
Gabrian Dawson menatap cermin besar yang ada di dekat pintu utama rumah keluarga Dawson yang ada di Manhattan. Rumah ini sebenarnya adalah milik Kakek Jeronimo yang akhirnya diwariskan kepada Jeronimo. Semenjak Joselin melanjutkan kuliahnya di Amerika, Stevany juga memilih untuk kuliah di sini dan bisnis keluarga Dawson terjalin kerja sama dengan perusahaan milik keluarga Hilton, Gabrian dan Gabriel selalu bergantian datang ke Amerika sekaligus juga menemani Joselin.
Rumah ini sudah direnovasi oleh Gabriel yang bekerja sama dengan Gabby yang seorang arsitek handal. Dan karena ini sedang liburan musim panas, Jero dan Giani pun datang ke Amerika.
"Kamu sudah tampan!"
Gabrian menoleh ke sumber suara itu. Ia tersenyum pada wanita yang sudah melahirkannya. "Bunda, mana daddy?"
"Daddy lagi nonton pertandingan tinju. Kamu mau keluar?"
"Iya. Ingin jalan-jalan sekalian cari oleh-oleh untuk Figia."
Giani nampak sedikit cemberut.
Gabrian mendekati mamanya. "Bunda, aku kan sudah bilang kalau Figia itu orangnya baik."
"Bunda tetap tak setuju kalau kalian berhubungan. Jadi teman saja."
"Kami kan memang berteman."
"Bunda melihat kalau Figia punya rasa untukmu."
"Apakah bunda ingin selamanya aku tetap menjadi duda?"
"Tidak, sayang. Bukalah hatimu untuk gadis lain. Apakah kau belum melupakan Andrea?"
"Aku sudah belajar mengikhlaskan dia, Bun. Seperti aku juga yang belajar melupakan Eilaria dalam hidupku. Karena Cinta memang tak selamanya harus saling memiliki kan? Aku hanya penasaran saja, bagaimana kabar Andrea sekarang? Apakah ia sudah menyelesaikan kuliahnya? Apakah dia sudah menikah lagi dengan orang lain? Kabar tentangnya tak lagi bisa kutemui. Bahkan pihak kerajaan seperti menutup semua akses untuk tahu keberadaan Andrea."
Giani menepuk pundak putranya. "Bersenang-senanglah malam ini. Tapi jangan mabuk, ya?"
"Tenang saja, Bun." Gabrian mencium pipi mamanya lalu segera menyambar kunci mobilnya dan segera keluar menuju ke tempat mobilnya yang di parkir.
Ini memang bukan malam pertama Gabrian jalan-jalan di kota Manhattan. Namun ia tak pernah jalan sendiri. Biasanya ada Joselin, Stevany atau Gabriel yang menemaninya.
Hari ini, Gabriel sedang pergi ke acara ulang tahun perusahaan Hilton dan kedua adik perempuannya sedang pergi menonton bioskop dengan teman-teman mereka. Makanya Gabrian memutuskan untuk jalan-jalan sendiri, apalagi ini malam minggu. Malam yang banyak disakralkan oleh banyak pasangan namun sayangnya Gabrian tak punya pasangan saat ini.
Mobil Gabrian memasuki halaman parkir sebuah club elite yang sudah pernah ia kunjungi dengan Gabriel selama beberapa kali.
Mereka bahkan sudah memiliki kartu anggota club' ini.
Yang Gabrian suka dari club' ini adalah makanannya yang enak, ada menu nasinya, ada tempat main biliard, main bowling, fasilitas gim dan kolam renang, juga barnya.
Malam ini Gabrian memilih untuk main bowling sebentar dan setelah itu ia akan menikmati makan malam sambil menunggu Gabriel dan Gabby bergabung bersama setelah pulang dari pestanya Hilton.
Tempat bermain bowling tidak terlalu ramai sehingga Gabrian tak perlu antri. Masih ada beberapa jalur bowling yang kosong.
__ADS_1
Gabrian pun mengambil bola dan memulai permainannya. Ia memang baru beberapa bulan menekuni permainan ini dan dia sangat suka.
