Dosen Idiot

Dosen Idiot
85. Mahasiswa Semester Akhir (SEASON 2 EPS. 3)


__ADS_3

"Perhatian untuk Mahasiswa bernama Arasha 01TPLP001, ditunggu kehadirannya secepatnya ke ruang dosen. Terimakasih."


"Hah? Kenapa Gue yang dipanggil?" Kaget ku. Aku berpikir sejenak, kemudian segera menuju ke ruangan dosen untuk memenuhi panggilan tadi.


Sesampainya di sana, aku mempersiapkan diri untuk bisa mengetuk pintu ruangan dosen.


"Huffffftttt.." Aku menghela nafas panjang untuk menghilangkan beban Nervous ku.


"Tok.. Tok.. Tok.."


"Permisi.." Pekik ku. Tanpa menunggu siapapun untuk membukakan pintu, Aku bergerak masuk dan segera menutup kembali pintu utama ruang dosen agar AC nya tidak mengalami kendala.


Di sana, sudah ada Pak Dicky dan Bu Lidya yang sedang berbincang ria satu sama lain. Aku jadi teringat kejadian saat mereka bermesraan di dalam ruangan Morgan waktu itu.


"Hai, Arasha. Pak Morgan sudah menunggu di ruangannya." Sapa Dosen Dicky tanpa basa-basi yang tidak sengaja membuyarkan lamunan ku. Aku berusaha membenarkan pikiran ku yang kotor dan berusaha terlihat seperti sedang tidak terjadi apapun.


"Ah. Baik Pak, Permisi." Respond ku dengan sopan. Aku bergegas menuju ruangan Morgan. Nampaknya, ada sesuatu yang sangat penting sampai dia meminta bagian informasi untuk meminta ku datang. Kalau urusan pribadi, dia tidak perlu melakukan itu. Cukup buka handphonenya, lalu hubungi aku. Aku berdiri tepat di depan pintu ruangan Morgan. Aku sangat takut, kalau ada sesuatu yang sangat penting yang tidak aku ketahui.


"Tok.. Tok.." Aku mengetuk pintu Morgan dengan ragu. Perasaan resah gelisah menghantui ku. Apa aku telah membuat kesalahan yang besar?


"Ckreekkk.." Beberapa saat berlalu, seseorang pun membuka pintu. Terlihat Morgan yang sangat rapi. Emm.. Morgan memang selalu terlihat rapi di mata ku. Bahkan walau hanya memakai kaos yang tipis sekali pun.


"Tadi kata Dosen Dicky..."


"Masuk." Pangkasnya dengan datar, sampai tidak membiarkan aku mengatakan alasan ku datang ke sini. Aku mengepalkan kedua tangan ku karena menahan kesal. Tentu saja tanpa sepengetahuan dia.


Aku mengikutinya masuk ke dalam ruangan.


"Ckrekkk.." Ia mengunci pintu ruangannya itu, membuat aku semakin bingung dan juga takut. Apa yang akan dia sampaikan? Kenapa begitu privat sekali?


"Kenapa pintunya dikunci, Gan?" Tanya ku. Ia tidak bergeming dan malah menarik ku dan mendudukkan ku di atas pahanya. Aku terkejut bukan main.


"Gan, kenapa sih?" Tanya ku yang semakin cemas dengan perlakuan anehnya.


"Greppp.."


Ia memeluk ku dari belakang. Membuat aku terlihat seperti anak kecil yang sedang di pangku oleh ayahnya. Benar membuat ku kesal.


"Maksudnya apa sih?" Tanya ku. Lagi-lagi ia tak bergeming. Aku semakin tidak paham dengan sikapnya.


"Apa aku punya salah sama kamu?" Tanya ku, terasa sekali ia sedang menggelengkan kepalanya.


"Lantas kenapa? Kalau sesuatu yang bersifat pribadi, harusnya kamu chat ke nomor ku dong. Bukan menghubungi bagian pengumuman." Aku berusaha memberikan pengertian padanya yang masih memeluk ku erat. Apa tidak apa-apa jika seperti ini lebih lama? Aku menghawatirkan mereka yang mungkin nanti akan melihat adegan mesra kami.


"Srukkk.." Ia menyodorkan handphonenya ke arah ku. Ada apa dengan handphonenya? Aku mengambilnya dengan lembut.


