Dosen Idiot

Dosen Idiot
59. Senyum, Dong.


__ADS_3

"Ayo." Ajaknya. Aku mengangguk kemudian bergegas pergi mengikuti langkahnya.


Aku pergi bersamanya menuju toko perhiasan. Sebelum memasuki toko, ada beberapa Security yang memeriksa kami. Seperti saat sedang di bandara. Semua hal dari kami di periksa dengan alat sensor. Mungkin mereka khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi. Karena memang, toko perhiasan ini terbilang cukup besar dengan sistem keamanan yang cukup ketat, di sertai dengan cctv yang berada di tiap sisi toko. Aku masuk bersama Morgan dengan tas ku yang di titipkan pada bagian keamanan. Aku melihat sekeliling ku. Semua perhiasannya sangatlah bagus. Aku jadi ingin membelinya.


"Pilihin yang bagus, untuk Fla." Ucapnya. Oh! Jadi, orang spesial itu adalah Fla. Aku jadi bersemangat untuk memilihnya. Aku melihat-lihat sekeliling ku. Pilihan ku jatuh pada kalung yang berliontin bunga kecil. Terlihat manis dan tidak terlalu mencolok. Cocok untuk Fla yang memiliki leher yang jenjang.


"Yang ini aja. Bagus banget. Designnya minimalis, tapi elegant kok. Manis karena liontinnya kecil, jadi gak terlalu mencolok." Jelas ku. Morgan nampak berpikir sejenak.


"Yang ini, tolong bungkus mbak." Pinta Morgan. Pelayan itu lalu segera membungkusnya.


"Satu lagi. Cincin." Ucapnya. Aku terdiam.


"Gue gak tau ukuran jari manis Fla. Kalau salah gimana?" Tanya ku. Morgan menatap ku dingin. Aku sangat tidak suka responnya.


"Cocokin aja di jari manis kamu. Ukurannya gak beda jauh kok." Jawabnya. Aku berpikir sejenak.


'Kalau gak cocok kan sayang banget.' Batin ku berpikir keras.


'Tapi.. Itu kan kemauan dia. Yaudah lah."


"Yaudah. Jangan salahin gue kalo gak cocok di Fla ya." Aku mulai memilih cincin yang terlihat bagus untuknya. Tapi aku bingung, semua modelnya sangat bagus dan mungkin cocok di pakai oleh Fla.


'Yang simpel apa yang rame ya?' Batin ku sembari tetap mencari model yang paling bagus.


"Ahh.." Akhirnya aku menemukan model yang cocok. Simpel seperti cincin kawin dengan manik mata yang terang menyalah.

__ADS_1


"Yang ini aja." Tunjuk ku. Aku sudah tidak perlu lagi mencocokkan dengan jari ku. Karena aku sudah tahu standar ukuran jari manis ku.


"Terima kasih." Ucap mereka semua. Kami pun pergi meninggalkan mereka. Tak lupa membawa tas yang aku titipkan di pos keamanan toko itu.


"Tunggu sebentar ya. Saya mau ke toilet." Pinta Morgan. Aku mengangguk kecil padanya. Morgan meninggalkan ku sendiri di dekat eskalator. Aku merogoh tas ku untuk mengambil handphone ku. Aku melihat-lihat galeri di handphone ku.


"Kosong." Lirih ku yang menatap sendu isi galeri ku. Biasanya, wanita seusia ku sering sekali mengambil foto liburan atau hanya sekedar ber-selfie ria saja. Aku menghela nafas panjang. Sudah 1 tahun berlalu, namun aku masih saja merasa sakit jika mengingatnya kembali. Hal yang membuat aku tidak ingin mengambil foto lagi. Seandainya waktu bisa ku putar kembali, aku ingin mengulang waktu dimana aku kehilangan orang yang sangat berharga bagi ku. Tentunya, penyebabnya adalah berfoto. Aku menyadari ini bukan kesalahan alat untuk mengambil fotonya, tapi karena kesalahan kami yang lalai pada saat memotret.


