Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Fidel Tak Pernah Berubah


__ADS_3

Ada senyum kebahagiaan di wajah Mark dan Figia ketika selesai mengikat janji suci. 8 hari saja mereka menyiapkan pernikahan ini dan akhirnya semua boleh berjalan dengan baik.


Selama 8 hari itu pula hubungan mereka menjadi semakin dekat. Figia seolah sangat tergantung dengan Mark. Apapun dia ingin Mark yang lakukan. Mulai dari menyiapkan makan, menyiapkan susu dan vitamin yang harus dikonsumsi bahkan mengantarnya ke kantor. Figia selalu merasa perasaannya menjadi enak setiap kali Mark menemaninya. Ia tak tahu lagi apakah ini karena keinginan si bayi atau dia sendiri yang menginginkan pria bule itu menemaninya.


Saat mengucapkan janji suci tadi, jantung Figia juga berdetak sangat cepat. Tangannya yang memegang tangan Mark sampai berkeringat dingin. Namun Mark terlihat tenang, santai bahkan mengucapkan janji pernikahan dengan sangat lancar. Berbeda dengan Figia yang sedikit tersendat-sendat karena ia merasa bahwa ada emosi dalam dirinya yang hampir meledak dan membuatnya ingin menangis.


Keyzo dan Feronika, kedua orang tua Figia hadir dalam pernikahan mereka. Paman Fidel juga hadir dan bertindak sebagai saksi pernikahan mereka.


Figia sedikit kesal karena paman Fidel hadir dengan istri keempatnya. Seorang perempuan asal Thailand yang usianya hanya setahun lebih tua dari Figia. Pamannya itu memang sudah tiga kali bercerai. Dan ia selalu mencari perempuan yang wajahnya mirip Giani. Kebetulan istri keempatnya ini merupakan keturunan Thailand. Sama seperti Giani yang mamanya adalah orang Thailand.


Joel Alonso dan Serafina (masih ingat mereka kan? Joel adalah anak Joe Alonso dan Rachel Thomson, sedangkan Serafina adalah anak Jien Kim dan Calvin di novel Lerina), merasa senang karena anak bungsu mereka bisa menikah. Walaupun kesannya sangat mendadak, namun berita kehamilan Figia membuat pasangan yang kini menetap di Amerika itu menjadi bersemangat.


Caleb Thomson dan Grace Thomson juga hadir sekalian ingin melihat anak mereka Eilaria yang kini sedang hamil.


"Giani, terima kasih sudah menjaga anakku selama masa kehamilannya. Sebenarnya aku ingin Eilaria ada di London namun dia menolaknya dengan alasan bahwa suaminya Gabriel sangat sibuk harus bolak balik Jakarta-Amerika karena pekerjaan mereka di sana." Ujar Grace saat mereka sedang duduk bersama sambil menikmati makanan penutup.


"Tak perlu berterima kasih. Aku bahagia karena Eil walaupun menghadapi awal kehamilan yang sangat sulit namun sama sekali tak cengeng. Ia begitu kuat." Ujar Giani sambil melirik menantunya yang duduk di meja yang lain bersama Ian, Iel dan Andrea.


Grace hanya mengangguk. Ia menatap Caleb yang sedang bercakap-cakap dengan Jero dan Joel. Mereka terlihat begitu serius dan sangat menikmati percakapan itu.


"Aku ke toilet sebentar ya?" pamit Grace membuat Giani harus duduk sendiri.


"Hallo cantik! Wanita pujaan ku. Ternyata waktu tak mampu membuatmu terlihat tua di mataku. Kau masih seperti Giani yang dulu. Selalu membuatku bergetar saat melihatnya." Ujar Fidel yang entah dari mana sudah berdiri di samping Giani.


Walaupun sangat terkejut dengan kehadiran Fidel, namun Giani berusaha bersikap wajar. Ia mendongak, menatap pria Jepang itu, yang memang masih terlihat tampan dan gagah diusianya yang tak muda lagi.


"Hallo, Fidel. Di mana istrimu?"


Fidel menarik kursi dan duduk di samping Giani. "Dia sedang bersama dengan anak-anak ku. Aku datang ke sini karena merasa sangat rindu padamu."


"Jangan merindukan milik orang lain, Fidel. Bukankah kau sendiri sudah memiliki wanita secantik istrimu? Apalagi dia masih muda."


Fidel tersenyum. "Tak ada yang bisa menandingi kecantikanmu, Giani. Semua istriku hanya bentuk pelampiasan saja karena aku tak bisa memilikimu."


Giani menggelengkan kepalanya. Ternyata walaupun hampir memasuki usia lansia, Fidel masih gila seperti dulu. Bahkan obsesinya pada Giani tak pernah berhenti.


"Dad....!" Panggil Gabrian. Jero meninggalkan teman bicaranya dan segera mendekati putranya.


"Ada apa, nak?"


"Daddy membiarkan bunda sendiri? Tuh lihat kalau om Fidel sudah duduk di sebelah bunda."


Jero terkejut. Ia mengarahkan pandangannya ke tempat duduk Giani. Darahnya langsung panas. Ia mendekati Giani.

__ADS_1


"Sayang...." Jero muncul di meja Giani dan langsung memberikan ciuman di bibir Giani dengan sangat sensual. Giani sendiri sampai kaget dicium seperti itu oleh Jero.


Jero langsung duduk di sebelah Giani, lalu melingkarkan tangannya di bahu istrinya.


Fidel nampak tersenyum mengejek. "Kau masih saja cemburu denganku, Jero?"


