Dosen Idiot

Dosen Idiot
51. Mobilnya Pinter


__ADS_3

18+ Alert


Dosen ini benar-benar menjijikan! Semenjak aku masuk di kampus itu, Aku tidak bisa bernafas dengan lega. Ada saja masalah yang aku temui. Sampai-sampai, aku kehilangan keperawanan ku. Dan itu semua karena Morgan! Dan karena kakak juga yang sudah bersekongkol dengan pihak yayasan kampus.


"Gue harus bilang apa ke Fla tentang kejadian yang sebenarnya?" Tanya ku sinis. Lagi-lagi morgan diam. Tidak merespon ucapan ku. Bukan itu yang aku butuhkan! Aku butuh saran.


"Kalo loe gak mau ngomong, mending loe pergi aja deh!" Usir ku dengan tengil. Morgan merapihkan poni rambutnya. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Drrrtt..." Aku melihat handphone ku yang bergetar karena ada pesan baru yang masuk. Aku melihat di sana tertera nama Fla.


"Pantesan ada mobil Morgan." Pesan singkatnya. Hah? Di mana Morgan menaruh mobilnya? Saat aku masuk ke rumah, tidak ada sama sekali mobil asing di halaman?


Aku melirik Morgan sinis. Aku melototi nya. Ia nampak bingung melihat ku melotot.


"Mobil loe mana?" Tanya ku to the point padanya.


"Mobil? Di pake tadi. Habis nganterin ayah." Ucap Morgan. Aku tidak mengerti ucapannya.


"Maksudnya?" Tanya ku tak mengerti dan juga penasaran.


"Tadi saya ke sini sama ayah. Terus mobil di pake ayah. Terus udah balik lagi mungkin." Jawabnya enteng. Aku masih saja tak mengerti apa yang dia ucapkan.


"Tunggu, kalo loe ke sini sama ayah doang, terus yang anter mobil siapa?"


"Mobilnya pinter, jalan sendiri gak di antar." Jawab Morgan. Aku menahan emosi ku karena mungkin aku sedang di permainkan dengan Morgan sialan itu. Dia pikir aku anak-anak yang bisa dibohongi dengan dongeng seperti itu?

__ADS_1


"Haha. Lucu?" Tanya ku sinis. Morgan menatap ku sinis. Tak mau kalah, aku menatapnya kembali dan tak kalah sinis dengannya.


"Mobil saya memang bisa jalan sendiri. Itu keluaran baru tahun ini." Jawabnya dengan sikap coolnya. Aku tahu, Morgan bukan tipe cowok yang akan berbohong dengan masalah kecil seperti ini. Dan lagi, situasi dirinya memang sedang tidak bercanda. Tapi, apa iya mobil keluaran terbaru bisa berjalan tanpa ada yang mengemudi?


"Teknologi pesat banget ya." Aku menganga mendengar penjelasannya. Bagi ku, ini hanya sebuah omong kosong belaka. Morgan mendecap sembari menggelengkan kepalanya menatap ku. Aku masih saja tidak habis pikir dengan teknologi zaman sekarang. Kenapa aku sampai tidak tahu kalau ada produk buatan manusia yang sekeren itu?


"Kapan-kapan, ku ajak kamu jalan deh." Lirih Morgan, Aku tersadar dan menatapnya dengan tatapan risih.


"Engga!" Tolak ku mentah-mentah. Ia terlihat tertawa kecil setelah mengetahui respon ku. Apa yang lucu dari ku? Padahal aku selalu berusaha memasang tampang yang paling menjengkelkan. Tapi, dia terlihat sudah biasa dengan respon ku.


"Ra.." Pekiknya. Suasana berubah seketika. Aku dan dia saling bertatapan. Wajahnya yang sedikit lusuh itu membuat aku miris melihatnya.


"Besok malam, ikut saya ke rumah ya."


"Deg.." Jantung ku tidak seperti biasanya. Ada apa dia menyuruh ku untuk ikut dengannya?


"Nanti kamu juga tahu." Morgan mengedipkan sebelah matanya. Aku merasa jijik dengan sikapnya yang sok cool seperti itu. Tapi di sisi lain, aku merasa memang gayanya itu sangat cocok dengan pribadinya.


