
“Ra, Would you be my girl?” Tanyanya membuat hati ku sedikit terguncang kembali. Aku sudah tahu ia akan berkata demikian. Tapi, kenapa setiap ia mengatakan itu, hati ku selalu tidak bisa mencernanya? Aku menelan ludah ku
karena tenggorokan ku yang sudah kering dan lidah ku yang terasa keluh untuk menjawab pertanyaanya. Aku menarik nafas panjang dan berusaha untuk menenangkan pikiran ku. Aku ingin mencerna setiap perkataan yang nantinya akan aku ucapkan padanya.
“Yes, i would.” Ucap ku dengan nada yang terbata-bata. Terlihat wajah yang sumringah dari wajahnya yang aku lihat saat ini. Ia mungkin sekarang bahagia karena aku telah menerimanya dengan sepenuh hati ku. Tidak seperti
biasanya yang tidak bisa menerimanya walau sedikit pun. Ia memeluk diri ku dengan erat saking bahagianya dirinya. Aku tertawa kecil melihat perlakuannya dan tingkahnya yang sangat aneh.
“Akhirnya, kamu mau menerima saya.” Ucapnya dengan nada yang sangat senang, kedengarannya.
“Ets.. Jangan seneng dulu loe!” Ucap ku yang berhasil membuatnya menghentikan aksi selebrasinya itu. Ingin sekali aku menjahilinya. Maaf ya, hihi.
“Lho, kenapa saya gak boleh seneng?” Tanyanya. Aku mengerenyitkan dahi ku.
“Kalo loe mau jadi pacar gue, gak semudah yang loe bayangin!” Ucap ku. Ia malah terdiam saat aku berkata seperti itu. Haduh, niat ku kan hanya bercanda dan ingin menjaili mu tahu.
“Kok loe diem sih?” Tanya ku. Ia pun membaringkan tubuhnya di sebelah ku. Aku merasa jahat sekali karena sudah
mempermainkan perasaannya seperti itu. Aku jadi sedikit sedih.
“Apa syaratnya?” Tanya Morgan sembari menutup matanya dengan lengannya.
“Satu, loe gak boleh pake bahasa yang rumit, yang gak gue mengerti.” Jelas ku. Ia hanya diam. Aku rasa, aku
tidak bisa menjahilinya kali ini.
“Kok diem sih! Denger gak?” Tanya ku.
“Iya, dengar kok. Jadi, mulai sekarang, saya harus pakai bahasa yang biasa aja begitu?” Tanyanya balik tanpa
membuka lengannya dan tanpa melihat ke arah ku.
“Yap! Betul. Yang kedua, loe harus janji jangan pernah macem-macem sama gue. Kalau gue gak mau, loe gak
boleh maksa gue buat berhubungan badan sama loe!” Jawab ku. Ia masih tidak bergerak dari posisinya.
“Hmm..” Ia hanya berdehem saja. Membuat aku sedikit kesal karena sikapnya yang masih sama seperti biasanya.
“Ketiga, loe gak usah sok cool lagi sama gue! Inget, gue pacar loe! Loe harus terbuka apapun sama gue! Inget!.”
“Iya.” Simpelnya. Aku sudah tidak perduli lagi dengan semua respon yang ia berikan.
“Keempat, loe gak boleh ninggalin gue dengan alasan apapun!” Ucap ku. Ia akhirnya mengubah posisinya
menjadi menindih ku kembali. Aku sempat malu dengan tindakannya itu. Tapi, untuk apa malu? Kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih.
“Sayang.. Aku pasti berusaha buat bikin kamu nyaman sama aku. Walaupun kadang aku masih belum bisa mengubah sifat aseli yang aku punya. Maafin yang aku ya. Jangan bosen buat ngasih maaf sama aku.” Ucapnya membuat hati ku menjadi sangat lega. Dan, aku juga pertama kalinya mendengar ia mengatakan satu kalimat yang hampir semuanya memakai bahasa informal. Aku tidak bisa hidup dalam ketegangan berbahasa. Aku tidak mau
membuat otak ku berpikir dengan sangat keras karena harus memahami setiap ucapan baku yang terucap dari mulutnya. Aku tersenyum dan mengangguk padanya.
