
Malam ini, adalah malam terakhir pelaksanaan rangkaian acara menjelang pernikahan Putri Andrea dan Gabrian.
Walaupun raja Keegan menginginkan pernikahan ini dilaksanakan secara sederhana namun tradisi yang berlaku di kerajaan ini selama turun temurun harus dilaksanakan.
Zelina berusaha menyembunyikan tangisan kepedihannya sebagai seorang ibu karena ia tahu bahwa pernikahan ini tak akan lama. Putrinya akan menjadi janda setelah ia melahirkan.
Alana sendiri terkejut saat tahu kalau suami Eilaria adalah saudara kembarnya Gabrian. Mereka juga kembar identik seperti juga Alana dan Andrea.
Malam terakhir ini dilaksanakan jamuan makan malam. Gabrian dan Andrea sama-sama menggunakan baju adat kerajaan Flowers yang kental dengan nuansa berwarna biru dan putih.
Di dalam ruangan, diatur sebuah meja panjang dengan kursi yang berjumlah 40 buah. Seluruh tua-tua duduk bersama dengan keluarga yang ada. Andrea harus melaksanakan upacara minta berkat dari Andrew kakak kembarnya karena ia harus melangkahi Andrew sebagai anak tertua.
Acara itu pun berlangsung dengan hikmat. Para tetua memberikan nasehat pernikahan.
Alexa dan Oliver sudah kembali ke Indonesia sehari setelah pembicaraan di Fairy Garden. Giani, Jeronimo, Stevany dan Joselin datang sehari setelah kepergian Alexa dan Oliver. Gabriel nanti menyusul beberapa hari kemudian. Ia juga sudah tak menggunakan tongkat lagi untuk membantunya berjalan. Keluarga Thomson pun cukup terkejut karena mengetahui kalau suami Eilaria ternyata kembar identik yang sangat sulit dibedakan.
Selesai acara jamuan malam, Eilaria pamit kepada Gabriel untuk pergi ke luar sebentar. Dadanya terasa sesak dan ia ingin sendiri. Gabriel sebenarnya tahu apa yang dirasakan oleh istrinya. Hatinya semakin bimbang dengan apa yang sebenarnya ingin dia pertahankan.
Saat Eilaria tiba di taman istana, ia terkejut melihat Alana yang sedang duduk di sudut taman yang agak gelap. Gadis itu sedang menangis.
"Alana...!" Panggil Eilaria lalu ia duduk di samping saudaranya itu.
Alana menoleh ke arah Eil. Tangisnya semakin dalam. Eilaria pun langsung memeluk sepupunya itu dengan sangat lembut.
"Kenapa harus seperti ini, Eil? Pria yang aku cintai akan menikah dengan orang lain. Hatiku sakit. Namun aku tak bisa berbuat apapun." Alana memang tak bisa menceritakan alasan Gabrian dan Andrea menikah. Karena sudah menjadi kesepakatan bahwa ini akan menjadi rahasia percakapan mereka di Fairy Garden. Bahkan Opa Arnold dan Oma Faith pun tak tahu. Karena pasangan itu sangat menjunjung tinggi arti sebuah pernikahan. Mereka pasti tak akan setuju saat tahu kalau pernikahan ini hanya sandiwara.
"Sabar ya, Alana. Gabrian mungkin tak bisa membedakan antara dirimu dan Andrea." Seperti aku juga yang tak bisa membedakan antara Gabriel dan Gabrian.
Alana hanya mengangguk. Hatinya sangat perih malam ini. Cinta yang bertepuk sebelah tangan sangat menyedihkan. Tanpa mereka berdua sadari, dari arah timur, ada Gabriel yang melihat dan mendengar percakapan itu. Dari arah barat, ada Andrea yang juga mendengar pembicaraan itu. Hati perempuan yang sedang hamil itu menjadi sedih. Adik kembarnya, ternyata diam-diam mencintai Gabrian. Andrea pun menangis dalam diam. Menyesali takdir yang harus ia jalani. Menepis bayangan wajah Oliver yang masih sering mengganggunya. Andrea sudah menghapus kontak Oliver di ponselnya. Ia tak ingin ada hubungan apapun dengan pria ini.
*********
Gabriel tahu kalau sepanjang malam Eilaria gelisah, tak bisa tidur dengan nyenyak seperti juga dirinya. Hati Gabriel semakin sakit saat menyadari bahwa Eilaria tersiksa karena pernikahan Gabrian dengan Andrea yang masih bersaudara dengan dirinya.
"Kau baik-baik, saja?" tanya Gabriel pada Eilaria.
"Ya. Aku hanya merasa agak sedikit lelah. Rangkaian acaranya terlalu banyak." Kata Eil sambil turun dari ranjang.
__ADS_1
"Mandilah. Jam 9 kita harus berada di gereja untuk acara pemberkatan nikahnya."
Eilaria hanya mengangguk. Ia langsung menuju ke kamar mandi. Gabriel menarik napas panjang. Ia sungguh merasakan luka di hatinya semakin dalam.
************
Tepuk tangan terdengar saat Gabrian mencium dahi Andrea tanda bahwa mereka sudah resmi menjadi suami dan istri.
Alana berusaha keras menahan air matanya namun ia tak bisa. Gadis itu berlari keluar dari ruangan gereja. Dan Andrea, dengan ekor matanya, menyaksikan bagaimana saudaranya itu pergi.
Gabriel pun melirik Eilaria. Sekeras apapun Eil berusaha menutupinya, ia dapat merasakan betapa tersiksanya Eil dengan semua keadaan ini.
