Dosen Idiot

Dosen Idiot
49. Terima Kasih


__ADS_3

Aku tersadar dari lamunan ku. Terlihat fla yang mungkin sejak tadi melambaikan tangannya ke arah wajah ku. Mereka semua terlihat heran sekali.


"Kenapa bengong hey?" Tanya Rafa. Aku mendadak tertawa karena membayangkan sesuatu yang tidak pernah aku dapatkan saat zaman SMA.


"Lah.. Malah ketawa." Mereka semua mungkin bingung dengan sikap ku. Aku tersenyum dan memeluk mereka bertiga. Terjadilah pelukan seperti Teletubbies. Aku sangat senang mengenal kalian. Bagaimana cara memberi tahu mereka dengan perkataan yang tidak terdengar sepele?


"Aaaaaaaah so sweet..." ucap mereka kompak. Tak berapa lama kami melepaskan pelukan satu sama lain. Mereka semua nampak bingung dengan sikap ku.


"Ada apa sih, Ra?" Tanya Fla dengan raut wajah penuh keheranan. Aku tersenyum lebar padanya.


"Iya, tumben amat meluk gini?" Rafael membenarkan perkataan Fla.


"Tau nih.. Biasanya kepala gue di jitak mulu ama ini anak." Sambar Ray. Aku semakin cengengesan mendengar mereka semua bertanya sampai mengeluarkan uneg-uneg mereka.


"Terima kasih." Lirih ku. Mereka semua seperti mengerti ucapan ku dan suasana menjadi mellow sekali saat itu. Bahagia bisa mempunyai kalian. Awalnya, aku tidak ingin masuk ke kehidupan kalian dan bahkan aku tidak ingin kuliah. Tapi semua menjadi lebih indah sekarang. Walaupun, aku tidak terlalu menguasai materi beberapa mata kuliah sih. Tapi, ada Fla yang langsung mengajarkan aku. Atau saat aku sedang tidak mood, dia bahkan memberikan contoh soal yang sudah ia buat.


"Gimana nih? Boleh kan kita ke rumah loe?" Tanya Fla. Aku hanya mengangguk senang karena mereka sangat antusias untuk lebih mengenal ku lagi.


*


"Kakak...." Pekik ku seperti anak kecil. Aku berhamburan memeluk kakak yang sedang duduk di kursi ruang tamu.


"Lho.. Tumben? Kamu salah makan?" Tanya kakak. Aku memukul dada kakak.

__ADS_1


"Uhukkkk... Sakit tau." gurau kakak sembari menyentuh dadanya. Ya. Memang aku tidak seserius itu saat memukul dadanya.


"Mmm lagian kakak gitu ngomongnya.." Manja ku kemudian kembali memeluk kakak. Ia membelai halus rambut ku. Kalau sedang seperti ini aku jadi teringat masa lalu aku dengan kakak. Saat aku lari-larian bersama, hujan-hujanan bersama, becanda bersama, makan, tidur, semuanya ku lakukan bersama dengan kakak.


"Heheh iya maaf ya." Lirihnya. Aku hanya diam saja tak merespon.


"Oh ya kak, nanti temen-temen aku mau pada ke sini."


"Lho? Bukannya kamu hari ini mulai les? Gurunya udah dateng lho." Ucap kakak. Aku terkejut. Kenapa kakak tidak konfirmasi sebelumnya dengan ku?


"Lho.. Kakak kenapa gak konfirmasi dulu ke aku? Lagian walaupun aku setuju untuk les tambahan, bukan berarti kakak seenaknya gak ngomong apa-apa ke aku!!" Ucap ku yang menggunakan nada lebih tinggi dari sebelumnya. Kakak hanya terdiam mengerenyitkan dahinya.


"Temen-temen aku mau ke sini sebentar lagi! Kakak bilang udah ada gurunya, mana?"


"Udahlah aku males! Mau ke kamar!" Ketus ku. Aku segera menuju kamar ku. Aku mengunci kamar ku.


"Huaaaaaaaaahhh!!" Aku terkejut karena saat aku berbalik, sudah ada Morgan yang mengunci tubuh ku dengan segera. Aku mendadak gagap tak karuan karena awalnya aku tak sadar kalau itu adalah Morgan.


