
Balik lagi ke hari dimana Figia berniat untuk mengahiri hidupnya. Ia sudah berdiri di dekat jembatan. Pikirannya sudah butuh. Ia baru saja patah hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan, di hari yang sama, ia kehilangan kesuciannya. Sungguh ia merasa bahwa dirinya sangat malang. Dari pada harus menanggung semua rasa yang menyesakkan ini, lebih baik Figia mengahiri hidupnya saja.
Kebetulan sore ini hujan masih turun rintik-rintik. Jalanan nampak sepi. Tangan Figia sudah memegang pembatas pagar dengan hati yang sudah bulat. Matanya menatap sungai yang ada di bawahnya. Ia perkirakan kalau jatuh kepalanya akan membentur batu-batu besar yang ada di sana dan semuanya selesai.
Figia memejamkan matanya. Kakinya yang satu sudah naik ke atas pagar pembatas. Ia merasakan jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Namun sebelum ia melayang dan jatuh ke bawa, sebuah tangan kekar tiba-tiba memeluk tubuhnya dan membawanya menjauh dari pinggiran pagar itu.
"Lepaskan.....! Siapa kamu.....!" Figia memberontak dan berusaha melepaskan diri. Ia berhasil. Dengan kemarahan yang sudah tak tertahankan lagi, Figia membalikan badannya dan matanya langsung membulat sempurna melihat siapa yang telah menghasilkan aksi bunuh dirinya. "Mark?"
"Jangan mengahiri hidupmu. Ini bukan jalan keluar yang terbaik untuk mengahiri masalahmu. Aku mohon!"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat ke pipi Mark. "Jangan mencampuri urusan orang lain!" Teriak Figia marah lalu membalikan badannya bermaksud akan pergi tapi Mark langsung menahan salah satu tangannya dan memaksa gadis itu agar kembali menatapnya.
"Urusanmu kini menjadi urusanku!"
"Dasar bule gila! Kamu nggak punya hak untuk mencampuri hidupku."
"Aku punya hak untuk itu. Karena hidupmu jadi seperti ini karena diriku. Aku telah mengambil sesuatu yang sangat berharga dalam hidupmu. Aku akan bertanggungjawab walaupun kau tidak menyukainya. Aku akan membuat dirimu menerima diriku."
"Kau gila!"
"Mungkin. Namun, bagaimana jika perbuatan ku padamu membuahkan hasil?"
"Apa maksudmu?"
"Semalam aku nggak menggunakan pengaman. Aku juga tak tahu semalam apakah masa subur mu atau tidak. Bagaimana jika ternyata kau hamil?"
Mata Figia membulat sempurna. Ia sama sekali tak memikirkan itu. Bagaimana kalau dia beneran hamil? Apa yang akan dilakukannya? Bagaimana ia bisa mengatasinya? Keluarganya adalah keluarga yang berpikiran modern. Figia yakin kalau mereka akan menerima dirinya yang hamil tanpa suami. Namun pamannya adalah seorang mafia. Ia pasti akan mencari siapa lelaki yang telah menghamilinya dan tanpa segan akan membunuhnya. Lelaki ini pasti tak akan diampuni. Dan dia akan mati konyol? Lalu apa peduliku jika ia mati konyol? Bukankah itu lebih baik? Itu akan menjadi hukuman yang setimpal karena ia memanfaatkan gadis mabuk yang sedang patah hati.
"Figia, ayo ikut denganku!"
"Lepaskan!" Figia menarik tangannya. Namun Mark sama sekali tak mau melepaskannya.
"Aku bilang lepaskan! Kamu tidak tahu siapa keluargaku?"
Mark tersenyum. "Aku tahu. Nama pamanmu Fidel. Ia adalah mafia dari kelompok dragon fire. Kalau orang tuamu, mereka adalah pasangan yang sederhana dan memilih tinggal di Jepang. Ayahmu dulunya bekerja sebagai perawat ibumu dan akhirnya mereka menikah. Kini ayah dan ibumu menjadi salah satu pengusaha kapal ikan yang cukup terkenal. Pamanmu sangat terobsesi dengan Giani, mamanya Gabrian, lelaki yang kau cintai dan menyebabkan kau patah hati."
"Kau tahu?" Figia terkejut.
"Aku harus tahu siapa.gadis yang nantinya akan menikah denganku."
__ADS_1
"Sinting! Kau sudah tak waras. Lepaskan tanganku!"
"Untuk hari ini aku tak akan melepaskan mu. Aku takut jika kamu akan bunuh diri lagi." Mark dengan cepat mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Ia menarik Figia dan membekap mulut gadis itu dan hanya beberapa detik saja Figia langsung pingsan.
********
Figia terbangun di sebuah kamar besar dengan desain mewah yang ada di dalamnya. Ia merasa kepalanya agak pening namun tak menghalangi ia bangun dan turun dari tempat tidurnya.
Emosinya langsung naik saat melihat foto siapa yang ada di dinding kamar.
