Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Sementara Biarlah Terluka


__ADS_3

"Maksudmu, kau akan menceraikan aku, Iel?"


Gabriel menggeleng. "Aku hanya memintamu untuk menjauh. Aku tak akan pernah menceraikan mu kalau kau sendiri tak memintanya. Aku tahu bagaimana tradisi keluarga Thomson yang terus terpelihara sampai hari ini. Namun dari pada kau tersiksa karena tak bisa menentukan siapa memilik hatimu yang sebenarnya. lebih baik kita akhiri saja."


Eilaria hanya diam mendengar kata-kata Iel. Hatinya semakin sesak. Ia tahu Gabriel mengucapkan itu semua dengan hati yang terluka. Ia dapat melihat bagaimana suaminya itu susah payah menahan air matanya.


"Mommy mengatakan kepadaku kalau aku harus bersabar. Aku memang sabar menunggu sampai hati dan cintamu kembali menjadi milikku seperti saat kita pertama kali pacaran. Namun, dengan tetap berada di antara aku dan Ian, maka kau tetap tak akan bisa menentukan pilihan. Selama 1 tahun ini, aku sangat tersiksa melihat bagaimana kau mencoba bertahan diantara aku dan Ian. Pergilah, Eil. Temukan hatimu untuk siapa. Walaupun aku tahu kemungkinan mu untuk bersama Ian sudah tertutup karena Ian sudah memilih Andrea. Jika ternyata kau bertemu dengan cinta yang lain, katakan padaku, aku akan segera mengurus perceraian kita. Dan aku pun akan siap membuka hati pada orang lain jika aku tahu kau sudah bahagia."


Eilaria langsung memeluk Gabriel sambil menangis. Kata-kata Iel semuanya benar. Ia memang tersiksa dengan keadaan ini. Ia tahu tak mungkin bersama Gabrian namun tak mau menyakiti Gabriel terlalu lama. Mungkin dengan menjauh, segala kegundahan hati akan mampu terobati. Menyendiri kadang obat terbaik untuk mengobati luka hati.


***********


Gabrian yang baru saja selesai rapat, terkejut saat sekretarisnya mengatakan kalau Eilaria menunggu di ruangannya. Gabrian agak bingung juga kenapa Eilaria menunggunya sementara Gabriel tadi ikut rapat bersama dan sekarang sudah kembali ke perusahaannya.


"Eil?" Gabrian menyapanya dengan nada yang mengandung pertanyaan, apa yang sebenarnya gadis itu lakukan di sini.


"Maaf, aku mengganggumu."


"Tidak. Aku baru selesai rapat. Ada apa?" tanya Gabrian lalu mengambil tempat duduk di depan saudara iparnya itu.


Eilaria mengeluarkan sebuah novel dari dalam tasnya. "Gabriel memberikan ini padaku 2 hari yang lalu. Hatiku sakit saat tahu kalau tujuanmu kuliah di London adalah untuk menemukanku. Mengapa takdir mempermainkan kita seperti ini, Ian?"


"Takdir tidak mempermainkan kita, Eil. Tapi memang jalan kita sudah seperti ini diatur oleh Sang Pemilik kehidupan. Saudaraku, tak salah. Dia jatuh cinta padamu dan tak mengatakan siapa dirinya saat kamu mengembalikan novelku yang tertinggal di bandara saat itu. Kamu juga sebenarnya jatuh cinta pada Iel bukan karena wajah aku dan Iel sama melainkan karena ketulusan Iel mencintaimu. Hanya saja, kecelakaan itu membuatmu bingung dan akhirnya tak mampu menentukan sikap. Awalnya memang sakit, Eil. Melihatmu bersama Iel dan mengubur semua mimpiku. Namun aku belajar mengikhlaskan dan selalu berbicara pada diriku sendiri bahwa kita memang tak berjodoh."


Eilaria menunduk dalam diam. Kata-kata Gabrian memang benar dan sangat menusuk ke dalam hatinya.


