Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Keinginan Gabrian


__ADS_3

Eilaria dan Gabriel berjalan memasuki ruang makan bersama. Di meja makan sudah menunggu anggota keluarga yang lain. Jero duduk di kepala meja. Di deretan kursi sebelah kanan ada Giani, Stevany dan Gabrian. Sedangkan di deretan sebelah kiri, ada Joselin.


Gabriel duduk di samping Joselin, membuat Eilaria duduk tepat di hadapan Eilaria.


"Sekilas pandangan mereka bertemu dan Eilaria buru-buru mengalihkan pandangannya karena ia merasa ada sesuatu yang kembali membuat jantungnya berdebar.


Gabrian pun berusaha bersikap sewajar mungkin karena hatinya juga bergetar saat bertatapan dengan Eilaria.


"Ayo kita berdoa sebelum makan." Kata Jero lalu memimpin doa untuk semua anggota keluarga.


Setelah itu, mereka makan bersama.


"Bagaimana Eil? Kau suka dengan masakan mommy?" tanya Jeronimo.


"Masakan mommy enak. Aku suka ada rasa pedasnya." Kata Eilaria.


"Di rumah ini memang harus dibuat 2 versi masakan. Yang pedas dan yang tidak pedas. Karena daddy, Joselin dan Ian nggak suka masakan pedas sedangkan mommy,Iel dan Stevany sangat suka dengan makanan pedas. Sekarang berarti bertambah dengan Eil yang suka dengan makanan yang pedas." kata Giani.


Eilaria hanya mengangguk sambil tersenyum. Saat ia kembali menatap Gabrian, dia jadi ingat pernah memasak makanan pedas untuk pria itu dan Ian berdalih karena sedang minum obat makanya ia tak bisa makan makanan pedas itu. Ternyata memang Ian tak bisa makan pedas.


"Selesai makan, kita ke ruang keluarga ya? Daddy ingin membicarakan sesuatu." Ujar Jeronimo.


Semuanya mengangguk.


Selesai makan, Giani menyiapkan cemilan dan minuman hangat untuk seluruh keluarga. Eilaria membantu ibu mertuanya untuk menyiapkan segala sesuatunya.


Setelah semua sudah berkumpul di ruang keluarga, Jero pun memulai percakapan mereka.


"Kalau Iel sudah bisa berjalan dengan baik dan kembali kerja, daddy dan mommy mau liburan sebentar. Kami mau pergi ke beberapa negara yang belum pernah kami kunjungi. Iel dan Eil mungkin juga akan melaksanakan bulan madu mereka yang tertunda karena kecelakaan itu kan? Daddy berharap sebagai anak yang tertua, Ian tak akan kembali lagi ke London. Daddy dengar kalau studi S3 mu bisa dilaksanakan dari jarak jauh kan? Kau hanya perlu ke London untuk penyelesaian tugas akhir. Tugas-tugas kuliah dapat dikirim lewat email. Temanilah kedua adikmu di sini, Ian. Iel dan Eil juga kalau sudah selesai dengan bulan madunya, jangan dulu kembali ke apartemen. Tinggallah dulu di sini sampai kami kembali. Daddy dan mommy ingin merasa tenang saat melakukan perjalanan panjang kami tahun ini. Bagaimana?"


"Baik, dad. Kedua nona ini memang harus diawasi karena jika tidak, mereka akan mulai pacaran." Kata Gabriel sambil menatap kedua adiknya yang nampak cemberut membayangkan bagaimana mereka akan dijaga oleh Ian dan Iel.


"Mommy, aku mau kuliah di London. Di tempat kak Ian kuliah. Tahun ini aku kan akan selesai SMA." Kata Joselin.