Dan pada akhirnya, aku bisa menerimanya dengan sepenuh hati ku menjadi bagian dari kehidupan ku yang baru.
Walau sangat berat untuk ku ke depannya, aku harus memilih antara Bisma dengan ketidakpastiaannya itu, atau Morgan yang memang selalu ada di samping ku. Akhirnya, untuk saat ini aku lebih memilih orang yang selalu ada bersama ku. Aku tersenyum saat mendengar perkataannya begitu pun Morgan. Kami berdua saling berpelukan sebagai tanda aku menerima cintanya.
“Jadi, bisa gak kita bersenang-senang di malam yang penuh kebahagiaan ini?” Tanyanya. Aku tertegun
mendengar pertanyaannya itu. Aku ingin sekali menikmati malam dengannya. Tapi, aku tidak ingin sampai ia melakukan hal aneh lagi untuk malam ini. itu sama saja dengan cinta memakai hawa nafsu bukan? Aku tidak ingin cinta ku di dominasi dengan hal-hal semacam itu.
“Ga!” Ketus ku. Ia menyentuh hidung ku dengan hidungnya membuat aku malu dengan tingkahnya.
__ADS_1
“Muka kamu merah tuh..” Ledeknya sembari memasang tampang yang menyebalkan. Aku malu dan menutupi wajah ku dengan kedua tangan ku. Aku sudah menjadi pacarnya sekarang, kenapa aku harus malu lagi dengan tingkah laku sweet nya itu? Harusnya tidak masalah bukan? Ia hanya meledek ku sedikit. Apa aku benar-benar sudah mencintainya dengan dalam? Sampai aku merasakan sesuatu yang bisa membuat aku malu jika berhadapan dengannya?
“Morgan mah.. Jangan ngeledek begitu sih!” Ucap ku dengan nada yang manja. Morgan terdengar tertawa kecil. Aku langsung saja melihat dirinya yang sedang mentertawakan ku.
“Jangan ketawa ah!” Bantah ku. Ia lalu berubah ekspresi menjadi tersenyum sembari menatap ku tajam. Aku sampai tersipu malu karenanya. Aku menaruh tangan ku di wajahnya.
“Jangan begitu, gue jadi malu.” Lirih ku. Ia menyingkirkan tangan ku yang menutupi matanya itu. Ia menaruh tangan ku di pipinya.
“Aku sayang kamu.”
“Deg..”
Setiap kata atau perbuatan yang ia ucapkan dan lakukan, aku merasa sangat bahagia dan tak jarang aku menjadi
salah tingkah karenanya. Aku harus menjawab apa? Aku bahkan tidak pernah menyatakan perasaan ku secara terang-terangan kepada laki-laki yang aku sayangi.
“Yaelah tinggal di jawab aja sih!” Ucap seseorang yang tak asing di telinga ku. Aku menoleh ke arah sumber suara
itu. Terlihat kakak yang sedang memegang handphonenya, dan juga teman-teman yang lainnya seperti Ray, Rafa dan Fla. Mungkin saja ia sedang merekam semua ucapan dan tingkah laku kami sejak tadi. Aku langsung berubah menjadi sangat malu. Kenapa mereka semua ada di sini?
“Apa-apaan ini?” Panik ku yang berusaha bangkit dan melepaskan diri ku dari tubuh Morgan. Namun, Morgan
seperti menghalangi ku dan tidak mengizinkan aku untuk bangkit dari posisi ku. Aku merasa harga diri ku sudah tidak ada di hadapan mereka. Aku sudah kehilangan harga diri hari ini. Aku malu sejadi-jadinya. Kenapa semua mata memandang ku dengan tatapan jahil seperti itu?
“Cieee Ara.. Udah jawab aja sih!!” Sambar Ray.
“Iya, kenapa sih emang? Kan Pak Morgan ganteng! Ayo jawab sayangnnya dong.” Rafa membenarkan ucapan Ray.
