
Giani dan Gabriel tiba di rumah bersamaan dengan Gabrian baru saja tiba.
"Ian...!" Giani yang baru turun dari mobilnya langsung memeluk putranya yang baru saja turun dari taxi. "Bagaimana penerbangannya?"
"Lancar, bunda. Kami menggunakan maskapai milik kak Oliver dan semuanya dipermudah. Kemarin aku menghubungi kak Alexa." kata Gabrian dengan wajah yang terlihat lelah.
"Kamu sepertinya tidak tidur." ujar Gabriel melihat lingkar hitam di mata saudara kembarnya.
"Iya. Aku menemani Gabby. Kasihan ia menangis terus. Ia sangat sayang pada papanya."
Giani menepuk bahu putranya. "Ayo masuk! Mommy akan menyiapkan susu untukmu."
Mereka bertiga pun masuk.
"Bunda, aku mau mandi dulu ya?" Kata Gabrian.
"Selesai mandi langsung turun ke sini ya?"
Gabrian mengangguk dan segera menaiki tangga menuju kamarnya.
"Eil kemana ya?" tanya Gabriel.
"Mungkin istirahat di kamar. Sekarang kan sudah jam 2 siang. Apakah dia sudah makan ya?" Giani memanggil salah satu pelayan yang bernama Surti.
"Surti di mana menantuku?"
"Nyonya Eilaria selesai makan, duduk di pondok depan danau sambil membaca. Saya tadi membawakan jus yang dipesannya ke sana." Kata Surti.
"Tempat itu selalu menjadi favorit siapa saja jika datang ke sini." Ujar Gabriel lalu melangkahkan kakinya menuju ke sana.
*********
Gabrian membuka pintu kamarnya. Ia merasa sangat kepanasan setelah tadi mengantar jenasah papanya Gabby ke rumah duka. Ia juga berjanji pada Gabby untuk datang ke pemakamannya besok pagi.
Saat pintu kamar terbuka, Gabrian terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di depan lemari bukunya sambil melihat-lihat koleksi novelnya.
"Eil?"
__ADS_1
"Ian?"
Wajah Eilaria langsung merah karena merasa malu dan gugup. Ia kepergok oleh pemilik kamar.
"A...aku mau mengambil eh, meminjam novel. Aku merasa bosan di rumah sendiri. Maaf jika aku kurang sopan." Eilaria mengutuki dirinya sendiri yang tak bisa menahan hasratnya untuk datang ke kamar Gabrian.
Gabrian tersenyum. Hatinya bergetar seakan rindu. Pada hal mereka baru sehari saja tak bertemu. "Tidak apa-apa, Eil. Kau boleh meminjam semua koleksi novelku untuk kau baca."
"Aku ke kamar sebelah saja." Eilaria akan pergi namun Gabrian menahan tangannya.
"Tak jadi pinjam novel?"
"Eh....." Eilaria menarik tangannya dari genggaman Gabrian. "Nanti saja." Lalu ia langsung pergi. Membuka pintu kamar dengan tangan yang bergetar karena ia merasa sangat gugup. Namun ketika ia keluar dari kamar Ian, pada saat yang sama, Iel sedang berjalan ke arahnya untuk mencari Eil.
Mata Iel terbelalak saat melihat istrinya keluar dari kamar Ian. Rasa cemburu langsung menguasai hatinya karena ia tahu kalau Ian sedang ada di kamar itu.
Eilaria pun menjadi semakin gugup saat melihat Iel.
"Aku mengembalikan novel Ian yang ku pinjam semalam."Kata Eilaria berusaha tenang. Ia dapat melihat kilatan cemburu dan sedikit emosi dari pancaran mata Iel.
Gabriel berusaha menekan perasaannya yang sakit dan cemburu. "Ian sudah kembali kan?" ia berusaha bertanya dengan suara yang terdengar sewajar mungkin.
Gabriel mengangguk. "Kau sudah makan siang?" tanyanya walaupun ia sudah tahu tadi dari pelayan.
"Sudah. Bagaimana hasil konsultasinya?" Eilaria mengalihkan topik pembicaraan.
"Bagus. Kita bicara di kamar saja?"
Eilaria mengangguk dan langsung mengikuti langkah Iel ke dalam kamar.
Iel mengajak Eil untuk duduk di atas sofa. Saling bersisian. Tongkat penyangga yang Iel bawa, diletakan nya di atas meja.
"Eil, sudah saatnya kita bicara." Kata Gabriel.
"Aku mendengarkan."
Gabriel menarik napas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. "Kamu masih ingatkan, aku pernah bertanya padamu, bagaimana jika orang yang kau lihat di Bali itu bukan aku? Apakah kamu masih ingat apa yang kau jawab?"
__ADS_1
"Ya. Bagiku yang terpenting adalah kamu yang sekarang. Memangnya kenapa?"
"Itu sebenarnya aku tanyakan untuk mengetahui bagaimana perasaanmu padaku."
