
Perlahan Alexa membuka matanya. Orang pertama yang dia lihat adalah Oliver. Pria itu duduk di tepi tempat tidur sambil memegang tangan Alexa.
Perlahan Alexa menarik tangannya dari genggaman Oliver. Ia memalingkan wajahnya. Rasanya tak sanggup menatap wajah pria yang telah menghiananti.
"Sayang.....!" Oliver akan meraih tangan Alexa lagi namun perempuan itu kembali menepis tangan Oliver. Jangan ditanya, bagaimana hancurnya hati Alexa sekarang. Sakitnya juga tak tertahankan. Namun wajah anak-anaknya menjadi obat penguat bagi Alexa. Sehingga air mata yang tadinya akan jatuh di pipi mulus Alexa, dihapuskannya dengan kasar dari sudut matanya. Alexa bangun lalu bersandar di kepala ranjang. Ia merasa masih sangat lemah tapi untungnya rasa pusing itu sudah hilang.
Pintu kamar terbuka. Gabrian masuk sambil membawakan teh hangat. "Kak Eca, minumlah. Pasti kau belum makan sama sekali. Tadi bibi Joana menelepon dan menanyakan apakah kau sudah tiba atau tidak. Mengapa tak meneleponku agar aku bisa menjemputmu di bandara?"
Alexa mengambil gelas yang berisi teh itu. Ia meminumnya sampai habis. Ia harus kuat untuk mempertahankan apa yang menjadi miliknya.
"Terima kasih, Ian. Tolong tinggalkan aku bersama Oliver."
Gabrian mengangguk. Ia tahu kalau suami istri itu memang butuh privasi untuk saling terbuka. Ia pun meninggalkan kamar.
Mata Alexa menatap suaminya dengan intens. Mencoba mencari tahu, mengapa wajah yang selalu menatapnya dengan penuh kerinduan itu bisa menghiananti kehidupan rumah tangga mereka.
"Why?" Alexa akhirnya bertanya.
"Semuanya di luar dari kendaliku. Aku tak bermaksud melakukan ini padamu, Eca. Aku bahkan begitu takut untuk jujur padamu."
"Ceritakan bagaimana kalian bisa bersama."
Oliver menceritakan awal pertemuannya dengan Andrea. Seperti yang diceritakan Andrea pada Alana.
"Aku begitu bodoh saat obat itu bekerja dan menguasai diriku. Aku pikir semuanya hanya akan menjadi cerita satu malam yang akan menghilang begitu saja dalam kehidupanku. Ternyata tidak. Andrea hamil."
Alexa terkejut. Ia berharap apa yang didengarnya salah. Ia berharap kalau Oliver hanya tidur saja dengan Andrea tanpa ada benihnya yang tumbuh.
Tubuh Alexa bergetar hebat. Ia rasanya tak sanggup mendengar pengakuan Oliver ini. Membayangkan kedua anaknya akan memiliki adik yang lahir bukan dari rahimnya sungguh sangat menyakitkan. Alexa memang memiliki adik tiri. Namun ia memiliki kedua adik tirinya itu bukan dengan cerita yang menyakitkan. Felicia dan Joaldo lahir dari hubungan yang benar antara papanya dan Joana, juga dari mamanya dan Juan. Kehadiran kedua adik tirinya itu sangat menggembirakan bagi Alexa. Namun jika anak Andrea dan Oliver lahir, apa yang harus Alexa jelaskan pada kedua anaknya?
"Sayang....!" Oliver menjadi khawatir melihat tubuh Alexa yang bergetar hebat.
Alexa turun dari tempat tidur. Air matanya yang tadi susah payah ditahannya kini mengalir dengan begitu deras. Ia juga memikirkan Andrea. Ia.mengerti perasaan Andrea yang bingung dengan statusnya sebagai seorang putri kerajaan. Apalagi, Oliver adalah pria pertama yang merebut kesuciannya.
"Seharusnya kau jujur padaku saat pertama kau menyentuh gadis itu, Oliver. Mengapa aku harus mengetahuinya seperti ini? Kau sungguh menyakiti hatiku. Kau akan menyakiti juga kehidupan anak-anak kita. Mengapa Oliver? Mengapa kau tak mau jujur padaku?" teriak Alexa dengan rasa marah, kecewa, sakit hati yang menyesakkan dadanya.
