Dua Wajah Satu Cinta

Dua Wajah Satu Cinta
Menerima Lamaran


__ADS_3

Sepanjang malam Figia tak bisa tidur. Ia terus memikirkan apa yang Mark inginkan yaitu menikahinya.


Banyak pertanyaan yang menguras otak Figia untuk terus berpikir. Bagaimana nasib pernikahan mereka nanti? Apakah mereka akan saling mencintai? Ataukah hanya anak ini yang akan membuat ikatan diantara mereka terus ada? Benarkah apa yang Mark katakan kalau di keluarganya tidak ada kata perceraian?


Figia juga tak ingin anak ini lahir diluar nikah. Ia tak ingin anak ini disebut sebagai anak haram. Mark memang terlihat baik. Memberikan kesempatan bagi mereka berdua untuk saling mengenal bukankah itu hal yang baik? Figia bahkan merasakan kalau ia mulai tergantung dengan perhatian Mark. Atau juga mungkin ini hanya bawaan si bayi.


Pagi harinya, saat ia bangun, dilihatnya Mark sementara menyiapkan sarapan untuknya. Dan apapun yang Mark siapkan, itu semuanya membuat Figia sangat berselera untuk makan.


"Mark, aku ingin bicara." Kata Figia saat keduanya sudah selesai sarapan.


Mark yang baru saja selesai mencuci peralatan makan yang mereka gunakan, menatap Figia sambil mengangguk.


"Aku mendengarkan." Katanya lalu duduk di depan Figia. Keduanya masih ada di ruang makan.


Figia menarik napas panjang beberapa kali lalu ia memberanikan diri menatap pria bule blesteran Korea di depannya. Cowok bermata sipit namun warna matanya biru seperti orang bule pada umumnya.


"Aku menginginkan pernikahan sekali seumur hidup. Aku juga tak menginginkan suatu hari nanti akan bercerai dengan lelaki yang akan menjadi suamiku. Apakah kamu siap, jika akhirnya kita menikah dan aku tak akan pernah bercerai denganmu apapun yang akan terjadi?"


"Aku siap." Jawab Mark cepat membuat Figia melotot.


"Kau tak ingin memikirkannya lagi?" tanya Figia bingung.


"Kenapa harus memikirkannya lagi? Semenjak aku meniduri mu malam itu, aku diliputi oleh rasa bersalah yang sangat dalam karena ternyata kamu masih perawan. Rasa bersalah itu diikuti dengan rasa bahagia karena aku adalah lelaki pertama untukmu. Aku sangat senang karena sebelumnya aku belum pernah tidur dengan seorang perawan. Karena sebenarnya aku malas menjalin hubungan dengan perawan karena menurutku mereka nggak berpengalaman dan harus banyak belajar. Namun saat bersamamu semuanya berbeda. Entah mengapa ada dorongan dalam hatiku untuk terus mengikuti mu, untuk mengawasi mu dan berharap bahwa kamu akan hamil. Ternyata benar, kamu hamil dan itu semakin mendorong aku untuk menikahi mu." Mark berdiri lalu melangkah sampai di dekat Figia. Ia berlutut sambil memegang tangan Figia dengan tangannya yang dingin karena sesungguhnya Mark sangat gugup.


"Figia, aku memang belum yakin dengan semua yang kurasakan untukmu. Namun aku percaya bahwa aku bisa mencintaimu. Mungkin anak ini ada sebagai jalan dari Tuhan untuk menyatakan bahwa kita berjodoh. Percayalah padaku, aku tidak akan pernah menceraikan kamu apapun yang terjadi. Aku memang bukan lelaki yang baik sebelum aku bertemu denganmu. Aku pria brengsek yang menganggap bahwa wanita itu hanya sebagai partner di atas ranjang. Kami akan sama-sama saling memuaskan tanpa harus ada ikatan. Namun aku yakin kalau bersamamu, aku akan merubah cara pandang ku tentang wanita."


"Bagaimana jika berjalannya waktu, kau akan bosan padaku. Aku lebih tua darimu, Mark. Kamu pasti akan tertarik dengan wanita lain yang lebih muda dariku."


"Hei, usia kita hanya beda dua tahun, nona. Bukan beda 10 atau 15 tahun." Mark menarik hidung Figia dengan gemas.


"Ih...Mark, sakit tahu!" Figia menarik tangan Mark. Keduanya kini saling berpandangan. Mark tersenyum manis dan Figia harus jujur mengakui dalam hatinya kalau Mark adalah pria yang tampan dengan sejuta pesona.


"Aku punya paman Erland yang menikah dengan bibi Meloddy. Usia mereka juga beda. Paman Erland lebih muda dari bibi Meloddy. Namun sampai sekarang mereka tetap bersama. Aku tak pernah mendengar kalau pamanku selingkuh dengan gadis yang lebih muda."


"Baiklah, Mark. Aku mau menikah denganmu karena aku tak mau anak ini lahir di luar nikah."


Mark langsung mencium tangan Figia yang ada digenggamnya.


"Ayo kita menikah Lusa." Kata Mark sambil berdiri.


"Lusa? Bukankah itu terlalu cepat?"


"Opa Ezekiel dan Oma Faith menikah di hari ketiga setelah mereka bertemu. Kita kan sudah hampir dua bulan kenalan."

__ADS_1


"Setidaknya berilah waktu sampai orang tuaku hadir, Mark. Aku ingin mereka hadir di sini. Mengurus visa dari Jepang ke Indonesia kan kadang butuh waktu beberapa hari. Apakah kamu juga nggak ingin orang tuamu hadir?"


