
"Itu karena Loe minta cuti 3 hari tapi gak masuknya 5 hari. Orang panik nyariin Loe padahal Loe tahu kita disini habis ngerjain ujian semester dan banyak jawaban yang harus di input web nilai. Harusnya Loe bisa lebih tanggung jawab sih sama apa yang sekarang jadi pekerjaan Loe. Walaupun Loe di sini Dosen Ekonomi, tapi Loe punya peran ganda buat input nilai Mahasiswa setelah mengerjakan ujian. Bukan begitu, Pak Morgan?" Bidiknya. Aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Aku menghela nafas panjang dan berusaha menerima kesalahan ku.
"Ya, mungkin yang Kamu bilang benar. Sudahlah, nanti Saya akan minta maaf secara pribadi kepada Prof Handoko karena kelalaian Saya semua tugas jadi terlantar." Gumam ku yang mengalah. Dicky kemudian menyeringai ku.
"Nah gitu dong! Ini baru namanya dosen yang berbesar hati untuk menerima kesalahan." Ucapnya yang semakin membuat ku terkekeh. Penjual siomay itu datang menghampiri kami. Ia membawa dua porsi siomay di tangannya. Ia langsung menjajahkannya di hadapan kami.
"Permisi Pak, pesanannya. Sebentar Saya ambil minumannya dulu ya Pak." Ucapnya yang kemudian pergi kembali menuju tempatnya semula. Tak berapa lama Ia pun datang kembali dengan membawa minuman yang tadi kami pesan.
"Ini ya Pak minumannya."
"Makasih ya, mang." Ucap Dicky. Aku hanya melontarkan senyuman tipis ke arah penjual itu.
"Ya udah permisi ya Pak." Ucap penjual itu lagi kemudian pergi menuju tempatnya kembali. Aroma dari makanan ini, sukses membuat perut ku meronta.
"Eh Gan, ngomong-ngomong tadi Loe belum jawab pertanyaan Gue. Loe ngapain berdua ke Jepang?" Ternyata Dia masih ingat yang Ia tanyakan tadi. Kenapa Dia selalu saja ikut campur dengan setiap permasalahan yang terjadi pada ku?
"Kami ke sana hanya menjenguk kerabat yang sakit." Jawab ku dengan nada yang sangat datar.
"Tapi di sana, kalian berdua nggak ngelakuin hal yang macam-macam kan? Ayo jujur!" Bidik Dicky. Ternyata Dia sudah tahu semuanya. Apa mungkin pengalaman dia? Apa hal lumrah jika semua Laki-laki dan Wanita yang sedang melakukan perjalanan jauh dan menginap di suatu hotel yang sama pasti melakukan hal demikian?
"Ya, Kami melakukan semuanya setiap saat." Jawab ku asal. Dicky mendekatkan wajahnya ke arah ku. Ia terlihat membelalakkan matanya. Tapi Aku tidak peduli, Aku malah mengambil makanan yang ada di hadapan ku dan menghabisinya dalam waktu yang cukup singkat. Aku hanya memerlukan waktu 20 detik untuk menghabisi semuanya.
"Ya ampun, Gan! Pelan-pelan kali makannya." Bentaknya. Aku tidak peduli dengan dirinya. Aku mengambil minuman yang tadi ku pesan dan menghabiskannya juga dalam tempo waktu yang sangat singkat. Terasa kenikmatan dan kesegaran jus yang tadi ku pesan.
"Ahhhhhhh..." Diri ku merasa menjadi sangat segar saat menenggak habis tak tersisa jus alpukat itu. Dicky sampai melotot kaget melihat cara makan ku yang seperti maniak. aku tidak peduli urusan mu.
"Loe serius Gan ngelakuin hal itu sama cewek jutek kayak Dia?" Tanyanya yang masih tak percaya. Aku mengeluarkan dompet ku dari saku celana dan mengambil selembar uang untuk membayar pesanan ku. Aku mempersiapkan diri ku kemudian bangkit dan menaruh uang itu di bawah piring.