"Aku begitu takut kau akan meninggalkan ku, Eca. Aku takut kau akan minta cerai. Setiap kali kita bercinta, hatiku dipenuhi dengan rasa bersalah yang sangat besar. Apalagi saat menatap wajah anak-anak kita, aku dipenuhi dengan ketakutan kalau suatu hari kau tak akan membiarkan aku melihat mereka tumbuh." Oliver menangis. Ia bersujud di depan Alexa.
"Dan kau memilih untuk menjalani ini secara diam-diam? Itu sama saja kau sudah berselingkuh, Oliver. Kalian tinggal di rumah ini bersama, jangan katakan padaku kalau kalian tidak tidur bersama!"
__ADS_1
"Alexa, aku bersumpah demi anak-anak kita, aku sama sekali tak pernah menyentuh Andrea. Aku tidur di kamar yang lain. Aku hanya kasihan padanya karena ia mengalami masa ngidam yang berat. Aku hanya menemaninya."
"Lalu, SMS yang ada panggilan sayang itu apa? Kau jangan membodohi aku, Oliver."
"Eca, Andrea juga minta maaf sudah mengirim SMS dengan sapaan kata sayang. Itu hanya dorongan dalam hatinya karena pengaruh kehamilannya. Rumah ini ada CCTV nya, kau dapat memeriksanya, Eca. Aku sama sekali tak pernah tidur dengan Andrea." Kata Oliver sambil memegang tangan Alexa. Pria itu berada dalam rasa ketakutan yang mendalam. Takut kalau Alexa akan meminta pisah darinya.
"Aku tak tahu Oliver. Aku tak tahu harus bicara apa. Aku selalu memimpikan pernikahan kita akan abadi. Hanya dipisahkan oleh maut. Aku terlalu yakin kalau aku adalah satu-satunya wanita dalam hidupmu."
"Kau memang satu-satunya wanita dalam hidupku. Aku mencintaimu."
Alexa menggeleng. "Kau tak bisa mengabaikan Andrea. Walaupun kehamilan itu terjadi tanpa kalian inginkan, namun anak itu tak bersalah. Kau harus bertanggungjawab, Oliver."
"Aku akan menafkahi anak itu, Eca. Aku memang tak bisa mengabaikannya. Karena Andrea pasti akan diasingkan dari kerajaan. Andrea tak meminta apapun. Ia hanya memintaku menemaninya sampai keluarga istana tahu. Mereka harus tahu kalau Andrea hamil bukan karena pergaulannya buruk. Melainkan karena ia dijebak oleh teman-temannya." Oliver berdiri. Ia memegang kedua tangan Alexa. "Sayang, aku tahu kesalahanku padamu sangat besar. Tapi aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku tak bisa tanpamu. Selama ini, aku bersikap dingin dan seolah tak memperdulikan mu karena aku tak sanggup menatap wajahmu. Kau adalah wanita terbaik yang diberikan Tuhan padaku. Dan aku sudah berjanji untuk menyayangimu seumur hidupku. Mungkin semua ini terjadi sebagai hukuman Tuhan padaku karena aku dulu sering mempermainkan wanita. Makanya aku memilih penyimpan semua ini sendiri karena tak ingin membuat kalian sedih."
Alexa melepaskan pegangan tangan Oliver. "Kau lupa dengan sumpah pernikahan kita? Saat susah maupun senang, saat berkelimpahan maupun berkekurangan, saat sehat maupun sakit kita akan selalu bersama. Itu artinya juga kita akan saling jujur. Aku terluka karena kau memilih untuk tak berbagi denganku. Aku bagaikan orang lain bagimu. Karena itu, aku tak bisa mengambil keputusan apapun malam ini." Alexa menghapus air matanya. "Aku mau mencari hotel."
"Aku akan mengantarmu."
"Aku ingin sendiri."
"Tapi sayang, aku tak ingin kau sendiri malam ini. Aku ingin menemanimu."
"Kadang kita butuh sendiri untuk mendapatkan keputusan yang terbaik." Alexa menarik napas panjang. Ia menatap Oliver sekali lagi. "Aku pergi!"
Perlahan Alexa melepaskan tangan Oliver. "Kalaupun kita harus berpisah, kau harus siap menerimanya. Sebagaimana keputusan yang kau ambil untuk menyembunyikan ini dariku. Sudah ku katakan aku sangat terluka. Bukan karena kau sudah tidur dengan Andrea melainkan karena kau memilih untuk tak jujur padaku. Aku tak ingin mengambil keputusan yang terburu-buru karena aku harus memikirkan perasaan anak-anakku."
