku sendiri saking khawatirnya dengan kondisi Ara saat itu. Karena keadaan perut ku yang cukup lapar, Aku mencari tempat duduk dan juga melihat ke arah orang yang menjual siomay. Aku melambaikan tangan ku ke arah penjual itu. Dia yang menyadari kedatangan ku langsung mengangguk dan terlihat mengambil selembar kertas menu lalu Ia pun menghampiri ku.


"Eh Pak Morgan, udah lama nggak kelihatan Pak." Sapa penjual siomay langganan ku sembari memberikan selembar menu makanan. Aku pun menerimanya dan membaca daftar menu makanan dan minuman yang dijual olehnya.


"Iya mang. Kebetulan Saya baru balik dari Jepang kemarin." Jawab ku tanpa melihat ke arahnya. Aku hanya fokus pada selembar kertas menu yang Aku pegang saat ini.


"Wah Pak Morgan hebat. Jalan-jalan mulu kerjaannya. Jadi pengen ke Jepang." Ucapnya. Spontan Aku langsung melihatnya dan tersenyum tipis.


"Nggak kok, mang. Kemarin Saya ke Jepang untuk menjenguk kerabat yang sakit." Tepis ku. Ia hanya ber-oh-ria. Aku jadi teringat sesuatu.


"Oh ya sebentar.."

__ADS_1


Aku merogoh tas ku untuk mengambil beberapa pernak-pernik yang sudah Aku beli kemarin bersama dengan Ara. Aku memang sudah berniat untuk membagikan sedikit oleh-oleh kepada semua teman ku, Dosen dan juga para UMKM yang ada di kampus ini. Ketika sudah menemukannya, Aku langsung menyodorkannya ke arah penjual siomay itu.


"Ini mang, ada sedikit oleh-oleh yang Saya beli dari Jepang kemarin. Tolong dibagikan ya mang untuk semua UMKM yang berjualan di kantin kampus ini. Ya walaupun cuma sekedar gantungan kunci." Ucap ku sembari memberikan seplastik pernak-pernik pada penjual siomay itu. Ia terlihat sangat senang saat menerimanya.


"Wah Pak Morgan baik banget. Makasih banyak, Pak Morgan. Mudah-mudahan sukses selalu! Pasti nanti Saya sampaikan kok kepada semuanya."


"Iya mang sama-sama. Oh ya, Saya pesan siomaynya dan jus alpukat. Gak pake lama ya mang."


"Siap, Pak Morgan. Tapi Pak Morgan ngomong-ngomong waktu itu cewek yang diam-diam beli siomay padahal gak boleh jajan sembarangan kayaknya deket banget ya sama Pak Morgan." Singgungnya. Aku tersenyum tipis ke arahnya.


"Nggak kok perasaan mamang aja kali." Tepis ku. Aku tidak mau sampai ada gosip yang tidak-tidak di kampus ini. Aku lebih baik menutupi dulu semuanya.


"Tetapi bener kok deket banget kelihatannya. Apa jangan-jangan, Pak Morgan sama dia..."


"Gan.." Panggil seseorang dari belakang ku. Spontan Aku langsung menoleh ke arahnya. Terlihat Dicky yang memakai jas hitam rapi beserta kemeja dan juga dasinya. Tak lupa ia membawa tas yang ia tenteng di sebelah kirinya. Ia berlari agak cepat menghampiri posisi ku. Ia duduk di samping ku dan menaruh tasnya di atas meja.


"Gue cari dari tadi, ternyata Loe ada disini." Ucapnya yang terdengar masih dengan nafas yang terengah-engah. Aku mengernyitkan dahi ku kearahnya.


"Ada apa nyariin Saya?" Aku terheran karena mendengar Ia mencari ku.


"Eh kebetulan mang. Pesen siomaynya dong seporsi terus minumnya jus mangga ya. Tambahin juga air mineral 2 botol." Ucap Dicky yang mengalihkan pandangannya ke arah penjual siomay itu.


"Oke deh Pak Dicky dan Pak Morgan sebentar ya." Ia pergi meninggalkan kami. Dicky membuka semua kancing jasnya. Aku tersadar dengan kancing jas ku. Setelah Aku menoleh, Aku lupa membuka kancing jas ku. Dengan cepat Aku pun membuka kancing jas ku.


"Kayaknya beberapa hari ini, Loe nggak kelihatan deh. Sibuk banget kali? Sampai-sampai Prof. Handoko marah banget karena Loe susah banget dihubungin." Ucapnya. Aku hanya diam.


"Eh Gue nanya, Loe ke mana aja kemarin? Sampai handphone nggak dipegang?" Tanyanya dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari yang tadi. Aku menatapnya dengan tatapan datar.


"Saya ke Jepang kemarin, Sama Ara." Jawab ku asal. Dicky membelalakan matanya ke arah ku. Ia seperti tercengang kaget ketika mendengar jawaban ku.


"Hah serius Loe ke Jepang kemarin? Sama cewek jutek itu? Ngapain kalian ke sana?" Tanyanya kaget. Aku membuang pandangan ku darinya. Aku diam tidak menjawab pertanyaannya.


"Jangan-jangan, kalian berdua kawin lari ya?"


"Jangan ngada-ngada deh!" Jawab ku spontan karena Aku tidak mau mendengar hal aneh yang keluar dari mulutnya.


"Lagian kalau beneran, ngapain juga Saya kembaliin Dia ke rumahnya? dan ngapain juga Saya balik lagi ke Indonesia?" Tambah ku. Dicky hanya diam sembari menyengir.


"Ya terus Loe berdua ngapain ke sana? Tau nggak, Prof. Handoko tuh marah-marahin Gue. Dia nanya kabar Loe ke Gue per 1 jam sekali. Gimana Gue nggak stress coba diteror gitu." Jelasnya. Menurut ku Dicky juga tidak sepenuhnya salah. Aku yang salah karena sudah mengabaikan komunikasi. Padahal Aku tahu Aku salah, memaksa meminta cuti 3 hari tapi 2 hari setelah itu aku tidak masuk dan juga tidak mengabari mereka.


"Ya, Saya tahu Saya salah. Tapi salah Prof. Handoko juga, kenapa ngabarin orang malam-malam? Bayangin aja, jam 12 Dia nelpon saya. Gak cuman sekali, sampai 57 kali bahkan." Aku berusaha membela diri ku.

__ADS_1


"Itu karena Loe minta cuti 3 hari tapi gak masuknya 5 hari. Orang panik nyariin Loe padahal Loe tahu kita disini habis ngerjain ujian semester dan banyak jawaban yang harus di input web nilai. Harusnya Loe bisa lebih tanggung jawab sih sama apa yang sekarang jadi pekerjaan Loe. Walaupun Loe di sini Dosen Ekonomi, tapi Loe punya peran ganda buat input nilai Mahasiswa setelah mengerjakan ujian. Bukan begitu, Pak Morgan?"


@sarjiputwinataaa


__ADS_2