"Ada apa?" Lirih ku sembari mengecek handphonenya. Tidak menyala sama sekali. Mungkin saja batrainya low? Aku paham sekarang, mengapa ia tidak bisa menghubungi ku.


"Gan.." Aku berusaha bangkit. Namun, ia tidak membiarkan ku pergi.


"Saya mohon, tetaplah seperti ini." Lirihnya terdengar sangat menyedihkan.


Aku juga ingin terus seperti ini dengannya. Tapi, bukankah sebentar lagi jam ujian berikutnya akan segera dimulai?


"Sebentar lagi, ujian mau dimulai." Lirih ku dengan nada yang tak enak. Aku rindu dengan Morgan, tapi suasanannya kurang tepat. Akan kah ia mengerti?


"Akhir pekan ini, bisa tidak temani Saya?" Tanyanya. Ada sedikit rasa penasaran dengan ajakannya.


"Akan saya usahakan, Pak." Ucap ku formal, aku harap tidak ada yang mendengar atau memperhatikan kami dari luar ruangan.


"Cuppp..." Ia tiba-tiba mencium bibir ku, membuat mata ku membulat karena terkejut. Aku benar merasakan rasa rindunya. Aku yang juga tidak bisa menahan rindu, pun membalas ciuman hangatnya itu.


"Ting.. Nong.." Suara bel jam pelajaran berikutnya pun berbunyi. Aku dengan sangat terpaksa melepaskan diri dari Morgan. Ia terlihat tak rela melepaskan ciumannya.


"Sampai jumpa." Lirihnya. Nadanya terdengar seperti orang yang ingin meninggalkan ku dalam jangka waktu yang lama. Aku mendadak sedih mendengar ucapan selamat tinggalnya itu. Apakah ada suatu firasat yang tidak aku ketahui?

__ADS_1


"Kita pasti ketemu lagi nanti!" Lirih ku mantap, membuat matanya membulat. Aku pergi meninggalkan Morgan menuju ke lapangan tempat aku dihukum. Di sana, sudah ada Hatake yang sedang duduk manis sembari membuka lembaran selanjutnya dari buku yang ia baca. Aku duduk di sampingnya.


"What are you doing?" Tanya ku padanya. Ia langsung berpaling ke arah ku sembari menutup buku yang sedang ia baca.


"Kenapa loe tutup? Udah selesai bacanya?" Tanya ku. Ia hanya diam.


"Why you leave me?" Tanyanya balik. Aku menghela nafas panjang. Apa dia sedang marah pada ku?


"Gue gak ninggalin loe kok. Gue tadi abis di panggil ke ruang dosen." Untung saja aku mempunyai alasan yang tepat untuk membuatnya sedikit tenang. Mungkin saja, ia tidak mengenal siapapun di sini, makanya dia berkata seperti itu.


"Jangan tinggalin aku lagi ya!" Logat bicaranya lucu sekali, membuat aku menahan tawa ku. Ternyata, gaya berbicara orang jepang sangat menggemaskan sekali.


Aku mengerjakan ujian berikutnya dengan penuh semangat dan percaya diri. Karena, aku dan Morgan sebentar lagi akan menghabiskan akhir pekan bersama. Apa kah akhir pekan ini akan menjadi akhir pekan terbaik dalam hidup ku? Aku selalu menantikan saat-saat ini.


*


Akhir pekan yang ku nanti pun tiba. Aku bangun pagi sekali karena mendengar alarm ku berdering.


"Biippp.." Aku menonaktifkan alarm.


"Engghh.." Aku merenggangkan tubuh ku yang sedikit kaku akibat posisi tidur yang salah. Aku berusaha membenarkan pandangan ku yang masih sedikit rabun.


Terbayang sekilas waktu yang sudah ku lalui bersama dengan Morgan selama 6 bulan ini. Tak terasa, sudah setengah tahun kita berdua menghabiskan waktu bersama. Apa yang harus aku siapkan untuk ku berikan kepada Morgan? Kado yang seperti apa yang cocok untuknya?


"Bipp.." Aku membuat panggilan grup.


"Halo.. Masih pagi.." Rafa yang masih terlihat berada di ranjangnya.


"Bangun.. Kenapa gak ada yang angkat sih, cuma Rafa doang??" Kesal ku. Farha, Fla, dan juga Ray tidak mengangkat telpon ku.