__ADS_1
"Kepo." Lirih ku kemudian pergi sembari membawa tas ku. Walaupun Dicky beberapa kali memanggil ku, Aku tidak memperdulikan dirinya. Aku hanya berjalan menuju ruangan ku. Aku melihat ke arah jam tangan ku yang ada di tangan kiri ku. Jam menunjukkan pukul 1 siang, sementara rapat akan dimulai dalam 1 jam kedepan. Aku bergegas menuju ruangan ku untuk sekedar melepas penat dan melakukan persiapan untuk menghadiri rapat.
Sesampainya di ruangan ku, Aku segera menutup pintu kembali dan menaruh tas di atas meja. Kemudian Aku duduk untuk meregangkan pinggang ku yang terasa sangat pegal. Tak sengaja, Aku teringat ucapan Ara tadi di saat Ia sedang tidak sadar. Apa katanya?
"Reza.." Lirih ku sendu. Kepala ku mulai terasa berat memikirkannya. Aku memejamkan mata ku dan memegang kening ku dengan tangan kanan ku. Tak ku sangka, ucapannya akan berefek sedalam ini pada pikiran ku. Siapa Laki-laki yang Ia temui di dalam mimpi? Apakah Dia bagian dari masa lalu Ara? Atau malah Laki-laki yang sekarang sedang mengejarnya? Aku merasa diri ku terlalu tidak mempunyai waktu untuk memikirkan perasaan Ara atau sekedar mendengarkan cerita masa lalunya. Aku kelimpungan sendiri saat mendengar nama asing yang terucap tanpa sadar dari mulut Ara.
"Arghhh.." Sifat ku yang sebenarnya emosional pun muncul kembali sekarang. Aku sudah tidak bisa menahan semuanya sendirian. Apa saat ini Aku sedang dilanda oleh kecemburuan ku? Wajar saja, siapapun orangnya pasti akan cemburu jika wanitanya memimpikan Laki-laki yang sama sekali belum pernah Ia bicarakan sebelumnya.
"Tok.. Tok.." Seseorang mengetuk pintu ruangan ku. Dengan segera, Aku membenarkan posisi duduk ku dan bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi.
"Masuk." Teriak ku yang agak kencang. Tak lama kemudian, tamu tak diundang itupun masuk dan duduk di hadapan ku. Ia juga menaruh tasnya di atas meja ku.
"Duh, Gan! Loe ngapain sih tadi ninggalin Gue? Gue kan belum selesai makan." Gumamnya yang terdengar sangat kesal. Aku hanya memandangnya datar.
"Saya merasa sudah selesai makan. Lantas, apa lagi yang harus Saya tunggu?" Pertanyaan ku mungkin saja telah menjebak Dicky. Ia seperti tidak terima saat Aku berbicara seperti itu padanya.
"Tolong bantu pijitin dong. Badan Saya semuanya pegel habis melakukan 'itu' sama Ara." Ledek ku asal. Dicky menatap ku dengan tatapan sinis sekaligus malas.
"Sialan Loe!" Bentak Dicky. Aku tak menjawab apapun. Aku hanya melontarkan senyum tipis ke arahnya.
"Loe nggak seperti Morgan yang biasanya. Kalau ada masalah, coba cerita sama Gue. Biasanya Loe paling anti buat ngungkapin hal yang udah Loe lakuin. Apalagi menyangkut tentang wanita." Bidiknya. Analisanya sangat tepat terhadap diri ku yang sekarang. Apa Dia bisa membantu ku memecahkan masalah yang ada saat ini?
Aku menghela nafas panjang. Aku mulai membuka pikiran ku lebar-lebar. Ya, tak apalah! Siapa tahu dengan keterbukaannya diri ku terhadap masalah ini, Aku bisa mendapatkan jalan tengah dan solusi untuk menyelesaikan masalah yang ada. Terlebih lagi, Dicky adalah Dosen Psikolog yang cukup hebat. Ara saja pernah ketahuan menyukai Dicky saat itu, hanya dengan sekali menganalisis. Memang dasar Gadis bodoh.