"Kamu kan selesai masih 3 bulan lagi. Saat itu mommy dan daddy sudah kembali dari perjalanan kami. Kita akan membicarakan itu sementara kamu konsultasi dengan kakakmu, Ian. Apa saja yang dibutuhkan untuk bisa mendaftar di sana. Sekarangkan semuanya bisa online jadi kamu akan ke London saat perkuliahannya akan dimulai." Kata Giani membuat Joselin tersenyum senang. (Joselin ke London dan akan ketemu dengan salah satu anak kembar Keegan dan Zelina)


Sementara Gabrian hanya bisa tertegun. Pada hal ia sudah merencanakan akan ke London dalam minggu ini. Namun perusahaan daddy tentu butuh orang untuk menangani. Demikian juga dengan perusahaan Gabriel yang masih dalam proses pemulihan. Namun dengan tetap di sini, bukankah Ian akan selalu melihat Eilaria? Apakah ia sanggup untuk menolak semua pesona Eilaria yang selalu membuat hatinya bergetar?

__ADS_1


Sementara Eilaria pun tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sejak tadi ia selesai bercakap dengan Gabriel, Eilaria sudah merencanakan untuk mengajak Gabriel ke apartemen suaminya itu. Eil ingin mereka hidup berdua agar ia bisa melupakan Ian yang pernah bersamanya selama beberapa bulan. Kalau sudah begini, bagaimana ia bisa menahan dirinya dengan semua perasaannya yang terbagi, jika mereka harus ketemu setiap hari?


"Ada apa, Ian?" Jero menatap putra tertuanya yang terlihat termenung.


"Eh, tidak ada apa-apa, dad." Gabrian menggeleng. Namun sebagai saudara kembarnya, Gabriel dapat merasakan kegelisahan yang ada di wajah kakaknya itu. Apakah karena Ian harus meninggalkan kuliah dan bisnisnya di sana?


"Daddy dan mommy kapan perginya?" tanya Gabriel.


"Rencananya minggu depan. Tapi mau lihat perkembangan Iel dulu." Jawab Jero.


"Kalau sudah saatnya pergi, ya pergi saja. Aku nggak keberatan, kok. Aku tahu kalau sebenarnya perjalanan ini sudah direncanakan sebelum aku dan Eil menikah. Namun kecelakaan itu membuat perjalanan kalian tertunda." Gabriel menjadi sedih.


"Nggak masalah, nak. Toh pada akhirnya kami akan pergi juga." Giani tersenyum sehingga wajah sedih Iel kembali tersenyum.


"Sebelum dad dan mom pergi, Ian dapat pergi ke London untuk menyelesaikan segala urusan di sana." Ujar Gabriel membuat Gabrian tersenyum. Ia tahu kalau Iel dapat mengerti kegelisahan di hatinya.


"Ya. Ian dapat melakukan itu. Namun harus kembali saat mom dan daddy pergi." Ujar Jero.


Percakapan malam itu pun beralih ke tempat-tempat yang akan dikunjungi oleh Jero dan Giani.


Setelah cuci muka dan gosok gigi, Eilaria mengganti pakaiannya dengan gaun tidur. Entah mengapa ia merasa belum siap berganti pakaian di depan Iel. Tadi, Eil sudah menyiapkan piyama Gabriel sebelum ia masuk ke kamar mandi.


Eilaria mengenakan kimono gaun tidurnya. Ia kemudian keluar dari kamar mandi. Di lihatnya Gabriel sedang memeriksa beberapa file yang tadi sore dikirimkan oleh Gerry. Ia duduk di atas sofa dan nampak serius.


Eilaria mengambil ponselnya dan duduk tak jauh dari Iel.


"Sayang, jangan tidur di sofa lagi ya?" ujar Gabriel saat ia sudah menutup file yang dibacanya.


Eilaria hanya mengangguk. Sesungguhnya ia tak konsentrasi dengan ponselnya. Itu hanya pengalihannya saja karena ia bingung harus bersikap bagaimana dengan Iel.