Langkahnya lebar menuju ke pintu kamar, namun saat Figia membukanya, ia tak bisa. Pintu ini memerlukan kode untuk membukanya.
"Buka......! Dasar bule gila! Buka pintunya....!" teriak Figia sambil menendang-nendang pintu kamar.
Agak lama Figia berteriak namun tak ada sahutan. Ia akhirnya kelelahan sendiri. Figia kesal karena ponselnya ia tinggalkan di kamar hotel sehingga ia tak bisa menghubungi pamannya. Dia ingin melihat pamannya itu memukul Mark sampai babak belur.
Figia duduk sambil bersandar di dinding kamar. Ia merasa agak pusing dan perutnya mulai keroncongan. Figia merasa lapar.
Pintu kamar di buka dari luar, Mark masuk sambil membawakan nampan yang berisi makanan. Figia langsung menelan ludahnya saat mencium aroma lezat dari makanan yang dibawah oleh Mark.
"Ayo makan!" ujar Mark sambil meletakan nampan berisi makanan itu di atas meja.
"Aku nggak lapar!" ujar Figia tanpa bergerak dari posisinya yang duduk di atas lantai.
"Apa peduli mu jika aku sakit?"
"Tentu saja aku peduli."
"Mengapa?"
"Entahlah. Aku peduli Saja."
"Biarkan aku pergi!"
"Nggak. Sebelum aku yakin kalau kamu nggak akan bunuh diri lagi."
"Kamu melakukan kejahatan dengan menahan aku di sini. Aku akan melaporkanmu kepada polisi dengan tuduhan penculikan." ancam Figia.
"Polisi nggak akan percaya jika aku tunjukan video bagaimana panasnya juta bercinta malam itu."
"Kau.....!" Wajah Figia langsung memerah. "Kau merekamnya? Dasar maniak! Bagaimana kau bisa merekam adegan terkutuk itu?" teriak Figia sambil berdiri dan menunjuk Mark dengan mata yang menyala karena amarah.
__ADS_1
"Entahlah. Malam itu aku ingin saja merekamnya. Pada hal kamu bukan perawan pertama yang tidur dengan aku."
"Brengsek!" Figia menyerang Mark dengan membabi-buta. Ia memukul tangan, perut, wajah dan punggung Mark namun cowok itu sama sekali tak membalasnya. Sampai akhirnya Figia terhenti sendiri saat melihat pipi Mark yang merah, sudut bibir Mark yang mengeluarkan darah serta tangan Mark yang nampak tergores terkena cakaran kukunya yang panjang.
"Kamu.....! Kenapa kamu tidak melawan?" Figia jadi serba salah.
"Buat apa melawan? Aku memang bersalah. Mungkin ini balasan atas apa yang sudah aku lakukan padamu."
Figia menarik kursi dan duduk di depan Mark. "Biarkan aku pergi, Mark. Aku nggak akan bunuh diri. Aku janji padamu." Mohon Figia sambil menahan tangisnya.
"Biarkan aku bertanggungjawab dengan dirimu."
"Aku tak mau kau bertanggungjawab. Mengapa kamu memaksa? Aku tak mau menikah dengan lelaki yang tidak kucintai."
"Mungkin dengan berjalannya waktu, aku bisa saja jatuh cinta padamu. Dan kau mungkin bisa jatuh cinta padaku."
"Aku juga nggak mau menikah dengan lelaki yang lebih muda dariku."
"Aku bisa menyesuaikan dengan penampilan mu. Lagi pula di mataku, kau terlihat lebih muda dari aku."
Figia menatap Mark dengan menahan kesal. "Aku juga tak mau menikah dengan lelaki yang tak setia, play boy dan yang menganggap pernikahan hanya sebuah permainan."
"Hei, aku memang play boy saat ini. Namun aku tak pernah main-main dengan sebuah pernikahan. Aku bisa pastikan jika menikah denganmu, aku akan setia. Kakekku Joe selalu mengajarkan kami bahwa pria sejati itu tak akan pernah mengingkari kata-katanya. Jadi, kau dapat memegang kata-kataku."
"Kau tidak pernah menyerah ya?"
Mark mengangguk. "Aku sedikit keras kepala."
Figia diam sejenak. Lalu ia menemukan jalan keluar dari seluruh masalahnya agar ia dapat lepas dari bule gila di depannya ini.
"Begini saja, jika aku hamil, aku ijinkan kami untuk menikahi ku, jika tidak, maka kau harus membebaskan aku. Jangan ikuti aku, atau mengusik kehidupan ku lagi. Deal?"
Mark menatap Figia. Ada keraguan di matanya. " Asalkan kamu tidak akan membohongiku jika ternyata kau hamil. Atau kamu nggak akan menggugurkannya. Bagaimana?"
"Aku janji."
"Apakah janjimu dapat ku pegang?"
"Ya."
**********
__ADS_1
Apa yang akan terjadi pada Figia dan Mark selanjutnya?