"Karena kau masih saja terobsesi dengan istriku." Kata Jero tegas sambil semakin mengeratkan rangkulannya di bahu Giani.


"Baguslah kalau kau menyadarinya. Aku tak akan pernah melepaskan pandanganku pada Giani. Aku akan menunggu sampai dia menjadi janda dan memiliknya." Kata Fidel sambil menatap Giani dengan sangat mesra.


"Kamu berharap istriku menjadi janda?" Jero langsung emosi.


"Sayang....., Bee." Giani menahan tangan Jero agar suaminya itu tak terprovokasi dengan kata-kata Fidel.


"Jeronimo Dawson! Kita ini sudah tua. jadi wajarlah kalau diantara kita ada yang akan pergi menghadap ke Maha Kuasa. Jika memang kamu pergi lebih dulu, siapa yang akan menjaga Giani kalau bukan aku?" Fidel berdiri. Ia meraih tangan kanan Giani dan menciumnya dengan sangat lembut. "Ingatlah, Gi. Kau selalu di hatiku." Lalu ia segera pergi.


"Kamu....!" Jeronimo berdiri namun Giani langsung menarik tangannya untuk duduk kembali. Dari meja anak-anaknya, ia melihat kalau Iel dan Ian juga sudah berdiri.


"Bee...." Giani menggelengkan kepalanya. "Biarkan dia pergi. Jangan mempermalukan dirimu. Apapun yang dia katakan tak akan membuat hatiku berpaling padanya."


Wajah Jero langsung cemberut. "Inilah yang membuat aku tak suka datang ke sini, Mel. Kita akan ketemu dengan Fidel. Memangnya kamu pikir, aku tak tahu. Setiap Minggu dia mengirimkan kamu bunga namun atas pesan mu, para satpam langsung membuangnya sebelum masuk ke dalam rumah. Bahkan setiap ulang tahunmu, dia juga selalu mengirimi hadiah. Sudah hampir 30 tahun berlalu dan dia masih saja menyimpan semua rasa ini padamu?"


Giani memegang tangan suaminya. "Aku akan tetap mencintaimu, sayang. Seandainya pun Tuhan mengijinkan kau lebih dulu pergi meninggalkan aku, aku akan tetap menyayangimu. Aku akan terus menjadi jandamu sampai Tuhan memanggilku untuk menyusul mu ke sana. Lagi pula kita memiliki 4 malaikat yang akan menjaga kita. Jadi siapa yang berani mengusik cinta kita?'


Giani terkekeh. "Semoga cucu kita nggak tidur bareng kita malam ini."


Dari jauh, Gabrian dan Gabriel memperhatikan orang tua mereka. Ada rasa bangga karena mereka saling mencintai sampai tua.


*****************


Figia memasuki kamar apartemennya dengan hati yang bergetar. Hari ini ia sudah resmi menjadi istri Mark. Akankah Mark meminta haknya?


Ia memutuskan untuk mandi. Untunglah ia sudah berganti pakaian jadi tak sulit untuk membukanya.


Selama ia mandi, ia terus memikirkan tentang masalah malam pengantin. Mark memang sudah pernah menyentuhnya namun saat itu Figia mabuk dan tak merasakan bagaimana malam saat perawatnya diterobos oleh Mark.


Saat ia keluar kamar mandi, nampak Mark sudah ada di kamar. Ia masih mengenakan kemeja putih dan celana hitamnya. Entah dimana jasnya berada namun ia justru terlihat macho dengan kemeja yang digulung sampai ke sikunya dan 2 kancing kemeja yang terbuka.


Figia menelan salivanya saat Mark menatapnya dengan senyum manisnya.


"Kau mandi pada hal ini sudah jam setengah sebelas." kata Mark sambil mendekati Figia.


"A...aku hanya merasa gerah dengan gaun pengantinnya. Makanya aku mandi."

__ADS_1


"Kalau begitu aku mau mandi juga." Mark membuka kancing kemejanya dan membuat Figia semakin merasakan jantungnya berdebar saat melihat betapa atletisnya tubuh suaminya itu.


Saat Mark masuk ke kamar mandi, Figia buru-buru berpakaian dan langsung naik ke atas tempat tidur.


20 menit kemudian, Mark sudah selesai mandi dan ikut bergabung dengannya di atas tempat tidur.


"Fi, kamu capek?" tanya Mark.


"Sedikit." Jawab Figia yang membelakangi Mark.


"Tidurlah." Mark mencium kepala Figia lalu membaringkan tubuhnya.


10 menit kemudian.....


"Mark, apakah kamu sudah tidur?" tanya Figia.


"Belum."


Figia perlahan membalikan tubuhnya. Keduanya kini saling berhadapan. Mark tersenyum. Ia membelai wajah Figia.


"Fi, apakah aku boleh menyentuhmu?"


"Maksudmu, kau ingin kita ber....ber....."


"Aku ingi making love denganmu, istriku."


"Aku....aku...."


"Tak apalah jika kau belum siap." Mark memejamkan matanya.


"Aku si...ap!"


Mark membuka lagi matanya. Ia menatap Figia. "Sungguh?"


Figia mengangguk. Mark menarik napas panjang. Akhirnya setelah ia menahan hasratnya selama beberapa malam ini, sekarang ia bisa merasakan indahnya hubungan intim itu.


*******


Duh.....penasaran nggak?


cuss ke grup ya....


2 episode lagi tamat ya guys

__ADS_1


__ADS_2