
"Oma, sebaiknya Oma istirahat saja di rumah. Biar kami yang menjaga opa." Kata Eilaria sambil mengusap lengan Oma Faith yang tak pernah meninggalkan Ezekiel sedikitpun. Tangannya tetap menggenggam tangan Ezekiel dan sesekali menciumnya lembut.
Faith menatap cucunya sambil tersenyum. "Tadi Oma sudah istirahat dan makan. Oma akan tetap di sini. Menemani opa kalian sampai ia membuka matanya. Selama ini ia tak pernah sakit. Dan sekali sakit, ia bahkan tak membuka matanya lagi. Bagaimana Oma bisa meninggalkan opa kalian di sini?"
Hati Eilaria tersentuh mendengar pengakuan omanya. Ia tahu kalau mereka saling mencintai. Eilaria tahu kisah pernikahan mereka yang diawali dengan sebuah ancaman, penuh liku diawalnya namun akhirnya saling jatuh cinta (yang belum baca kisah opa Eze dan Oma Faith, silahkan baca novelku yang berjudul : I HATE YOU BULE).
"Eil sayang, kamu kan baru saja tiba. Pulanglah dan beristirahatlah nanti besok kamu datang lagi ke sini." Ujar Caleb, papanya, "Daddy akan menemani Oma di sini."
Eilaria pun akhirnya mengangguk. Ia akhirnya memilih pergi karena memang ia merasa sangat lelah.
"Eil, apakah suamimu nggak ikut?" tanya Grace menghentikan langkah Eilaria. Ia menenangkan hatinya lalu berbalik sambil tersenyum. "Gabriel ingin sekali datang, mom. Namun pekerjaannya sangat banyak. Karena selain menjalankan perusahaannya sendiri, Iel juga harus mengurus perusahaan daddy Jero. Dia titip salam untuk kalian semua."
"Sayang, kamu belum hamil?" tanya Faith penuh harap.
"Belum, Oma. Aku masih melanjutkan kuliahku."
"Opa sangat ingin melihat kau melahirkan cicit untuk kami. Dia selalu mengatakan itu."
Eilaria tersenyum. "Aku yakin akan memberikan apa yang opa inginkan sesuai dengan waktunya Tuhan. Sekarang aku pulang dulu ya." Pamit Eilaria sebelum mereka menanyakan semakin banyak pertanyaan yang akan membuatnya akan semakin banyak berbohong.
Langkah Eilaria pelan menyusuri lorong rumah sakit. Sampai akhirnya langkahnya terhenti melihat pria yang berjalan berlawanan arah dengannya. Eilaria langsung menyadari kalau itu adalah Ian karena ia tahu kalau Ian memang ada di London. Jantung Eil rasanya berdetak dua kali lebih cepat. Jujur, ia rindu pada Gabrian. Sekuat apapun Eilaria berusaha untuk menyangkalnya, ia tak bisa mendustai kata hatinya.
Tatapan mata mereka bertemu. Gabrian pun terlihat sedikit salah tingkah.
"Eil....!" Sapa Gabrian.
"Ian. Kau ada di sini?" Eilaria berusaha bersikap biasa saja.
"Ya. Aku mau mengunjungi temanku. Kau datang bersama Iel?"
"Tidak. Iel masih banyak pekerjaan. Aku datang sendiri. Opa ku sakit."
"Oh ya? Bagaimana keadaannya?"
"Opa masih belum sadar."
"Semoga opa mu cepat sembuh. Aku pergi dulu, ya?"
Eilaria mengangguk. Ia pun segera melangkah. Hatinya entah kenapa menjadi sakit melihat sikap Gabrian yang dingin padanya. Ia jadi ingat bagaimana mereka pernah berciuman, berpelukan bahkan hampir bercinta. Ya Tuhan, mengapa aku harus berada diantara dua pria yang berwajah sama seperti ini?
Sementara Gabrian berusaha juga mengusir gundah di hatinya. Ia sebenarnya tak sampai hati bersikap cuek dan dingin seperti itu pada Eil. Namun ia harus. Demi membuang cinta di hatinya dan tak akan membuat Gabriel terluka. Bagaimanapun, Ia sangat menyayangi adik kembarnya itu.
Ia pun tiba di kamar perawatan Alana. Gadis itu sudah tak menggunakan baju pasien lagi.
"Alana, kau akan pulang?" tanya Gabrian.
"Iya. Dokter sudah mengijinkan aku pulang. Aku mu istirahat di rumah saja. Ian, maukah kau mengantar aku pulang?" Tanya Alana.
"Tentu saja."
__ADS_1
Alana nampak senang. "Ayo kita pergi!" ajaknya sambil meraih tas punggungnya.
Gabrian mengangguk. Ia membukakan pintu bagi Alana dan akhirnya mereka berjalan bersama menuju ke pintu utama rumah sakit.
"Kau tunggulah di sini. Aku akan mengambil mobil di parkiran." Kata Gabrian.
"Aku ikut saja ke parkiran." Kata Alana.
"Tapi, kau masih pucat."
"Aku sudah merasa sehat."
Gabrian tak mampu menolak keinginan Alana. Keduanya berjalan menuju ke tempat parkiran mobil Gabrian. Namun saat mereka sudah setengah jalan, Alana tiba-tiba memegang tangan Gabrian.
"Alana, kau baik-baik saja?" tanya Gabrian dan secara spontan langsung melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.
"Aku merasa sedikit pusing." Kata Alana lemah. Sebenarnya tadi Alana berbohong pada dokter. Ia mengatakan kalau dirinya sudah sehat karena ia ingin pulang ke rumah.