Terkadang, Eilaria menyesali kecelakaan yang Iel alami saat pernikahan mereka. Walaupun pada akhirnya ia akan mengetahui kebenarannya bahwa yang bertemu dengannya pertama kali adalah Ian dan bukan Iel namun setidaknya, tak ada keintiman yang sempat terjadi selama beberapa bulan.


"Sayang, ayo kita tidur!" ajak Gabriel.


Eilaria pun meletakan ponselnya. Ia menerima uluran tangan Gabriel dan melangkah ke arah ranjang.


"Ayo kita berdoa sebelum tidur." Kata Gabriel.

__ADS_1


Eilaria duduk di tepi ranjang bersama Gabriel. Cowok itu yang memimpin doanya.


"Semoga Tuhan memberkati rumah tangga kita berdua sayang." Kata Gabriel setelah selesai memimpin doa. Ia mencium bibir Eilaria sekilas lalu kemudian mencium dahinya. Keduanya pun membaringkan tubuh mereka di atas ranjang. Eilaria tidur membelakangi Iel dan suaminya itu kemudian memeluk dia dari belakang. Tak ada sentuhan lain. Karena setelah itu Eil merasakan kalau pelukan Iel akan mengendur sebagai tanda bahwa ia sudah terlelap.


**********


Di kamarnya, Ian pun tak juga bisa memejamkan matanya. 1 jam yang lalu ia baru saja menelepon Gabby untuk menanyakan kabarnya dan gadis itu pun masih menangis. Gabrian berjanji akan hadir di pemakaman ayah Gabby sekaligus untuk menghibur gadis itu.


Gabrian membuka laci paling bawa kemari bukunya. Mengeluarkan novel berbahasa Perancis. Itu milik Eil. Novel yang menjadi awal pertemuan mereka. Gabrian ingin rasanya mengembalikan novel ini ke tangan Eil. Namun ia merasa akan kehilangan novel yang sudah 6 tahun ini ada di kamarnya.


Aku harus memiliki pacar agar bisa melupakan Eil. Aku harus bersama dengan seorang gadis agar aku bisa membunuh perasaan ini. Tapi siapa? Selama ini tak ada gadis yang mampu menyentuh hatiku. Bagaimana dengan Gabby? Atau Figia?


Merasa tak bisa tertidur, Gabrian pun turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah balkon kamarnya. Ia ingin mencari udara segar.


Namun alangkah terkejutnya Gabrian saat melihat kalau Eil ada di sana. Gadis itu pun sedang berdiri sambil memegang pagar pembatas pagar dan menatap ke arah danau. Kamar Ian dan Eil memang menghadap ke danau yang ada di belakang rumah mereka.


Gabrian menatap gadis itu dari samping. Eil memang tak menyadari kehadiran Ian. Ia terus termenung.


Gabrian akan masuk kembali ke kamarnya namun kakinya tanpa sengaja menyenggol kursi yang ada di belakangnya. Eil dengan cepat menoleh.


"Ian?"


"Ha...hai...!"


Keduanya saling berpandangan. Berusaha berbicara melalui pancaran mata masing-masing. Sampai akhirnya terdengar suara dari dalam kamar Iel.


"Eil, sayang, kenapa kau berdiri di sana?"


Gabrian dengan cepat masuk ke dalam kamarnya. Ia memutuskan untuk secepat mungkin mendapatkan pacar untuk dirinya sendiri.


**********


Siapa gadis yang akhirnya akan bisa bersama Gabrian? Gabby, Figia ataukah ada gadis lain?


Makasi sudah membaca novel ini.


Ada yang komen, mau unfolow Saja karena novel ini bagaikan benang kusut. Aku hanya bisa mengatakan, itu hak anda untuk memilih pergi. Aku tak bisa memaksa Anda untuk terus membaca tapi tak merasa sukacita dengan novelku ini. Maaf ya, aku memang suka konflik yang agak berat karena hidup ini nggak mudah di jalani.

__ADS_1


__ADS_2