Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Kegundahan hati Gabriel


__ADS_3

Selesai berbelanja, Giani dan Eilaria kembali ke rumah. Para pelayan sementara menyiapkan meja untuk makan malam. Tadi sebelum pergi belanja, Giani sudah menginstruksikan apa yang harus dimasak malam ini.


"Joselin, panggil semua orang untuk makan." kata Giani.


"Ok mommy." Joselin yang sedang menonton TV di ruang tamu segera memanggil penghuni rumah yang lain.


Jeronimo yang sedang ada di ruang kerjanya segera ke ruang makan saat menerima panggilan dari putri ketiganya. Ia mendekati Giani yang sedang meletakan buah di atas meja. Satu pelukan hangat dari belakang dan ciuman di bahu Giani selalu membuat perempuan itu tersenyum.


"Kamu selalu terlihat cantik." bisik Jeronimo.


"Dan daddy selalu bersikap genit." Ujar Stevany yang ternyata sudah berada di belakang mereka.


Jeronimo menoleh. "Bilang saja kalau kamu cemburu karena daddy selalu memuji mommy."


Stevany menggeleng. "Mommy memang selalu cantik. Tapi dad, berhentilah bersikap seperti layaknya anak muda. Aku kesal setiap kali teman-teman cewekku datang ke sini, mereka akan menatap daddy dengan penuh kekaguman seolah-olah pesona daddy mengalahkan kedua kakak kembarku."


Jero terkekeh. "Daddy memang tampan." katanya sambil memegang kedua pipinya dengan bangga.


"Mommy, daddy suka tebar pesona."


Giani menatap putrinya. "Hanya pada mommy."


Jeronimo terkekeh dan langsung mengacak rambut putrinya itu. Ia tahu kalau Joselin dan Stevany sangat posesif padanya. Di mall saja mereka akan menatap tajam jika ada perempuan muda dan juga tua yang sering kagum melihat Jeronimo.


Eilaria yang melihat interaksi papa mertua dan adik iparnya hanya bisa tersenyum. Ia bersyukur karena keluarga Dawson sehangat keluarga Thomson. Dan Eilaria bersyukur untuk itu. Ia justru merasa rindu untuk pulang ke London.


"Eil, mana Iel?" tanya Giani membuyarkan lamunan gadis itu.


"Aku lihat ke kamar dulu, mom."


"Eh, Kak Iel ada di pondok belakang." Ujar Joselin.


Eilaria langsung memutar langkahnya menuju ke pintu belakang. Ia melihat Gabriel sedang duduk termenung sambil menatap ke arah danau. Wajah suaminya itu terlihat sedih.


"Iel, semua menunggumu di meja makan." Panggil Eilaria sambil mendekat.


Gabriel menoleh. Ia berdiri sambil menarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan." Baiklah." Ia kemudian meraih ponsel Eilaria. "Ponselmu tertinggal di meja."


"Aku bahkan lupa dimana meninggalkannya. Makasi ya..." Kata Eilaria lalu menerima gawai nya itu kemudian berjalan bersama Iel memasuki ruang makan.


Mereka pun menikmati makan malam dengan hikmat.


"Iel, kenapa makannya tak kau sentuh? Nggak enak kah? Pada hal mommy memasak ayam sambal balado kesukaan mu."'Giani bertanya karena dia melihat putranya itu tak menghabiskan makanan di piringnya.


"Aku sebenarnya masih kenyang, mom." Gabriel beralasan. Pada hal ia memang tak memiliki selera makan.


"Kenyang?" tanya Giani heran.


"Tadi di kantor ada yang ulang tahun. Jadi mereka menyiapkan banyak makanan dan kue. Aku mau ke kamar dulu ya?" Pamit Gabriel sambil mengambil tongkatnya dan segera menaiki tangga.

__ADS_1


Eilaria menatap Gabriel dengan perasaan yang tidak enak. Ia tahu ada sesuatu yang Gabriel sembunyikan namun ia tak tahu apa itu.


Setelah yang lain selesai makan, Eilaria pun bergegas ke kamar. Saat ia membuka pintu, ia terkejut melihat lampu kamar yang sudah dimatikan dan Gabriel yang nampak sudah tertidur di atas tempat tidur sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Hati Eilaria menjadi gelisah.


Perlahan ia melangkah menyeberangi ruangan lalu duduk di atas sofa. Tangannya membuka ponselnya dan ia menemukan pesan dari Alana yang masuk setelah ia pergi dengan ibu mertuanya. Pesan itu sudah ada centang dua garis biru sebagai tanda bahwa itu sudah dibaca.


Hati Eilaria menjadi bertanya-tanya. Apakah Iel membaca pesan ini? Lalu mengapa Iel terlihat sedih?


Tanpa Eilaria ketahui, Gabriel sebenarnya belumlah tidur. Ia memang memejamkan matanya namun tak bisa membuat dirinya terlelap. Cowok itu menekan semua rasa yang ada dalam hatinya. Ia ingin bahagia dengan Eilaria. Namun jika Eilaria tak bahagia bersamanya, maka ia dengan sangat berat akan melepaskan gadis itu pergi.


