Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Kecurigaan Eilaria


__ADS_3

Para pembacaku yang budiman, aku merevisi episode yang sebelumnya. Mohon dibaca lagi ya, soalnya ada paragraf yang hilang. Maklumlah aku tak sempat edit dan Sudah up.


**********


Eilaria bangun dan tak menemukan Iel ada di sampingnya. Mungkin Iel sudah ke kantor. Eilaria pun masuk ke kamar mandi untuk mandi.


Saat ia selesai mandi dan keluar dari kamar, ia terkejut melihat Iel ada di dapur.


"Sayang, aku pikir kamu sudah ke kantor." Eilaria memeluk suaminya membuat Gabrian menahan detak jantungnya yang kembali berdetak cepat.


"Rapatnya nanti di mulai jam 11 siang. Makanya aku memutuskan untuk membuat sarapan saja."


Eilaria memperhatikan sarapan yang dibuat Gabrian. "Telur mata sapi, roti panggang, sosis dan sayuran? Gaya sarapan orang Inggris banget. Kamu kan suka makan nasi kalau sarapan."


"Eh...." Gabrian menyesali kebodohannya yang melupakan kalau Gabriel lebih suka nasi dari pada roti. "Aku pikir membuat sarapan ini untuk mengobati rindumu pada London."


"Kamu kok lupa. Aku kan pernah bilang walaupun aku lahir dan besar di London namun keluarga kami terbiasa dengan menu Indonesia. Oma Thomson dan Oma Aslon keduanya orang Indonesia."


"Aku nggak lupa. Hanya ingin buat saja..Kamu nggak suka?"


"Suka."


Keduanya duduk bersama di meja makan. Mereka menikmati makan pagi bersama.


"Iel, aku ingin melanjutkan kuliah S2 ku, boleh nggak?" tanya Eilaria.


"Boleh."


"Benar?"


"Ya."


Eilaria menatap suaminya tak percaya. Ia bingung dengan perubahan Iel yang sangat drastis. Beberapa waktu yang lalu Eil pernah bilang ingin langsung lanjut kuliah. Namun Iel bilang tunggulah sampai pernikahan mereka genap satu tahun dulu. Karena Iel ingin menikmati pernikahan mereka dengan seringnya menghabiskan waktu berdua.


"Ada apa?" tanya Gabrian saat melihat Eil nampak bengong.


"Sungguh aku boleh langsung mendaftar hari ini?"


"Ya. Kapan pun kau mau. Lagi pula aku akan sangat disibukan dengan perusahaan ku. Aku juga akan sering keluar negeri untuk menggantikan daddy memantau perusahaan keluarga Dawson yang daddy tangani."


'Kau....tidak ingin kita bulan madu dulu?" tanya Eilaria dengan sangat terbata.


Gabrian tersenyum. Ia meraih tangan Eilaria dan menggenggamnya dengan lembut. "Maaf jika bulan madunya sedikit tertunda ya? Tapi aku janji jika semua urusanku sudah beres, kita akan keliling dunia kemanapun kau mau."


"Kita kan janjian mau keliling Indonesia, bukan keliling dunia."


"Eh, pokoknya kemana saja yang kau mau. Sekarang aku mau mandi dan langsung ke kantor." Gabrian yang duduk di samping Eil langsung berdiri dan segera ke kamar. Ia tak ingin Eil bertanya lagi dan akhirnya ia akan salah menjawabnya.


Eilaria menatap kepergian Gabrian dengan hati yang bertanya-tanya. Mengapa Iel berubah? Dia bahkan pergi tanpa mencium ku. Ia tak memberikan aku ciuman selamat pagi. Ada apa? Adakah sesuatu yang ia sembunyikan?


********


Selama 4 hari, Eilaria disibukan dengan pendaftaran menjadi mahasiswa S2. Ia dan Gabrian jarang berkomunikasi. Terkadang ponsel Gabrian tak aktif dan itu yang membuat Eilaria semakin bingung. Ia memang berusaha untuk mengerti kalau suaminya itu disibukan dengan urusan perusahaannya namun apakah hal itu dapat merubah seorang yang dulunya sangat romantis dan perhatian, kini menjadi agak dingin dan selalu lupa akan dirinya?

__ADS_1


"Kamu kenapa sih? Pengantin baru tapi wajahnya kelihatan sedih begitu?' tanya Arumi.


"Aku bingung dengan perubahan sikap Iel. Seperti bukan dirinya saja."


Arumi tersenyum. "Kamu kan bilang kalau perusahaannya sedang ada masalah. Iel bisa saja masuk penjara jika mereka salah menyelesaikannya. Tentu hal itu membuat orang stres."


"Apakah karena masalah itu dia bahkan tak memelukku saat tidur? Kami pengantin baru. Waktu pacaran saja kami hampir melewati batas karena terlalu larut dalam kemesraan. Mengapa ketika menikah ia bahkan jarang menciumku?"


"Kan kamu sendiri yang bilang kalau Iel ingin agar saat pertama kalian sangat istimewa. Eil, buang jauh-jauh pikiran negatif mu itu..Berikan waktu bagi Iel."


Eilaria menatap sahabatnya. "Mungkin apa yang dikatakan bundaku, benar. Aku masih terlalu muda untuk menikah."


"Jangan sesali apa yang sudah kau lakukan. Nggak ada gunanya. Lebih baik sekarang kita pergi makan, yuk! Ada restoran yang baru saja buka."


"Aku nggak lapar."


"Tapi aku lapar. Lagi pula ini baru jam setengah satu siang. Pasti suami tersayang mu itu masih ada di kantornya."


"Baiklah." Kata Eilaria lalu mengikuti langkah Arumi menuju ke tempat parkir. Ia tak mau membuat sahabatnya itu kecewa.