Pernikahan ini, membuat banyak orang menangis. Seperti juga Figia yang hanya bisa menangis dalam hati. Ia yang sudah lama jatuh cinta pada Gabrian, sahabatnya semenjak mereka SMA. Ia rela ikut kuliah di London hanya demi Ian namun ia tak berani mengungkapkan perasaannya karena Ian tahu ide gila pamannya yang ingin Figia untuk menjadi salah satu menantu dari Giani. Figia merasakan luka yang sangat mendalam menggores hatinya. Mencintai dalam diam itu ternyata sangat menyakitkan.
(Duh, pesona babang Gabrian yang cool dan tak banyak bicara namun telah menghancurkan hati 3 wanita cantik.)
**********
Gabrian menarik napas panjang saat dua orang pengawal kerajaan mengantarkan dia ke kamar Andrea. "Masuklah, pangeran!" Kata salah satu pengawal saat dilihatnya Gabrian tetap berdiri di depan pintu.
Langkah Gabrian agak pelan saat masuk. Dan saat ia susah melewati pintu, salah satu pengawal langsung menarik pintu itu.
Andrea sedang duduk di tepi tempat tidur. Ia mengenakan baju tidur berwarna merah dan sangat kontras dengan kulit putihnya.
"Selamat malam." Sapa Gabrian.
Andrea tersenyum. "Selamat malam, Ian."
"A..aku mau mandi dulu. Di mana kamar mandinya?"
Andrea menunjuk pintu berwarna coklat tua. Lalu ia turun dari tempat tidur, membuka lemari dan mengambil handuk serta baju Gabrian yang sudah ada di lemarinya. Ia menyerahkan semuanya pada Gabrian sebelum lelaki yang kini sudah menjadi istrinya itu masuk ke kamar mandi.
Agak lama Gabrian berada di kamar mandi. Sebenarnya bukan aktifitas mandinya yang lama namun karena Ian terus berpikir akan jalan hidup yang sudah dipilihnya. Walaupun ia tahu kalau pernikahan ini hanya akan berjalan sampai Andrea melahirkan, namun Gabrian tadi sangat gugup saat mengucapkan janji pernikahan. Ia merasa sangat berdosa. Bagaikan bersandiwara di hadapan Tuhan. Gabrian mengusap wajahnya beberapa kali dengan tangannya. Lalu ia segera keluar kamar. Andrea kini telah duduk di atas sofa panjang yang memang tersedia di kamar itu.
"Ian, terima kasih." Kata Andrea saat Gabrian sudah duduk di hadapannya.
"Terima kasih untuk apa?"
__ADS_1
"Karena sudah menyelamatkan hidupku, harga diriku, dan kehormatan keluarga kerajaan. Aku tak bisa membalas semua kebaikanmu."
Gabrian tersenyum. "Kau bisa membalas kebaikanku dengan bersikap layaknya seorang istri di hadapan orang lain."
"Maksudnya?" Andrea terpana. Apakah Gabrian akan meminta hak nya sebagai suami?
Gabrian menarik napas panjang, lalu menghembuskan perlahan. "Andrea, Selama kita ada dalam ikatan pernikahan, bolehkah dihadapan keluarga kita masing-masing, kita bersikap layaknya suami istri yang saling menyayangi?"
"Tapi hanya di hadapan orang kan? Maksud ku, kita...., kita tak akan melakukan hubungan intim layaknya suami istri kan?"
Gabrian tersenyum. "Kamu tenang saja, Andrea. Aku sama sekali tak akan menyentuhmu sampai kita berpisah nanti."
Andrea pun ikut tersenyum. "Baiklah. Aku pikir itu bisa."
"Kau tidurlah di ranjang. Aku tidur di sofa ini."
Andrea mengangguk. Ia langsung menuju ke ranjang dan membaringkan tubuhnya. Ia memang merasa sangat mengantuk.
Gabrian pun membaringkan tubuhnya di atas sofa. Ia merasa cukup nyaman karena sofanya besar dan empuk. Mata Gabrian memandang langit-langit kamar. Pikirannya menerawang, mengingat kembali kenekatannya memilih jalan pernikahan dengan Andrea. Awalnya, Gabrian berpikir agar bisa menyelamatkan pernikahan Alexa dan Oliver namun kemudian, ia merasa kasihan dengan Alana yang sangat tertekan dengan keadaan Andrea. Entah kenapa, Gabrian merasa terpanggil untuk menyelamatkan nama baik putri kerajaan Flowers ini. Dan pada akhirnya, pernikahan ini bisa membuat Eilaria dan Gabriel kembali bersama dalam cinta mereka. Karena Gabrian tahu, hati Eilaria saat ini terbagi dan ia tak ingin Gabriel terluka jika mengetahuinya.
Gabrian memilih untuk keluar menuju balkon karena ia tak bisa tertidur. Balkon kamar ini langsung berhadapan dengan taman istana yang di tata dengan indah. Sampai akhirnya, mata Gabrian menatap seorang perempuan yang sedang duduk sendiri di bangku taman. Ia dapat mengenali kalau gadis itu adalah Alana.
Mengapa Alana belum tidur? Inikan sudah tengah malam?
Alana yang sedang duduk itu akhirnya berdiri. Saat ia berbalik, matanya membulat saat melihat siapa yang berdiri di balkon kamar Andrea. Tatapan keduanya bertemu, dan Gabrian merasa hatinya sakit melihat wajah sedih Alana. Mata gadis itu terlihat sembab. Mengapa Alana menangis?
Alana akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam. Meninggalkan Gabrian yang masih menatapnya dengan intens. Gabrian yang tak bisa mengartikan apa maksud tatapan mata Alana itu.
***********
Bagaimana Gabriel dan Eilaria, Gabrian dan Andrea akan tinggal di rumah yang sama saat mereka di Jakarta?
saksikan Next episodenya ya ....
maaf emak lama up...
anak emak lagi demam....
__ADS_1