*********


Alana tak mengerti dengan dirinya. Baru saja semalam ia pergi makan malam dengan Gabrian namun sore ini, ia sudah sangat merindukan cowok itu. Ia bahkan menjadi sangat senang saat Gabrian menghubunginya.


"Hallo Alana, apakah aku mengganggumu?" tanya Gabrian dari seberang sana.


"Tidak. Ada apa menghubungi ku?"


"Bo...bolehkah malam ini kita pergi keluar bersama lagi. Maaf jika permintaanku ini kesannya kurang sopan."


"Ah...tidak apa-apa. Memangnya kita mau ke luar kemana?"


"Entahlah. Kamu saja yang menentukannya. Yang pasti aku hanya ingin ketemu denganmu."


"Baiklah. Jam berapa kau akan menjemput ku?"


"Baiklah."


"See you. Bye." Alana meletakan ponselnya dengan perasaan yang berdebar-debar. Ia segera berlari ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.


Saat ini Alana memang tinggal di rumah opa Arnold yang ada di London. Ia akan pulang ke kerajaan setiap kali weekend.


Setelah mandi dan sempat kebingungan memilih gaun yang akan dikenakannya, Alana akhirnya siap untuk pergi. Rumah sekarang dalam keadaan kosong karena opa dan omanya pun lebih banyak menghabiskan waktu di kerajaan.


Gabrian menjemputnya tepat sesuai dengan waktu yang disepakati. Di mata Alana, Gabrian terlihat tampan dengan celana jeans yang dipadukan dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai ke siku tangannya.


"Kita mau ke mana?" tanya Alana.


"Kamu inginnya kita kemana?"


"Entahlah. Hari masih juga siang."


Sekarang memang sedang musim panas. Jadi sekalipun waktu sudah menunjukan pukul 7 malam namun matahari masih bersinar.


"Aku tahu satu tempat yang tak terlalu ramai. Kau suka minum kopi?"


Alana mengangguk.


"Ayo kita ke sana!"

__ADS_1


Tempat yang dimaksudkan oleh Gabrian adalah sebuah cafe yang letaknya agak jauh dari pusat kota. Cafe itu ada di bantaran sungai Thames. Ia sengaja memilih cafe itu karena hari ini Gabrian ingin mencari keterangan tentang saudara kembarnya Alana.


Setelah mereka sampai dan mencari tempat duduk di teras, keduanya pun segera memesan kue dan kopi.


Pemandangan sungai yang indah membuat suasana menjadi menyenangkan bagi Alana. Wajahnya tak berhenti tersenyum.


"Alana, kamu pernah ke Indonesia?" tanya Gabrian membuka percakapan diantara mereka.


"Ya. Beberapa kali. Mamaku orang Indonesia. Tepatnya ia berasal dari Manado. Kalau omaku lahir dan besar di Jakarta. Tempat liburan favorit kami adalah Bali. Pamanku punya hotel di sana. Namanya hotel The Thomson."


Mendengar nama hotel itu, mengingatkan Gabrian dengan awal pertemuannya dengan Eilaria.


"Oh ya? Aku juga suka dengan Bali. Kau anak bungsu ya?"


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Alana dengan matanya yang berbinar.


"Entahlah. Hanya menebak saja."


Alana tersenyum lagi. "Aku memang bungsu. Sebenarnya kami kembar 3. Kakak tertua ku namanya Andrew, kakak keduaku namanya Andrea dan aku Alana."


"Nama mu yang paling cantik."


Alana tersipu. Jantungnya semakin berdebar.


Pesanan mereka pun tiba. Bau kopinya sangat enak membuat Alana semakin senang. Ia sudah sering datang ke London namun tak pernah ke tempat ini.


"Aku suka kopinya." ujar Alana setelah menyesapnya kopinya perlahan.


Gadis itu akan bicara lagi namun matanya tertuju pada pasangan yang baru saja memasuki pintu utama cafe. Pasangan itu memilih duduk di dalam cafe.


"Itu kan saudara kembarku? Siapa lelaki itu? Pacarnya kah? Kenapa aku nggak tahu ya? Pria itu kelihatannya sangat dewasa." Alana berucap kaget.


Gabrian langsung tersenyum melihat pasangan itu. Siapa yang menyangka kalau mereka akan bertemu di tempat ini? Tuhan memang sangat baik padanya.


"Itu saudara kembar mu?" tanya Gabrian sambil memasang wajah penasaran.


"Iya. Kata opa, dia meminjam villa opa karena ada acara dengan teman-temannya." Alana langsung berdiri. "Aku mau menyapanya."


Gabrian pun semakin senang. Ia ingin melihat bagaimana tanggapan Oliver.


**********


Makasi sudah baca sampai part ini....


dukung emak terus ya guys....


Apakah Gabriel akan meminta pisah dari Eilaria?


Bagaimana kisah Oliver, Gabrian, Andrea dan Alana???

__ADS_1


__ADS_2