Begitu asyiknya ia bermain, Gabrian tak menyadari kalau di jalur sebelah kanan yang tadinya kosong, kini sudah diisi oleh 3 orang perempuan yang sesekali terdengar suara tawa mereka. Gabrian akhirnya menoleh dan memperhatikan ketiga gadis itu yang saling bergantian menggelindingkan bola. Mereka terlihat sangat mahir juga bermain. 2 orang gadis terlihat anak Amerika dengan rambut blonde, sementara gadis yang satu, yang membelakangi Gabrian, berambut coklat tua. Warna rambut yang mengingatkan Gabrian pada Andrea.
Gadis yang satu itupun berbalik. Jantung Gabrian bagaikan berhenti berdetak saat melihat gadis itu. Andrea.....!
Gadis itu menoleh sekilas ke arah Gabrian lalu ia membetulkan tali sepatunya yang terbuka. "Girls, are we going home now? I am very tired" ujarnya kemudian. Ia seperti tak mengenal Gabrian pada hal jarak diantara mereka begitu dekat.
Jantung Gabrian berdetak semakin cepat. Itu adalah suaranya Andrea.
"Kenapa pulang? Kita kan belum lama sampai. Baru juga 30 menit." Keluh salah satu gadis.
Gadis berambut coklat itu membisikan sesuatu yang membuat dua temannya itu mengangguk.
Melihat mereka akan pergi, Gabrian pun bergegas menyusul mereka. Ia membuka sepatu khusus bermain bowling dan menggunakan kembali sepatu kulitnya.
"Andrea....!" Panggil Gabrian pada ketiga gadis itu namun mereka tanpa menoleh langsung masuk ke salah satu mobil yang terparkir di sana. Gabrian pun bergegas masuk ke dalam mobil dan segera menyusul mereka. Dia hanya ingin tahu kenapa Andrea seakan cuek padanya. Apakah karena 5 tahun tak berjumpa sehingga Andrea sudah melupakannya?
Gabrian terus mengikuti mobil itu namun pada saat lampu merah, mobil di depannya dengan sengaja menerobos lampu merah dan Gabrian akhirnya harus berhenti. Ia kehilangan jejak mereka dan Gabrian akhirnya harus menekan rasa kecewa. Ia memilih kembali ke rumah dan terkejut saat melihat mobil Gabriel sudah ada di rumah.
"Kau sudah pulang? Aku baru saja akan menyusul mu ke club." Ujar Gabriel yang berpapasan dengan Gabrian di depan pintu masuk.
"Aku melihat Andrea. Namun dia sepertinya tidak mengenali aku. Dia langsung pergi. Aku mencoba mengejarnya namun terhalang dengan lampu merah."
"Aku juga ketemu Eilaria malam ini."
Kedua saudara kembar itu, akhirnya masuk ke dalam rumah. Keduanya duduk di depan bar mini yang ada di bagian belakang rumah itu. Gabrian menyiapkan es batunya dan Gabriel menyiapkan gelas dan minumannya. Keduanya duduk saling berhadapan, duduk di atas kursi tinggi bar dan hanya dibatasi oleh meja bar yang terbuat dari kayu itu.
"Bagaimana reaksi Eilaria saat melihatmu?" tanya Gabrian.
"Dia nampak terkejut namun sama sekali tak mau membalas senyumku kepadanya. Dia berdansa dengan Zack Hilton. Dan kata orang-orang yang ada di sana kalau Zack sangat tergila-gila padanya. Dia terlihat sangat dewasa dengan gaun dan dandannya." Ujar Gabriel lalu meneguk vodka yang ada di hadapannya.
"Apakah karena kau bersama Gabby?"
"Mungkin."
"Apakah karena itu kalian pulang cepat?"
"Gabby merasa tak enak badan. Makanya kami pulang cepat."
Gabrian menarik napas panjang. Jari telunjuknya menyentuh es batu yang ada di gelasnya. "Aku hanya ingin menyapa Andrea. Jujur saja, aku rindu padanya."
