Dosen Idiot

Dosen Idiot
Drama Perselingkuhan 2


__ADS_3

“Udah deh, gue lagi males sama loe, tau gak!” Tepisku, berusaha untuk melepaskan tanganku dari cengkramannya.


“Dengerin saya dulu, Ra--”


“Gak mau!” pangkasku.


Aku berhasil melepaskan diri, namun ia memegang pundakku.


“Aws!” rintihku kesakitan.


MORGAN


Aku terkejut dengan respon Ara, yang seperti sedang kesakitan, padahal aku hanya memegannya sedikit.


“Kamu kenapa?” tanyaku kaget.


Apa dia mempunyai luka?


Ia hanya diam, tak menjawab pertanyaanku. Sepertinya ia malu, dan ragu untuk menjawabnya.


Aku hanya bisa menghela napas, tak berani memaksanya untuk mengatakan kebenaran, jika dia tidak menginginkannya.


“Saya gak akan maksa kamu buat--”


“Tadi... Bisma....” Ia memotong ucapanku, tapi terdengar seperti ragu.


Aku diam sejenak. Pikiranku sudah kacau. Kenapa anak itu bisa melukai Ara seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi?


Aku menghela napas, mencoba menahan amarah, yang seharusnya tidak boleh aku keluarkan. Aku khawatir, Ara akan takut lagi seperti waktu itu.


Aku menatap matanya dengan tajam, sembari berusaha untuk menggenggam tangannya.


Ia menepisnya, sepertinya tidak ingin disentuh olehku. Lagi-lagi aku hanya bisa menghela napas panjang. Aku sadar, aku masih belum bisa merebut hatinya.


Masih terlalu cepat.


Santai saja.


ARASHA


“Selama saya masih ada di sisi kamu, gak ada yang boleh nyakitin kamu,” tegasnya.


Aku hanya mendengar kata-kata itu sebagai lelucon. Tak ada satu kata pun yang bisa mengubah perasaanku padanya. Aku tetap tidak ada perasaan yang spesial terhadap Morgan.


Terserah bagaimana perasaannya padaku.


Aku mendelik, berusaha menyampaikan perasaanku secara tersirat padanya.


“Gue gak peduli loe mau ngomong apa kek... mau ini kek, itu kek,” aku mendelik ke arahnya, “inget ya, Gan, loe gak akan pernah bisa ngubah apapun yang udah ada saat ini!” tegasku.


Aku penasaran dengan reaksinya.


Aku sengaja memperhatikan bola matanya itu.


Morgan masih tetap seperti biasanya, yang hanya diam. Mungkin sembari memikirkan kata apa yang selanjutnya akan ia ucapkan.

__ADS_1


“Saya akan bikin perhitungan ke Bisma!” Ucapnya secara tiba-tiba, yang membuatku sedikit terkejut.


Biar bagaimana pun, aku masih menyimpan perasaan kesal pada Bisma. Jika Morgan membantuku untuk melampiaskan kekesalanku padanya, bukankah itu akan sangat menguntungkan bagiku?


Tapi, aku tidak boleh sampai ketahuan menginginkannya.


Aku harus membuat alibi.


“Terserah, mau loe apa. Sekali lagi yang jelas, loe gak akan bisa ngubah apapun yang ada saat ini!” jelasku.


Aku bergegas pergi meninggalkan Morgan di sana. Tapi lagi-lagi, ia menahan tanganku sampai aku tidak bisa pergi.


Aku menatap matanya dengan penuh kebencian. Aku tidak suka, ia seenaknya menyentuhku. Biar bagaimana pun, aku masih punya harga diri.


“Apa benar, tidak ada tempat untuk saya di hati kamu?” Tanyanya membuatku geli sendiri.


Tubuhku seketika merinding. Siapa yang mau dengan om-om yang usianya jauh di atasku?


“Lepasin!” Bentakku, lalu segera melepaskan cengkraman tangannya dan pergi dari sana.


Ada perasaan yang belum tersampaikan pada Morgan. Namun, aku tak tahu perasaan apa sebenarnya itu. Mulutku masih terlalu kelu jika mengatakan hal yang lebih kasar dari ini.


Benar ucapan Kakak, biar bagaimana pun juga, Morgan masih lebih tua daripada aku. Aku harus bisa menjaga sikap, paling tidak sedikit saja.


Sudahlah. Aku tak mau memperpanjang masalah.