Gabrian semakin mengeratkan pelukannya di pinggang gadis itu. Tanpa mereka sadari. Ada sepasang mata yang terluka melihat mereka berjalan bersama sambil bergandengan seperti itu. Dialah Eilaria. Gadis itu sebenarnya belum pulang. Ia begitu penasaran siapa yang akan dikunjungi oleh Gabrian. Dan hatinya semakin perih saat melihat kalau gadis itu adalah Alana. Saudara sepupunya yang memang sudah berterus terang pada nya bahwa ia menyukai Gabrian.
Eilaria menghapus air mata yang menetes di pipinya. "Jalan, paman!" katanya kepada sopirnya.
*********
Gabrian mengantarkan Eilaria ke rumahnya. Sebuah rumah di kawasan Elit London. Rumah yang Gabrian ketahui milik dari legendaris terkenal Arnold Manola.
Gabrian hanya mengangguk. "Istirahatlah. Jangan terlalu banyak berpikir supaya kau dapat tidur dengan nyenyak."
"Aku memikirkan nasib saudara kembar ku, Ian. Ia pasti akan di usir dari istana. Walaupun Daddy dan mommy sangat menyayangi kami, namun tradisi dalam kerajaan tak boleh dilanggar. Daddy adalah orang yang sangat tegas menyangkut aturan kerajaan."
"Jadi menurutmu bagaimana?"
"Andrea harus menikah jika dia masih ingin menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Tapi siapa yang mau menikahi wanita hamil? Aib ini harus disembunyikan sehingga pria yang harus menikah dengan Andrea pun harus menutup mulut nya seumur hidupnya. Ah, Ian. Aku tak tahu bagaimana cara mengatakan ini pada keluargaku."
"Sabar, Alana. Kau harus tenang agar dapat berpikir dengan baik." Kata Gabrian sambil mengusap punggung Alana membuat gadis itu langsung memeluknya erat.
"Terima kasih, Ian. Kita baru saja kenal namun aku merasa kalau kau begitu memahami isi hatiku."
Gabrian melepaskan pelukannya.
"Serahkan semuanya pada Tuhan " Ujar Gabrian.
"Ya. Aku tahu." Alana tersenyum. Ia membuka pintu mobil dan setelah melambaikan tangannya pada Gabrian, ia melangkah masuk ke dalam rumah.
********
Alexa terbangun dari tidurnya. Ia memimpikan kedua anaknya. Tanpa sadar Alexa menangis. Ia menatap jam dinding yang masih menunjukan pukul 3 subuh. Rupanya Alexa sudah tertidur lebih dari 4 jam. Ia pun bangun dan mengambil ponselnya. Ternyata ada kiriman video dari anak-anaknya.
"Hai mommy! how are you? We Miss you so much." ujar kedua anaknya sambil melambaikan tangan mereka.
__ADS_1
Alexa mencium layar ponselnya sambil menangis. Hatinya galau. Ia berada di ujung kebimbangan. Manakah yang harus ia pilih? Hati kecilnya seakan rela ingin melepaskan Oliver demi Andrea. Namun ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Pernikahannya adalah pernikahan sekali seumur hidup. Alexa juga pernah berjanji, apapun nanti yang akan ia hadapi dalam kehidupan rumah tangganya, ia tak akan pernah bercerai kecuali Oliver yang menginginkannya.
Ponsel Alexa kembali berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Oliver.
Eca sayang, aku mohon padamu, jangan sampai berpikir untuk bercerai dariku.
Aku tak bisa tanpamu, aku tak bisa
tanpa anak-anak kita.
Aku tak bisa tidur malam ini. Aku sangat takut
kehilanganmu. Aku mohon Eca.....
Alexa ingin membalas pesan itu namun hatinya masih sakit karena Oliver memilih tak jujur padanya.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku putuskan? Haruskah aku mengalah? Tapi aku mencintai suamiku. Aku juga tak mau mengingkari janji suci pernikahan kami. Namun Andrea juga membutuhkan Oliver. Apa yang harus aku lakukan?" tangis Alexa pecah dalam doa malamnya. Hatinya pedih. Wajah anak-anaknya terus ada dalam pikiran Alexa.
Azieel, anak tertuanya sangat dekat dengan Oliver. Ia selalu merasa kehilangan kalau papanya tak ada. Sedangkan Aurora, meskipun lebih dekat dengan Alexa namun ia juga selalu merasa senang saat bersama papanya karena Oliver adalah sosok papa yang sangat menyayangi kedua anaknya.
Subuh perlahan datang. Alexa yang terus terjaga akhirnya menemukan solusi bagi persoalan rumah tangganya. Besok pagi, ia akan mengatakannya pada Oliver.
**********
Di kamarnya, Gabrian pun tak dapat memejamkan matanya. Pertemuannya dengan Eil tadi cukup membuat rasa rindunya Sedikit terobati. Namun Gabrian sudah mengambil keputusan. Ini demi kebaikannya Gabriel dan Eilaria.
*********
Di mansion keluarga Thomson, Eilaria pun belum bisa tidur. Ia memilih keluar kamar lalu duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.
"Eil, apa yang kamu lakukan? Kenapa belum tisur?" Tanya Zee, kakaknya.
"Aku nggak mengantuk." .
Zee duduk di samping adiknya. "Apa yang ku pikirkan? Ceritakanlah padaku."
"Kak, apakah aku boleh bercerai?"
"Apa?" Zee terkejut mendengar pertanyaan adiknya. "Ingat Eil, dalam sejarah keluarga Thomson, tidak ada pasangan yang bercerai. Dan kau jangan mengubah sejarah. Kau akan dikutuk oleh para leluhur."
Eilaria terdiam. Lalu bagaimana ia bisa bertahan?
**********
Ada yang tahu apa yang Eca putuskan?
Apa juga yang akan Gabrian lakukan?
Komen ya guys.....
__ADS_1