Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Semakin Jatuh Cinta


__ADS_3

Eilaria berhasil membujuk suaminya agar mereka tidur di rumah ini. Ia ingin membaca beberapa novel yang tak ada dalam koleksinya. Walaupun Gabrian mengatakan kalau ia dapat membawa novel yang ingin di bacanya ke apartemen, namun Eilaria tetap ingin berada di kamar Gabrian.


Saat Eil sementara membaca novel, Gabrian segera ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Namun perasaannya tiba-tiba merasa tak enak. Ia merasa gelisah atas sesuatu yang ia tak tahu apa itu.


"Sayang, kamu sedang buat apa?" tanya Eilaria.


"Sedang menyiapkan makan malam. Ayo duduk!" ajak Gabrian.


"Kamu yang masak semua ini?" tanya Eilaria sambil menatap beberapa jenis masakan yang sudah tersedia di atas meja makan.


"Iya."


"Kenapa nggak panggil aku untuk membantumu?"


"Kamu terlalu asyik membaca."


Eilaria tersenyum. Ia melingkarkan tangannya di lengan Gabrian. "Maafkan aku ya. Aku suka gitu kalau keasyikan baca novel."


"Nggak masalah, sayang. Sekarang kita makan, ya?"


Eilaria mencium pipi Gabrian. "Terima kasih. Kau terlalu memanjakan aku."


Keduanya pun menikmati makan malam sambil membahas beberapa novel misteri yang sempat Eilaria baca di kamar.


Selesai makan, keduanya duduk di pondok belakang sambil menikmati angin malam dan memandang bulan yang menyinari air danau.


"Tempat ini membuat suasana hati menjadi tenang dan damai." kata Eilaria sambil membaringkan kepalanya di bahu Gabrian.


"Mommy juga sangat suka di sini. Kadang ia membaca novel di sini sampai ketiduran. Daddy sering sekali mengangkat mommy dan memindahkannya ke kamar."


Eilaria melingkarkan tangannya di perut Gabrian membuat cowok itu kembali menahan napasnya. "Iel, aku suka sekali melihat kemesraan daddy dan mommy mu. Seperti juga orang tuaku. Mereka selalu mesra walaupun usia nggak muda lagi. Sama seperti oma Faith dan opa Ezekiel. Kadang aku iri dengan kemesraan mereka."


"Begitulah jika menjalani pernikahan dengan orang yang kita cintai."


Eilaria mendongak. "Iel....!" panggilnya mesra.


Gabrian menunduk sehingga tatapan mereka bertemu. "Ya?"


"Apakah kita akan seperti mereka jika kita sudah tua nanti?"


"Semoga, Eil."


Eilaria kembali membaringkan kepalanya di bahu Gabrian. "Semoga Tuhan memberikan kita hidup bersama yang panjang sehingga kita bisa melihat anak cucu kita. Ah, Iel, aku jadi mengantuk." Kata Eil lalu memejamkan matanya.


Tangan Gabrian melingkar di bahu Eilaria. Hatinya semakin galau. Iel, cepatlah sadar.


********


Ponsel Gabrian berbunyi. Ia tersenyum saat melihat ada nama mamanya di sana.


"Hallo, bunda!" Sapa nya lembut.


"Ian.....!" terdengar tangis Giani dari seberang.


"Ada apa, bunda?"


"Bunda ingin mati saja....!"


"Memangnya apa yang terjadi?"


"Iel....."

__ADS_1


"Ada apa dengan, Iel?"


Giani terdengar histeris.


"Ian.....!" Kali ini yang terdengar adalah suara Jeronimo.


"Dad, ada apa dengan Iel?"


"Nak, saudara kembar mu meninggal." lalu tangis Jero pecah.


"Apa? Katakan ini bohong, dad. Ini tak mungkin terjadi. Iel nggak akan meninggalkan kita semua. Tidak....!"


"Semua sudah terjadi, nak. Kita harus merelakan kepergian, Iel. Daddy mohon agar kamu mempersiapkan prosesi pemakaman nya. Besok, mayat Iel akan dibawa dari Singapura."