Bayang-bayang kejadian itu masih terngiang di pikiran ku walaupun hanya samar. Tapi selama 1 tahun ini, aku mulai bisa mengikisnya sedikit. Jika teringat hal itu lagi, kepala ku akan terasa seperti ingin meledak. Sakit yang tak bisa ku tahan itu pasti akan muncul. Hati ku terenyuh, mengingat setiap kata yang aku dengar dari mulutnya. Sedikit bernostalgia kisah ku dengannya.


-FLASH BACK ON-


Aku selalu bahagia dengan kehadirannya di sisi ku. Aku tak pernah bosan memandang setiap sisi dirinya. Aku melipat kedua tangan ku dan menyandarkan rahang ku. Satu senyuman mengembang di pipi ku sesaat setelah aku melihat ke arah kamera yang ia pegang. Setiap libur akhir pekan, kami selalu menyempatkan diri untuk berlibur atau hanya sekedar jalan-jalan saja. Di setiap perjalanan tentunya aku sangat menikmati berfoto bersamanya. Aku tak pernah bosan saat ia menyuruh ku terus menerus untuk mengganti gaya.


"Wahh.. Foto loe emang gak ada duanya. Setiap foto yang gue ambil, pasti bagus." Ucapnya. Aku sedikit tersipu di buatnya.


"Karena modelnya gue kan?" Ucap ku memperjelas keadaan. Ia mengusap-usap rambut ku sembari tersenyum simpul.


"Haus gak?" Tanyanya. Aku mengangguk kecil.


"Tunggu ya.. Gue beli minum dulu."


"Siap bos." Aku tersenyum hangat padanya. Aku merasa beruntung sekali memiliki laki-laki sepengertian dirinya.


Aku melihat kembali hasil foto yang di ambil pacar ku itu. Aku tersenyum setiap melihat foto ku bersamanya.

__ADS_1


"Hayooo kenapa senyum sendiri..." Godanya yang sudah duduk di hadapan ku. Aku tersenyum hangat padanya.


"Ihh apa sih." Jawab ku malu. Terlihat ia sedang memegang dua eskrim. Ia menyodorkan ku satu eskrimnya.


"Nih. Es krim manis buat yang orang yang paling manis." Ucapnya yang membuat wajah ku terasa panas. Aku mencolek es krim itu dan mengusapnya pada hidungnya. Ia terlihat kaget kemudian tertawa karena perilaku ku. Kami berdua tertawa bersama dan mulai menjilati es krimnya.


"Loe gak bosen sama gue kan, ra?" Tanyanya yang berhasil membuat aku menghentikan aktivitas ku. Aku melotot kaget ke arahnya. Kenapa dia mengatakan seperti itu? Apa aku terlihat tidak bahagia bila bersamanya?


"What do you mean?" Tanya ku. Ia tersenyum seperti tidak terjadi apapun.


"Hihi.. Kenapa sih?"


"Jelasin yang loe maksud tadi tuh apa!" Bentak ku. Ia mengubah posisi menjadi berbaring di paha ku. Ia menjilati es krim yang tersisa. Ia bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun. Aku menahan emosi ku. Ia mengangkat sebelah tangannya ke atas sembari memandanginya. Aku jadi ikut memandangnya.


"Gue cuma.. Sedang tidak percaya diri." Ucapnya membuat aku kembali melihat ke arahnya. Orang yang selalu ada untuk ku, selalu menyemangati ku di saat aku jatuh dan terpuruk, orang yang tetap tersenyum meski dalam keadaan sulit, orang yang bahkan tidak pernah berani menyentuh ku lebih dari batas itu.. Sekarang memberitahukan sisi kelemahannya. Aku merasa, dia adalah laki-laki yang spesial. Dia tidak ingin membebankan pikiran orang yang mencintainya.


"Tess..." Air mata ku tiba-tiba jatuh tanpa ku sadar, dan jatuh tepat di pipinya. Ia mendadak menatap ku dengan tatapan khawatir. Sebenarnya, aku tidak ingin membuatnya khawatir. Aku pun tidak sengaja meneteskannya.


"Siapa yang nyuruh loe buat nangis?" Tanyanya. Aku semakin terenyuh dan air mata mulai deras membanjiri pipi ku.


"Ehehe udah dong.. Kena pipi nih." Candanya. Aku menutup wajah ku dengan lengan ku.


"Senyum, dong."


@sarjiputwinataaa

__ADS_1


__ADS_2