Oliver merasakan jantungnya bagaikan berhenti berdetak melihat Alexa yang perlahan pergi menjauhinya. Ia pun mengikuti Alexa sampai akhirnya mereka tiba di ruang tamu. Andrea ada di sana. Sedang duduk bersama Gabrian.
"Ian, tolong antar aku ke hotel." Kata Alexa.
"Baik, kak." Kata Gabrian lalu segera berdiri dan mengikuti langkah Alexa.
"Kak Alexa....!" panggil Andrea.
Alexa membalikan badannya. Walaupun hatinya sakit, ia berusaha tersenyum. "Ada apa tuan putri?"
Andrea mendekat. "Maafkanlah, kak Oliver. Akulah yang memintanya untuk datang ke sini. Kehamilan ini membuatku ingin selalu dekat dengannya. Aku janji kak, akan memutuskan hubunganku dengan kak Oliver jika aku sudah bisa menjelaskan ini pada keluargaku dan jika aku sudah selesai melahirkan."
"Tuan putri, hubungan kalian tidak akan pernah selesai karena kalian akan memiliki anak. Ijinkan aku pergi dan berpikir malam ini. Permisi!" Kata Alexa dengan tenang lalu ia melangkah lagi.
__ADS_1
"Eca....!" Oliver mengejarnya sampai di teras rumah.
"Oliver, sudah kukatakan untuk membiarkan aku sendiri. Ayo Ian!"
Oliver hanya bisa menatap kepergian Alexa dan Gabrian dengan hati yang semakin hancur. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini menjadi hantu yang membayangi hari-harinya. Akankah Alexa meminta cerai darinya?
Tidak! Apapun yang terjadi, aku tak akan pernah bercerai dari Alexa. Aku kulakukan apa saja untuk mempertahankan rumah tangga kami. Kata Oliver dalam hatinya.
**********
"Ian, buang ide gila mu untuk menikahi Andrea. Anak itu bukan tanggungjawab mu melainkan Oliver." Kata Alexa saat keduanya sudah berada di apartemen Gabrian. Cowok itu berhasil membujuk Alexa untuk menginap di apartemennya yang memang memiliki 2 kamar. Gabrian tak ingin membiarkan sepupu yang sangat disayanginya itu sendirian.
"Kak, aku ingin menyelamatkan pernikahan kalian. Aku tahu kak Oliver salah. Dan ia juga memikirkan masa depan Andrea. Hanya sebuah pernikahan yang bisa menyelamatkan hidup Andrea dan membuat kak Oliver tenang."
"Lalu kau akan menghabiskan hidupmu bersama dengan orang yang tak kau cintai? Membesarkan anak yang bukan darah daging mu? Kamu pikir bibi Giani akan tinggal diam jika kamu melakukan ini? Kau berhak bahagia dengan orang yang kau cintai, Ian."
"Aku tak akan pernah bersama dengan orang yang kucintai. Jadi biarkan saja aku menikahi Andrea." Kata Gabrian dengan wajah sedih. Untuk sesaat ia mengingat Eilaria.
Ponsel Gabrian berbunyi. Sebuah panggilan masuk dari Alana.
"Hallo Alana."
"Ian, maukah kau datang ke rumah sakit? Aku merasa sangat galau malam ini."
"Apakah keluargamu tak datang?"
"Hanya mommy. Aku bohong ke mommy kalau aku akan segera keluar. Mommy kembali ke kerajaan karena ada jamuan makan malam kerajaan. Kak Andrew tadi bersamaku namun ia pergi saat aku bilang kalau Andrea akan menemaniku."
"Baiklah. Aku akan ke sana" Gabrian menatap Alexa. "Kak, aku pergi sebentar ya? Kakak istirahat saja. Jangan lupa berdoa, kak."
Alexa mengangguk.
*******
Gabrian tiba di rumah sakit. Ia tahu kalau Alana juga saat ini sangat terbeban karena ia belum bisa menceritakan apa yang terjadi pada keluarga nya.
Saat ia memasuki lobby rumah sakit, langkahnya terhenti melihat siapa yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Hati Gabrian bergetar karena rasa rindu. Ia tak bisa membohongi hatinya. Cintanya masih begitu besar untuk perempuan itu.
**********
__ADS_1
Makasi sudah baca part ini
makasi untuk semua komentar nya yang membuat aku semakin semangat menulis kisah ini. Konfliknya berat dan masih akan berlanjut. Jadi sabar menunggu up nya ya