Tangis Gabrian pecah. Ia merasa sebagian tubuhnya juga menjadi kaku. Ia tak pernah membayangkan akan ditinggalkan sendiri oleh Gabriel.


"Ian, daddy tutup dulu ya? Mau lihat mommy. Dia pingsan lagi."


"Ya, dad."


Tangan Gabrian bergetar saat meletakan ponselnya di atas meja. Tulang-tulang dalam tubuhnya bagaikan dilucuti semuanya.


"Mengapa kau pergi meninggalkan aku, Iel? Mengapa harus secepat ini? Apakah kau sudah tak menyayangi kami semua?" tangis Gabrian sambil menatap foto masa kecil mereka.


Pandangan Gabrian kini beralih pada sosok perempuan cantik yang sedang tertidur lelap di atas tempat tidur. Apakah aku selamanya harus menjadi dirimu untuk Eil?


"Tidak.....! Aku tidak sanggup! Jangan tinggalkan aku, Iel. Jangan tinggalkan aku. Bagaimana aku harus menjelaskan nya pada Eil? Hiks.......hiks......hiks...., Iel......, jangan pergi, Iel....." teriak Gabrian dalam tangisnya.


*******


"Iel....., Iel....., bangun! Ada apa dengan mu, sayang?"


Gabrian bangun dan melihat sekelilingnya. Mereka berada di kamarnya. Ia ingat tadi saat Eilaria sudah tertidur di pondok, ia mengangkat Eilaria dan memindahkannya di kamar ini.


"Ada apa? Kenapa kamu berteriak memanggil namamu sendiri?" Eilaria menghapus keringat yang ada di wajah Gabrian dengan penuh kasih sayang.


Gabrian perlahan bangun dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Ia menatap Eilaria masih dengan tatapan bingung.


Apakah aku hanya bermimpi?


"Eil, bolehkah kau mengambilkan segelas air putih untukku?"


Eilaria mengangguk. Ia segera keluar kamar untuk mengambil apa yang suaminya inginkan.


Setelah Eil pergi, Ian mengambil ponselnya dan menelepon adiknya, Joselin.


"Hallo, kak." terdengar suara Joselin yang masih mengantuk. Sekarang masih jam 4 subuh dan itu berarti di Singapura masih jam 5 subuh.


"Jo, apakah sesuatu terjadi pada Iel?"


"Iya, kak. Tadi detak jantung Kak Iel sempat berhenti berdetak. Dokter bahkan sudah menyerah dengan alat kejut jantungnya. Saat para dokter sudah hampir memastikan kematian kak Iel, tiba-tiba saja jantungnya berdetak lagi dan kak Iel sempat membuka matanya sebentar lalu ia tak sadarkan diri lagi."


"Begitu ya? Keadaannya sekarang gimana?"


"Kata dokter sih masih kayak gitu. Nggak ada perubahan apapun. Minggu depan aku dan Stevany akan pulang karena liburan sekolah sudah selesai."


"Kabari apapun hal terkecil yang terjadi pada Iel ya? Salam untuk bunda dan daddy. Bye...." Gabrian mengahiri percakapannya dengan Joselin saat melihat pintu kamar yang terbuka kembali.


"Sayang, ini airnya." kata Eilaria sambil menyerahkan segelas air putih.


Gabrian langsung meneguk sampai habis air di dalam gelas itu.

__ADS_1


"Mau tambah lagi?" tanya Eilaria.


"Nggak. Cukup. Ayo tidur lagi!" ajak Gabrian setelah meletakkan gelas itu di atas nakas.


Gabrian membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Eilaria pun berbaring di sampingnya. Gadis itu meletakan kepalanya di atas kepala Gabrian dan tangannya melingkar di perut cowok itu.


Sebenarnya Eilaria ingin bertanya. Ia bingung karena Iel bermimpi sambil memanggil-manggil namanya sendiri seolah dia adalah orang lain. Namun karena didengarnya napas Iel sudah teratur sebagai tanda bahwa ia sudah tertidur, Eilaria pun tersenyum sambil memejamkan matanya.