"Ya sudahlah, berhubung sudah seperti ini. Ya Loe bener ****, Gue lagi nggak baik-baik aja sekarang. Gue lagi ada masalah. dan masalah itu gak sengaja bikin Gue drop." Ucap ku berterus-terang. Dicky mendekatkan wajahnya kearah wajah ku. Ia memperhatikan ku dengan seksama.
"Coba Loe kasih tau kronologinya. Siapa tau Gue bisa tahu alurnya." Pintanya. Aku menghela nafas dan terdiam sejenak, berusaha memikirkan kata apa yang selanjutnya akan ku ucapkan padanya. Pikiran ku terasa kosong! Hanya karena masalah ini, Aku sampai tidak bisa konsentrasi.
__ADS_1
"Gue ngerasa ada yang beda dari diri Ara sekarang. Gue ngerasa, kalau Dia bukan orang yang Gue kenal dulu. Akhir-akhir ini, Dia berubah drastis. Dia selalu bengong nggak karuan, tiba-tiba Gue ngerasa ada yang janggal dari dia. Saat Gue tanya kenapa dan gimana keadaannya, Dia selalu diam atau menjawab gak tahu." Jelas ku panjang lebar. Dicky mengernyitkan dahinya ke arah ku.
"Pasti ada suatu kejadian sebelum atau setelah itu. Apa Loe ingat kejadian apa yang terjadi setelah perubahan sikapnya Ara?" Tanyanya. Aku mengangguk kecil membenarkan pertanyaannya.
"Tadi sebelum Gue antar Dia pulang, dia mengigau manggil nama seseorang yang gak Gue kenal. Bahkan Gue juga baru pertama dengar Dia nyebutin nama itu. Padahal menurut ilmu psikologi, pasti ada suatu hal yang terjadi diantara mereka kalau sampai Ara menyebutkan namanya dalam keadaan yang tidak sadar. Kamu kan dosen psikolog, Kamu tahu dong apa yang Saya maksud? Bukan begitu, Pak Diki?" Jelas ku yang yang membalas jebakan pernyataan Dicky.
"Jadi ceritanya, Loe balik nyerang Gue nih?" Bidiknya. Aku melipat dan menyedekapkan kedua tangan ku.
"Sudah jawab saja." Paksa ku. Dicky menyenderkan tubuhnya ke kursi yang sedang Ia duduki.
"Ya kalau seperti itu, memang benar ucapan Pak Dosen Morgan. Dalam ilmu Psikolog, memang seperti itu. Pasti ada suatu tekanan atau suatu kejadian yang membuat Gadis itu memikirkan laki-laki yang Ia sebut atau yang muncul di dalam mimpinya. Mereka pasti merasakan sesuatu yang sama sehingga membuat energi yang mampu membuat bayangan dalam keadaan tidak sadar." Ucap Dicky membenarkan. Pikiran ku menjadi semakin tidak tenang. Ingin rasanya Aku meluapkan semuanya.
"Jadi menurut Kamu, Saya harus gimana? Saya harus melakukan apa lagi? Apa Saya harus menarik ulur perasaannya? Atau terang-terangan bilang kalau Saya tidak menyukai yang sedang Dia rasakan saat ini?" Tanya ku. Dicky terlihat diam sembari menatap ke arah depan. Mungkin saat ini, Dia sedang berpikir bagaimana cara agar bisa mengungkap semuanya.
