
Kata orang, mata andalah jendela hati. Melalui tatapan mata kita dapat mengetahui apa yang tersimpan di dalam hati.
Eilaria melihat mata tanpa berkedip. Walaupun cahaya dalam ruangan ini tak begitu terang namun ia dapat melihat bagaimana mata Ian menatapnya dengan penuh damba, penuh cinta dan juga hasrat yang terpendam.
"Mengapa?" tanya Eilaria.
"Apanya yang mengapa?" tanya Gabrian tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari mata Eilaria.
"Mengapa harus menatapku seperti itu. Kau bukan Iel."
Karena aku mencintaimu.
Hampir saja kata-kata itu keluar dari mulut Gabrian. Namun ia susah payah menahannya. "Maafkan aku!" katanya sambil mundur beberapa langkah dari Eilaria.
Eilaria belum juga melangkah. Ia masih menatap Gabrian. Lalu kemudian ia pergi, meninggalkan pria itu yang masih diam, terpaku di tempatnya berdiri.
Gabrian menunggu sampai Eilaria benar-benar menghilang barulah ia masuk ke dapur. Ia membuka kulkas, mengeluarkan botol air mineral, meneguk isinya sampai hampir habis dan sisanya ia pakai untuk menyiramnya di kepalanya. Ia ingin mendinginkan kepalanya yang panas karena perasaannya ini.
Aku seharusnya tak boleh seperti ini. Tuhan, aku bisa menyakiti Iel. Bagaimana caranya menghilangkan perasaan ini? Bagaimana caranya membunuh semua rasa cinta ini? Rasanya sangat sakit hanya bisa melihat tanpa bisa memiliki.
Gabrian duduk termenung di depan meja pantri. Tanpa sadar ia menangis sangat dalam. Gabrian seakan tak kuasa menahan semua rasa cintanya.
"Ian, anakku, ada apa?" tanya Giani sambil menyalahkan lampu dapur.
Gabrian menoleh dengan kaget. Ia buru-buru menghapus air matanya dan tersenyum ke arah mamanya.
"Bunda, kenapa bangun?"
Giani mendekat. "Bunda merasa nggak enak perutnya. Ingin minum air hangat."
"Oh...."
"Kenapa rambutmu basah?" tanya Giani sambil memegang kepala Gabrian.
"Oh, aku..., aku merasa sedikit panas dan agak sakit kepala, bunda."
"Rindu udara London ya?"
"Mungkin juga."
Giani mengambil gelas dari lemari dan mengambil air panas dari dalam dispenser.
"Bunda, aku ke kamar dulu ya..." Pamit Gabrian sambil turun dari atas tempat duduk. Ia akan pergi namun Giani menahan tangan kanannya.
"Ian, kamu menangis?"
Gabrian dengan cepat menggeleng. "Nggak kok bunda."
"Matamu basah."
"Ini pengaruh air yang jatuh dari kepalaku."
__ADS_1
"Bunda tadi mendengar suara tangis mu. Ada apa?" tanya Giani.
Gabrian menarik napas panjang. Ia memegang pipi mamanya. "Everything will be fine, bun"
"Apakah kau patah hati?" tanya Giani tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya.
"No. Because I have a mother who will always give the best medicine." (Tidak. Karena aku memiliki seorang ibu yang akan selalu memberikan obat terbaik).
Giani memeluk putranya. Ia tahu kalau Gabrian terluka. Namun ia sengaja membiarkan Ian dan Iel akan tetap berada di rumah ini agar Ian dapat melihat kenyataan bahwa Eil tak mungkin lagi ia miliki. Giani juga ingin agar Eil melihat perbedaan antara Ian dan Iel. Dan Giani juga ingin agar Iel mengejar cinta Eil lagi yang sempat digoyahkan karena ia meminta Ian menggantikan dirinya.
"Jam berapa pesawatnya berangkat?" tanya Giani.
"Jam 5 subuh aku harus berada di bandara."
"Bunda akan membangunkan mu sebelum jam 4 subuh."
Gabrian mencium dahi mamanya. "Terima kasih, bunda. Aku mau istirahat sebentar." Lalu Gabrian menaiki tangga menuju kamarnya.
*********
Sarapan pagi ini diramaikan dengan kedatangan Alexa.
"Ian kemana?" tanya Alexa. Ia memang sangat tahu membedakan si kembar.
"Ian sedang ke London. Ia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di sana. Mana Oliver?" tanya Jero.
"Sedang ke London juga, paman. Sudah 2 hari." Alexa kemudian menyapa Eilaria dan Gabrian. Ia tak bertanya lagi si cantik Joselin dan Stevany karena ia tahu kalau mereka sudah berangkat ke sekolah.
Selesai sarapan, Eilaria mengantar Gabriel ke dokter untuk terapi.
"Eca, ada perlu apa ke sini?" tanya Giani.
Alexa tersenyum. "Nggak ada apa-apa, bi. Kangen saja mau datang ke rumah ini."
Keduanya sedang duduk di pondok depan danau. Di tangan mereka masing-masing ada cangkir berisi teh hijau.
"Kamu nggak kerja?"
"Malas saja. Tadi sehabis mengantarkan anak Azieel ke sekolah, aku langsung ke sini."
"Anak perempuanmu siapa yang jaga?"
"Masih pagi Aurora sudah di jemput oleh papa dan mami bule. Begitulah kalau rumahnya berdekatan. Katanya nanti di pulangkan sore ini."