Ada sesuatu yang mengusik perasaan Eilaria akhir-akhir ini. Sifat Iel yang berubah. Namun ia justru merasa semakin jatuh cinta pada Iel yang sekarang. Yang sedikit cuek dan sering lupa menciumnya. Eilaria bahagia karena hari ini mereka berdua berdiskusi tentang novel cukup lama. Hal yang sama sekali tak pernah mereka lakukan saat pacaran.


***********


Tak terasa dua bulan sudah berlalu......


Persidangan kasus pemalsuan tanda tangan dan dokumen perusahaan sudah dimulai. Untuk sementara Gabrian ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di rumah tahanan. Eilaria sangat sedih namun Gabrian mengatakan kalau ini hanya sementara. Ia yakin akan dibebaskan.


Gerry, Figia dan tim pengacara selalu berusaha melakukan yang terbaik. Mereka pun sangat yakin kalau mereka pasti menang.


Setiap jadwal jam besuk ada, Eilaria selalu datang menjenguk Gabrian dan membawakan berbagai macam masakan.


"Iel,kamu sudah kurus." kata Eilaria saat ia datang berkunjung ke rumah tahanan pagi ini.


"Mungkin karena aku terlalu merindukanmu."


"Dasar pembohong!" Eilaria tersenyum walaupun dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku nggak bohong. Aku memang merindukanmu." Gabrian menghapus air mata di pipi mulus Eilaria. "Kamu juga agak kurus."


"Aku juga terlalu merindukanmu!"


"Percayalah, sayang. Aku akan bebas. 2 Minggu lagi sidang putusan."


"Aku selalu berdoa untukmu. Aku bahkan sudah siapkan tempat untuk kita pergi berbulan madu. Pokoknya kali ini nggak ada alasan kamu untuk menolaknya."


"Oke." Gabrian mengangguk. Ia tak ingin Eil kecewa walaupun ia tahu sangat sulit untuk melakukan itu.


"Iel, kamu kan pernah bilang, ingin punya anak di usia muda. Waktu itu, aku menolak karena aku merasa masih sangat muda. Namun kali ini, aku nggak ingin menundanya. Jika kamu bebas, dan kita akhirnya pergi berbulan madu, aku ingin kamu tahu, kalau aku siap hamil. Aku ingin menyenangkan mu dengan melahirkan anak-anak yang banyak untuk kamu."


Gabrian tertegun. Ia tahu tentang keinginan Iel itu. Namun, jika Iel tak kunjung sadar? Haruskah ia yang melakukannya?


"Kenapa diam? Kamu nggak suka?"


"Nggak, sayang. Aku suka. Aku hanya bingung kenapa pikiranmu cepat berubah."


Eilaria menggenggam tangan Gabrian. "Pernikahan kita belum menemukan kata bahagia karena masalah yang beruntun ini. Karena itu jika semuanya sudah selesai, aku ingin membahagiakanmu. Aku mencintaimu, Iel. Sangat mencintaimu."


Gabrian mencium punggung tangan Eil. Hatinya semakin hancur. Ia takut jika Iel tak kunjung sadar dan akan terus membohongi ketulusan cinta Eilaria.


**********


Singapura Hospital, 2 minggu kemudian...


"Hari ini adalah sidang putusannya. Mommy yakin kalau Tuhan akan membela Ian. Ia sudah 3 bulan harus mendekam di penjara. Seminggu ini mommy doa puasa, memohon agar Tuhan menolong kalian. Mommy yakin akan kuasa Tuhan, nak. Melebihi apapun dari pada yang sanggup kita pikirkan." Giani menyentuh tangan Gabriel.


Saat Giani akan berdiri, tangannya tiba-tiba saja di tahan. Giani terkesiap. Ia menatap tangan Gabriel yang menggenggamnya erat.


"Mommy......!"


**********


Nah, Iel sadar nggak sih?

__ADS_1


__ADS_2