"Daddy sama mommy ku sudah ada di Bali sejak 2 hari yang lalu. Mereka sangat senang mendengar aku akan menikah dan akan segera memiliki anak. Walaupun awalnya daddy sempat menonjok ku karena aku bilang bagaimana cara aku menghamili mu."


Figia tertawa. Entah mengapa perasaan hatinya menjadi sangat senang. Mungkin ini awal yang baik untuk menjalin hubungan dengan Mark?


***********


Gabriel menggulingkan tubuhnya di samping istrinya dengan napas yang masih tersengal-sengal. Akhirnya, setelah lama menahan hasratnya karena awal kehamilan Eilaria yang sulit, malam ini keduanya bisa saling berbagi kehangatan melalui hubungan intim yang indah.


Eilaria membaringkan kepalanya di dada Mark. Wajahnya sendiri terlihat begitu menikmati akhir dari malam panas mereka.


"Sayang, besok temani aku mencari gaun ya? Gaunku sudah sesak semuanya. Aku ingin kita menghadiri pernikahan Mark dan Figia yang akan dilaksanakan Lusa.


"Mereka akhirnya menikah? Kisah cinta yang unik dan agak konyol sebenarnya. Apakah mereka akan saling mencintai?"


Eilaria melingkarkan tangannya di pinggang Gabriel. "Aku nggak tahu. Namun Mark terlihat serius saat kemarin pagi ia datang ke sini. Ia juga mengundang mommy Giani dan daddy Jero."


"Semoga Mark dan Figia akan saling mencintai. Kasihan Figia karena selama ini sangat mengharapkan cinta Ian. Namun takdir tak berpihak padanya. Dan aku yakin, daddy mungkin nggak akan mengijinkan mommy pergi. Karena pasti di pesta itu akan ada paman Figia, si tuan Fidel."


Tawa Eilaria terdengar. "Daddy masih cemburu juga?"


"Begitulah daddy ku. Sangat posesif jika menyangkut mommy Giani. Mungkin karena cintanya yang begitu besar membuat daddy takut ada pria lain yang menginginkan mommy."


"Aku pikir itu hal yang wajar. Mommy nggak seperti wanita yang hampir memasuki usia 50 tahun. Ia masih sangat cantik."


"Cih, menggombal." Eilaria mengerucutkan bibirnya.


"Cinta itu akan membuat kita selalu melihat pasangan kita lebih cantik dari siapapun juga. Dan aku yakin kalau cintaku padamu akan seperti cinta daddy pada mommy."


"Aku bahagia dicintai sebesar ini, sayang." Kata Eilaria lalu mengecup bibir Iel dengan sangat lembut.


"Aku jadi kepingin lagi."


Eilaria terkejut mendengar perkataan suaminya. "Sayang, ingat kata dokter."


"Aku tahu. Aku janji akan sangat lembut." bisik Gabriel lembut lalu langsung mencium bibir istrinya dengan sangat menuntut membuat Eilaria kembali pasrah dalam dekapan suaminya.


***********


Ada senyum bahagia di wajah Gabrian saat melihat istrinya yang menghampiri dia dengan gaun berwarna Cream dan perut yang sudah kentara itu. Usia kandungan Andrea sudah memasuki bulan keenam.


"Sayang, kamu cantik sekali!" kata Gabrian memuji istrinya.

__ADS_1


"Ah, suamiku kalau merayu begini pasti ada maunya."


Gabrian tersenyum. "Aku sudah 3 malam kau biarkan sendiri."


Andrea terkekeh. "Tenang saja, malam ini service nya 2 ronde."


"Benar? Bagaimana kalau batal saja ke pestanya Figia dan Mark?"


"Ih...kok gitu. Apa nanti kata Figia. Kalian kan sahabat baik."


Gabrian melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. "Aku kan hanya bercanda saja. Tapi kalau kamu mau ya kita tinggal saja."


Andrea mencubit tangan Gabrian yang masih melingkar di pinggangnya.


Keduanya tertawa bersama dan berakhir dengan kecupan lembut di bibir.


"Anak-anak dimana?" tanya Gabrian.


"Si kembar sedang bermain di kamar mereka."


"Jadi mommy dan daddy ikut juga akhirnya?"


Andrea mengangguk. "Mommy berhasil membujuk daddy untuk pergi. Katanya nggak enak juga jika tak pergi karena Mark dan Eilaria kan masih saudara. keluarga Thomson pasti akan ada di sana."


"Terus mana mereka?"


"Kami di sini!" kata Gabriel dan Eilaria yang baru saja menuruni tangga.


"Kami juga sudah siap." Kata Giani yang terlihat sedikit menarik tangan Jeronimo yang terlihat kurang bersemangat.


"Ah...Daddy sangat tampan. Aku yakin kalau perempuan-perempuan di pesta itu tak akan menyangka kalau Jeronimo Dawson yang tampan ini sudah memiliki dua cucu yang sangat posesif sama opa mereka dan sebentar lagi akan ketambahan dua cucu" ujar Gabriel.


"Coba saja kalau ada yang berani menggoda suamiku ini, aku akan berubah menjadi wonder woman." ujar Giani membuat yang lain langsung tertawa. Suasana hati Jero terlihat lebih baik. Ia melingkarkan tangannya di bahu istrinya.


"Kau tetap yang terbaik, istriku."


"Ih....lebay banget. Ayo kita pergi, nanti kita akan terlambat." ujar Gabrian lalu melangkah lebih dulu bersama Andrea. Mereka pun pergi ke pesta itu hanya menggunakan mobil Alphard yang dikemudikan oleh Gabrian.


**********


Bagaimana pertemuan mereka di pesta itu?


Dan apakah Mark dan Figia akan melakukan malam pengantin mereka?

__ADS_1


Nantikan di episode berikutnya ya?


Bentar lagi tamat.


__ADS_2