"Mereka masih pada tidur lah! ini masih jam 4 pagi, Ra. Gak usah ngaco deh!" Bentak Rafa, aku memanyunkan bibir ku.


"Uhhh.. Yasudah kalau gak pada bisa nganterin Ara mah." Gerutu ku kesal.


"Tuuuuttt.." Aku mengakhiri video call ku. Kenapa tidak ada yang bisa menemani ku untuk menghabiskan akhir pekan?


"Haaaaaa.. Mumpung masih pagi nih! Morgan gak ngasih tau sih dia mau jemput kapan!" Lirih ku kesal. Aku berusaha berpikir, apakah mungkin..


"Bippp.."


Aku menunggu ia menjawab telepon ku. Aku berpiki was-was, kalau saja ia tidak menjawab, aku harus bersiap untuk pergi sendiri membelikan Morgan hadiah.


"Angkat dong.." Lirih ku berharap besar padanya.


"Halo.." Terdengar suara dari ujung sana. Ia benar mengangkat telepon ku. Aku sangat senang akhirnya ia merespond telepon ku.


"Hatake! Temenin Gue ke mall ya!" Bidik ku. Ia terlihat kaget.


"Hah? What time is it?" Ia kebingungan karena aku mengajaknya ke mall sepagi ini.


"Ya gak sekarang juga.."


"Oh. Yaudah, nanti mau di jemput?" Tanyanya yang masih setengah sadar, aku khawatir ia ngelindur.


"Iya! Jangan lupa! Jam 8 nanti jemput Gue ya!" Suruh ku. Ia mengangguk kecil dengan posisi masih tak sadarkan diri. Aku menutup telepon ku, berharap ia tidak lupa dengan janjinya. Aku bersiap dan bergegas untuk mandi.


Aku menggantungkan handuk, membuka shower dan membiarkan seluruh tubuh ku terkena dinginnya percikan air di pagi hari. Agak galau aku memikirkan yang terjadi seminggu ke belakang ini. Aku sama sekali tidak berkabar dengan Morgan. Ia justru tidak mengabari aku dan mungkin malah sengaja lepas kontak dari ku. Aku hanya diam sembari memperhatikan sikap Morgan. Tak biasanya ia seperti ini. Apa.. Ada masalah yang tidak aku ketahui?


*


Pukul 8 tepat. Aku bergegas menuju meja makan. Tapi, hari tidak seperti biasanya. Kakak tidak tampak di ruang makan. Aku berusaha mencari dan menuju ke kamarnya.


"Cklekkk.." Aku membuka pintu kamar Kakak. Terlihat Kakak yang sedang bertelanjang dada dengan seorang wanita yang berada di sebelahnya. Wanita yang juga tidak mengenakan pakaian, hanya terbalut dengan selimut tipis. Aku menghela nafas panjang melihatnya.


"Lagi-lagi, bukan wanita yang Aku kenal." Lirih ku malas. Aku menutup kembali pintu kamar Kakak dan segera memakan selembar roti yang sudah disiapkan Bibi.

__ADS_1


"Tinnn.."


Klakson mobil terdengar nyaring dari arah depan. Aku bergegas mengunyah sisa makanan ku dan membawa tas selempang ku beserta sisa roti yang ada di tangan ku. Aku langsung menuju ke depan rumah.


Terlihat mobil asing yang baru saja ku lihat. Ada Hatake di sana. Ia nampak terdiam setelah melihat ku, seperti orang yang sedang terpukau.


"Maaf kalau nunggu lama." Ucap ku. Ia tersenyum pada ku.


"Ke mall jam segini, pasti belum buka." Ucapnya. Aku juga berpikir demikian.


"Iya juga sih.."


"Gimana kalau kita Coffee Break?" Tanyanya. Aku berpikir, idenya tidak buruk juga.


Aku dan Hatake pergi menuju suatu cafe untuk sekedar menghabiskan waktu sebelum mall benar-benar buka. Sesampainya di sana, Aku dan Hatake duduk kemudian memesan beberapa makanan dan juga minuman.


"Gimana, Do you passed your exams with easy?" Tanyanya. Aku mengangguk kecil.


"I feels do my best." Jawab ku dengan sangat bersemangat. Ia tertawa kecil setelah mendengar jawaban ku. Sangat asyik bercakap bersama dengan Hatake. Mungkin, karena perbedaan budaya, membuat perbincangan kita semakin menarik. Dia sangat responsif.