Aku kembali ke kelasku. Kebetulan jam mata kuliah ketiga masih belum dimulai. Aku memasuki kelas dan duduk di bangku. Di sana, sudah ada Fla yang menungguku.


“Dari mana, Ra?” tanya Fla.


Aku duduk di bangku yang berada tepat di depan bangkunya.


Aku tidak ingin Fla tahu, kalau aku baru saja menemui Morgan tadi. Aku tidak mau, ada gosip yang tidak-tidak nantinya. Bagaimana pun juga, aku belum mengenal jauh sifat Fla.


Aku merapikan buku yang berada di mejaku, dan menaruhnya di dalam tasku.


“Anu, Ra...”


Aku menoleh ke arah Fla. Aku heran, kenapa Fla malu-malu sekali berbicara?


Aku langsung menghentikan aktivitasku, dan berusaha melihat ekspresi Fla saat itu.


Terlihat wajah yang bersemu malu di sana.


“Ayah nyuruh gue buat ngajak loe makan malam, malam ini.”


“Deg....”


Hatiku tiba-tiba menjadi tak karuan. Padahal, Fla adalah seorang gadis.


“Makan malam?” tanyaku untuk memperjelas ucapannya.


“Iya. Tadi gue telfonan sama Ayah. Terus ayah seneng kalau sekarang gue udah punya temen. Apalagi, dia tau kalo loe yang nolong gue barusan.” Jawabnya.


Aku merasa tidak enak hati dengan Fla. Lebih tepatnya, dengan ayahnya Fla. Aku sangat bingung, apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


Aku hanya iseng menolong Fla, dan akhirnya aku malah membuat diriku terlibat jauh ke dalam pertemanan yang semakin dalam.


“Emm... gimana ya, Fla.”


Aku merasa ragu dengan ajakannya. Terlihat sedikit tatapan kecewa di wajahnya.


‘Apa salahnya sih? kan makan malem doang.’ Batinku mengiyakan kemauannya.


Aku menjadi bimbang.


‘Makan malemnya sih gak salah, yang salah tuh pasti ada si Jess di sana.’ Batinku yang satunya mencela.


“Emm... ada dia gak?” tanyaku ragu, Fla nampak tidak mengerti dengan ucapanku.


“Hah, dia?” tanyanya seperti tak mengerti.


“Jess.” Jawabku singkat.


Aku tidak mau mencari masalah, di kandangnya. Tak masalah jika masalah itu terjadi di luar rumahnya.


Terlihat dirinya yang sepertinya ragu. Sepertinya tebakanku benar.


“A-ada sih....”


Oh, i see.


Aku khawatir, Jess balas dendam padaku. Bisa saja dia nanti dia membubuhkan racun di makananku? Atau meletakkan obat pencahar di dalam minumanku.


“Brrrr....”


Aku seketika merinding membayangkannya.


Karena lebih berbahaya musuh dalam selimut, daripada musuh yang harus kita hadapi di medan perang.


“Jadi gimana?” tanyanya bingung.


Aku diam, sembari memikirkan keputusan untuk masalah ini.


“Ya, kalau loe berkenan, dateng yaa...” pintanya, “atau mau gue suruh kakak gue buat jemput loe?” ucapnya meneruskan.


Aku membatin, kenapa aku harus terlibat lagi dalam keluarganya yang lain?


‘Kakak? No! Gue gak mau terlibat lebih jauh lagi.' Batinku menolak keras.


Jangan sampai, aku terlibat lagi. Cukup bersama Fla saja. Aku tidak mau terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan Fla.


“Ehh... gak usah Fla. Gue bisa jalan sendiri ke rumah loe, kok.” Tepisku, senatural mungkin agar ia tidak merasa tersinggung dengan ucapanku.


“Serius?”


Aku mengangguk kecil. Fla nampak girang dengan jawabanku yang setuju dengan ajakannya. Ia berusaha untuk memelukku, namun aku menghindarinya.


Aku tidak suka memeluk siapa pun. Bahkan, aku tidak pernah memeluk Reza sekali pun.


“Maap, hehe.” Gumamnya yang nampak malu dengan tingkahnya sendiri.

__ADS_1


“Gak apa-apa, gue cuma gak biasa aja berpelukan sama orang. Bahkan, sama mantan gue sendiri, gue gak pernah.” Jelasku, sepertinya membuat Fla mengerti.


Baguslah, agar tidak ada kesalahpahaman antara kami.


__ADS_2