“Cuitttt banget sihhh...” Tambah Fla yang tidak mau kalah dengan Ray dan Rafael. Aku semakin tidak bisa bernafas
karena menahan malu ku. Morgan hanya diam sembari tetap pada posisinya yang berada di atas ku. Aku sangat malu mendengar ledekan mereka. Aku menutup wajah ku dengan kedua tangan ku, tapi Morgan menahan tangan ku.
“Loe gila ya gan?” Tanya ku. Ia tidak merespond pertanyaan ku. Ia hanya diam sembari menatap ku tajam.
“Gak usah malu lagi sih, kita kan jadi greget ngeliat kalian selama ini!” Ucap Fla dengan tatapan yang tidak
bisa dimaknai itu. Aku merasa sangat malu dengan Fla. Ia adalah adik sekaligus saksi hidup yang sering memergoki aku dan Morgan sedang melakukan hal yang aneh untuk seukuran orang yang baru saling mengenal.
“Diem deh loe!” Geram ku, Fla hanya menganggap amarah ku sebagai lelucon. Ia mentertawai ku.
“Ini lagi, loe ngapain sih? Lepasin gue! Loe gak malu apa sama temen-temen gue? Apa lagi ada kakak gue di
sini!” Bentak ku. Ia tersenyum dan mulai bangkit dari posisinya itu. Ia duduk menghadap mereka semua yang sedang memperhatikan kami dari arah pintu masuk. Aku pun bangkit mengikuti Morgan dan duduk mengarah ke mereka. Fla menghampiri kami dan memeluk ku dengan erat.
“Loe pasti bisa nerima kakak gue, Ra.” Bisiknya di telinga ku. Aku sampai bengong mendengar ucapannya. Dia terdengar sangat berharap aku bisa bersama dengan kakaknya. Hmm.. mungkin ia sudah sadar
dan tidak mau berburuk sangka dengan Morgan lagi. Hubungan Morgan dengan Fla, sekarang sudah mulai membaik setelah kejadian masa lalu Morgan itu. Aku jadi teringat ucapan Fla waktu itu, yang baru mengertahui kalau Morgan ternyata normal. Jadi ini semua ada sangkut pautnya dengan masa lalu Morgan bersama dengan
gadis jepang itu. Ia lalu melepaskan pelukannya dan mulai berdiri di hadapan kami.
“Ayo, rayain malam ini bareng-bareng!” Ajak Rafa, semua orang bersorak tak terkecuali Morgan. Aku mendengus
kesal karena tingkah mereka yang sudah membuat aku menjadi merasa sangat malu. Kenapa mereka semua bisa ada di sini? Apa Morgan yang telah memberi tahu mereka semua? Atau, ini ada sangkut pautnya dengan mereka? Dengan kata lain, mereka semua sudah bersekongkol untuk membantu Morgan menjebak ku kemudian menyatakan cinta pada ku?
“Males!!” Ketus ku lalu aku langsung saja merebahkan tubuh ku dan menarik selimut. Aku tidak memperdulikan
ucapan mereka semua. Aku hanya lelah dan ingin sekali untuk beristirahat untuk melepaskan semua lelah ku. Meskipun, Fla dan yang lainnya terus menerus mengganggu ku, aku sama sekali tidak membuka mata ku.
*
__ADS_1
Aku tersadar dari tidur ku. Perlahan, aku mulai membuka mata ku. Aku berdiam diri sejenak untuk
mengumpulkan energi ku. Setelahnya, aku melihat sekeliling ku. Aku terkejut saat melihat sekeliling ku. Ternyata, masih ada Morgan di samping ku sedang tidur tanpa berbusana. Aku sudah kesal saja melihatnya seperti itu. Jangan-jangan, aku dan dia sudah melakukan sesuatu yang tidak aku sadari?
“Bukkkk...”
“Awwwwsss..” Aku memukul dada bidangnya itu dengan spontan. Ia langsung bangun dari tidurnya dan memegangi
dadanya sembari merintih kesakitan.
“Loe ngapain tidur gak pakai baju? Loe ngapa-apa gue ya?” Tanya ku sinis. Morgan memejamkan matanya dan menepuk keningnya.
“Aku gak ngapa-ngapain kamu!” Jawab asal Morgan. Kelihatannya, dia masih belum sepenuhnya sadar.