"Sudah nggak ASI lagi?"
"Nggak."
Giani menatap Alexa. "Kenapa? Usia Aurora kan belum 2 tahun?"
"Aku sedikit stres akhir-akhir ini."
__ADS_1
Giani melepaskan cangkir kopi yang ada ditangannya lalu duduk di samping Alexa. Ia mengambil cangkir yang ada di tangan Alexa juga dan meletakkannya di atas meja. Di pegang nya kedua tangan Aurora. "Ada apa? Kau memiliki masalah dengan Oliver?"
"Oliver menghianatiku, bi." Kata Alexa sambil berusaha menahan air matanya.
"Apa? Pernikahan kalian baru saja berjalan lima tahun. Bagaimana mungkin dia menghianatimu? Bibi yakin kalau Oliver sangat mencintaimu."
"Aku juga berpikir begitu. Namun beberapa bulan terakhir ini, Oliver jadi sering pergi ke luar negeri. Aku pikir ia ke Madrid. Namun saat aku memeriksa posportnya, ternyata Oliver sering pergi ke London."
"Apa? Kenapa kamu tak meminta penjelasan padanya?"
"Sudah. Tapi dia justru marah kepadaku. Dia bilang kalau aku sudah tak percaya padanya. Dia mengatakan kalau bisnis keluarga Pergonas ada di sana. Aku sudah bertanya pada adiknya namun adiknya mengatakan kalau mereka tak membuka cabang di London. Di sana hanya ada kantor maskapainya saja. Tidak ada bisnis lain."
"Mungkin Oliver membuat bisnisnya sendiri."
"Aku menemukan percakapan watsaap nya dengan seseorang. Nomor yang tak ada namanya. Itu nomor asal London. Orang itu mengatakan datanglah ke London, sayang. Aku kangen. Dan Oliver membalas dengan kata ok dan emoji buah hati. Aku mencoba menghubungi nomor itu tapi nggak aktif. Aku pun sudah menanyakan kepada Oliver mengenai pesan itu, dia mengatakan kalau itu adalah temannya. Semenjak hari itu, Oliver justru menggunakan kata sandi untuk membuka ponselnya. Pada hal sebelumnya tidak."
"Cari tahu kebenarannya, Eca. Tak mungkin Oliver akan berubah begitu saja. Dia bahkan sangat menyayangi kedua anak kalian."
Alexa akhirnya menangis. Bahunya berguncang dengan keras, seperti juga hatinya yang terluka. "Aku yakin kali ini benar, bi. Kami bahkan jarang sekali berhubungan intim. Kalau aku menghitungnya, sudah 2 minggu ini Oliver tak menyentuhku sama sekali. Ia pun tak pernah mencium aku lagi. Hatiku hancur, bi. Aku tak mau menceritakan pada papa dan mami bule karena aku takut papa memiliki penyakit jantung. Aku tak ingin bercerai, bi. Aku tak ingin rumah tanggaku hancur. Bibi tahu kan prinsip aku adalah menikah sekali seumur hidup."
"Tenangkan hatimu, sayang. Ingat anak-anak mu. Jangan sampai rasa frustasi mu menganggu mereka. Aurora masih sangat kecil. Dia membutuhkan perhatianmu. Apalagi perusahaan papamu ada di tanganmu. Felicia masih sekolah begitu juga Joaldi masih sekolah. Mereka belum bisa membantumu mengolah perusahaan. Bibi akan membantumu menyelidiki segalanya. Kebetulan Ian sekarang ada di London. Bibi akan memintanya untuk mencari tahu keberadaan Oliver. Kau tahu alamatnya di London?"
"Nggak, bi. Yang aku tahu kalau dia pergi ke sana."
"Kita akan melacak GPS ponselnya. Namun dalam hal ini, kita harus meminta bantuan mami bule. Kita bisa memintanya untuk merahasiakannya dari papamu."
Giani mengangguk. Ia tahu kalau Giani bisa menolongnya. Ia merasa sedikit lega.
********
"Perkembangan mu semakin baik. Saya yakin kalau dalam jangka waktu 2 minggu lagi, kau tak memerlukan tongkat untuk bisa berjalan normal." Kata dokter Bram dengan sangat optimis.
Gabriel dan Eilaria saling menatap sambil tersenyum.
"Terima kasih, dok." kata Gabriel. Ia menggenggam tangan Eilaria. Gabriel sudah tak sabar ingin memulai bulan madu mereka.
Saat keluar dari ruangan dokter, Gabriel dan Eilaria tetap bergandengan tangan.
"Sayang, kita harus menyusun rencana bulan madu kita. Kau ingin kita memulainya dari mana? Manado, Medan atau keliling pulau Jawa dulu?"
Eilaria terkejut mendengarnya. Bulan madu? Bukankah ini yang sejak menikah dia inginkan? Namun mengapa ia justru gelisah mendengar kata ini?
*********
Guys, aku sisipkan cerita Alexa bukan hanya sekedar pemanis saja. Namun kisah rumah tangga Alexa akan ada hubungannya dengan kisah si kembar.
Duh, tambah banyak teka teki nya?
Makanya, kalau baca jangan di skip2 ya
supaya dapat feel-nya dengan cerita ini. Aku ingin membuat ending cerita ini bahagia terutama untuk Iel, Ian, dan Eil.
__ADS_1
Buat emak terus semangat dengan cara : like, komen, vote dan kasih hadiah ya 😂😂😂