"Kalau seandainya dengan cara mendekat Dia selalu menjaga jarak dengan Loe, dan selalu acuh sama Loe, lebih baik saat ini Loe jaga jarak sama Dia dulu deh! Biar Dia berpikir dan coba Loe kasih waktu dulu ke Dia buat nerima semua keadaan yang sudah terjadi. Paling tidak biarin Dia milih yang mana yang terbaik buat Dia, apakah yang yang sedang Dia jalani sekarang atau Laki-laki lain yang sama sekali kita nggak tahu itu siapa. Nanti pada akhirnya Dia pasti bakal merasa kesepian sih, yang biasanya mungkin Loe nelpon Dia, ngajak jalan Dia, terus biasanya Loe ngajak Dia makan, terus sekarang tiba-tiba ngejauh. Mungkin ada perasaan kehilangan disaat itu. dan Loe juga harus tahu kapan saatnya menarik hati Dia lagi. Jangan sampai Dia berpaling ke lain hati cuman gara-gara sikap dingin Loe ini yang lagi ngulur hati Dia. Percaya aja, semua orang pasti butuh waktu dan mungkin mentalnya Ara sekarang lagi terganggu. Mengingat jarak antara umur Loe sama Ara juga jauh banget. Loe gak bisa nyamain persepsi antara pikiran Loe dan pikiran Dia. Terlebih lagi hampir semua Laki-laki menggunakan logika, berbeda dengan Wanita yang memakai perasaan." Jawab Dicky panjang lebar. Aku hanya diam sembari merenungkan ucapannya. Menurut ku, ini adalah jawaban yang tepat. Aku harus sedikit menjaga jarak dengannya. Biarkan Dia memilih yang mana yang baik untuknya.
"Kalau gitu, terimakasih atas sarannya, ****. Saya pasti dengerin saran dari Kamu. Saya juga nggak mau terlalu memusingkan hal yang belum Saya ketahui dengan pasti. Menurut Saya, ya itu hal yang masih rancu karena memang ada salah dari Saya juga yang belum sempat mengetahui masa lalunya Ara. Tapi Saya dengan PD-nya ngedeketin Dia. Walaupun Saya sudah mengenal Ara jauh sebelum akhirnya Saya bertemu lagi dengan Dia, tapi selama kami berpisah dan tidak bertemu lagi Saya nggak tahu kejadian apa yang terjadi sama Dia dan saat itu juga, Saya juga masih deket sama Putri. Mungkin aja laki-laki yang bernama Reza itu adalah masa lalunya Dia. Namanya saja cinta monyet. Jangankan Ara yang masih berusia 18 tahun, Saya yang sudah seusia ini saja masih mengingat cinta pertama Saya." Ucap ku panjang lebar. Dicky terlihat sedang menahan tawanya. Aku menatapnya datar. Aku tahu apa yang Ia maksud.
"Enggak usah ketawa deh, Saya tahu apa yang kamu maksud." Tukas ku malas. Ia semakin tidak bisa menahan tawanya.
"Ya ampun, santai aja kali Gan. Loe sama Gue kan seumuran." Tawanya pecah. Aku mendadak menjadi kesal.
"Gak usah ngeledek. Saya 3 tahun lebih tua dari Kamu." Matanya membelalak. Ia terlihat sangat kaget.
"Jadi, usia Loe 28 tahun?" Nadanya begitu sangat terkejut. Aku hanya memandangnya sinis. Aku pun bangkit dan merapikan kancing jas ku.
"Saya mau siap-siap. Sebentar lagi rapat dimulai. Kamu kalau mau di sini, silakan saja." Aku pergi dengan dingin dan lagi-lagi meninggalkan Dicky di sana. Apa Aku terlalu kejam? Padahal Dicky sudah membantu ku memberikan solusi atas masalah ku, dan juga untuk mendengarkan ku bercerita. Tapi mau bagaimana lagi, Aku kesal saat Dia menertawai ku seperti itu. Memang, sejak dulu Dia kurang bisa menjaga perkataan dan tindakannya sehingga seringkali membuat ku jengkel dan kesal atas semua ulah yang Dia lakukan. Tapi disisi lain, Dia selalu membantu diri ku di saat Aku susah. Apa lagi kejadian waktu itu yang sampai melibatkan Ara dan juga Pria brengsek itu. Kalau tidak ada Dia, mungkin Aku tidak akan bisa menemukan dimana Ara saat itu. Aku harus memberikan sesuatu untuk Dicky sebagai balasan dan rasa terima kasih ku.
__ADS_1
@sarjiputwinataaa