"Bagaimana kalau itu bukan Andrea? Bagaimana kalau itu adalah Alana?"
Gabrian terkejut. Ia jadi lupa kalau Andrea punya saudara kembar. Gadis yang lebih dulu Gabrian kenal.
__ADS_1
"Benar juga. Tapi Alana kan mengenalku. Aku yakin kalau itu adalah Andrea. Karena Andrea pernah bilang bahwa jika suatu hari kami bertemu lagi maka Andrea akan berpura-pura tak mengenal ku. Dan mungkin ini yang sedang dia lakukan."
"Kau masih menginginkannya?"
"Sepertinya aku merindukannya."
"Kau tak menyimpan perasaan apapun pada Eilaria?"
Gabrian menatap saudara kembarnya. "Kalau pun perasaan itu masih ada, mungkin hanya sekedar ingatan bahwa dia pernah menjadi cinta pertamaku, cinta yang bertahun-tahun ku kejar namun tak akan pernah kudapatkan. Eilaria hanyalah masa lalu bagiku." Gabrian menuangkan lagi minuman ke dalam gelasnya. "Dan kau, apakah kau masih mencintai Eilaria?"
Gabriel tersenyum. "Hatiku bergetar saat melihatnya. Aku memang masih mengharapkannya. Aku bahkan masih menyimpan cincin pernikahan kami. Namun aku tak ingin mengejar Eil lagi."
"Kenapa?"
"Kalau memang Eil ingin bahagia dengan Zack, aku akan melepaskannya."
"Dan kau akan mengambil tanggungjawab untuk membahagiakan Gabby?"
"Gabby tahu kalau aku tak mencintainya."
Gabrian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Kepalanya mulai pening karena banyaknya alkohol yang sudah masuk ke dalam tubuhnya. Gabriel pun demikian.
"Apakah selamanya kita ditakdirkan akan menjadi jomblo?" tanya Gabriel.
"Kita bukan jomblo. Tapi duda tampan yang kurang beruntung"
Kedua saudara kembar itu tertawa bersama. Tanpa mereka sadari Giani melihat kedua putranya itu. Ya Tuhan, berikanlah kebahagian untuk Iel dan Ian.
**********
Eilaria masuk kantor dengan mata yang agak bengkak. Semalaman ia menangis. Selama lima tahun ini, ia sudah berusaha tegar untuk tak terusik dengan 2 cinta yang ia miliki untuk satu wajah yang sama. Ia sengaja menyibukkan dirinya dengan banyak pekerjaan. Namun pertemuannya dengan Iel semalam ternyata menyadarkan Eil bahwa ia masih memiliki cinta untuk pria itu.
"Nona Thomson, wakil dari 2 perusahaan sudah siap di ruang rapat. Mereka sudah menunggu nona." Kata Sofia, sekretarisnya.
"Baiklah." Eilaria langsung berdiri. Ia menatap wajahnya sebentar di kaca besar yang ada di samping pintu. Ia mengambil lipstick dari dalam tasnya dan mengoleskan pada bibirnya yang terlihat pucat, memperbaiki rambutnya yang disanggul, lalu memakai kacamata minus nya. Ia pun melangkah keluar dari ruangannya, menuju ke ruang rapat yang memang letaknya ada di lantai yang sama dengan ruangannya. Saat ia membuka pintu, ia langsung menyapa para mitra perusahaan yang datang. Ia pun mengambil tempat duduk di kepala meja, sementara sekretarisnya membuka laptop dan langsung menghubungkan dengan LCD yang ada.
Pintu ruang rapat terbuka lagi. "Maaf kami terlambat."
Jantung Eilaria langsung berdetak cepat. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ke sumber suara itu. Dua pria, dengan wajah yang sama memasuki ruang rapat. Gabriel Dawson dan Gabrian Dawson.
**********
Apakah hati Eilaria masih terbagi? Ataukah Eilaria memutuskan untuk bersama Zack agar hatinya tak bingung? Lalu siapa yang dilihat Gabrian? Alana atau Andrea?
Kasih pendapat kamu ya guys
__ADS_1
jangan lupa like, komen dan vote