“Jangan bohong deh loe! Terus ngapain loe gak pake baju begitu?” Tanya ku yang semakin sinis padanya. Ia berusaha menatap mata ku walaupun ia terlihat terus mengucek kedua matanya.
“Semalem aku mau nyalahin AC, tapi dingin. Ya aku gak jadi nyalahin. Tapi lama-lama malah jadi gerah. Aku males
banget ngambil remot AC. Jadinya aku buka aja bajunya.” Jelasnya dengan nada yang sangat polos seperti seorang anak kecil yang sedang menceritakan sesuatu kepada ibunya. Aku menahan tawa ku karena cara ia menjelaskan sudah seperti layaknya bocah berusia 5 tahun.
“Yaudah kalo loe gak ngapa-ngapain gue. Jam berapa ini?” Ujar ku. Ia langsung mengambil handphonenya
yang berada di atas meja di dekat lampu tidur, kemudian ia melihat jam yang berada di handphonenya.
“Jam 5.” Lirihnya yang terdengar masih sangat mengantuk. Ia kembali memejamkan matanya dan menaruh handphonenya kembali di atas meja. Aku sangat santai karena perkuliahan ku di mulai pada
pukul 8. Aku ingin sekali bermanja-manja dengannya sebentar untuk melepas rindu dengannya. Aku baru saja mulai bisa untuk menerimanya. Aku ingin sekali memeluk dirinya itu. Tapi, bagaimana caranya untuk melakukannya? Aku sangat kaku memperlakukannya. Aku tidak se romantis wanita di luar sana. Aku hanya diam sembari menatapnya, aku tak berani untuk memulai lebih dulu.
“Mau pelluukkk..” Lirihnya masih dalam posisi yang sama. Aku sangat kaget karena mendengar ucapannya tadi. Aku bahagia
sekali bisa mendengar kalimat itu darinya. Jadi, aku tidak perlu untuk melakukannya lebih dulu supaya tidak terkesan seperti wanita murahan. Ia merenggangkan tangannya untuk memberi kode kepada ku. Aku tersenyum dan segera memeluk dirinya. Ia memeluk ku layaknya sebuah guling. Membuat nafas ku menjadi sesak
tak beraturan. Di tambah lagi, perasaan tegang saat menerima setiap sentuhan darinya masih terasa hingga saat ini.
“Ada jadwal kuliah hari ini?” Tanyanya. Aku mengangguk kecil. Ia semakin mempererat pelukannya itu.
“Nanti aku antar ya.” Ujarnya. Aku bingung dengan maksud perkataannya.
“Lho, bukannya kamu juga kerja?” Tanya ku. Ia merenggangkan pelukkannya dan menatap ku dengan tatapan penuh dengan kebahagiaan. Sangat terlihat dengan jelas.
“Teruslah panggil aku dengan sebutan ‘kamu’.” Ucapnya. Aku ternyata keceplosan untuk bersikap manis padanya.
Baru kali pertama aku memanggilnya dengan sebutan ‘kamu’. Aku secara tidak sadar mengucapkan kata ‘kamu’ dan Morgan pun menyadarinya. Aku tidak terbiasa untuk menyebutnya dengan lembut. Tapi, aku harus melakukan ini demi dirinya.
“Yaudah, aku coba ya.” Ucap ku. Ia mengelus lembut rambut ku dan kembali untuk menjadikan ku sebagai gulingnya.
“Kamu kenapa mau jadi pacar aku? Aku kan galak, jutek, nyebelin?” Tanya ku yang penasaran dengan dirinya yang bisa menyukai wanita seperti ku. Padahal, di luar sana mungkin masih banyak wanita yang ingin sekali menjadi pacarnya.
“Kamu itu.. Unik.” Jawabnya simpel. Aku merasa tidak puas dengan jawaban yang ia berikan. Aku tidak ingin
ia salah mengambil langkah dan mengalami kegagalan lagi seperti dulu.
“Jawab yang bener kek!” Bentak ku yang masih menahan kesal padanya.
“Ya ampun, sayang.”
@sajiputwinataaa
__ADS_1