"Sssstttttttttt...." Morgan menyuruh ku untuk diam. Aku mendadak diam karena terkena sugesti nya.


"Eh ngapain loe ada disini??!! Keluar gak!!" Bentak ku secara spontan. Morgan hanya tersenyum miring kepada ku. Aku mendadak berubah mood menjadi marah sekali.


"Loe mau ngapain lagi sih di sini? Gue kan udah bilang, gue nggak suka sama lo ya!!"

__ADS_1


"Saya juga nggak bilang kalau saya suka sama kamu." Ucapnya menyeleneh. Aku menjadi semakin tertantang untuk segera memukulnya. Sekarang Morgan menjadi seenaknya saja dengan ku.


"Hah.. Maksud loe apa sih ngedeketin gue terus bilang kalau loe enggak suka sama gue? maksudnya apa??" Tanya ku sinis. Morgan hanya diam menatap mata ku.


"Apalagi sekarang loe udah punya pacar. Ngapain loe masih deketin gue dan masih ngejar-ngejar gue? Emangnya sama pacar loe itu loe nggak cukup apa?? Masih kurang body-nya dia? Masih kurang goyangannya dia? Haaaaaaaa?" Ucapku asal cara menyeleneh. Terlihat dia yang hanya diam seperti menahan sesuatu. Kalau pun dia marah, ya apa haknya dia buat marah sama Aku?


"Jawab gue dong! Kok loe diem aja sih?" Tanyaku kembali. Morgan mengelus pipiku tiba-tiba. Aku mulai terbawa lagi dengan alur yang Morgan mainkan. Buru-buru aku sadar bahwa yang ada di pikiran ku itu tidak benar. Morgan sudah mempunyai wanita pilihannya sendiri dan aku tidak boleh merebut siapapun dari orang yang dia sayang. Dari sekian banyak laki-laki di dunia ini, mungkin aku masih bisa bahagia. Walaupun tanpa Morgan..


-MORGAN MAIN-


"Saya cuma mau ngomong, mau nggak jadi tunangan saya?" Tanya ku sembari buru-buru menundukkan kepala ku dan memejamkan mata. Aku tahu pasti dia akan menolak ku. Aku tidak bisa menerima kenyataan itu. Apalagi dia tahu kalau aku punya pacar. Padahal kemarin itu aku hanya bercanda dan mengucap asal saja. Mobil dan handphone itu pemberian dari Meygumi. Dia memberikan ku secara sukarela dengan alasan sebagai hadiah ulang tahun untuk ku . Entah apa maksudnya memberikan hadiah semahal itu kepada laki-laki yang belum tentu akan menerima dia kembali. Karena status kami saat ini hanyalah mantan. Dan tidak selayaknya mantan kekasih untuk menerima pemberian semahal ini. Kalau dulu aku menerima karena hanya untuk bertahan hidup saja di negeri orang. Tidak untuk memerasnya apalagi memanfaatkannya dengan cara keterlaluan. Oh kenapa aku jadi kepikiran dia? Padahal aku mau menyatakan perasaanku hari ini pada Ara.


"Iya mau." Jawabannya membuat hati ku terkejut, kaget, dan kegirangan. Aku melakukan selebrasi atas kemenangan yang sudah aku dapatkan.


"Yaa yuhu yuuu yeyeye..." Aku bersorak girang.


-ARA MAIN-


'H**ah ini orang kenapa si? Dari tadi diem aja tau-taunya malah kegirangan gak jelas?!!' Batin ku yang merasa terganggu dengan Aksi dan sikapnya itu. Padahal sejak tadi Morgan hanya diam saja. Lalu tiba-tiba mengagetkan ku dengan cara selebrasi seperti itu.


"Sumpah ya, gue tuh nggak ngerti apa yang loe lagi pikirin! Yang jelas sekarang, keluar dari kamar gue!!" Aku mendadak menjadi marah sekali dengan Morgan. lagi-lagi dia hanya diam dan membuat ku penasaran dengan apa yang mau dia katakan. Kenapa dia se-misterius itu? Padahal aku sangat benci kalau dia terus menunda-nunda memberitahukan suatu hal kepada ku. Aku ingin tahu sebenarnya....


@sarjiputwinataaa

__ADS_1


__ADS_2