"Eil, aku tak akan pernah mengikuti kata hatiku yang mencintaimu sekalipun Gabriel memberikan jalan itu untuk kita. Karena sejak tahu kalau Iel mencintaimu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mendukung kebahagiaan adikku itu. Aku sadar kalau cinta itu tak selamanya harus memiliki.Aku sudah cukup bahagia kalau kau akhirnya tahu bahwa aku pernah mencintaimu."


"Aku akan pergi, Ian."


"Kenapa?"


"Aku akan menjauh untuk menenangkan hatiku sendiri. Aku sudah menyakiti Iel dengan perasaanku yang terbagi."


"Kalian akan bercerai? Bukankah di keluarga Thomson tidak pernah ada perceraian?"


"Iel mengatakan kalau dia tak akan pernah menceraikan aku kecuali aku yang menginginkannya."

__ADS_1


"Iel tak mungkin menceraikan mu, Eil. Dia sangat mencintaimu."


"Sayangnya itu yang sudah kami putuskan bersama. Besok aku akan ke Amerika untuk melanjutkan studi S2 ku di sana."


Gabrian hanya bisa mengangguk. "Ada yang pernah bilang padaku, bahwa penderitaan terkadang menjadi jembatan penghubung menuju kebahagiaan. Aku, Ian, kamu, diijinkan Tuhan untuk melewati semua kesakitan ini karena Tuhan sebenarnya sedang menyiapkan sebuah kebahagiaan pada kita masing-masing."


Eilaria mengangguk. Ia keluar dari ruangan Gabrian dengan hati yang lega. Walaupun saat ini ia terluka, namun ia yakin Tuhan sudah menyiapkan seseorang yang special untuknya. Apakah itu tetap bersama Iel ataukah bersama pria yang lain, Eil tahu pria itu akan ada dan sedang menunggunya.


**********


Eilaria sudah seminggu pergi. Gabriel sendiri yang mengantarnya ke bandara. Sebenarnya Gabriel ingin mengantar Eilaria sampai ke London dan menjelaskan tentang situasi pernikahan mereka. Namun Eil menolak. Lagi pula Eil akan langsung ke Amerika. Ia ingin segera melanjutkan studi S2 nya.


Hari ini, Gabriel duduk sendiri di dalam pondok di bekakang rumah mereka. Sepi, rindu, rasa kehilangan yang dalam sementara ia alami. Di tangannya ada cincin pernikahannya bersama Eilaria. Sepasang cincin yang sangat indah. Namun tak seindah perjalanan rumah tangga mereka.


Besok, Jero dan Giani akan pulang dari perjalanan mereka. Gabriel tahu kalau Giani pasti akan sangat marah padanya. Karena mamanya sudah meminta Gabriel untuk bersabar. Apakah Gabriel tidak sabar? Apakah Gabriel tak mau memperjuangkan cintanya pada Eilaria? Sebenarnya sampai kapanpun Gabriel akan sabar, Gabriel akan setia menunggu sampai kapanpun. Namun Gabriel akhirnya memilih mengalah karena ia tahu Eilaria semakin tersiksa semenjak Gabrian menikah dengan Andrea dan melihat kemesraan antara Ian dan Andrea tiap hari. Gabriel ingin membebaskan Eil agar ia bisa terlepas dari semua beban yang diawali dengan kebohongannya, lalu saat ia meminta Gabrian untuk menggantikannya. Andai saja waktu itu Eil tahu mengenai kecelakaan itu, pasti ia tak akan pernah menikmati kebersamaannya dengan Gabrian selama berbulan-bulan dan menimbulkan dua cinta dalam hidupnya.


Gabrian mendekap cincin pernikahan mereka di dadanya. Terbayang kembali saat Eilaria memeluknya sangat erat ketika ada di bandara.


"Maafkan aku untuk semuanya, Iel." Kata Eilaria sambil membuka cincin yang ada di jarinya. "Simpanlah cincin ini. Aku tak pantas memakainya karena aku tak bisa mencintaimu lagi dalam ketulusan."


Gabriel menerima cincin itu dengan hati yang sangat terluka. "Aku juga meminta maaf padamu karena sudah tak jujur sejak awal pertemuan kita."