"Gak kerasa udah 1 semester terlewati." Lirih ku tanpa sadar menjadi mellow.


"Gue malah udah lewatin semua semester. Sebentar lagi, Gue lulus lho." Ucapnya dengan logatnya itu. Aku sedikit terkejut dengan yang ia ucapkan. Ia ternyata jauh lebih dulu daripada ku.


"What?! Loe ternyata Mahasiswa semester akhir?" Tanya ku yang tak percaya dengan pernyataannya. Ia mengangguk kecil sembari memotong kecil-kecil roti yang sudah ia pesan. Aku sampai tidak tahu harus berkata apa lagi. Yang jelas, Aku pasti akan merindukan Hatake saat ia sudah lulus nanti.


"Terus, rencananya kapan wisuda? Udah ngajuin judul skripsi?" Tanya ku. Ia menggeleng kecil.


"Lho kenapa?" Tanya ku yang tak percaya dengan pernyataannya.


"Kalau Aku cepat-cepat wisuda, Aku juga pasti sudah gak di sini lagi. Aku pasti pulang ke Jepang." Jawabnya yang terdengar sangat mellow. Kenapa aku jadi tidak rela ia pergi? Aku masih berhutang budi padanya.


"Kenapa? Apa ada yang loe beratin? Ada cewe yang lagi loe taksir?" Tanya ku. Ia menggeleng pelan.


"Aku cuma gak mau kembali ke sana. Aku pengen di sini!" Ucapnya, aku menatapnya sendu.


*


Aku memutuskan untuk menyegerakan niat ku untuk membelikan kado kepada Morgan. Aku berpikir, tidak ada salahnya aku memberikan kado juga kepada Hatake yang sudah beberapa kali menolong ku. Ia selalu ada untuk menolong ku. Tapi, aku baru bisa menjadi dekat sekarang dengannya.


"Pilih yang loe suka." Ucap ku. Ia terlihat bingung dengan yang aku ucapkan.


"What the meaning of.."


"Udah! Pilih aja! Kita mulai dari yang ini." Pangkas ku segera memberikannya pakaian yang bagus untuk ia coba. Ia pergi untuk mencoba pakaian yang aku pilihkan untuknya. Aku menunggu sembari sesekali melihat sekeliling ku untuk mencari hadiah untuk Morgan. Aku melihat jaket mirip seperti yang dikenakan para detektif di dalam komik. Warnanya coklat muda. Apa Morgan akan cocok jika mengenakan jaket ini?


"Pasti bakalan ganteng maksimal kalau pakai ini!" Wajah ku bersemu merah membayangkan Morgan sedang mengenakan jaket ini. Kulitnya yang cerah dengan postur tubuh kekar memperkuat nuansa ketampanannya. Aku jadi terngiang Morgan.


"Mbak, bungkus yang ini satu." Ucap ku tanpa basa-basi. Aku segera melakukan pembayaran.


"Ra.." Pekik lirih seseorang dari arah belakang ku. Aku menoleh pelan ke arahnya. Terlihat Hatake yang sangat cocok mengenakan stelan yang aku pilihkan tadi. Aku terdiam sesaat sembari menilai penampilannya.


"Bagaimana?" Tanyanya dengan malu-malu. Aku mengacungkan kedua ibu jari tangan ku ke arahnya. Ia terlihat tersenyum malu. Aku mengambilkan stelan baju lain.


"Bagaimana dengan ini?" Tanya ku kemudian menyodorkan beberapa stelan lain padanya. Aku menyeringainya yang nampak keberatan dengan permintaan ku. Ia menerima dengan kurang iklas kemudian pergi untuk mencoba kembali pakaian yang baru saja aku berikan. Aku kembali menunggu Hatake sembari melanjutkan pembayaran jaket yang akan ku berikan kepada Morgan.


"Tolong sekalian di bungkus kado. Saya yang akan menulis ucapannya."


"Baik kak, segera."


Aku menulis sebuah kata-kata manis untuk Morgan. Aku berharap, kedepannya hubungan ini akan baik-baik saja. Semoga saja, ia meresapi setiap doa yang ku curahkan untuknya.


"Aku mencintai mu."


@sarjiputwinataaa

__ADS_1


__ADS_2