Dosen Idiot

Dosen Idiot
76. Teror Fans


__ADS_3

"Jika ada pertanyaan, bisa tanyakan langsung ke saya." Ucap ku, ia terlihat mengerenyitkan dahinya.


"Bagaimana saya bisa bertanya, saya gak punya nomor telepon Pak Morgan. Kecuali, dengan baik hati, Pak Morgan bisa memberikan nomor handphonenya kepada saya." Ucap Tata. Ingin sekali aku marah padanya. Tapi, aku tidak ingin semua orang mengetahui hubungan ku dengannya. Aku tidak ingin membuat siapa pun salah paham terhadap ku.


"Silahkan, kita menuju ke tempat berikutnya." Ucap ku dingin kemudian pergi meninggalkan mereka yang mulai mengikuti ku dari belakang. Mungkin, saat ini Tata sedang menahan marah dan malu karena aku tidak memperdulikannya. Habisnya, kenapa dia tidak bersikap profesional di sini? dan kenapa kebetulan sekali, tiba-tiba ia bekerja di kampus ini? Apa dunia ini tidak cukup luas untuk dirinya?


Aku memperkenalkan setiap sudut ruangan yang kami lewati. Dengan Tata yang selalu mendekati ku. Aku terus menerus menjaga jarak dengannya. Aku ingin acara ini berjalan sesuai dengan rencana. Aku tidak ingin Tata menghambat pekerjaan ku.


-RAFAEL MAIN-


Aku memperhatikan Kak Kim dari belakang. Ia membalikkan badan dan menuju ke arah Pak Morgan. Aku mengikutinya dari belakang.


"Ah.."


"Happp..."


Aku menangkap Kak Kim yang hampir saja terjatuh karena tersandung dengan kakinya sendiri. Untung saja, aku bisa dengan cepat menangkapnya. Pandangan kami pun bertemu sedekat ini untuk pertama kalinya. Aku hanya bisa merasakan jantung ku yang berdegup melampaui batas wajar. Biasanya, tidak seperti ini. Apa aku sudah memasuki fase jatuh cinta berikutnya? Secepat ini kah? Hanya dengan sebuah tatapan mata? Per sekian detik, aku memandangnya dengan lekat. Lalu ia berusaha melepaskan diri dari ku. Aku langsung saja tersadar dengan apa yang telah aku perbuat padanya.


"Oh, i'm sorry. I don't mean..."


"Munje eobs-oeyo." Potongnya. Aku tidak mengerti dengan maksudnya. Aku memang ada sedikit keturunan Tionghoa. Walaupun serumpun dengan ku, tapi ada beberapa bahasa yang tidak aku mengerti. Aku hanya diam sembari memandangnya dengan tatapan bingung. Apa dia mengira, aku juga mengerti bahasanya? (Munje eobs-oeyo \= Tidak masalahs)


"What the meaning of.." Tanya ku yang terpotong karena memandangnya. Bagi ku, dia sangatlah hangat. Pandangannya seperti pandangan seekor kelinci yang polos.


"Kalian berdua." Pekik Pak Morgan. Aku langsung menoleh ke arah Pak Morgan yang sedang berhenti di depan sana.


"Masih bisa mengikuti acara ini, atau tidak?" Pertanyaannya di lontarkan dengan nada yang sangat dingin dan datar. Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Joesonghabnida." Ucap Kak Kim sembari sedikit membungkuk ke arah Pak Morgan. (Joesonghabnida \= Maaf)


"Munje eobs-oeyo." Jawab Pak Morgan. Aku terkejut. Kenapa Pak Morgan bisa dengan lancar membalas ucapan Kak Kim? (Munje eobs-oeyo \= Tidak masalah)


Mereka semua pergi menuju tempat selanjutnya. Aku menatap perginya mereka dengan tatapan tak percaya. Kenapa orang seperti Pak Morgan bisa ada di dunia ini? Tampan, dingin, pintar, kaya, gelar dan pangkat, asmara, semuanya dia miliki. Aku jadi sedikit iri dengannya. Seandainya dia bersedia untuk sedikit memberikan kelebihannya itu kepada ku. Agar aku tidak terlalu sulit untuk mendapatkan orang yang aku sukai. Andai saja.


