
“What the hell!” lirih kakak, membuatku mengeringainya.
“Kalau kakak beneran serius, mendingan kakak lamar aja dia.” Aku berusaha menggodanya.
Di mana letak kekurangan kakakku ini? Kekayaan mumpuni, jabatan ada, harta berlimpah, mobil bagaikan showroom, rumah berserakan di mana-mana, pendidikan yang sudah mendapat predikat Magister, masalah fisik dan ketampanan, sudah tidak diragukan lagi, bak idol Korea yang sedang naik daun, tapi bingung turun.
Harusya, dia bisa memposisikan dirinya, sebagaimana mestinya. Tidak seharusnya bisa jauh dari suatu hal, yang dapat merugikannya kelak.
“Gak bisa, Ra.” Kakak mendadak berubah menjadi mellow, membuatku sedikit terenyuh dengan perubahan sikapnya.
“Hah, kenapa?” tanyaku bingung.
“Monica... udah punya pacar,” jawab kakak dengan ragu, membuatku tertegun.
Apa pacar yang dimaksud kakak itu, adalah....
“Bisma?” tanyaku.
Kakak mengangguk pelan. Apa kakak mengenalnya?
‘Shit! Kenapa loe bohongin gue lagi sih, Bis?’ batinku merasa kesal.
Baru saja aku merasakan bahagia, karena Bisma secara tidak langsung melamarku. Tapi, kenapa harus dipatahkan lagi seperti ini?
Ya. Ini gak bisa dibiarkan.
Aku langsung pergi meninggalkan kakak di sana, dan bergegas menuju kamarku kembali. Buru-buru aku mengambil handphone-ku. Berharap Bisma masih ada di rumahnya, atau setidaknya masih belum berada di dalam pesawat.
Aku ingin sekali bertemu dia, untuk menanyakan apa benar yang dikatakan kakak tadi?
-Tuuuuuuuttt-
“.......”
“........”
-Tuuuuuuuuuttt-
“Halo, Ra?”
Terdengar Bisma yang sudah menjawab teleponku, dari sana.
“Loe di mana?” tanyaku dengan nada yang sinis.
Aku sudah tidak bisa santai lagi menghadapi masalah ini.
“Bandara. Nunggu pemberangkatan,” jawabnya dengan enteng.
Aku berusaha menahan emosiku yang hampir meledak.
“Ada beberapa pertanyaan yang harus gue tanyain ke loe,” ucapku, dengan nada yang sebisa mungkin aku tahan.
Aku tidak mau membuatnya mengakhiri teleponnya, sebelum aku mengetahui tentang hal yang aku ingin ketahui.
“Oke… ngomong aja, Ra. Gue juga sembari nunggu.”
__ADS_1
Baiklah, dia sudah memberikan rambu hijau padaku. Aku mempersiapkan diriku, untuk bertanya padanya.
“Kenapa sih, loe selalu bohongin gue, Bis?” tanyaku kesal.
Sepertinya, aku kelepasan. Aku tak kuasa menahan emosiku. Padahal, aku sudah mempersiapkan, agar aku tidak kebablasan nantinya.
“Hah? Bohongin soal apa, Ra?” Nada bisma meninggi, seperti orang yang tidak mengerti.
“Soal--”
“Tuut... Tuut....”
Telepon kami tiba-tiba saja terputus, membuatku merasa sangat jengkel.
Terlihat seseorang dengan nomor yang tidak aku kenal, sedang meneleponku. Itu membuatku kesal, karena sudah memutuskan teleponku dengan Bisma. Aku jadi gagal bertanya padanya.
Aku mengangkat telepon dari nomor asing itu.
BISMA
“Tuut… tuut…”
“Lho... kok mati?” Aku bingung setengah mati.
Gadis ini, membuatku penasaran saja!
“Halo!”
“Ra!”
“Ada apa, ya? Kenapa dia gitu sih? Bikin orang gak tenang aja.” Aku menggerutu karena kesal dengan tingkahnya.
(Nada pesawat akan segera berangkat.)
Terdengar suara pemberitahuan, kalau sebentar lagi pesawat yang hendak aku tumpangi, akan segera berangkat.
Aku mempersiapkan segala barang dan koper yang aku bawa.
Sebetulnya, aku ingin sekali menjawab pertanyaan Ara tadi, atau hanya sekedar berbincang dengannya. Tapi, aku harus pergi.
Aku bisa saja menunggu pesawat datang. Tapi, pesawat yang sudah datang itu, tidak bisa menunggu diriku. Kulangkahkan kakiku dengan berat hati, menuju tangga pesawat.