"Tukk.." Tangannya kini berada di atas kepala ku. Ia mengusap rambut ku ke kiri dan ke kanan seakan aku adalah adiknya.


"Hei anak kecil, Jangan suka sama saya ya?" Lirihnya dengan senyuman yang mengandung banyak arti. Dia bilang apa? Apa dia tidak salah sebut dengan meminta aku untuk tidak menyukainya? Apa yang ada di pikirannya saat ini? Kenapa aku tidak boleh suka kepadanya? Suka atau tidaknya adalah urusan ku. Kenapa harus diatur juga untuk masalah seperti ini?


"Aishhhh..." Aku menundukkan kepala ku. Apa yang aku sedang pikirkan tadi? Aku tidak seharusnya berpikir demikian tentang dia. Aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaan ku terhadap dirinya.


"Gak perduli loe mau gimana kek... Intinya, gue sama sekali gak ada perasaan ke loe!!" Bentak ku keras. Morgan tersenyum setelah mendengar ucapan ku. Ia melepaskan koper yang sedari tadi ia pegang dan maju beberapa langkah ke arah ku. Aku merasa terusik dengan langkahnya itu.

__ADS_1


"Ngapain loe?" Tanya ku sembari terus-menerus mengikuti langkahnya ke arah belakang ku. Aku tidak mau sampai bertabrakan dengannya.


"Heh, loe mau apa si???" Tanya ku kembali. Ia masih tetap tidak mau menjawab pertanyaan ku dan malah semakin mendekati ku membuat ku semakin terpojok. Aku terus-menerus mundur sampai aku merasa kaki ku menginjak sesuatu dan aku tergelincir.


"Aaaaaaaa...."


"Hap.." Morgan dengan sigap menangkap diri ku. Kini adegannya sama seperti saat aku terpeleset di kampus waktu itu karena mengintip orang yang ada di dalam ruangan Morgan. Aku sekarang berada di rangkulannya. Pandangan kami pun bertemu. Terlihat mata cokelatnya yang aku sukai itu.


"Drrrrrtttt..." Morgan melihat handphone nya dengan cepat. Ia seperti sedang membaca pesan. Aku tidak tahu, pesan dari siapa itu. Morgan kemudian langsung menaruh kembali handphone nya ke sakunya.


"Kalau mau begini, di kasur aja." Lirih Morgan di telinga ku secara genit. Aku sampai merinding mendengar desahan nafasnya yang berat itu. Apa maksudnya??


"Eh.. Gila loe ya?? Ada kakak gue sama temen-temen di luar!!" Ucap ku meninggi. Morgan tersenyum jahil. Ia menggendong ku seperti menggendong seorang bayi dan ia meletakkan tubuh ku di atas ranjang.


"Bruukkk..." Morgan menindih ku kembali. Aku semakin panas karena khawatir kakak melihat semua kebejatan Morgan dengan ku.


"Awas!! Nanti kakak gue liat!!" Aku berusaha meronta untuk melepaskan diri darinya. Dia tidak bergeser sama sekali dari tempatnya. Kenapa tenaga ku selemah ini? Aku harus belajar bela diri!!!!


"Arash lagi ngajak temen-temen kamu ke mall. Tadi dia ngabarin." Jawabnya sontak membuat ku kaget. Aku memelototinya.


"WHAATTTTTTT?!!!!" Kaget ku memekik. Bisa-bisanya kakak pergi meninggalkan aku dengan morgan di rumah.


"Ayo kita bersenang-senang." Lirih Morgan sembari tersenyum jahil.


"Wait!! Apaan sih loe? Ngapain loe bersikap seolah-olah gue ini pacar loe?? Loe sadar gak sih, kalo loe juga udah punya kehidupan sendiri sama pacar loe!!" Ucap ku panjang lebar.

__ADS_1


"Sttttt...." Morgan menyentuh bibir ku dengan jari telunjuknya. Aku seketika menjadi diam. Matanya selalu mampu membuat aku mabuk. Ketika aku memandang matanya dengan dalam, aku merasakan sensasi yang membahagiakan. Dan ketidak sinkronan antara logika dan perasaan pun muncul. Logika ku menolak, namun perasaan ku bahagia bisa senyaman ini.


@sarjiputwinataaa


__ADS_2