"Kau adalah cinta pertama dalam hidupku, Iel. Kau tahu bagaimana aku sangat mencintaimu. Hanya saja, aku sekarang menjadi bingung, marah, ingin membenci karena kau membiarkan Ian bersandiwara untuk mendampingiku."
"Aku begitu ketakutan kematian akan merenggut hidupku. Aku begitu ketakutan di malam pernikahan kita, saat kau mengatakan jika terjadi sesuatu padaku maka kau juga tak ingin hidup. Aku tak ingin kamu bersedih. Dalam keadaan kritis, sebelum aku kehilangan kesadaran ku, aku meminta Ian untuk bersumpah bahwa ia mau menggantikan aku. Aku tak bisa berpikir jernih. Hanya itu yang bisa aku pikirkan."
Eilaria hanya diam.
"Eil, yang pertama bertemu denganmu adalah Ian dan buka aku. Dialah yang bertabrakan denganmu di depan lift. Lalu malamnya, saat kau main piano di cafe itu, akulah yang kau lihat. Aku jatuh cinta padamu saat itu. Dan lelaki yang kau lihat di bandara adalah Ian. Saat kau mengembalikan novel Ian yang tertinggal di bandara, aku tak bisa bicara apa-apa karena aku langsung suka saat melihatmu lagi. Aku bukan bermaksud menipumu. Aku hanya ingin memilikimu. Makanya, aku tanyakan pertanyaan itu. Dan saat mendengar jawabanmu, aku sangat senang. Karena itu, aku menjadi diriku sendiri saat menunjukan seluruh perasaan cintaku padamu. Aku juga sempat bertanya pada Ian, apakah dia menyukaimu namun Ian mengatakan kalau ia tak menyukaiku, makanya aku dengan berani melamar mu."
Air mata Eilaria jatuh perlahan. Berarti, pria yang pertama membuatnya jatuh cinta adalah Ian? Gabrian lah yang ia temui pertama kali dan Iel adalah pria kedua yang dilihatnya di cafe.
"Mengapa kau tak jujur pertama kali padaku saat aku mengembalikan novel itu?"
"Karena aku terlanjur jatuh cinta padamu."
Eilaria merasakan hatinya hancur. Ia memang jatuh cinta pada semua perhatian, keromantisan, kegombalan dan semua perhatian Iel untuknya. Namun, saat Ian menjadi Iel dengan semua sikap cueknya itu pun, Eilaria merasa mencintai juga sifatnya yang ini.
"Eil....!" Gabriel menyentuh tangan istrinya. "Kita sudah berjanji sebagai suami istri yang diberkati. Mari kita menjalaninya dari awal lagi. Aku akan berusaha agar cepat sehat sehingga bisa pergi berbulan madu seperti yang pernah kita rencanakan berdua. Kau boleh marah atas semua yang telah aku minta untuk Ian lakukan padamu. Aku tak akan pernah menanyakan apa yang pernah terjadi antara kamu dan Ian. Aku hanya minta padamu, jangan tinggalkan aku. Jangan berhenti mencintaiku."
Eilaria menatap wajah Gabriel yang menatapnya dengan penuh permohonan. Eilaria mengenal tatapan mata itu. Ia dengan sangat baik. Mata yang selalu menatapnya dengan cinta. Namun tatapan itu juga ditunjukan Ian padanya. Ian juga memiliki tatapan mata yang sama seperti Iel.
"Eil......!"
Eilaria memeluk Iel sambil menumpahkan tangisnya. Ia bingung namun ia juga mencintai. Mencintai 2 pria dengan tatapan mata yang sama. Eilaria ingin berteriak menumpahkan isi hatinya. Namun ia tak sanggup.Ia hanya memeluk Gabriel dengan sangat erat.
Gabrian yang sebenarnya hanya lewat saja di depan kamar Iel, menghentikan langkahnya, karena mendengar tangisan Eil. Ia mengintip di antara celah pintu yang tak tertutup seluruhnya. Melihat Iel dan Eil yang berpelukan, hati Ian lega sekaligus sakit pada saat yang bersamaan. Eil, yang posisinya menghadap pintu, melihat dengan jelas kalau ada Ian yang berdiri di sana. Hati gadis itu semakin galau. Ia langsung memejamkan matanya. Fokus pada pria yang kini dipeluknya. Lalu teringatlah kembali kata-kata opa Ezekiel dihari pernikahannya. Ingat, dalam keluarga Thomson tidak pernah ada perceraian.
Aku sudah menikah. Aku tak akan mungkin bisa bercerai. Aku akan mencoreng nama baik keluarga Thomson. Ya Tuhan mampu kan aku untuk mencintai Iel tanpa mengingat lagi Ian. Tolong aku, Tuhan.
*********
Duh, Eil yang galau kok aku yang sedih ya
Maaf ya part ini agak pendek
__ADS_1
Emak masih dalam proses pemulihan