Aku menaruh semua barang berhargaku di dalam kabin pesawat, lalu duduk di kursi yang sudah aku pesan sebelumnya. Aku menatap langit senja, dengan matahari yang hampir saja tenggelam di ufuknya.
Sampai jumpa lagi, semua kenangan di tanah kelahiranku. Aku akan selalu merindukan kenangan itu. Termasuk kenanganku bersamanya. Arasha.
ARASHA
“Halo, siapa nih?” Ketusku.
Aku berusaha menahan emosiku, karena aku tak tahu sedang berhadapan dengan siapa diriku sekarang.
“Halo, Ra. Ini gue, Fla,” sapanya.
Kenapa dia memakai nomor yang tidak aku kenali? Apa dia mengubah nomor handphone-nya?
__ADS_1
“Oh. Ada apa, Fla? Btw, loe ganti nomor?” tanyaku, yang tiba-tiba berubah mood.
“Enggak ada apa-apa, Ra. Gue pakai nomor yang satu lagi. Sorry ganggu waktu loe, gue cuma mau ngabarin, kalo Kak Morgan udah jalan ke sana. Katanya sih… dia bakal nyampe dalam waktu 20 menit,” ucapnya membuatku sangat terkejut.
“Hah? 20 menit?” Pekikku kaget, sembari menepuk keras keningku.
Terdengar Fla yang sepertinya sedang menahan tawa. Aku menjadi tidak mood sekarang.
“Gak usah sok ketawa deh, loe!” Ketusku kesal.
Fla yang sudah mengetahui sifatku, mungkin sudah memaklumi setiap perkataan yang terlontar dari mulutku. Ia juga pernah berkata padaku, bahwa ia sudah menganggap semua yang aku ucapkan hanyalah bercanda. Dia ingin menjadikanku sebagai sahabat, karena merasa sudah berhutang padaku, karena kejadian dengan Jessline waktu itu.
“Yeh… gausah ngegas gitu kali, Mbak,” ucap Fla, terdengar meleneh.
Aku sampai terkekeh mendengarnya.
Morgan sudah dalam perjalanan menuju ke arah sini, dan aku bahkan belum ada persiapan apapun.
Aku harus bergegas.
“Udah ah, bye!”
“Tuut….”
Aku memutuskan telfon dari Fla.
Kurang ajar sekali diriku ini.
Aku bergegas untuk bersiap. Pakaian apa yang akan aku pakai untuk berkencan dengan Morgan?
Tunggu… apa ini?
What? Morgan mengajakku nonton bioskop? Itu tandanya kan, kencan? Kenapa aku bisa mau diajak kencan dengan dia? Bisa-bisanya aku baru sadar dengan maksudnya ini.
“Gila, ah!” ucapku gemas, yang sudah tidak bisa berpikir secara rasional lagi.
Sudahlah. Lagi pula, ini sudah terlanjur.
Lain kali, aku tidak akan mau menerima tawarannya.
Aku melanjutkan memilih pakaian yang akan aku kenakan. Aku harus pakai style yang mana? Aku merasa, tidak memiliki outfit yang cocok.
“Duh… apaan sih? Besok-besok harus beli baju yang banyak, biar gak bingung kalau mau pergi-pergian!” Geramku kesal.
Aku melihat-lihat isi lemariku, dan mengambil beberapa stel baju, kemudian mencocokkannya di badanku.
Setelah mencocokkan beberapa baju, akhirnya aku memilih kaos polos dengan jumpsuit kesukaanku. Aku memilih tema yang tidak ribet, namun tetap mengedepankan look. Make up pun kuusap seadanya.
Aku hanya mengusap bedak seadanya dan menambahkan sedikit usapan blush on berwarna peach. Menebalkan sedikit ekor alisku, mengoleskan sedikit lip cream berwarna nude di pinggir garis bibirku, dan menambahkan lipstick berwarna merah menyala pada bagian tengah bibir.
Walah… aku siap untuk bertemu dengan Morgan.
Aku memandang diriku di hadapan cermin. Penampilanku kali ini, ternyata tidak terlalu buruk. Aku tersenyum, sembari memperhatikan setiap sisi dari ujung rambut, hingga ujung kakiku.
Aku mengambil sneakers-ku yang berwarna merah muda, dominan putih, yang semakin menunjang penampilanku kali ini. Aku merasa sangat puas dengan dandananku kali ini. Tidak terkesan berlebihan, dan tidak terlalu sederhana. Cocok untuk style gadis seusiaku.
__ADS_1