********


Sachi Figia langsung tersenyum melihat siapa yang datang. Ia melambaikan tangannya agar temannya itu segera menemukan keberadaan dirinya.


"Maaf ya, aku terlambat." Kata Gabrian lalu cipika-cipiki dengan Figia.


"Tak masalah. Aku baru 45 menit menunggu." sindir Figia sedikit menyindir membuat Gabrian terkekeh. Ia tahu kalau Figia tak marah.


"Kamu saja yang pilih. Ini kan restoran baru."


Gabrian pun memilih beberapa menu yang kelihatannya menarik. Ia juga memesan minuman dingin.


"Ian, aku sudah membaca email yang kau kirim juga persoalan yang terjadi di perusahaan adikmu itu. Apakah pelaku utamanya sudah tertangkap?" tanya Figia.


"Sudah. Masalahnya ia tak mengaku telah memalsukan tanda tangan Iel. Ia mengatakan kalau semua di lakukan olehnya berdasarkan perintah Iel."


"Terus mana Iel? Apakah ia masih bulan madu? Dia baru saja menikah kan?"


"Eh, aku tak mau menganggu Iel dengan bulan madunya. Makanya aku mengerjakan ini tanpa sepengetahuan, Iel."


"Maksudnya?"


"Semua orang tahu kalau aku adalah Iel


Hanya Gerry saja yang tahu kalau aku ini Ian. Aku bisa meniru tulisan dan tanda tangan Iel dengan baik. Karena itu, kau jangan takut kalau ada yang tahu kalau kami bertukar identitas."


Figia terkejut. "Ya. Kalian memang sangat mirip. Sangat sulit untuk dibedakan kecuali orang yang sudah lama kenal dengan kalian, mereka akan tahu ada sedikit perbedaan warna mata diantara kalian."


"Aku percaya kalau kamu nggak akan membocorkannya. So, sebagai seorang ahli hukum, aku meminta pendapatmu, Figia."


"Aku rasa peluang kalian untuk memang masih bisa." Selanjutnya Figia menjelaskan sudut pandangnya terhadap persoalan perusahaan itu dari ilmu hukum yang dipelajarinya.


Keduanya asyik berdiskusi bahkan sampai sementara makan pun keduanya berdiskusi tanpa menyadari ada dua orang yang masuk.

__ADS_1


"Waw, pengunjungnya banyak. Tapi untunglah aku sudah pesan tempat." Kata Arumi lalu menuju ke meja resepsionis sambil menyebutkan namanya. Mereka pun di antar ke sebuah meja yang memang khusus untuk dua orang.


Sambil menunggu makanan datang, Eil mencoba menghubungi suaminya namun ponsel Iel tak bisa dihubungi.


"Mungkin dia sedang rapat." Kata Arumi seakan tahu kalau memang sahabatnya itu sedang menelepon suaminya.


"Ini kan jam makan siang." Eil mendengus kesal. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan restoran sampai akhirnya mata Eil menangkap sosok yang mengenakan kemeja berwarna biru tua. Walaupun lelaki itu duduk membelakangi Eil namun karena Eil yang menyiapkan kemeja itu tadi pagi makanya ia sangat hafal dengan warnanya dan juga model potongan rambut seperti itu.


"Itu kan Iel."


Arumi mengikuti arah telunjuk Eil. "Masa sih? Lelaki itu kan membelakangi kamu, Eil."


Di meja mereka, Gabrian dan Figia sudah selesai berdiskusi.


"Makasi ya untuk makan siangnya." Kata Figia sambil memasukan ponsel dan notes kecilnya ke dalam tas tangannya.


"Sama-sama. Aku senang kalau kau mau ikut membantuku."


Keduanya sama-sama berdiri. Seperti awal pertemuan mereka, diakhir pun keduanya kembali cipika- cipiki.


"Aku pergi dulu ya?" pamit Figia. Ia melangkah namun entah bagaimana, hak nya justru tersangkut di kaki kursi yang lain dan membuatnya hampir jatuh. Untung saja Gabrian dengan cepat menangkap tubuh Figia sehingga nampak dari jauh mereka seperti berpelukan dengan mesra dan hampir berciuman.


"Itu adalah Iel. Siapa perempuan itu?" Eilaria mengepal kedua tangannya menahan amarah. Ia berdiri dari kursinya namun Arumi menahan tangan temannya.


"Jangan permalukan dirimu."


"Tapi...!"


"Selesaikan masalah kalian di rumah." Kata Arumi. Ia dapat mengerti perasaan sahabatnya.


"Iel harus tahu kalau aku di sini."


"Dia akan tahu saat pulang ke rumah nanti."


"Tapi...!" Ingin rasanya Eil melabrak mereka. Apalagi saat melihat Iel melingkarkan tangannya di bahu wanita itu dan membantunya berjalan menuju ke pintu utama.


"Kau harus dewasa, sayang. Bisa saja perempuan itu adalah saudara Iel kan? Kan kau belum mengenal semua keluarga Iel?"


"Aku tahu sepupunya Alexa, lalu adik Alexa yang bernama Felicia. Selebihnya sepupu Iel adalah laki-laki." Air mata Eilaria jatuh. "Dia membohongiku di saat kami baru menikah selama 2 Minggu."


"Eil....!"


Eilaria mengambil tas nya. "Maaf, Arumi. Aku mau pulang!" kata Eilaria lalu melangkah pergi. Arumi pun terpaksa mengikuti sahabatnya itu.


Eilaria masih sempat mobil Pajero Sport milik Iel yang meninggalkan tempat parkir restoran. Hatinya semakin sakit.


**********


Konfliknya di mulai guys....


Bagaimana menurut kalian ?


dukung emak terus ya....

__ADS_1


__ADS_2