-MORGAN MAIN-


Aku menggiring mereka semua menuju ke aula lukis yang berada di lantai 2. Sembari sesekali aku melirik ke arah Kim Yo Ra yang terus menerus menatap ku dengan tatapan yang aneh. Aku harus bersikap tenang dan harus terlihat se-profesional mungkin. Kini, kami sudah berada di depan pintu ruangan lukis.


"Okey, perhatian untuk semuanya. Kita sudah berada di ruang seni lukis dan akan di mentori oleh Kim Yo Ra. Kita melihat-lihat sebentar ya." Ucap ku. Kemudian aku membuka pintu ruangan tersebut.

__ADS_1


"Ckleeeekkkk..." Aku membuka pintunya. Kami pun perlahan masuk ke dalam ruangan itu.


"Here is the room for painting." Ucap ku dalam bahasa Inggris. Aku tahu, Kim Yo Ra belum terlalu fasih berbahasa Indonesia. Karena ruangan ini yang nantinya akan menjadi ruangan untuk dia mengajar, jadi aku menyesuaikan keadaan dirinya.


"So Kim.." Ucap ku menggantung karena menoleh ke arah dirinya. Ia spontan menoleh ke arah ku. Ada tatapan takut di bola matanya. Aku bisa melihatnya dengan jelas.


"If you need anything, you can directly contact Pak Handoko, as the head of the study program here." Lanjut ku. Ia seperti menundukkan kepalanya dengan cepat.


"Why not just call you?" Tanyanya dengan nada takut. Aku menghela nafas panjang. Ada apa dengan para wanita ini? Apa aku tidak bisa hidup dengan tenang?


"Excuse me, he told you to contact the head of the study program. don't you hear?" Sela Tata dengan nada seperti sedang menyindir Kim. Aku menggelengkan kepala pelan. Kenapa aku tidak bisa hidup dengan tenang kalau ada wanita di samping ku?


"Emm.. Maaf Bu Tata, harusnya gak perlu sampai mengeluarkan nada seperti itu. Karena Kak Kim hanya bertanya." Bela Rafa. Aku berusaha menahan tawa. Kenapa dengan Tata ia memanggil Ibu, dan dengan Kim ia memanggil Kakak? Wajah Tata seketika memerah. Sepertinya, ia kesal dengan ucapan Rafa.


"Sudah. Kita lanjut ke area pencak silat. Gak jauh kok. di lantai dasar." Ucap ku. Mereka semua menyudahi pertengkaran ini. Perlahan, aku menggiringnya menuju lantai dasar. Aku membuka pintu ruangan untuk program pencak silat.


"Ini adalah ruangan untuk Pak Hendi. di sini, sebelum atau sesudah latihan mereka semua di perbolehkan untuk melakukan pemanasan dan pendinginan di ruangan ini. Jadi, setelah siap untuk latihan, baru mereka di ajak atau di giring ke lapangan. Hal ini bertujuan agar memberikan kenyamanan kepada Mahasiswi supaya saat pemanasan tidak terlalu risih karena di lihat oleh orang lain. Bisa di pahami, Pak Hendi?" Jelas ku panjang lebar.


"Okey siap Pak Morgan. Jadi, kalau perlu apa-apa, hubungi siapa ya?" Tanyanya.


"Prof Handoko." Simpel ku. Ia mengangguk paham.


"Clekkkkk..." Aku membuka kunci ruangan ku.


"Brukkkkk..." Aku menutup kembali pintu itu. Aku menghempaskan diri ku di atas sofa ruangan ku. Tak terasa hal seperti ini juga bisa menguras banyak energi ku.


"Drtttt..." Handphone ku bergetar. Aku merogoh kantung celana ku dan melihat isi pesan yang masuk.