Lagi-lagi Gabriel hanya mengangguk.


"Bye....." Eilaria melambaikan tangannya dan segera masuk ke pintu khusus penumpang. Gabriel pun melangkah pergi dengan dada yang semakin sakit. Ia sungguh terluka melepas Eil pergi.


"Iel....!"


Lamunan Gabriel terhenti. Ia menoleh ke arah samping. Gabrian sudah berdiri di sana. "Boleh aku duduk di sini?"


Gabriel mengangguk.


"Mengapa kau lepaskan Eil pada hal kau sangat menyayanginya?"


Gabriel tersenyum. "Ian, hatimu terbuat dari apa sampai kau rela mengorbankan segalanya untuk aku? Seharusnya dari awal kau jujur agar aku tak menyakitimu dengan menikahi Eil. Kau bahkan rela menikah dengan Andrea yang sedang hamil anak orang lain untuk menyelamatkan pernikahan kak Eca dan kak Oliver."


"Kau tahu?"

__ADS_1


"Aku membujuk kak Eca untuk mengatakan segalanya karena yang aku tahu kamu itu dekat dengan Alana dan bukan dengan Andrea. Aku pernah melihat fotomu bersama Alana yang dikirim Alana pada Eilaria."


"Eil juga tahu tentang latar belakang pernikahan kami?"


"Nggak. Walaupun aku tahu, ia penasaran mengenai pernikahan kalian yang kesannya sangat tiba-tiba."


Gabrian menarik napas panjang. Ia menatap danau yang ada di depan mereka. Dulu sewaktu kecil, mereka sering mandi di sana. Namun semenjak SMA, menikmati dinginnya air danau sudah pernah mereka lakukan lagi.


"Ian, bagaimana kau akan membesarkan anak yang bukan darah daging mu?"


Gabrian menatap Gabriel. "Aku bahkan sudah menyayanginya sebelum dia lahir. Mungkin karena aku selalu melihatnya tumbuh melalui pemeriksaan USG. Kata dokter, jenis kelaminnya adalah perempuan. Dia pasti akan secantik Andrea."


"Dan apakah jika anak itu lahir, dan kau sudah menyayanginya, kau akan sanggup melepaskan mereka pergi?"


Gabrian terkejut mendengar perkataan Gabriel. Jujur, ia memang mulai merasa menyayangi anak itu. Ia bahkan pernah beberapa kali menyentuh perut Andrea saat anaknya bergerak. Hati Gabrian merasa senang saat itu. Namun jika akhirnya Andrea akan pergi dengan anak itu, Gabrian tak akan pernah mencegahnya karena memang itulah yang Andrea inginkan.


*********


Giani sangat sedih mendengar Eilaria telah pergi. Namun ia tak bisa berbuat apapun. Baginya, Iel dan Eil sudah cukup dewasa untuk memutuskan apa yang terbaik dalam hidup mereka.


Sekarang, Giani sedang fokus dengan Andrea. Tinggal 2 bulan lagi dan perempuan itu akan melahirkan. Kalau Eilaria orangnya cepat akrab dan sedikit cerewet, sangat berbeda dengan Andrea yang agak pendiam. Namun Giani melihat kalau Stevany sangat suka dengan Andrea. Ia bahkan yang sangat bersemangat menyiapkan seluruh perlengkapan bayi.


Andrea bangun dengan perut yang terasa sangat nyeri. Gabrian yang sementara bersiap untuk ke kantor, menoleh sekilas ke arah Andrea.


"Ada apa, Andrea?"


Wajah Andrea yang putih itu terlihat semakin pucat. Ia menatap ke bagian bawa tubuhnya.


"Sepertinya air ketuban ku sudah pecah."


"Apa? Tapi ini kan belum waktunya melahirkan dan......." Gabrian tak meneruskan lagi perkataannya. Ia langsung berlari dan memanggil semua orang.


**********


What next????


dukung emak terus ya???

__ADS_1


makasi susah baca part ini


__ADS_2