"Jangan lupa makan siang." Isi chat dari Ara. Aku tersenyum tipis melihat pesan darinya. Kebetulan sekali, aku sampai tidak sarapan pagi ini. Aku rasa, maagh kronis ku mulai kambuh. Sejak kepergian Putri, hidup ku menjadi berantakan dan juga hancur. Aku jadi sering tidak makan. Yang aku lakukan hanya meminum Shochu saja. Tak ku sangka, itu malah membuat suatu penyakit di diri ku. Untung saja, Arash selalu membelikan makanan saat aku berada di kampus. Kalau tidak, entah mungkin aku tidak akan menyentuh makanan sedikit pun. Seiring berjalannya waktu, aku merubah sedikit pola hidup ku. Saat aku melanjutkan S2 ku di Jepang, aku mulai teratur kembali untuk makan karena Meygumi yang selalu ada untuk ku. Tapi, itu hanya sementara. Aku kembali lagi pada masa kelam ku yang menyiksa diri ku lagi. Terlebih lagi setelah kembali ke tanah air, aku sudah mulai tidak bisa merawat diri ku lagi. Sampai akhirnya aku berpikir untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, karena mengenal Ara. Orang yang sejak dulu aku sukai, sebelum mengenal Putri. Padahal, saat itu Ara masih belum sedewasa ini. Aku mengenalnya saat aku mengunjungi rumah Arash untuk mengerjakan soal persiapan ujian kelulusan SMA bersama-sama. Saat itu, Ara masih sangat kecil. Dia masih sangat imut dan lugu karena usianya yang masih 10 tahun. Indahnya zaman itu.


Aku mengeluarkan dompet ku dan mengambil selembar foto ku dan dia. Aku memperhatikannya dengan sangat bahagia. Saat itu, Ara yang selalu posesif untuk mengajak ku berfoto. Dia suka sekali memotret dirinya. Aku jadi tertarik untuk memotretnya. Setiap aku ke sana, Ara selalu berdandan layaknya anak remaja yang sedang kasmaran. Dengan tujuan agar aku bisa memotretnya dengan cantik. Aku hanya bisa tersenyum.


"Gak kerasa. Perasaan ini udah terkubur selama 7 tahun. dan kembali lagi sekarang." Lirih ku sembari tetap menatap selembar foto itu. Aku merasakan diri ku yang bahagia karenanya.


"Tok.. Tok.. Tok.." Seseorang mengetuk pintu ruangan ku membuat ku tersadar dari lamunan.


"Masuk." Teriak ku. Seseorang masuk ke dalam ruangan ku sembari membawa plastik. Aku penasaran dengan apa yang ia bawa.


"Permisi Pak. Saya mengantarkan makanan yang di pesan cewe yang katanya sih pacar bapak." Ucapnya. Aku agak tersenyum mendengarnya. Tak ku sangka, Ara seperhatian ini sekarang. Aku mengambil bingkisan itu.

__ADS_1


"Makasih banyak ya." Ucap ku. Kemudian sang pengantar makanan pergi dari ruangan ku. Aku duduk di kursi ku sembari membuka makanan yang sudah di pesan Ara. Aku melihat di sana ada nasi goreng kesukaan ku. Aku tersenyum dan mencicipi makanan itu.


Aku mengambil handphone ku. Aku ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada Ara.


"Terima kasih. Makanannya enak." Aku mengetik di kolom chat. Tapi aku rasa, sepertinya itu terlalu formal. Aku menghapus kembali pesan yang aku ketik tadi. Aku kembali memikirkan ucapan yang bagus untuknya.


"Baik banget sih pake ngirim makanan segala." Aku membacanya ulang. Sepertinya, aku mengatakan hal seolah Ara selama ini tidak baik pada ku. Aku kembali menghapus pesan itu.


"Ahhhh... Kenapa pusing sendiri mikirin chat ke pacar sendiri." Kesal ku. Aku memakan kembali makanan ku sambil terus berpikir ucapan apa yang cocok untuk berterima kasih padanya.


"Drrrttttt..." Handphone ku bergetar. Ada satu pesan masuk dengan nomor yang tidak aku kenal. Aku membuka dan membacanya.


"Nasi gorengnya enak kan? Aku tau kamu suka nasi goreng." Isi pesan singkat ini. Aku mendadak kaget dengan isi pesannya. Ternyata, bukan Ara yang mengirim ini. Untung saja aku sama sekali belum mengirim ucapan terima kasih ku. Kalau sudah sempat, mungkin saja anak itu akan berulah lagi. Sifat kerasnya belum bisa aku kendalikan.


"Jadi, siapa yang ngirim ini dan ngaku jadi pacar saya?" Lirih ku sinis. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi. Aku tidak mau menerima apa pun setelah ini.


"Bruukkk.." Seseorang melemparkan sesuatu ke atas meja ku. Aku melihat siapa yang melakukan itu.


"Kenapa?" Tanya ku sinis padanya. Ia bersikap tidak enak sekali.


"Ada fans kakak yang maksa selalu nyuruh aku buat ngasih hadiah ini ke kakak. Kenapa sih, beban banget jadi adiknya kakak? Mereka semua sekarang tau, kalau aku adiknya kak Morgan." Jelas Jessline. Aku sampai kehabisan kata-kata. Ternyata, sudah banyak rumor beredar soal hubungan ku dengan Jessline yang harusnya tidak boleh ada yang mengetahuinya. Aku tidak pernah memaksa Ayah ku menikah lagi atau tidak. Tapi, aku juga tidak ingin di paksa untuk menerima mereka dengan sepenuh hati ku. Walau gimana pun, mereka hanyalah Ibu dan Adik sambung ku saja. Bukan seperti Ayah dan Fla. Kondisi hubungan ku dan Ibu sambung ku juga tidak terlalu baik. Aku lebih sering mengurung diri di kamar di bandingkan harus bertemu dengan mereka berdua. Belum lagi adik laki-laki Jessline yang paling kecil itu. Kerjaannya hanya mengandalkan uang dari Ibunya saja. Sedikit banyaknya, Ayah juga pasti akan memberikan uang kepadanya. Aku semakin tidak betah saja di rumah. Karena setiap hari, mereka semua hanya mementingkan kebutuhan Fla, Jess, dan juga Lian. Dalam bahasa China, Lian berarti tenang dan masuk akal. Tapi, sifat dan namanya itu sangat bertolak belakang. Dia adalah pribadi yang terburu-buru, dan kadang pikirannya di luar nalar manusia. Aneh sekali adik laki-laki ku ini.


"Kalau kamu gak mau, kenapa kamu harus melakukannya?" Tanya ku. Ia menatap ku sinis. Aku membalas tatapannya dengan tak kalah sinisnya.


"Aku gak ada pilihan lain!" Jelasnya.


"Ya harusnya kamu menerima resikonya dong!" Balas ku dengan nada yang sama dengannya. Ia terlihat sangat kesal dengan ku. Ia menatap ku sinis.


"Denger ya Kak, aku sama sekali gak pengen berurusan dengan Kak Morgan. Aku pengen hidup aku tuh tenang!"


"It's okay." Jawab ku. Ia lalu menyodorkan tangannya ke arah ku. Seperti meminta sesuatu. Aku hanya menatapnya saja.


"Paling enggak, Kakak harus ganti rugi sama waktu yang udah aku keluarin." Ucapnya. Aku memelototinya tak percaya. Ia membuat gerakan seolah-olah aku harus memberikan apa yang dia mau dengan segera. Tak ada pilihan lain. Aku mengambil dompet ku di atas meja dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Aku memberikan dengan sombong ke arahnya.


"Tseeeettttt..." Ia merampas uang itu dengan sangat cepat, membuat aku sedikit terkejut karena refleks. Ia menghitung beberapa lembar uang tersebut sembari tersenyum.


"Terima kasih atas kerja samanya."


@sarjiputwinataaa

__ADS_1


__ADS_2